Preman Campus

Preman Campus
EASY FIGHT


Dengan tatapan mata bengis penuh akan aura yang memancarkan kemarahan, manusia yang mendapatkan gaji dari pajak itu semakin bernafsu untuk menjatuhkan gua.


"Walau mata loe melotot sampai anjing pacaran sama kucing pun kagak mungkin bisa buat gua gentar mas, apa tangan loe masih sakit?". dengan senyum tipis penuh akan penghinaan gua kompori musuh lagi dan lagi.


"Bangsat!". Dia mengumpat dan masih saja melotot.


"Ya ampun kek setan aja loe itu, kulit wajah gelap malah melotot terus.. Sorry bukannya gua kagak peka tapi kagak punya pisang ini gua". Lidah rasis ini terus berulah.


"Anjing! gua babat loe Anjing!!". Seiringan dengan umpatan melengking dari mulut busuknya, musuh langsung maju berlari ke depan kek babi yang mau menyeruduk.


Dan benar saja dia langsung membungkuk saat sudah berada di depan gua.


Gua rada terkejut untuk sesaat dengan kecepatan lari itu tentara dan itu membuat gua lengah sepersekian detik dan bangsatnya itu bisa dimanfaatkan dengan baik oleh dia.


Dengan posisi menyeruduk nya itu, pinggang gua di pegang erat dengan kedua tangannya yang melingkar.


Pundak dia tepat di perut gua dan gua langsung di dorong mundur, mencoba mentake down jatuh.


Kalau main di lantai bus bisa kacau karena lokasi tempat adu nyawa yang sempit.


"Bugkkk!!".


"Bugkkk!!".


"Bugkkk!!".


Siku gua dari atas gua hantam kan ke punggung musuh.


Musuh mengerang tapi tepat terus mendorong gua dengan serudukan nya yang semakin gua.


"Braaakkkkkk..!!". Akhirnya yang gua takutkan terjadi.


Kalah posisi dan situasi yang kurang mendukung, gua akhirnya jatuh terlentang di lantai Bus dengan musuh yang berada di atas gua, yang lebih tepatnya langsung ambil posisi duduk di perut.


"Mati kamu anjing!". 3 kata terucap dari mulutnya dan dengan brutal pukulan kiri meluncur mulus ke wajah gua.


"Traaang!". Pukulan mengenai lantai bus karena sebisa mungkin gua menghindar dengan menggerakkan kepala.


Bogem lurus tangan kanan datang dan sekali lagi gua bisa menghindar.


Saat ini gua seperti lagi di diskotik dengan kepala yang geleng-geleng mulu.. kalau gini terus lama-lama bisa salah urat ini otot leher gua.


"AAAAAAAAAAA...!". Merasa pukulannya selalu gua hindari, tentara gila itu malah teriak semakin emosi sepertinya dia.


"BBBBBBBBBBB..!". Bangsatnya gua kepancing.


"Gua tumbuk loe bangsat!". Kek petugas stasiun saja musuh gua ini, mau nyerang kasih pemberitahuan dulu.


Kali ini serangan dia berubah masih dengan pukulan tapi sekarang lebih cepat kiri kanan secara bergantian.


Walau gua geleng-geleng menghindar tetap saja kagak bisa menghalau semua serangan yang begitu cepat, apalagi posisi gua ada di bawah dan ditindih.


Satu bogem mentah mendarat tepat di hidung gua, sakit banget Cok.. darah segar langsung muncrat.


Gua nengok menghindar geleng ke kiri tapi pukulan selanjutnya malah tepat mengenai kuping gua yang langsung muncul bunyi nging panjang banget kek sirine kebakaran.


Musuh masih saja dengan emosi serang gua dan jika ini terus berlanjut bakalan tepar ini gua.


Pertahan terakhir gua lakukan dengan melindungi wajah dengan kedua tangan seperti petinju yang sedang bertahan, lagian capek dan pusing gua geleng-geleng mulu.


Walau pukulan dia mengenai tangan, untuk saat ini masih bisa gua tahan dan sakitnya tidak seberapa.


Lambat laun pukulan musuh semakin melambat dan nafasnya pun mulai ter engah-engah.


Gua intip dari segala tangan di depan wajah, dada itu orang naik turun ambil nafas dan inilah moment kesempatan gua untuk melakukan counter attack alias serangan balik.


Stamina gua masih full juga efek nutrisi dari bakso 100 ribu dan es teh 10 ribu.


Musuh melotot terkejut campur gelagapan mencoba berdiri dari perut gua tapi itu sia-sia dan sudah sangat terlambat karena tangan gua bergerak dengan cepat.


Yang semula bertahan di melindungi wajah sekarang meluncur ke atas dengan 10 jari gua yang mencengkram lehernya.


Game on! musuh gua cekik dan gua tekan tenggorokannya gua remas biar mampus sekalian.


Dia berontak dengan mencoba berdiri dan pukul-pukul lengan gua tapi gua kagak sebodoh itu yang merelakan kesempatan emas pergi, gua tarik batang lehernya ke bawah.. untuk dia tetap stay di atas perut gua.


"Bangsat! Iler loe menetes di baju gua anjing!". Gua mengumpat karena busa mulai keluar dari mulutnya.


Kedua matanya pun tampak aneh karena mendelik hitamnya menghilang dan pelan-pelan tubuhnya mulai lunglai lemas.


"Pahlawan lemah! Minggir loe!". dengan gerakan berputar dengan mudah gua buat musuh berada di lantai dan gua segera berdiri.


"Buggkkk!".


"Buggkkk!".


Gua injak-injak perut nya beberapa kali.


"Bangun loe babi! Jangan pura-pura mati!". Gua injak arena tengah bawah pusarnya.


"AAAAAAAAH!!". Dan akhirnya teriakan yang gua tunggu dari musuh datang juga teriakan kesakitan.


Dia ngesot mundur memegangi anunya sambil terbatuk efek dari cekikkan gua tadi.


Kali ini tidak ada kesombongan dari raut wajahnya.


Sorot mata dia yang semula begitu mengintimidasi, saat ini hilang bak telan bumi karena yang gua liat, saat ini dia tatap gua dengan sorot mata penuh akan rasa takut dan kekawatiran.


"Udah bos ampun, saya mengaku salah.. Udah cukup saya kalah". Dia melas bangkit berdiri dengan lututnya di lantai, bicara dengan kedua tangannya yang digosok-gosok di depan muka.


Melihat itu gua semakin emosi dengan langkah pasti gua maju dan langsung mengangkat lutut menuju mukanya.


"Braaakkkkkk!".


"Aaaaaa! Ampun!". musuh jatuh lagi terlentang di lantai.


"Anak babi! Kalau minta ampun itu yang benar sialan! emang gua pohon keramat pakai gaya sembah kek tadi! Benar-benar minta lebih loe ya".


Gua langsung injak-injak dan tendang-tendang dia lagi dengan lebih brutal.


Teriakan minta maaf dan teriakan ampun dia ucapkan.


"Bacot!". Gua tumbuk sekalian mulutnya dengan sepatu.


Entah sudah berjalan berapa menit sekarang gua aniaya aset negara ini, sebelum gua kehabisan stamina.. Gua akhiri saja, musuh juga udah gak ada perlawanan dan cuma teriak-teriak minta ampun dan kesakitan, ini sudah kagak seru lagi.


Mulut, hidung dan pelipis itu orang juga udah bocor.


Gua lumayan kagum sama itu bocah, walau staminanya kagak seberapa tapi daya tahan tubuhnya lumayan kuat, kagak pingsan walau gua cekik dan injak-injak membabi buta.


"Asu? Korek gua tadi loe ambil kan? Mana sini balikin". Gua berdiri tegak dengan satu tangan masuk saku dan tangan yang lainnya menjulur ke depan.


"Iya mas, maaf.. saya kembalikan sekarang". Dengan muka penuh darah mental yang sudah hancur dia mencoba bangkit.


"ASU! siapa yang suruh loe berdiri? datang kembalikan korek ke sini dengan merangkak!!".