Preman Campus

Preman Campus
INSIDEN TIDAK TERDUGA


Gw masih di toilet dan sehabis buang air kecil gw berada di depan cermin besar dan mencuci tangan di wastafel.


Gw sedikit lama karena sekalian ngelepas CD yang kotor dan mencucinya, setelah gw peras gw lipat kecil dan gw masukan kantong celana.


Bodo amat jika terasa semriwing di dalam sana, risih gw makai CD yang lengket dan kotor.


Gw ngaca sebentar mengagumi wajah gw sendiri, wajah pas-pasan yang entah kenapa bisa dapet dan menjerat 3 cewe cakep kota ini yang sudah menjadi cewe gw tentunya.


Gw tersenyum kecil kek orang bego melihat diri sendiri di dalam cermin, untung aja toilet ini sepi jadi kagak takut ada orang yang liat.


Setelah menata rambut, gw beranjak pergi dan berjalan keluar toilet.


"Dukk!". Gw bertabrakan dengan seseorang di pintu keluar.


Gw mundur beberapa langkah ke belakang dan masuk lagi ke dalam toilet sambil memegangi jidat gw yang bertabrakan dengan seseorang yang mau masuk.


"Hei nak! Kalau jalan itu pakai mata! sengaja ya kamu tabrak saya?!". bapak-bapak dengan setelan jas dan dasi bicara dan nyolot disaat gw masih mencerna keadaan dan mau minta maaf.


Mendengar omongannya dia barusan kata maaf yang akan gw ucapkan seketika menghilang dan berganti dengan kata umpatan, untung saja dia seumuran bokap gw jadi gw masih tahan dan kagak terpancing.


Gw memandang pria di depan dan menundukkan kepala sedikit setelah itu gw melangkahkan kaki untuk segera pergi.


"Mau kemana kamu?! Apa begitu cara minta maaf sama orang yang lebih dewasa?". Dia melotot menghadang jalan gw dan mendorong tubuh gw ke belakang.


"Itu tadi tidak sengaja dan kita sama-sama tidak liat pak, bapak mau masuk dan saya mau keluar. Kita sama-sama salah disini". Gw masih menahan emosi, dorongan dia gw anggap biasa saja.


"Mana ada saya yang salah?! Dimana-mana yang lebih muda itu yang salah dan harus minta maaf dengan yang lebih tua dan dewasa! Dimana sopan santun kamu jadi pemuda ha!". Dia bicara mengebu-gebu dan bau alkohol sangat jelas gw cium dari nafas dia.


"Aturan dari mana itu pak? dan siapa yang buat? Kenapa umur dan usia dibawa-bawa untuk menilai salah dan benar?". Gw protes seketika.


"Kamu berani membantah orang tua?! saya itu hidup lebih lama dari kamu! Harusnya kamu menghormati orang yang lebih tua dan berlaku sopan".


"Saya cuma bertanya tentang teori tidak masuk akal yang anda katakan tadi, kalau sopan bukannya saya ini sudah sopan ya? Saya harus sopan bagaimana lagi?".


"Pemuda Zaman sekarang memang tidak tau tata krama! cepat minta maaf yang benar!". Dia ngebentak gw dengan sorot mata tajam.


"Iya saya minta maaf, udah kan? permisi kalau gitu saya mau keluar". Gw terpaksa meminta maaf karena males dan kagak mood adu bacot sama orang mabuk.


"Kalau minta maaf itu yang benar!". Dia menghadang jalan gw lagi dan sekali lagi dorong tubuh gw kebelakang.


"Pak anda orang tua, saya menghormati anda saya juga sudah minta maaf, tolong selesai sampai sini saja salah paham di antara kita jangan menarik sumbu emosi seorang anak muda yang masih labil, saya takut anda tidak dapat menanggung resikonya!". Gw berkata datar dengan raut wajah serius memandang pria di depan gw.


"Kamu mengancam saya ha?!".


"Mana berani saya mengancam bapak, saya cuma menasehati dan memberi tau saja sebelum anda gegabah dan merugikan anda sendirinya nantinya".


"Memang perlu di didik biar sadar pemuda seperti kamu ini!". Tangan dia maju dan ingin meraih kuping gw.


"Plaaak!". Gw tampik pelan telapak tangan dia dan gw langsung mundur satu langkah kebelakang.


"Kamu berani ya? kamu memukul saya kan barusan? Pasal 352 KUHP pemukulan dan penganiayaan ringan dengan ancaman hukuman 3 tahun penjara dan denda 500 juta, saya seorang jaksa asal kamu tau!". Pria di depan gw tersenyum tipis memandang gw.


"Terus kalau anda jaksa kenapa? Kan saya membela diri, apa semua orang dewasa kelakuannya seperti anda? Mengancan dan memfitnah orang tidak bersalah?".


"Kalau anda mau tuntut saya silahkan saja dan nanti kita bertemu di pengadilan sekarang minggir saya mau keluar!". Gw melangkah maju lagi.


Lagi dan lagi Pria berdasi hitam ini menghadang jalan gw dan mendorong tubuh gw kebelakang.


"Kamu bersikap sombong dengan orang yang salah! Saya akan pastikan kamu di penjara dan saya akan tersenyum melihat kamu meminta ampun dan maaf kepada saya".


"Tersenyum itu jika anda punya mulut dan melihat itu jika anda punya mata!".


"Apa anda bisa tersenyum jika mulut busuk anda itu saya robek?!".


"Apa mata anda bisa melihat jika keduanya saya buat buta?!".


Gw menunduk seketika dan "Praaakkkk!". tendangan kejutan menyamping gw lancarkan ke kaki pria yang melotot di depan gw.


"Bruukkkk!". Auto dia jatuh.


Gw langsung berjalan cepat ke arah pintu masuk toilet dan menutupnya.


"Bajingan! Berani ya kamu memukul saya!". Dengan cepat berdiri kembali dengan raut wajah yang penuh akan emosi.


"Bukan hanya memukul! Buat anda cacat juga saya berani?!". Gw maju satu langkah ke depan.


"Bocah kurang ajar!". Dia langsung menghampiri gw dengan tangan mengepal keras.


"Wussss!". Pukulan menyamping dia lancarkan mengarah ke wajah gw.


"Pak jangan maksain nanti asam urat anda kambuh!". Gw bicara dan menunduk untuk menghindar.


Merasa pukulan dia meleset sekarang kaki kanan dia kebelakang dan melakukan ancang-ancang.


"Wusssss!". Tendangan lurus kedepan mencoba masuk dan dia lancarkan ke dada gw.


"Pak ingat umur! Nanti tulang pinggul anda kegeser". Gw tersenyum sinis dan mudah untuk menghindar dengan mundur ke belakang.


Dia goyah kehilangan keseimbangan karena berdiri dengan satu kaki, memusatkan semua power dan tenaga di tendangan yang meleset tadi, efek alkolhol juga sangat berpengaruh disini untuk keseimbangan tubuh.


"Bruukkk!". Jatuh tengkurep ke depan akhirnya dia.


"Tu kan Tu kan! Gw bilang juga apa? ngesel sih jadi orang tua!". Gw mencibir.


"bisa bangun sendiri kagak ?! Apa mau gw panggilin pemadam kebakaran?".


"Ambulance sialan! Bukan pemadam kebakaran!". Dia mengumpat.


"Plaaaak!". Memukul lantai dan dengan tertatih mencoba untuk berdiri.


"Ambulanca kan untuk orang waras yang sakit, pemadam kebakaran yang cocok untuk anda agar bisa semprot api emosi dan amarah kagak guna yang ada di dalam hati anda itu".


Jangan kira saya tidak bisa ya pukul dan beri pelajaran kamu!". Dia mengerang marah berbicara.


Dengan langkah kaki cepat di maju kembali mendekati gw.


"Emang ya Bangkotan itu kagak akan sadar kalau belum dibuat bocor palanya! Saya tidak akan segan lagi pak".


"Anda memukul saya akan memukul anda menendang saya akan menendang!".


"Mari kita adu pukulan mana yang lebih kuat! Anak muda bau kencur kemarin sore apa orang tua bangkotan bau tanah yang sudah hidup lama?!".


Gw berjalan maju menyambut dengan senang hati, fight di toilet ke dua gw di Jogja akan segera berlangsung setelah yang pertama terjadi saat selamtkan Reza dari senior Campus di mall Mallioboro.