
Sehabis sarapan Kita bertiga berjalan kembali menuju kampus untuk bersilahturahmi ke ruangan kantor rektorat.
Sejak insiden tidak terdunga di Warteg tadi 2 anak cebong tidak lagi berisik seperti biasanya.
Di depan gw mereka berjalan menunduk dan terus mendesah seperti tidak punya semangat hidup.
"Udahlah nyet kagak usah bersedih lu berdua,anggap aja itu sebagai pengalaman hidup lu yang menyenangkan". Gw bicara mencoba memecah keheningan.
"Menyenangkan apa cak? yang ada kenangan memalukan". Udin menjawab tanpa melihat gw yang berjalan di belakangnya.
"Kan nanti lu berdua nanti bisa cerita ke anak kalian sebagai penyemangat nyet".
"Semangat dari mana nya Bim, dari cerita seorang cowo yang minum kiranti?".
"Iya cak dirimu jangan sok ngehibur kita! di dalam hati, dirimu tertawa kan?".
"Mana ada gw ketawa diatas penderitaan temen sendiri nyet,ngaco lu!". gw mencoba agar tidak tertawa lagi.
"Dek Za,paling dia bicara di mulut doang itu".
"Iya kak Din,diriku nyakin orang di belakang kita akan menari-nari di atas penderitan temennya".
"Udahlah nyet kagak usah murung mulu lu berdua, kita kan mau hadapi masalah serius ini". Gw berjalan dan berada di tengah-tengah mereka.
"Masalah serius apa cak?".
"Iya Bim,setau gw kagak punya masalah kita?".
"Nyet cuma gara-gara janda basah dan sebotol kiranti doang aja lu berdua udah jadi bego ini! lu berdua lupa tadi lu bawa buah buat apaan?".
Mereka malah tersenyum saat mengerti yang gw bicarakan, kalau ada toko yang jual otak udah gw beli itu otak baru untuk 2 cebong ini biar pinter dikit.
"Maaf cak diriku lupa" Reza berbicara.
"Sorry Bim,gw terlalu fokus sama yang basah-basah tadi". Udin beralasan
"Ingatan lu berdua aja nyet yang terlalu pendek!".
"Jadi rencana loe apa Bim?" tumben Udin cepat tanggap.
"Seperti biasa aja,lu pada diem nanti biar gw aja yang bicara. Serahin semua ke gw!".
"Gak salah diriku berteman dengan dirimu cak, enggak ada takut-takutnya dirimu".
"Iya Bim, nyali loe gede banget kalau soal hadapi masalah! kayak kagak ada yang loe takuti di dunia ini".
"Kagak usah muji-muji gw lu berdua, ada kok satu orang yang gw takuti di dunia ini!".
"Siapa cak satu orang itu? lebih jago gelut dari dirimu ya?"
Reza dan Udin tampak sangat penasaran dengan orang yang gw bicarakan.
"Rahasia nyet nanti cepat atau lambat lu berdua juga bakalan tau".
"Sok misterius loe Bim, palingan juga orang itu kakaknya senior Bianca".
"Iya kak Din palingan juga ketua Zeuz itu yang di takuti bemo".
Gw hanya diam mendengar spekulasi dari mereka yang salah total. Kenapa juga gw harus takut sama si bang Jack. Satu orang yang gw takuti itu tentu saja adalah Rama Putra Pramono,bokap gw.
Tidak terasa kami pun sudah hampir sampai di kantor rektorat tempat dimana rektor kampus ini bertahta.
Dua anak cebong mulai terlihat tegang karena di sepanjang jalan Campus tadi. Banyak orang yang berbisik-bisik tentang kita yang mau di DO.
Kelihatannya berita tentang gw dipanggil rektor sudah menyebar ke semua sudut di Campus ini.
Dan kita pun sudah sampai di depan pintu warna coklat.
"Tok".
"Tok"
"Tok".
Dan kami bertiga pun masuk ke dalam dengan bersiap dengan segala kemungkinan apapun.
###
Kita bertiga dukuk di Sofa warna coklat di ruangan yang sangat besar dengan fasilitas yang sangat lengkap.
Ruangan ini sangat terang karena ada banyak cendela kaca di sebelah kanan bangunan ini yang bisa langsung melihat ke jalan utama Campus.
Di depan kami ada rektor Campus Pak Brotoseno yang memasang wajah masam dengan kumis lebatnya yang seperti hutan Amazon.
"Kalian bertiga betul-betul keterlaluan. Saya sudah 10 tahun menjabat disini. Tapi tidak pernah mengalami kekerasan yang brutal dan sadis seperti ini!". Dia membentak dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Gw masih diam dan tenang tapi tidak dengan 2 cebong bersaudara di kiri dan kanan gw. gw liat mereka menunduk dengan kaki bergetar.
"Padahal kan kalian Mahasiswa, tapi kenapa begitu brutal dan berani melakukan tindakan yang sangat mengerikan seperti itu!".
Mata pak Brotoseno menyapu memandang kami bertiga. lalu pandangannya tertuju ke arah gw.
"Kamu!! Kamu dalang semua ini kan??" Dia berbicara.
"Maaf pak Brot apa anda bicara dengan saya?" gw memastikan.
"Braaakk!!!".
Dia menggebrak meja dengan kedua tangannya dan menatap tajam gw dengan kumis tebal dia yang terangkat. Geli gw sumpah liat itu kumis.
"Panggil saya Pak Seno!!! Kurang ajar sekali kamu ya!!".
Sialan malah marah ini si kumis, nama dia kan Brotoseno jadi wajar dong gw panggil pak Brot, untung gw masih sopan. Kalau kagak udah gw panggil pak Brot-brot dia biar kek suara angin busuk yang selalu dikeluarkan Reza.
"Iya pak Seno maaf saya tidak tau" Gw mencoba ngalah aja dulu dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kamu dalang perbuatan sadis ini kan!". Dia bicara lagi dengan suara yang mengintimidasi.
"Maaf pak kelihatanya anda salah,saya tidak pernah memainkan wayang kulit jadi tidak bisa menjadi dalang". Gw menguji sebatas mana kesabasan orang yang katanya pemimpin Campus terbaik ini.
"Brakk!!"
Dia menggebrak meja lagi,kali ini dengan wajah marah merah padam.
Dua sahabat gw masih diam membisu dan menunduk karena takut.
"Kamu jangan bercanda dengan saya ya!!" Dia menunjuk gw dengan tangannya.
Emosi gw mulai naik karena ditunjuk rektor ini, bokap aja kagak pernah nujuk-nunjuk gw.
Tapi mempertimbangkan posisi dan keadaan. Gw masih mencoba untuk bersabar.
"Maaf pak tolong bapak tidak usah menunjuk saya seperti itu, dan tolong bapak bicara baik-baik ada apa bapak panggil kami kemari".
"Tolong jangan jadikan saya mahasiswa pertama di Indonesia yang menganiaya rektornya sendiri". Gw melanjutkan bicara dan menatap dia tanpa rasa takut sedikit pun.
Reza dan Udin yang dari tadi menunduk auto melihat gw. Mungkin mereka tidak mengira gw akan seberani ini.
Dan pak Brotoseno di depan gw juga tampak sangat terkejut tidak mengira mungkin gw akan berkata seperti itu.
"Kamu mengancam saya". Di bicara terlihat marah tapi dia tidak menunjuk atau menggebrak meja lagi.
"Mana berani saya mengancam bapak, saya cuma minta tolong saja jangan buat saya menjadi orang jahat".
"Dan jangan menuduh saya tanpa alasan yang jelas tanpa adanya bukti-bukti, Bapak sebagai rektor harus adil kepada semua mahasiswa".
"Kamu tau Bagas kan?! dia harus menerima 15 jahitan di wajah nya dan harus di operasi mulut dia karena kamu robek dengan sadis dan brutal, dan banyak saksi mata yang melihat itu semua, kamu akan mengelak apa lagi!!".
"Kenapa saya harus mengelak? memang benar saya yang melakukan itu".
Gw masih santai dan bersiap untuk berdebat dengan Brotoseno yang tampak tersenyum saat mendengar gw mengaku.
■Sorry guys kalau 2 hari ini kagak crazy up gw. capek banget ini badan jadi sangat malas untuk ngetik tapi sebisa mungkin gw bakal cepat fit agar bisa semangat lagi hibur kalian dengan novel gila ini■