
Suasana masih hening yang dari tadi gw kagak dengar suara nyamuk di kamar ini, sekarang mereka bagai nari-nari terdengar nyaring di telinga gw.
Bodo amat jika para nyamuk sialan itu pada ngetawain dan nari-nari di sebelah kuping gw, yang pasti disini gw masih menatap Bianca yang masih menunduk dengan malu-malu.
Gw berfikir dan mencerna apa arti dari perkataan dia barusan.
Disaat gw masih menebak-nebak dan menerka-nerka gadis cantik dan seksi di depan gw ini kembali bersuara. "Bimo kok kamu malah melamun jawab dong Bim, aku mau tau jawaban kamu".
Di saat dia menatap gw lagi dengan segera gw tampilkan senyum kecil dan lembut semoga aja kagak jadi aneh wajah gw ini.
"Kok malah senyum kamu? Kamu enggak mau jawab ya Bim?". Bianca menatap gw sendu
"Bie bukannya aku enggak mau jawab, kan udah aku bilang dari tadi. Aku ini bodoh aku enggak tau maksud dari kamu bertanya seperti itu".
"Aku enggak mau salah mengartikan yang nantinya bisa buat aku malu sendiri". Kamu ngerti kan maksud aku". Gw bicara dengan nada sehalus mungkin.
"Ya udah biar aku ganti kalau gitu kalimatnya". Bianca bicara dan menatap gw serius.
"Bimo aku enggak tau perasaan kamu ke aku bagaimana, tapi aku sangat tau perasaan aku ke kamu seperti apa".
"Bimo aku sayang, suka dan cinta sama kamu. Jika memungkinkan apakah kamu mempertimbangkan aku untuk jadi cewe kamu?".
Gw terdiam sekali lagi tebakan gw akhirnya terbukti benar Bianca akan membicarakan tentang hubungan kita sebagai pria dan wanita.
Saat ini bola panas telah dilemparkan Bianca ke arah gw, apapun jawaban yang gw katakan bola itu tetap akan membakar gw suatu saat nanti.
Walapun sekuat apapun gw pendam dalam hati dan sehebat apapun gw menyembunyikannya tetap saja wanita pertama yang mengalihkan perhatian gw adalah sosok wanita cantik di depan gw ini.
Wanita yang pertama kali bertemu sangat cuek dan sengit saat ngelihat gw.
Wanita yang kagak segan-segan turunin gw di klinik binatang di saat gw berontak di dalam mobilnya.
"Bie kamu serius ini? kamu bicara seperti itu dalam keadaan sadar kan ya? Tidak dalam pengaruh obat-obatan dan alkohol?".
"Aku sadar Bimo dan aku sangat serius dengan apa yang aku katakan, semakin aku pendam semakin aku takut kamu direbut wanita lain".
Gw mengela nafas panjang dan menatap Bianca sendu. Kamu udah telat Bie beberapa jam yang lalu ada wanita lain yang mengungkapkan perasaannya. Gw berbicara dalam hati.
Gua dalam masalah besar saat ini dan berada dalam persimpangan jalan antara menjadi cowo baik-baik atau menjadi bajingan seutuhnya.
"Bimo?". Bianca kembali memanggil nama gw dengan wajah dan ekpresi tegang menanti jawaban.
"Sorry Bie, ini kamu nembak aku kan ya?". Gw memastikan kembali
"Iya aku kuatkan hati untuk mengaku ke kamu saat ini, bagaimana dengan kamu Bim? Apa rasa yang kamu rasakan sama dengan rasaku ini atau apa mungkin itu berdeda?".
"Dimataku kamu begitu spesial Bim dan pelan-pelan tanpa aku sadari kamu mulai mengisi semua celah di hati aku".
"Bimo? Adakah celah di hati kamu untuk aku tempati?". Bianca bicara mencurahkan semuanya perasaannya tanpa ada yang dia tutupi.
"Apa yang kamu liat dari manusia seperti aku ini Bie? kamu begitu cantik dan sempurna ibarat permata kamu itu adalah berlian yang sangat menyilaukan mata setiap orang yang memandang".
Sedangkan aku hanya bagai sebatang kayu tak berguna yang tergeletak di pinggir jalan, semua debu dan kotoran ada di dalam diri aku Bie. Walaupun ada yang memungut sebatang kayu ini, mungkin paling jauh hanya akan dijadikan dan di olah menjadi tusuk gigi".
"Apa pantas berlian bersanding dengan tusuk gigi Bianca?".
"Bimo kamu tau apa perbedaan cermin dan mata? di depan cermin kamu bisa melihat diri kamu dari ujung kaki sampai kepala, dan di kedua mata aku ini, aku bisa melihat perbedaan kamu dari pria-pria di lain di luaran sana".
"Kamu bukan sebatang kayu di pinggir jalan, tapi sebatang kayu langka yang ada 1 didunia ini tersimpan rapat di istana megah dan di dalam kotak kaca, jika memang aku berlian. Izinkan aku untuk menghiasi kaca tempat di dalam istana tempat kamu berada Bim".
"Bie aku boleh tanya 1 hal gak sama kamu?".
"Tanya aja Bim, semua pasti akan aku jawab dengan jujur".
"Sebernarnya kamu itu jurusan bisnis management apa jurusan sastra sih? makna di dalam kata-kata kamu dalam amat".
"Plaaak!! Plaaakk!! Plaaak!".
"Aaaaahh!! Ampun Bie, ampun!".
"Tega banget Bie, emang aku samsak apa kamu pukulin mulu".
"Kamu sih, aku kan serius kamu malah bercanda". Bianca tampak marah
"Siapa yang bercanda? Aku kan kagum sama bahasa yang kamu gunakan yang seperti syair yang indah itu".
"Kan kamu yang mulai Bim, siapa coba tadi yang sebut dirinya sendiri sebatang kayu dan sebut aku berlian".
"Jujur ya Bie, pertama kali ketemu kamu itu gw sangat kagum dan terpesona sama kamu, jika pun saat itu kamu meludah di depan aku, pasti akan aku pungut ludah kamu dan kujadikan pusaka keluarga".
"Apaan sih Bim, ngawur kamu". Bianca tampak tersipu
"Jujur ini bagai mimpi bisa dengar kamu mengakui perasaan kamu ke aku, yang awalnya aku tidak berharap banyak dan puas melihat dan mengagumi dalam diam".
"Kalau boleh tau sejak kapan kamu mulai tertarik sama aku Bie?".
Bianca malah senyum-senyum sendiri melihat gw.
"Kok kamu jadi malu-malu gitu Bie, jangan bilang kamu lagi ngerjaain aku?".
"Enggak lah Bim, mana ada aku bercanda soal perasaan sama kamu, jujur pertama kali kita ketemu saat kamu dibawa kakak kesini sore-sore itu kan?".
"Iya itu adalah pertama kali juga aku menginjakkan kaki di kota ini".
"Pertama kali aku melihat kamu jujur aku sebel liat kamu, tatapan kamu saat liat aku saat itu buat aku tidak nyaman. Penampilan kamu juga saat itu berantakan banget semakin aku eneg liatnya".
"Bentar-bentar Bie, ini kamu lagi jujur aku apa ngehina aku. Kagak enak banget itu kata-kata didengar, waktu itu kan aku abis gelut sama 2 pemalak di terminal ya wajar dong acak-acakan apalagi gerimis juga waktu itu".
"Kan kamu tanya kapan aku mulai tertarik sama kamu, ya aku jelasin dari awal dulu lah Bimo. Perubahan apa aja yang bisa buat aku terpikat sama kamu".
"Ok sedikit banyak aku mengerti, silahkan lanjutkan. Tapi ngomong-ngomong enggak ada cemilan ini Bie? Kan lebih seru jika aku dengar kamu bicara sambil ngemil".
"Bimooo!!".
"Iya-iya, bercanda aku. tolong biasa aja tatapan matanya jangan penuh cinta kek gitu".
"Ini tatapan marah Bemo!".
"Iya tapi aku kan bodoh enggak bisa bedaain mana tatapan marah sama tatapan penuh cinta".
Bimoo udah dong jangan godain aku terus, mau dengar gak aku cerita".
"Iya mau banget tapi jangan terlalu lembut ya nada suara kamu?".
"Emang kenapa?"
"Gak apa-apa sih tapi kan kagak lucu jika nanti aku ketiduran saat denger suara lembut kamu apalagi dalam posisi duduk di ranjang kek gini".
"Bimoooooooo!!".
"Pluukk!!". gw di timpuk bantal sama Bianca.
"Ohh kamu ngajakin perang bantal ini Bie?! Ok siapa takut!".
"Serius Bimo". Kamu anggap perasaan aku bercandaan ya?".
"Sorry Bie, biar enggak tegang aja dan lebih sejuk suasana ini. Kamu bicara gi, Bimo disini akan mendengarkan".