Preman Campus

Preman Campus
TERMINAL TIRTONADI SOLO


"Mas? Mas bangun mas!".


"Mas? Mas bangun mas!".


Sayuk-sayuk gw mendengar suara dan gw merasakan pundak kanan di tepuk pelan.


Gw yang masih terpejam merasa terusik dan pelan mulai membuka mata melihat Bus masih dalam keadaan kosong dan kondektur setengah baya berdiri di samping tempat gw duduk.


"Udah mau berangkat ya pak? Berangkat saja kenapa malah bangunin saya?". Gw berguman sambil menguap lebar. Leher yang kaku gw gerakkan ke kiri dan ke kanan, bunyi kluk-kluk pun terdengar nyaring.


Untuk sesaat gw liat dahi kondektur itu mengerenyit heran memandang gw.


"Mas Bus sudah berangkat dari 1 setengah jam yang lalu dan sekarang sudah sampai di terminal Tirtonadi Solo". Kondektur menjawab sambil menahan senyumnya.


"Hehh! Serius pak?". Gw melotot karena terkejut, "Kok enggak kerasa saya, padahal baru aja tertidur tadi". Gw linglung untuk sesaat, ini bus terbang apa jalan yak cepet amat sampainya. Apa memang gw yang kagak sadar dan terlalu lelap tidur.


"Hehe, serius mas, liat saja keluar. diluar sudah terang, masnya tidur dari awal bus berangkat dan saya tidak enak saat mau membangunkan". Ucap sang kondektur.


Gw melihat keluar dari kaca dan benar saja, sudah terang berderang dan langit cerah. Berbeda saat tadi gw mulai terlelap yang masih lumayan gelap. Sekilas juga gw melihat tulisan Terminal Tirtonadi di luar sana. Untuk lebih memastikan gw melihat jam tangan yang ternyata benar waktu sudah menunjukan pukul 06:30 alias pukul setengah tujuh pagi, perjalanan Jogja Solo kurang lebih 90 menit.


"Maaf sepertinya saya keenakan tidur pak dan enggak nyadar". Gw tertawa canggung dan langsung duduk tegak sambil mengucek mata.


"Gak apa-apa mas, wajar kok bagi pekerja keras memang sering capek.. Apalagi berangkat kerja pagi-pagi buta seperti saya dan masnya. Mas ke Solo berkerja kan? Proyek membangun apa memangnya mas?".


"Proyek? proyek apa pak?". Gw bertanya binggung, ini kondektur ngomong cepet banget sampai kagak sempet ngejawab gw.


"Masnya pekerja bangunan kan? Itu tasnya pasti berisi alat-alat kerja tukang, masih muda tapi sudah perkerja keras masnya ini". Kondektur tersenyum menyanjung.


F. U. C. K! Gw langsung mengumpat dalam hati. Seketika saat ini juga kepercayaan diri gw langsung luluh lantah hancur berkeping-keping.


Gw Abimana Pramono putra mahkota dari kerajaan usaha terbesar di Asia, pemilik 4 cewe cakep spek bidadari. Sweater yang gw pakai saat ini karya Armani seharga mobil inova baru. ******, ****** yang gw pakai made in italy. 1 kotak berisi 3 set ****** seharga Yamaha Nmax.


Dengan muka datar tanpa rasa bersalah plus senyum dibibir kondektur ini malah ngatain gw sebagai kuli bangunan.


Seumur-umur baru kali ini gw merasa sangat terhina kek gini, apa muka gw muka kuli apa yak?


Mau langsung gw tonjok takut kualat, kagak gw tonjok harga diri tersakiti.


Dengan rasionalitas yang tersisa gw mencoba sabar, lebih baik gw menjelaskan secara halus Mungkin asal nebak saja dia.


"Saya bukan pekerja bangunan pak dan saya belum kerja".


"Ya ampun! Masnya ternyata masih pengangguran tho? Berarti ke Solo mau cari kerja ya mas?". Kondektur itu menatap gw dengan kasian.


"Bukan begitu pak, maksud saya sebenarnya itu..


"Memang benar mas, zaman sekarang memang susah mencari kerja".


Kondektur kampret ini menyela omongan gw lagi dan dia tampak berfikir sejenak sambil memandang gw.


"Saya liat mas nya pria yang baik dan sederhana, bagaimana jika saya tawari pekerjaan?". Kondektur itu tampak ragu-ragu.


"Pekerjaan apa pak?." Perasaan gw kagak enak langsung denger itu tawaran.


"Jadi seperti ini mas, bagaimana jika masnya jadi kenek Bus saja? Nanti saya bawa menemui atasan saya, lumayan kok gajinya bersih 1,5 juta perbulan. Kalau masnya kerjanya baik nanti bisa naik pangkat menjadi kondektur seperti saya dan gajinya bisa sampai 2,5 juta". Senyum bangga tercetak di bibir kondektur setelah mengakhiri kalimat.


F. U. C. K! Dari kuli bangunan sekarang ke kenak bus, boro-boro gajinya gede 1,5 buat beli wiskey aja kurang. Kalau lama-lama disini dan kagak turun bakalan bisa khilaf ini gw dan gebukin ini orang.


"Mas kok diam? Terkejut dengan tawaran saya yang begitu menggiurkan ya?".


"Oalah kalau seperti itu ya repot mas padahal saya liat-liat masnya sangat cocok jadi kenek Bus, sayang sekali ya". Tampak menyesal ekpresi kondektur depan gw.


Gw lebih cocok jadi orang pertama yang ngeludahin kondektur Bus. Dalam hati gw menjawab.


"Mungkin bukan rezeki saya pak, terima kasih atas tawarannya. Oya berapa ongkosnya ini? Saya kan belum bayar biaya perjalanan". Gw cepat mengeluarkan dompet, bisa gila gw kalau kelamaan ngobrol sama ini orang tua.


"Tidak usah mas, buat makan masnya saja uangnya. Itung-itung saya bersedekah". Jawab dia menolak.


"Hehehe, hehehehe, hehehe". dari kuli ke kenek dan dari kenek sekarang ke pengemis, beberapa detik lagi keknya bakalan gw robohin ini bus.


"Masnya tertawa senang ya? wajar kok mas sesama manusia itu saling menolong".


"Iya Pak terima kasih atas traktiran ongkos Busnya, saya permisi mau turun dulu". Gw berjalan melewati dia dan segera turun.


"Iya mas hati-hati, semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan".


Kondektur itu teriak dari dalam Bus saat gw udah berjalan pergi masuk ke dalam terminal.


Bertemu lagi matane! mending gw jalan kaki Solo Jogja daripada naik bus situ lagi. Gw jalan sambil gedumel.


Gw masuk ke dalam area terminal Tirtonadi, untuk sekilas gw kagum karena ini terminal udah kek bandara aja. Bangungan megah dan berfasilitas lengkap dan sangat luas sekali.


Apa mungkin ini markasnya presiden ya? Dan juga kan anaknya walikota, mungkin suatu keharusan di Indo jika daerah asal presiden harus dibangun.


Setau gw era Presiden terdahulu juga gitu, dari jalan kota hingga jalanan pelosok desa di Pacitan jatim di aspal semua karena presiden asli sana.


Gw untuk sesaat berhenti jalan dan berfikir jika Reza jadi Presiden, nanti Madura bakalan di bangun apaan ya? Dari isi otak anak itu sih gw rasa setiap lorong disana pasti akan dibangun warung sate dengan layanan plus-plus, wisata makanan sekaligus wisata esek-esek jadi satu. Gw begidik ngeri banyangin itu, semoga saja Presiden Indo selanjutnya benar-benar serius membangun bangsa dan negara bukan hanya membangun daerah asalnya saja.


Anjir! Kenapa tiba-tiba gw jadi cerdas kek gini yak? Mikirin cewe 4 aja binggung malah mikirin negara, keknya kesabet penunggu ini terminal deh gw.


Gw segera berjalan kembali dan untuk sampai ke jalur keberangkatan Bus, gw harus jalan melewati bangunan besar panjang berdinding kaca.


Saat gw masuk pemandangan langsung berubah, di sisi kiri dan kanan berjejer stand makanan dan segala macam benda pernak-pernik dan oleh-oleh.


"Buseett! Ini terminal apa pasar malam yak!". Gw mengelengkan kepala langsung saat melihat suasana yang sangat meriah dan ramai orang berlalu lalang, berserta para penjual yang mempromosikan jualanannya.


Gw berjalan cepat dan satu-satunya yang bisa dilewati adalah jalur tengah.


"Mas bakso mas, mie ayam.. Soto juga ada. Silahkan mampir mas".


"Mas rotinya mas buat oleh-oleh".


"Mas blangkon khas Solo mas, murah meriah dan terjangkau".


"Mas batiknya mas, ini pabriknya di sebelah rumah pak Jokowi lho mas".


Segala tawaran pedagang mengiringi langkah kaki gw. Tanpa menjawab gw bodo amat dan terus berjalan, buat apaan coba gw beli barang dan makanan kek gitu Sorry ya. Gw mendengus dingin dan terus melangkah.


"Mas silahkan mampir mas, pijit seluruh badan untuk menghilangkan capek dan pegal-pegal sebelum perjalanan jauh". Dari belakang terdengar suara wanita yang sangat halus, stand yang baru saja gw lewati beberapa langkah yang lalu.


Kurang kerjaan banget, buka pijat kok di terminal, ngaco itu mbaknya. Jalan lagi ahh.


"Ehhh. kaki..! Jalan kedepan anjing! Kenapa lu malah mundur.


"Ya ampun! Masnya ngagetin saya saja, kenapa jalan mundur mas? Mau pijat ya? Silahkan masuk, dijamin puas dan hilang semua capeknya".