
"Ok deal! Aku kasih 200 juta sekarang". Tanpa menawar gw langsung menginyakan nominal yang disebutkan Luzy dan gw lebihin 50 juta, tidak lupa gw berucap dengan senyum sebagai pemanis.
Luzy langsung bengong untuk sepersekian detik, dia menatap gw tidak percaya membuat kedua mata indah itu terbuka lebar.
Sementara Reza tersenyum dan terlihat sekali dia sudah mengerti dan paham dengan kepribadian gw, beda dengan Rio yang ekpresi wajahnya sama kek Luzy.
Untuk kambing hitam gw alias si Udin jangan ditanya, itu bocah sudah berada di dunia berbeda dan asik dipojokan sana dengan tatapan mata yang masih kosong melihat ke atas.
"Bimo? Matematika kamu saat SMA jeblok ya?". Tiba-tiba Rio memberanikan diri untuk bertanya ke gw.
"Yo lu jarang ngomong tapi sekali ngomong nyelekit amat itu kata-kata yang lu ucapin, lu ngeremin gw?".
"Bukan Bim mana berani aku ngeremehin kamu, cuma tidak mengerti saja aku kenapa 150 juta kamu bilang 200 juta". Rio tampak binggung sendiri.
"Temanku jangan terlalu terkejut dirimu, Bimo memang seperti itu orangnya jika dirimu bergaul dengan dia terus lama-lama juga paham sendiri". Reza menepuk pundak Rio, berbicara mewakili gw.
"Oh seperti itu Za, maaf baru ini aku punya teman seperti Bimo. Lain kali aku akan berusaha untuk tidak terkejut". Rio berucap pelan sambil mengangguk mengerti.
Keknya kagak ada untungnya dah gw bertemen sama Rio ini, sepertinya sebelas dua belas ini bocah sama kek Reza dan Udin. Gw mengeluh dalam diam sambil ngeliat tampang Rio yang polos tapi terlihat gemesin hingga gw pengen nabok saat ini juga rasanya.
"Kamu mau ngerjain aku ya? Kamu mempermainkan aku saat ini?". Luzy yang dari tadi bengong terlihat sudah balik itu kesadarannya tapi malah nuduh gw yang kagak-kagak dan meragukan keseriusan gw.
"Ngerjain apa senior? dan juga saya tidak suka mainin cewe kok, enggak boleh itu sama bunda karena cewe itu harusnya dibahagian bukan di mainkan". Mulut gw emang paling jago kalo bicara kek ginian, jam terbang gw semakin terasah sejak sering bicara sama para betina di Jogja ini.
"Serius cak bunda dirimu bicara seperti itu? Kok diriku enggak pernah denger ya?". Reza bertanya dengan senyum tidak percaya di sudut bibirnya.
"Emang lu adek gw nyet! diam aja ngapa". Gw jadi kesel, anak kang sate ngerusak suasana yang susah payah gw ciptakan.
"Jika bukan ngerjain dan mainin tadi maksudnya apa? dengan enteng nya bicara 200 juta padalal aku cuma bilang 150, kamu bodoh ya?".
"Senior kok jadi ngehina aku bodoh, mana ada cowo bodoh semanis aku dan juga memang tidak boleh ya aku tawar 200 juta?".
"Bukannya aku ngehina, yang namanya nawar kan harusnya lebih rendah bukannya lebih tinggi, baru kali ini aku bertemu cowo aneh seperti kamu". Luzy tampak binggung sendiri gw liat.
"Pertama bertemu sama aku memang mungkin aneh, kedua kali bertemu nanti juga kamu bilang aku cowo unik, ketiga kali bertemu mungkin senior akan bilang aku cowo spesial dan saat ke empat kali bertemu mungkin senior akan bilang ini takdir".
"Ya ampun.. Baru pertama kali ini aku tau ada cowo sepede dan senarsis kamu". Luzy mengelengkan kepalanya menatap gw.
"Senior bicara apa sih? Aku jadi malu ini, jadi yang pertama kali kamu liat berasa spesial banget ini aku". Gw tersenyum lebar dan masih dengan acting sempurna.
"Kamu anggap omongan aku barusan itu pujian ya?". Luzy semakin tidak percaya melihat gw yang tersipu.
"Pujian ataupun hinaan tidak penting senior, yang penting saat ini adalah aku senang mendengar kamu berbicara".
"Ehemm! Cak kelihatannya kosa kata gombalan dan rayuan kamu bertambah ini, nyontek dari mana itu". Reza tampak gemes sendiri itu ngelihat gw.
"Bim ajarin aku dong biar bisa sepede dan senarsis kamu". Rio dengan wajah memohon ikutan berkomentar dan malah minta diajarin.
"Cuih! Mana sudi diriku menatap manusia tidak punya tanggung jawab seperti itu". Reza menjawab cepat dan tampak kesal, satu detik dia ngelirik Udin dan berpaling setelahnya.
Gw kagak tau musti bicara apa melihat mata Reza yang penuh akan kebencian saat melihat Udin dan entah kenapa disatu sisi gw pengen ketawa terbahak-bahak saat ini juga.
"Jadi gimana ini senior negosiasi kita? apakah kamu setuju dengan 200 juta yang aku tawarkan? Atau mungkin meminta lebih?".
"Kamu serius ini? dari mana mahasiwa seperti kamu dapat uang sebanyak itu?". Luzy masih tampak belum nyakin.
"Nyet kantong plastik tadi dimana?". Gw bertanya ke Udin langsung biar cepat dan memudahkan Luzy untuk percaya.
"Itu cak dibelakang dirimu". Reza menunjuk belakang punggung gw.
Gw langsung menengok dan cepat menarik plastik hitam, gw angkat dan gw taruh di atas meja depan Luzy.
"Apa ini?". Tanpa menyentuh dan membuka dia bertanya dulu ke gw dengan tanda tanya besar.
"Di dalam itu ada 95 juta coba di cek dulu biar kamu percaya".
Luzy auto tercengang mendengar omongan gw, mata dia kagak kedip melihat plastik lusuh didepannya.
Pelan-pelan kedua tangan dia terangkat dan membuka plastik, terkejut dan syok tidak percaya langsung terpancar dari wajahnya dan dia segera menutup kembali plastik itu.
"Dari mana kamu dapatkan uang sebanyak ini? Dan juga kenapa ada di dalam plastik kotor seperti ini? Apa kamu mencuri ya?". Segala macam pertanyaan langsung Luzy lontarkan tanpa jeda.
karena gw malas mejawab langsung aja gw ngeluarin dompet menarik kartu sakti dan gw tunjukin ke Luzy dan gw angkat ke udara.
"Duit itu berasal dari sini senior". Jawab gw pelan dan langsung gw lempar kartu hitam yang gw pegang ke Reza.
"Diriku tarik dana lagi ini cak?". Reza tampak antusis saat menangkap kartu gw.
"Iya tarik aja seratus lima puluh juta dan pisahkan yang yang seratus lima juta untuk senior Luzy kita".
"Siap cak laksanakan! Rio temani diriku ambil dana". Reza menepuk pundak Rio dan berdiri.
"Iya Za". Jawab Rio tidak kalah antusias dan langsung berdiri mengikuti Reza yang berjalan keluar.
Tinggalnya 3 orang di ruangan VVIP cafe bintang ini yang mendadak hening kembali.
Orang pertama yaitu gw yang tersenyum lebar dan percaya diri.
Orang kedua adalah wanita di depan gw yaitu Luzy yang terlihat masih mencoba untuk mengerti situasi gila apa yang baru saja dia liat.
Dan untuk orang ketiga adalah calon penunggu ruangan ini dan kagak gw katakan pun kalian sudah tau siapa orang ketiga ini.