Preman Campus

Preman Campus
MOBIL


Saat gw masih mikirin berapa persen dosa yang akan gw terima dari traktir 2 cebong ayam campus, langkah kaki tergesa-gesa gw dengar dari lantai 2 kosan.


Langkah kaki cepat menuruni tangga dari lantai 2 menuju lantai 1, udah bisa gw tebak itu suara dari kaki siapa.


Kagak lama muncullah sesosok betina yang setengah jam lalu injek perut gw dan yang tendang batang gw tadi malam.


Amora berjalan cepat menuju gerbang sambil melihat jam tangan, gw sempat bengong saat liat Amora.


Gw mengangguk mengerti jadi seperti itu penampilan cewe gw kalau mau berangkat kerja, persis seperti wanita kantoran yang ada di film-film.


Amora memakai rok hitam selutut dengan stoking warna hitam yang menutupi kaki indahnya.


Dibawah sana high heels warna hitam pula melindungi kedua kaki dia, membuat Amora beberapa centi lebih tinggi, udah seperti model dia itu.


Dengan atasan kemeja putih yang ditutupi dengan blazer warna hitam, sungguh bisa buat para pejantan yang liat akan tergoda.


Yang buat gw gagal fokus dan terkejut adalah Amora yang juga memakai kacamata putih yang nangkring di depan kedua bola matanya. Terlihat semakin berintelektual sekali Amora saat ini, berjalan dengan anggun setelah melihat gw.


"Sayang kok kamu malah nongkrong disini? Enggak siap-siap berangkat ke Campus?". Amora bertanya saat sampai di depan gw yang masih acak-acakan dan rembes belum mandi.


Berbanding terbalik dengan penampilan Amora yang mempesona. Kalau ada orang yang liat pasti kita dikira majikan dan jongos.


"Maaf anda siapa ya? Apa saya mengenal anda?". Gw sedikit bercanda karena penampilan Amora berubah 360 derajat.


"Kenapa sayang Aku terlalu mempesona ya? Sampai kamu lupa ingatan gitu lihatnya". Amora sangat percaya diri sekali.


"Iya aku terpesona sampai air liur mau keluar ini, enggak nyangka kamu menjadi sangat cantik dengan kostum kantor kek gitu". Jujur gw memuji.


"Ya ampun sayang kemana aja kamu, baru tau ya kalau cewe kamu cantik?". Amora bicara dan melemparkan rambut panjangnya ke belakang.


Mau jadi duta shampoo apa ada kutu nya itu rambut yak, sampai segitunya bergaya. Gw bicara dalam hati melihat Amora yang memuji dirinya sendiri.


"Ngomong-ngomong kamu kalau kerja selalu memakai kacamata dan pakaian seperti itu Amora?".


"Iya sayang aku kalau ke kantor memang memakai kacamata dan berpakaian seperti ini, kenapa memangnya? terlalu cantik dan menarik ya?". Amora kek bahagia banget hari ini, puji dirinya sendiri mulu.


"Iya penampilan kamu sekarang sudah sangat mirip dengan asistennya Hotman Paris Hutapea, cuma kurang dan kalah di itunya doang kamu".


"Kalah di apanya aku? Cepat bilang! Masak di depan cewenya kamu muji cewe lain". Amora cemberut dan malah ikut duduk di sebelah gw di bale-bale.


"Ya di itu, kamu tenang aja nanti aku bantu untuk memperbesar. Bisa kok kalau tiap hari diremas seperti semalam pasti akan nambah besar dengan sendirinya". Gw bicara dan pandangan gw fokus ke dada Amora.


"Aaaaa!". Sakit Amora jangan dijewer kuping aku!". Gw teriak kesakitan disaat Amora ngejawab dengan jeweran.


"Itu sih akal-akalan kamu aja Bemo! memang paling pinter kamu kalau berucap seperti itu, hampir aja aku percaya". Amora bicara dan melepaskan kuping gw.


Gw langsung menggosok-gosok kuping yang lumayan panas. "Kok kamu malah duduk di sini sayang? Kamu enggak jadi kerja dan mau mesra-mesra an aja sama aku disini? Aku sih hayuk aja jika itu mau kamu". Gw tersenyum mupeng.


"Aku kan ada rapat penting hari ini sayang mana bisa temani kamu". Amora berdiri.


"Tadi itu aku pesen grab sebelum mandi tapi ini kok belum datang-datang". Amora berjalan dan melihat keluar gerbang.


Gw cuma mengangguk mengerti tapi tiba-tiba gw ingat sesuatu yang sangat penting yang dari dulu ingin gw lakukan saat punya cewe.


"Amora sini dulu tunggu disini grabnya, aku mau bicara sesuatu sama kamu".


"Kan nanti malam aku mau keluar nobar bola sama 2 temen aku, cuma mau tanya-tanya aja kok aku sama kamu".


Amora duduk lagi di sebelah gw. "Tanya apa sayang? Kok kamu jadi seris gitu".


"Kamu bisa nyetir gak Amora?". Gw bertanya pelan.


"Bisalah sayang, aku udah bisa nyetir dari SMA karena di rumah ada mobil keluarga jadi diajari dulu aku sama Ayah. Memangnya kenapa kok kamu tiba-tiba tanya seperti itu".


"Gak apa-apa kok, aku merasa gak tega aja lihat kamu kecapekan pulang pergi ke kantor naik grab seperti itu".


Amora tersenyum melihat gw yang kawatir. "Enggak apa-apa kok sayang udah biasa aku dari dulu juga naik grab ataupun gojek". Amora menjelaskan.


"Serius kamu naik go jek juga?". Gw terkejut mendengar perkataan Amora.


"Iya sayang kalau lagi macet aku naik go jek, kenapa sih kamu kok tiba-tiba aneh gini, aku baik-baik aja kok".


"Aku yang kagak baik-baik aja Amora, gimana kalau aku beliin kamu mobil aja? Kamu mau gak? Supaya kamu kerjanya lebih praktis".


Amora malah terdiam dan melihat gw dengan begong dengan ekpresi wajah tidak percaya.


Kenapa lagi ini bocah masak kesambet pagi-pagi gini.


"Amora kok diem kamu dan kenapa lihatin aku kek gitu? ada yang salah ya dengan ucapan aku?". Gw memberanikan diri bertanya.


"Sayang kamu lagi bercanda kan? Hahaha, lucu banget candaaan kamu". Amora malah ketawa dan nepuk-nepuk pundak gw.


Bener-bener kesurupan ini cewe gw, apa pohon mangga belakang gw ini ada penunggunya ya?.


Wajah Amora sampai memerah karena ngetawain perkataan gw dan kagak berselang lama diapun berhenti.


"Udah ketawanya?". Tanya gw dengan tatapan tajam.


"Maaf sayang aku cuma terkejut dengan candaan kamu".


"Siapa yang bercanda Amora? Apa wajah aku ini kelihatan lagi sedang bercanda apa?".


"Aku itu serius mau beliin kamu mobil malah kamu ketawain, memang serendah itu ya aku dimata kamu?!".


Wajah Amora langsung berubah, ekpresi penyesalan terpancar dari wajah cantiknya. "Sayang maaf, aku enggak ada niat sama sekali dan fikiran untuk rendahin kamu". Amora bicara dan memegang tangan kiri gw.


"Kamu ngetawain ucapan aku itu sama aja kamu remehin aku Amora?".


"Aku kira kamu itu tadi bercanda sayang, maaf aku enggak tau. Aku juga kaget karena kamu tawari seperti itu".


"Aku tau kamu anak orang kaya tapi kan disini kamu juga harus kuliah dan banyak banget kebutuhan kamu sayang. Kamu harus berhemat, aku enggak apa-apa kok naik grab. Nanti biar aku nabung dan beli mobil sendiri".


Gw diam saja mendengarkan Amora bicara panjang lebar.


"Sayang kok diem aja. Udahan marahnya aku minta maaf, kamu masih marah ya sama aku?".


"Amora kamu tau gak?". Gw bicara dan menatap mata Amora dalam.


"Tau apa sayang?".