Preman Campus

Preman Campus
BARBIE DAN ULTRAMEN


Langit yang tadinya cerah entah kenapa kini gw dengar suara rintik gerimis hujan di luar sana.


Seakan langit berpihak kepada gw,dengan memberi suasana yang dingin.Tapi sedingin-dingin udara yang masuk dari lubang fentilasi kamar ini.


Tetap saja tidak bisa memadamkan gejolak panas darah muda gw,semua saraf dan indra di dalam tubuh ini seakan terbangun dari tidur panjangnya.


Sasa masih memeluk gw dengan erat,seakan hanya tubuh gw yang bisa membuat dia aman dan nyaman.


Bisikan-bisikan jahat meracuni otak gw untuk bertindak mencari kesempatan dalam kesempitan.


Disaat gw akan menyerah dengan keadaan ini,dan menyerah bertekuk lutut dihadapan nafsu setan yang telah memuncak.


Ada seberkas cahaya yang muncul di dalam ingatan gw,ingatan yang telah lama tertidur di dalam alam bawah sadar seorang anak bernama Abimana Pramono.


Flashback on


Di sebuah taman bermain,terlihat seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun bermain boneka barbie dengan riangnya. Gadis kecil yang cantik dengan iris mata berwarna biru dengan rambut ponytail nya dia terlihat seperti anak blasteran indo dan eropa.


Disebelahnya ada anak laki-laki seumuran dengan tampang pas-pas an dengan rambut belah pinggir dan terkadang dia menyedot kembali ingus yang keluar dari hidungnya,seakan itu ingus sangat berharga.Anak laki-laki itu sedang bermain dengan miniatur Pahlawan jepang Ultramen.


"Bima..Bima..cita-cita Bima kalau sudah besar mau jadi apa? Gadis kecil itu mulai berbicara dengan anak laki-laki disebelahnya.


Anak laki-laki itu tiba-tiba berfikir,seakan dia anak yang jenius padahal dia selalu dapat nilai terendah di taman kakak-kanak.


Dia memandangi Ultramen yang dia pegang.


"Aku mau jadi kuat dan pemberani seperti Ultramen ini dan melindungi bunda,jawab anak laki-laki itu tegas sambil menunjukan mainannya dan menyedot masuk ingusnya.


Gadis kecil itu tampak memandangi sang anak laki-laki."Bima mau lindungi Rora juga gak?" tanya gadis itu dengan kepolosannya.


"Enggak" jawab anak laki-laki itu.


"Kenapa?" Anak gadis itu tampak mau menangis.


"Karena Rora enggak bisa masak makanan enak seperti bunda Bima".


"Kalau Rora bisa masak,Bima mau lindungi Rora?" Anak kecil itu bertanya sambil mengusap matanya yang sedikit basah.


"Mau,Bima akan lindungi Rora jika Rora bisa masak makanan yang enak seperti bunda Bima".Jawab anak laki-laki itu sambil memutar-mutar mainan di tangannya.


Gadis kecil tampak tersenyum dan berdiri."Kalau gitu Rora punya dua cita-cita sekarang.


"Rora ingin jadi barbie cantik yang bisa masak,biar Bima terus lindungi Rora.


Anak laki-laki itu ikut tersenyum walau mukanya culun dan ingusnya terus keluar tapi bagi gadis kecil di depannya dia adalah anak pemberani yang akan melindungi dia suatu saat nanti saat dia pandai memasak.


Dari kejauhan tampak 2 anak laki berjalan ke arah 2 anak yang sedang berbicara tentang cita-cita itu.


2 anak laki-laki seumuran mereka tapi dengan badan yang sedikit besar.


Salah satu dari mereka langsung merebut boneka barbie dari tangan sang anak perempuan.


Karena takut mainanannya diambil juga, anak yang bercita-cita menjadi Ultramen itu segera berdiri dan berlari ke arah pohon tidak jauh dari taman.


"Bimaa!! anak perempun itu memanggil sang anak laki-laki yang berlari sambil kencing di celana karena takut.


Dua anak laki-laki itu tertawa melihat itu.


"Kembalikan barbie Rora,kembalikan" gadis itu mulai menangis dan berlari mengerjar salah satu anak yang berlari membawa bonekanya.


Sekuat apapun mengejar gadis itu tetap tidak bisa menjangkau lari anak yang mengambil bonekanya.


Gadis itu duduk dan menangis,2 anak yang mengambil bonekanya kembali datang dan mendekat.


Dan calon Ultramen di masa depan masih berdiri di balik pohon dengan celana basah,melihat sang gadis kecil yang menangis.


"alien kok main boneka" ejek salah satu anak.


"Rora bukan alien,Rora bukan alien" tangis gadis bermata biru itu semakin kencang".


"Kalau kamu bukan alien kenapa mata kamu biru,kata ibuku alien matanya biru" sang anak satunya ikut bicara.


"Alien pergi sana!! alien jangan main disini".


"Rora bukan alien,gadis kecil itu berdiri dengan tangis di wajahnya dan memukul-mukul kedua anak laki-laki itu.


"Brukkk!! dua anak itu mendorong sang gadis kecil kencang dan terjatuh dengan kening yang berdarah karena terbentur batu kecil.


Roroaaaaa!!anak calon ultramen entah dapat keberanian dari mana,dia berlari ke arah sang gadis.


Dia segera memukul-mukul ke dua anak laki-laki itu dengan mainan Ultramennya.


"Buungkk!! sang calon Ultramen jatuh karena terkena pukulan".


Dan setelah itu kedua anak laki-laki itu memukuli dan menginjak-injak, anak yang tadi berlari sambil kencing di celana.


Saat melihat anak itu tidak berdaya lagi dengan baju yang sobek-sobek berdebu,rambut yang tadi klimis belah pinggir kini juga penuh debu.


Hidung yang tadi keluar masuk ingus kini keluar darah segar,wajah dan tubuhnya memar.


Kedua anak itu pergi dengan membawa Utramen sang anak,dan melempar boneka barbie sang gadis kecil.


Anehnya walau anak itu merasakan sakit di seluruh badannya,sekuat apapun dia ingin menangis tapi tetap air mata tidak bisa jatuh.


Anak itu mengambil boneka barbie di dekatnya dan menaruh di saku,dia merangkak kearah gadis yang keningnya mengeluarkan darah.


"Rora..Rora..!Anak itu memanggil dan merangkak menahan sakit menuju sang gadis.


Dia membalik tubuh gadis mungil itu,yang ternyata masih sedikit sadar.


Gadis itu menatap sendu sang calon ultramen,dengan kening berdarah dan air mata yang terus menetes.


"Bima enggak mau lindungi Rora karena Rora belum bisa masak ya?" Dan setelah mengatakan itu sang gadis pingsan.


"Rora..rora.!!!!" anak laki-laki itu terus memanggil nama sang gadis sampai dia kelelahan dan ikut pingsan.


Flashback off


Igatan apa itu anjing,dan apa ini kenapa mata gw basah.Kepala gw seakan mau pecah setelah mengingat itu semua.Siapa gadis kecil itu,gw yakin anak laki-laki yang ngompol itu gw,tapi kenapa gw kagak ingat apapun tentang kejadain itu.


Gejolak nafsu setan gw yang tadi berkobar karena dipeluk Sasa,seakan lenyap seketika setelah ingatan itu muncul tiba-tiba.


Sekarang Amarah dan rasa bersalah berkumpul di dalam diri gw,walaupun gw tidak tau apa-apa tentang ingatan itu.


###


Sasa masih memeluk gw erat,gw dorong pelan pundaknya agar sedikit menjauh dari gw.


Dia menatap gw dengan mata yang masih basah.


Gw rentangkan tangan gw di leher belakang dia dan kaki,sekali hentakan gw angkat tubuh Sasa.


Dia tampak terkejut tapi cuma sepersekian detik,dia langsung membenamkan wajahnya di Dada gw lagi saat gw gendong dia di depan.


Gw berjalan ke arah kasur,fikiran gw masih melayang tentang ingatan yang tiba-tiba muncul saat otak gw lagi tidak berfikir jernih.


Gw masih dalam posisi mengendong Sasa di depan.Pelan gw berjongkok,dan mendudukan Sasa si kasur dan punggung nya bersandar di tembok.


Gw angkat kakinya pelan untuk gw luruskan di kasur.


Sasa masih melihat gw dengan penuh perhatian.


Gw usap rambut dia dan gw hapus air mata di pipinya dengan kedua tangan.


Dia hanya diam seakan percaya sepenuhnya dengan apa yang gw lakulan.


Gw masih membelai wajah Sasa pelan dan berucap,"Sa gw janji gw akan lindungi loe,sekuat tenaga.Gw akan pertaruhkan semua yang gw miliki untuk lindungi semua orang terdekat gw,Karena gw pernah punya cita-cita untuk menjadi Ultramen,dan mulai dari sekarang gw akan mulai wujudkan cita-cita gw".


"Semua orang siapapun yang mengusik orang-orang terdekat gw,akan gw pastikan orang itu menyesal seumur hidup".


Sasa nampak tersenyum mendengar gw bicara.


"Sekarang loe cerita ada masalah apa?"