
Gw sendirian, berbaring dengan selang infus yang nempel di tangan kiri.
Ini bagai mimpi ketika gw berfikir beberapa jam lagi, akan masuk ke meja operasi padahal siang dan malam tadi gw masih gelut dan bercanda tawa.
Apa gw kebanyakan minum air setan ya? hingga gw dapat penyakit ini atau pola makan gw yang kagak sehat? segala kemungkinan gw fikirkan
Pelan gw dengar Adzan subuh telah berkumandang dan sekarang gw liat pukul 04:10 pagi.
Dan gw liat Putri dengan langkah anggun nya kembali masuk dengan membawa baju untuk gw.
"Bimo nanti kamu ganti dengan baju ini saat menjalani operasi". Putri Bicara dan menaruh pakaian itu di dekat kaki gw.
"Thanks Putri". Gw hanya bisa mengucapkan terima kasih karena bingung mau bicara apa lagi.
"Oya operasi kamu akan berlangsung sekitar jam 5 pagi ini, kamu persiapan diri kamu ya?".
"Cepet amat Put, kamu enggak kasih aku sarapan dulu?".
"Saat sebelum operasi enggak boleh makan Bimo, keaadan perut harus kosong". Putri menjelaskan sambil mengambil kursi dan duduk di samping ranjang gw.
Di depan sana kan ada sofa kenapa dia duduk di mari buat gw deg-deg an aja ini dokter.
"Jam 5 pagi kan waktunya matahari terbit, kita gak liat pemandangan indah itu dulu aja?".
"Kamu jangan mencari alasan untuk mengidar Bimo, ini untuk kebaikan kamu juga. Liat matahari terbitnya nanti aja jika kamu sudah sembuh".
Dengan mudah nya dia bisa ngebaca maksud gw. "Kira-kira berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk operasi aku Put?".
"Paling cuma sekitar 30 sampai 45 menit, kamu tenang aja. Ini operasi ringan dan mudah kok".
"Kamu mau minum dulu gak biar aku ambilin?". Putri bicara dan berdiri dari duduknya.
"Kalau enggak ngerepotin kamu sih aku mau aja tapi yang taraf alkoholnya dikit aja ya, kan gak lucu kalau aku mabok sebelum di operasi". Gw tersenyum kecil
"Bimo!!!".
"Astafirlahalazim! ada apa Put kok kamu teriak".
"Kamu biasa minum alkohol ya Bim?" Putri memandang gw dengan tatapan menyelidik.
"Aku kan tawari kamu minum air putih kenapa kami mikirnya minuman keras".
Sialan gw musti jawab apa ini, kebiasaan minum miras jadi yang ada di otak gw cuma bir arak anggur vodka intisari dan sejenisnya. Kagak ada list air putih di daftar minum gw.
"Pantas aja kamu bisa sakit usus buntu seperti ini, pasti karena kamu sering minum miras kan?".
"Kok kamu diem? diam tandanya kamu mengakui semuanya kan?".
"Iya aku suka minum miras, tapi yang aku minum kadar alkoholnya normal kok dan harga nya juga lumayan mahal, tidak oplosan yang sering diminum orang-orang itu".
"Yang namanya alkohol itu sama aja Bimo, sama-sama tidak baik untuk kesehatan".
"Terus gimana dong? gw udah kecanduan bisa gila kalau enggak minum sehari saja". Gw bicara jujur karena dari dulu alkohol dan gw bagai soib yang kagak bisa dipisahkan.
"Emang kamu biasa minum berapa botol tiap hari?".
"Enggak banyak kok paling 7 kaleng bir dan kalau ada temen main ke kost paling ketambahan 1 atau dua botol vodka atau anggur merah.
"Ya ampun Bimo, itu kamu mau minum apa mau berenang di dalam kolam miras?".
"Mulai sekarang harus kurangi itu minum kamu, aku tau kamu enggak bisa langsung berhenti. Tapi setidaknya kurangi sedikit demi sedikit".
"Iya nanti akan aku coba, thanks atas nasehat dan perhatiannya tapi nama nya orang mencoba kalau gagal wajar kan ya?".
"Bimoo!!".
"Iya iya bercanda aku dokter Putri".
"Ya udah kamu tunggu disini aku ambilin air putih".
Putri berjalan pelan masuk ke sebuah pintu yang masih ada di dalam ruangan ini.
Gw liat ada dua pintu disini yang warna putih itu gw nyakin adalah kamar mandi dan yang dimasuki Putri itu mungkin aja tempat dia taruh minum dan makan.
Gokil emang ini cewe, udah fix pasti anak sultan pasti dia.
"Maaf lama, ini kamu minum dulu". Putri memberikan gw air mineral 1 botol mini dan sedotan.
"Kalau boleh tau ini sedotan buat apa ya? aku kan usus buntu Put bukan lumpuh?".
"Udah pakai aja daripada kamu tersedak nanti, nurut ya apa kata dokter?". Di bicara dan tersenyum kecil.
Sialan masak Preman minum pakai sedotan mau di taruh dimana muka gw, tapi kalau gw tolak pasti bakalan panjang urusannya dan Putri akan berpidato lagi.
Biar cepet kelar gw nurut aja lah sama dia selama disini. Gw bicara dalam hati dan menyakinkan diri.
"Bimo kenapa leher kamu merah-merah?".
"Uhuk-uhuk! Uhuk-uhuk!".
"Ya ampun pelan-pelan kamu minumnya Bimo". Putri mengambil tissue dan membersihkan bibir gw.
"Sorry enggak biasa minum dengan sedotan aku". Gw beralasan
Dia mengambil botol air di tangan gw dan menaruh di meja kecil di samping ranjang.
"Terus kenapa itu?".
"Ya enggak kenapa-kenapa, memang enggak biasa aja aku minum dengan sedotan".
Putri menatap gw curiga, mampus! jeli banget mata ini dokter semoga dia kagak nanya pertanyaan yang buat gw sulit jawab.
"Terus kenapa itu leher kiri kamu bisa merah-merah semua seperti itu? abis digigit vampire? atau digigit yang lainya?".
Tu kan benar dugaan gw, jika gw bilang merah di lehar gw akibat ****** dari cewe pasti langsung di tendang gw dari ini Rumah Sakit sama dia.
Ayo Bimo berfikir, gunain otak isi lem kamu untuk mencari alasan. Gw menyemangati diri gw sendiri.
"Kok kamu bengong, apa jangan-jangan merah itu karena.."
"Karena apa? emang merah banget ya Put? pantas aja gatal sekali, tadi sore aku enggak sengaja makan seafood Put. Aku kan alergi seafood jadi ya gitu".
"Kalau alergi seafood kenapa masih dimakan sih Bimo? kamu sendiri kan yang bakal rugi".
"Hehe, iya enggak sengaja tadi makan nasi goreng seafood aku, tapi cuma sedikit kok kamu tenang aja". Alasan yang sempurna Bimo, emang bajingan kelas kakap lu ini. Gw bangga akan alasan yang gw buat
"Tok..Tok..Tok".
Saat Putri mau bicara kembali terdengar suara ketukan dari pintu.
"Iya silahkan masuk". Putri berbicara kepada orang diluar sana.
Munculnya suster muda yang tadi pasang infus di tangan gw.
"Maaf dok mengganggu, meja operasi dan alat-alat sudah siap semua, asisten dokter juga sudah menunggu termasuk ahli anestesi sudah datang". suster itu bicara lembut.
"Baik tolong panggil 2 perawat pria untuk membawa meja dorong kesini".
"Baik dok". suster itu kembali pergi.
"Bimo aku lepas dulu infus kamu ya? dan kamu langsung aja ganti baju aja, kamu bisa ganti di kamar mandi sana". Putri menunjuk pintu warna putih.
Gw hanya mengganguk pelan mau beralasan pun kagak bisa udah terlanjur ini dan gw juga udah kagak tahan sama sakit di perut sialan ini. Mau tidak mau gw harus siap menjalani operasi.
"Biar aku bantu jalan Bimo!".
Belum gw menjawab, Putri udah meraih tangan kiri gw dan di rangkulkan ke pundaknya dan tangan kanan dia memegangi pinggang gw.
Auto tubuh kami berdempetan, sentuhan tangan dan Aroma tubuh Putri terasa sejuk masuk ke indra penciuman gw.
Cobaan apa lagi ini ya Allah, tenang Bimo tenang. Jangan Gr kamu, Putri hanya bantu kamu jalan. Gw bicara dalam hati
"Thanks Put, baik banget kamu".
Dia menjawab dengan senyum lembutnya dan mulai berjalan memapah gw ke arah kamar mandi.
Saat sampai dia langsung membuka pintu untuk gw. Sumpah perhatian banget ini cewe.
"Kamu diluar aja ya Put enggak usah ikut masuk, aku bisa ganti baju sendiri kok". Gw bicara dan menggoda Putri.
"Serius kamu bisa ganti baju sendiri?". dengan berani dia counter attack godaan gw.
Tanpa bicara gw langsung masuk ke kamar mandi dan mendengar suara Putri yang tertawa di balik pintu sana.
Sialan niat mau ngegoda malah gw yang kena, emang unik-unik cewe Jogja ini.
###
Gw keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju pasien dan melipat rapi pakaian yang gw kenakan tadi.
"Udah selesai Bimo? Yuk kita keluar meja dorongnya udah menunggu di luar".
"Tunggu Put? ini Dompet aku di dalamnya ada KTP, kartu mahasiswa dan kartu kredit untuk membayar semua biaya operasi dan perawatan aku nanti".
Putri melihat gw sekilas seperti sedang berfikir sesuatu tapi dengan cepat dia mengambil dompet gw.
"Iya nanti biar aku urus semua nya kamu tenang aja".
"Dan ini Hp aku, daya nya abis tolong ya nanti kamu kasih setrum biar nyala".
"Hehe, iya nanti aku setrumin hp kamu pakai cas aku". Dia tersenyum dan meraih hp yang gw sodorkan.
"Kalau baju aku ini Put gimana? kamu mau kan cuciin juga nanti?".
"Bimo emang aku istri kamu segala cuci baju kamu bebankan ke aku".
"Sekalian Put biar pahala kamu bertambah, udah tolong aku sebagai wali dan cuci baju aku, hehe".
"Ya udah sini nanti aku bawa ke laundry". Dia juga langsung meraih pakain kotor gw.
Padahal kan gw cuma bercanda dia malah tanggapi dengan serius, tapi bodo mumpung ada cewe baik kagak apa-apa kalau sedikit gw manfaatin, dia juga terlihat kagak keberatan.
Setelah dia menaruh barang-barang gw di sofa dia kembali memapah gw untuk berjalan keluar.
Dan saat diluar gw liat udah ada 2 perawat muda berpakaian hijau yang menatap gw tajam saat posisi gw begitu dekat dengan Putri.
Terlihat dengan jelas mereka cemburu melihat Putri yang begitu perhatian sama gw.
Kalau gw kagak sakit udah gw gelut ini dua orang, berani-beraninya tatap gw seperti itu udah kagak sayang sama tulang-tulang di tubuhnya apa.
"Bimo kamu berbaring di ranjang ini ya, biar dibawa ke ruang operasi sama dua perawat ini".
"Gimana kalau aku jalan aja Put?".
2 orang pria di depan gw kembali melihat gw dengan sorot mata minta di culek saat dengar gw panggil nama Putri tanpa embel-embel dokter.
Mungkin Putri adalah primadona Rumah Sakit ini dan kelihatannya 2 perawat pria ini adalah sebagian orang yang mengagumi dia.
Wajar aja sih dengan melihat fisik dan paras nya yang sempurna plus sifatnya yang baik dan ramah pasti banyak pejantan yang mencoba mengambil hati ini betina.
"Bimo ruang operasinya ada di lantai 2 dan harus naik lift, kamu naik aja dan berbaring biar lebih cepat sampai". Putri bicara menyakinkan gw.
"Iya deh, sorry ya bang kalau saya ngerepotin abang berdua". Gw bicara dan langsung naik ke ranjang dorong di depan gw.
Bodo amat mereka berdua terlihat marah ujung-ujungnya juga tersenyum dan mengangguk mereka, karena ada Putri di samping gw.
Tanpa banyak pembicaraan di perjalanan gw akhirnya sampai di lantai 2 tempat dimana perut gw akan di bedah oleh Putri dan geng dokternya.
Saat gw masuk di dalam sudah ada 4 orang menunggu dan sudah memakai pakaian yang menutupi semua tubuhnya dan memakai masker juga. Dan banyak sekali alat-alat yang gw kagak ngarti namanya apa.
"Bimo kamu pindah ke meja operasi itu ya?". Putri bicara dengan gw yang masih berbaring di ranjang dorong.
Gw pun langsung bangun dan berjalan ke meja operasi yang berada di tengah-tengah 4 orang di depan gw.
"Permisi!". Gw bicara pelan dan naik ke meja operasi. Gw kagak liat wajah 4 orang ini yang tertutup masker semua, yang pasti gw bisa tau dari mata nya, mereka adalah du cewe dan 2 cowo.
2 perawat yang bawa gw kesini tadi langsung pergi dan meniggalkan ruangan.
"Bimo kamu tunggu sebentar ya, aku ganti pakaian dulu, dan kalian tolong persiapkan semua alat-alat operasinya dengan sempurna saya tidak mau ada kesalahan walaupun ini hanya operasi ringan".
"Baik dok". Jawab mereka berempat serempak, dan Putri pun langsung berjalan keluar ruangan.
"Maaf mas tolong di buka kancing bajunya". Suara cewe bicara dari samping kanan gw.
Gw yang udah pasrah nurut aja, gw buka kancing baju satu persatu dan memperlihatan tubuh bagian atas gw.
Dan sialnya dokter yang bicara tadi malah kagak kedip liat tubuh gw. Sialan malah terpesona dia.
"Ehemm!". Suara batuk dari pria di sebelah kiri membuat cewe di kanan gw ini kembali sadar dan mulai memasang alat-alat aneh di lengan dan ke dua dada gw.
Dan selanjutnya dia juga memasang infus di lengan gw.
Detak jantung dan tekanan darah normal. 1 orang pria yang berada di belakang gw berbicara sambil mengamati monitor di belakang.
Orang yang akan sayat perut gw akhirnya muncul juga yaitu Putri yang sudah berpakaian seperti orang-orang disebelah gw.
"Apa semua nya sudah siap?". Putri berbicara saat sudah ada disamping kanan gw.
"Alat-alat semuanya sudah siap dan steril dok, detak jantung dan tekanan darah pasien juga normal dan stabil". Orang di belakang gw berbicara.
"Bagus sekarang kalian siap di posisi masing-masing".
"Baik dok!". Jawab mereka serempak
Gw mencoba untuk tenang dengan pengalaman operasi pertama gw ini.
Sekarang di sebelah kiri gw ada 2 orang dan kanan gw juga 2 orang termasuk Putri dan dibelakang atau diatas kepala gw ada 1 orang.
"Put kamu enggak akan operasi aku dalam keaadan sadar kan?".
4 orang ini juga terlihat terkejut seperti 2 perawat pria tadi saat gw panggil nama Putri langsung.
"Kamu tenang aja Bimo, infus yang kamu pakai itu udah disuntikan obat bius sama ahli anestesi di belakang kamu".
"Sebentar lagi juga kamu akan tidur pulas dan kamu tenang saat kamu bangun nanti kamu udah ada di tempat yang berbeda".
"Tempat berbeda mana? bukan alam lain kan maksud kamu?" Gw memastikan dan menguap pelan pertandan obat bius udah mulai berkerja di dalam tubuh gw.
"Ruangan rawat pasien Bimo, kamu jangan mikir yang aneh-aneh gitu ah".
Gw tersenyum kecil melihat mata Putri yang terus memandang wajah gw.
Lambat laun mata gw semakin berat dan merasakan kantuk yang sangat kuat.
"Put aku mau lihat wajah kamu pertama kali saat aku membuka mata nanti". Gw bicara pelan dan langsung kagak sadarkan diri tapi sekilas gw liat Putri mengangguk pelan.