Preman Campus

Preman Campus
TERMINAL NGAWEN 2



"Sialan! Ini terminal apa kandang ternak? Kecil amat dan kagak ada pintu masuk dan penjaganya". Gw mengumpat pelan setelah berjalan mendekat ke arah terminal, untuk sesaat gua tertegun baru ini gua tau di Indonesia yang telah lebih dari 60 tahun merdeka masih ada bangunan terminal seperti pada masa penjajahan seperti ini.


Kaber listrik diatas bangunan pada semrawut gak karuan, kalau terjadi kebakaran bisa bahaya itu setiap tempatnya masih didominasi dengan kayu, baru ini gua masuk terminal Berasa masuk ke tempat yang berbahaya, boro-boro petugas terminal pembatas jalan aja enggak ada parkir bus langsung nyambung jalan raya seperti itu, sungguh sangat berbahaya sekali.


Fasilitas publik seperti ini jika warganya enggak mendemo pemimpinnya mah kebangetan, gua termenung dan geleng-geleng kepala sendiri.


Gua enggak mau berkomentar lebih jauh tentang ini terminal dan fokus gua saat ini adalah nemuin si Jono.


Gua nengok kiri kanan dulu sebelum nyebrang jalan menuju terminal, ini tempat asing dan gua gak tau kelakuan emak-emak matic disini, kan gak lucu jika gua jadi korban ke ngacoan mereka, masak baru menginjakkan kaki disini langsung bersitegang sama emak-emak.


Gua melihat kesana-kemari mencari keberadaan si Jono, kata dia nunggu gua di mushola tapi dimana mushola nya? Sampai sakit ini leher gua muter-muter cari si kampret berada dan belum kelihatan batang hidungnya.


"Maaf pak permisi". Terpaksa gua bertanya ke bapak-bapak yang lewat di jalan sambil menuntun sepeda, seperti kata pepatah malu bertanya mabok di jalan dan gua kagak mau mabok siang-siang seperti ini. (Pepatah disini menurut kamus besar bahasa Bimo bukan merujuk dari kamus besar bahasa Indonesia)


"Iya mas ada apa?". Jawab bapak setengah baya dengan senyum ramah khas orang Indonesia banget, kenal gak kenal semua dikasih senyum.


"Maaf pak menyita waktunya sebentar, saya mau nanya Mushola terminal Ngawen itu dimana ya?". Gua langsung to the poin bertanya.


Entah kenapa setelah gua bicara dan bertanya senyum di wajah si bapak langsung menghilang dan pandangannya ke gua pun berubah menjadi aneh.


"Mas nya baru masuk Islam ya?". Dengan wajah serius dia malah balik nanya ke gua, pertanyaan yang buat gua pengen salto kebelakang dan teriak WHAT! sekeras-kerasnya.


"Kok bapak malah balik nanya? Kan saya yang duluan nanya dan juga dari lahir saya sudah Islam pak". Gua mencoba sabar gak baik terbawa emosi sama orang tua.


"Saya kira baru masuk Islam mas dan gak tau bentuk mushola seperti apa, soalnya mushola yang mas tanyakan kan tidak jauh dari sini, itu di depan". Si bapak menunjuk dengan jarinya dengan ekspresinya yang masih datar.


"Maaf pak yang bapak tunjuk itu kan mobil, saya kan tanya mushola".


"Ya ampun mas, bangunan di belakang mobil putih itu yang saya tunjuk dan mushola nya ada disitu". Si bapak mulai geleng-geleng kepala melihat gua yang seperti orang bego mungkin di dalam benaknya.


"Kalau mas masih gak tau juga liat ke atas saja itu ada kubah emas kan di atas, udah saya pergi dulu.. Orang Islam kok gak ngenalin tempat ibadah nya sendiri, tanda-tanda akhir zaman pasti ini". Sambil menggerutu si bapak beranjak pergi sambil membawa sepedanya meninggalkan gua yang masih melongo, ngena banget itu kata-kata sampai gua kagak bisa membalasnya.


Tidak mau bengong terlalu lama, gua mulai melangkah pelan menuju mushola. Dengan tas gua tenteng entah kenapa gua merasa seperti lagi mudik saat ini.


Gua akan melambai dan berteriak memanggil itu bocah tapi entah kenapa langsung gua urungkan karena melihat ada yang aneh dengan kang tatto best friend gua itu.


Jono Duduk di emperan Mushola dengan wajah kusam, ekspresi wajahnya melas banget memandang setiap orang yang lewat di depannya, ada juga wadah bekas sabun colek berwarna biru yang berada tepat di depannya.


Gua bingung dengan apa yang sedang dilakukan Jono saat ini Sampai gua melihat salah satu orang yang lewat, seorang wanita melempar uang koin ke depan Jono dan masuk ke dalam wadah sabun colek.


"Bangsat! Minta di ent*ot lubang hidungnya apa itu betina". Gua mengumpat pelan melihat pemandangan di depan sana, masak sohib gua dikira pengemis, sumbu emosi gua yang cuma seujung kuku langsung tersulut dengan sendirinya.


Di saat gua akan berlari mendekat pemandangan yang membuat gua terkejut kembali tersaji, si kampret bukannya marah di lempar uang koin tapi malah menunduk dan dari ekspresi wajahnya dia tampak berterima kasih dan bersyukur dan itu tidak terjadi hanya sekali tapi beberapa kali.


Setiap kali Jono dilempar koin sama orang yang lewat dia menampakan dan menunjukkan ekspresi yang sama yaitu ekspresi penuh syukur dan rasa terima kasih.


Sialan emang! sejak kapan itu bocah beralih profesi dari kang tatto menjadi pengemis seperti itu? Malu-maluin gua banget, mana enggak konsultasi dulu lagi sama gua kalau mau ngemis.


Antara terkejut dan marah gua saat ini, apa segitu prustasinya itu bocah sampai nekad seperti itu, ini kan masih wilayahnya dia apa enggak malu jika ada yang ngenalin.


Segala macam pertanyaan penuh akan tanda tanya muncul di benak gua saat ini dan butuh akan jawaban dari si kampret itu.


Jujur gua marah liat Jono saat ini tapi di satu sisi paling ujung di dalam diri ada rasa ingin ketawa ngakak dan apa boleh buat tangan gua reflek ngeluarin hp dan memvideokan Jono, lumayan buat kenang-kenangan dan bahan ketawa saat gua bosan entar.


Setelah 1 menit video berjalan segera gua sudahi dan memasukan hp ke saku celana lagi, gua ingin segera temui itu bocah gila enggak Tega gua lama-lama liatnya.


Sambil berjalan mendekat gua ambil 1 lembar duit seratus ribuan dari dompet, Jono masih menunduk itu anak dan enggak tau kedatangan gua.


Segera gua lempar duit dari genggaman ke depan Jono setelah gua berdiri tepat di depannya, gua ingin liat ekspresi dia seperti apa.


Melihat uang merah di tanah Jono tersentak terkejut dan auto dia mendongak ke atas dan untuk pertama kalinya pandangan kami berdua bertemu.


Untuk beberapa detik kami cuma saling memandang satu sama lain dengan ekspresi yang berbeda tentunya Jono yang tampak syok terkejut dan gua yang tersenyum manis, semanis bibir Bianca.


Jono masih duduk di lantai dan refleks dia mengucek kedua matanya setelah itu memandang gua lagi, kali ini dengan mulut terbuka bengong yang seakan-akan ingin berbicara tapi kata-katanya enggak mau keluar dan nyangkut entah dimana.


"Mas biasa aja lagi liatnya jangan terlalu girang gitu ngomong-ngomong duit tadi yang gua lempar kasih kembalian dulu, mana sini 99.999 rupiahnya?". Gua bicara dan tersenyum cerah, secerah langit siang menjelang sore ini.