Preman Campus

Preman Campus
SWISS


Sampai satu menit gua tunggu dan pantengin layar hp belum ada perubahan dan hanya ada tulisan memanggil sampai panggilan kelar dengan sendirinya tidak di angkat sama bunda.


"Jon ulangi lagi". perintah gua tegas kek bos mafia yang lagi di borgol yang lagi perintah anak buahnya.


"Kenapa perasaan gua jadi kagak enak gini ya Bim?." Jono berucap memandang gua ragu.


"Kagak enak kenapa? Mungkin lagi laper aja loe itu." jawab gua kagak peduli.


"Apa mungkin loe udah di telantarkan sama nyokap loe ya?." kata-kata yang buat gua kesel tapi si kampret ngucapinnya dengan wajah datar polos dan tanpa dosa.


"Loe yang bakalan gua telantarkan Jon jika kagak cepat ulangi itu video call!". gua mengancam dengan wajah garang dan penuh dosa.


"Iya-iya." Jono sewot dan mengulangi lagi video call bunda gua.


Keknya iri itu si kampret sama gua yang punya bunda baik dan penyayang, pernah dulu saat kita mabok bareng di Terminal Dia dengan muka teler minta tukeran emak.


Gua yang sama telernya ya langsung sirap dia dengan ciu 2 botol plus bonus anggur beserta botolnya yang mampir ke kepala dia.


Jono langsung pingsan saat itu tapi anehnya kagak berdarah itu pala dia, untungnya di hari berikutnya dia kagak ingat apa-apa dan semua anak tongkrongan yang liat pada tutup mulut jadi masih aman persahabatan gua sama ini kampret sampai saat ini.


Baru deringan ke dua setelah Jono ulangi panggilan, akhirnya gua bisa melihat wajah Bunda tapi gua langsung mengerutkan dahi karena sedikit terkejut melihat pemandangan di di sekitar nyokap gua.


Bunda tampak ada di sebuah balkon sebuah kamar hotel dan dibelakangnya ada pemandangan gunung bersalju.


"Halo sayang, sepertinya matahari terbit dari Barat ya pagi ini? Tumben kamu video call bunda duluan." di layar hp bunda langsung tersenyum cerah memandang gua penuh cinta dan kasih.


"Kalau matahari terbit dari Barat ya pasti bakalan gempar dunia bunda, lagian bunda dimana itu sih? Kok pakai jaket bulu tebal dan Bimo liat ada banyak salju, ada gunung juga itu dibelakang bunda yang tertutup salju." Gua bertanya karena penasaran.


"Hehe, coba tebak sayang bunda ada dimana?." bunda malah menjawab dengan pertanyaan dan malah ajak main tebak-tebakan, kagak tau apa yak anak tercintanya mau ngedekem di hotel prodeo.


Baru ini gua melihat bunda gua dengan ekspresi wajah yang begitu bahagia dan untuk sementara gua ikuti aja kemauannya.


"Bunda ada di sekitar puncak jaya Wijaya papua ya?". Gua mulai menebak ngasal.


"Ngaco kamu sayang, mana mungkin bunda ke tempat berbahaya seperti itu." bunda cemberut kek ABG yang masih imut-imut, emang mempesona banget emak gua, pantas saja bokap gua tobat jadi Playboy demi dapatkan hati nyokap.


"Kan di Indonesia yang ada salju cuma di sana Bunda, enggak mungkin kan di Bojong kenyot kan itu?."


"Emang di Indonesia saja sayang yang ada saljunya? Imut banget sih tebakan kamu." bunda tapak gemas.


"Imut apaan? Anak tante itu lebih amit-amit." Jono bergumam pelan melihat gua dengan jijik, benar-benar masih iri terlihat iri si kampret


Auto gua pelototi itu si Jono dan untung aja Budha kagak dengar omongan dia dan segera gua memandang bunda lagi di layar hp.


"Jangan bilang bunda ada di luar negeri itu?". Gua menebak lagi.


"Hehe, benar sayang pintar banget sih anak bunda. Bunda memang ada di luar negeri sekarang dan lebih tepatnya di Swiss.. coba kamu liat indah kan pemandangan nya." Bunda mengarahkan camera ke sekeliling.


"Iya bunda indah sekali tapi lebih indah bunda Bimo sih."


"Hehe, dasar gombal.. Mirip banget kamu sama pacar bunda."


"Astaghfirullah Bunda!." gua auto terkejut begitu juga dengan Jono yang hampir aja menjatuhkan hp gua.


Suci pun mengitip dari depan ke belakang dengan hati-hati, begitu juga dengan polisi yang tadi gampar gua melihat ke belakang melalui spion yang ada ditengah mobil.


"Sayang kenapa terkejut seperti itu sih kamu?." dengan wajah cantiknya bunda malah tanya kenapa.


"Bunda punya pacar? Ya ampun bunda gimana kalau Ayah tau?." Perasaan gua langsung campur aduk saat ini, bajingan mana yang berani-beraninya goda istri Rama putra Pramono.


"Sayang kalau kamu dekat pasti sudah bunda cium kamu, ngomong sembarangan.. pacar bunda ya ayah kamu."


"Ya ampun bunda bikin Bimo deg-deg an aja, gak lucu tauk itu bercandaan." gua auto cemberut.


"Kamu aja itu yang asal tebak." bunda tersenyum kecil melihat gua.


"Jadi bunda ke Swiss sama Ayah?".


"Iya kemarin itu Ayah kamu merajuk dan pengen banget makan ice cream."


"Tunggu bunda, sebentar-sebentar." Gua bingung saat ini.


"Kenapa sayang?."


"Apa hubungannya ayah pengen makan ice cream sama kalian yang pergi ke Swiss?."


"Ya ada hubungannya lah sayang, Ayah kamu kan pemilih orangnya dan hanya mau makan ice cream langsung di tempatnya dan kebetulan ice cream favoritnya ada di Swiss."


Bunyi kedebuk langsung terdengar karena Jono menjatuhkan hp gua ke lantai mobil.


"Uhuk-uhuk." Suci yang dari tadi nangis malah tersedak, padahal dia kagak lagi makan atau minum, sementara polisi di depan tampak mengurangi kecepatan laju mobil.


Semua perilaku aneh 3 anak manusia itu terjadi sesaat setelah mendengar omongan bunda gua.


"Sayang kok gelap." Suara bunda terdengar di hp yang masih tergeletak di lantai.


"Jon!." Gua pelototi Jono dan dia pun langsung sadar lagi dan dengan cepat meraih hp di bawah.


"maaf bunda tadi jatuh hp Bimo, jadi Ayah sama bunda ke Swiss hanya untuk beli ice cream doang?."


"Iya rencananya sih seperti itu sayang tapi ya sekalian liburan juga, kenapa emangnya? Kamu iri dan mau nyusul kesini? Nanti biar bunda kiri jet pribadi ke Jogja dan ajak juga itu Bian..


"Enggak Bunda! Jangan!". Gua langsung berteriak memotong ucapan bunda yang akan mengarah ke sesuatu hal yang berbahaya.


Maaf bunda enggak sengaja lagian bosan Bimo liburan ke luar negeri terus. Oya dari tadi Bunda terlihat bahagia banget itu.. kenapa senang ya liburan berdua sama ayah dan enggak ada yang ganggu". Gua segera mengalihkan pembicaraan.


"Hehe, apa sih sayang". Bunda tampak malu-malu. "Sebenarnya Bunda punya kabar gembira buat kamu sayang tapi kata ayah jangan kasih tau kamu dulu dan nunggu saat kita berkumpul di rumah".


"Kabar gembira? apa bunda? Bimo juga punya ini kabar gembira". Jawab gua dengan senyum penuh arti.


"Oya? kamu juga punya kabar gembira buat bunda? Apa sayang? cepat kasih tau bunda penasaran".


"Bunda dulu lah yang kasih tau Bimo nanti gantian Bimo kasih tau".


"Udah pintar negosiasi kamu ya, baik bunda kasih tau dan jangan terkejut ya sayang. Sebentar lagi kamu akan punya adik, bunda hamil dan sudah jalan 1 bulan.. Hehe. Gimana senang kan kamu." Bunda tampak bersemangat dan tersenyum lebar memberi gua kejutan yang kagak pernah gua duga sebelumnya.


Gua kagak tau saat ini musti berekspresi kek apaan, hal yang kagak pernah gua banyangkan baru saja di ucapkan bunda.


Gua Abimana Pramono di umur 19 tahun akhirnya punya saudara kandung yang bisa gua ajari gelut".


"Jon tonjok gua Jon".


"Serius Bim loe minta gua tonjok?".


"Iya serius cepat tonjok gua".


"Bukk!". Jono tonjok hidung gua lumayan keras sampai gua mendongak.


"Aaaah!". kok sakit ya?".


"Sayang siapa itu yang pukul kamu? Kenapa minta dipukul segala sih?". Bunda tampak khawatir


"Itu tadi Jono Bun yang mukul, untuk pastikan aja Bimo enggak sedang mimpi saat ini dengar bunda hamil".


"Jono kamu berani pukul anak tante ya?". Bunda acting galak.


"Bimo yang suruh Tante". Jono langsung menjawab cepat dengan wajahnya yang pucat.


"Abaikan saja Jono Bun, itu seriusan Bimo mau punya adek? Bunda enggak lagi nge prank Bimo kan?".


"Serius sayang, kamu bakalan jadi kakak".


"Jon gua bakalan punya adek Jon! Hahaha". gua tertawa bahagia dan pamer ke si Jono.


"Iya gua denger, gua punya 2 biasa aja itu". Jono langsung sewot.


"Sayang kamu kok sama Jono itu, kamu dimana emang.. Seperti di dalam mobil".


"Emmm Bimo di Blora bunda, Jono ada masalah jadi Bimo datang buat bantuin". jawab gua jujur.


"Oh seperti itu". Bunda hanya mengangguk saja dan masih memandang gua penuh kasih.


"Bunda gak marah Bimo bolos kuliah?".


"Ngapain bunda marah sayang? asal kamu bahagia dan baik-baik saja di sana, terserah kamu mau ngapain aja dan ingat kalau ada hal-hal yang tidak bisa Bimo hadapi sendiri harus cepat hubungi Ayah atau bunda, mengerti kan kamu?".


"Nah itu bunda!". Gua langsung tersenyum canggung.


"Itu apa sayang? Katanya tadi kamu mau kasih kejutan buat bunda, kejutan apa?".


"Jangan kaget ya bunda, Bimo punya gelang bangus banget".


"Bim gila loe! Masih mau bercanda loe sekarang? Kagak takut durhaka loe?!". Jono pelan bicara mengerjakan bibirnya.


"Gelang apa sayang coba tunjukan sama, penasaran bunda."


"Tadaaaa!." Gua berteriak sambil mengangkat kedua tangan gua ke depan layar hp, "Gimana bunda bagus gak gelang Bimo, gelang edisi terbatas ini dan hanya orang tertentu saja bisa pakai".


"Bagus sih sayang tapi kenapa sedikit aneh ya? kenapa lebih mirip sama Bor..." Bunda langsung berhenti berucap dan ekspresi wajahnya langsung berubah.


"AYAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH....!". Bunda berteriak melengking dan duduk dengan terpaku.


"Bunda! Bunda kenapa Bun?". Gua auto panik.


"Sayangku ada apa? kamu kenapa?". Suara laki-laki terdengar panik mendekati bunda.


"Bimo..!". Bunda menunjuk layar hp yang masih dia pegang yang langsung di ambil bokap gua.


"Anak kurang ajar! Loe Apakan bini gua?!". Rama Putra pramono langsung tatap gua dengan tajam.


"Sabar tong, ehh Ayah maksud nya.. Bimo cuma tunjukkan ini doang kok". Gua angkat kedua tangan gua lagi.


"Akhirnya anak papa bunuh orang juga, dimana itu kamu?".


"Ayah! Kenapa malah seneng sih liat Bimo di borgol?". Bunda terlihat marah dan memukul punggung bokap.


"Tenang Bunda Bimo enggak bunuh orang kok belum sempat aja tadi dan sekarang lagi otw kantor polisi Blora".


"Ya udah sana pergi! Ganggu liburan orang tua aja kamu". Ucap bokap gua santai dan layar Hp langsung gelap pertanda panggilan dimatikan sepihak.


Gua auto bengong saat ini dan linglung.


"Bemo paketan loe abis ya? Kok mati?". Lagi dengan muka polos tak berdosa nya Jono bertanya.