
"Iih lucunya ... Imut banget sih? Kelihatannya dia suka saat aku berada di depannya langsung kasih salam gini, juga kelihatannya dia sudah enggak sabar. Enaknya pakai tangan apa pakai mulut ya? Kamu suka yang mana?".
Sisil mendongak ke atas melihat dan bertanya ke gw, tangan dia sudah mulai nakal mengelus dan memijit lembut batang gw yang sudah tegang dari luar celana.
"Ya ampun .. Udah keras banget sih, boleh aku buka kan ya?".
"Uhhhhh..!". Dapat ran.s.a.n.g.a.n kek gitu otak gw jadi bleng, bibir gw mendesah dengan sendirinya, yang semula kagak nafsu lama-lama percikan api sudah mulai tersulut dan mulai membakar darah dan gairah yang yang selama ini gw sembunyikan dan simpan rapat.
Akibat tindakan frovokatif dan impulsif Sisil jiwa dan nafsu binatang gw pelan-pelan mulai terbangun dan mencari lebih dan lebih.
Gw berasa melayang dan para setan yang telah lama ngikuti dari dulu yang mulai bosan mungkin bersemangat kembali saat ngelihat adegan gw dan Sisil ini, mungkin juga mereka sudah menyiapkan naskah apa yang nanti akan mereka bisikan ke gw. Untuk menghasut dan membuat gw semakin jatuh ke jurang dosa.
Melihat posisi gw dengan Sisil saat ini mungkin juga para setan itu akan membawa anak-anaknya para setan junior, untuk mata pelajaran tambahan mengasah skill untuk menggoda manusia yang imannya kagak terlalu besar kek gw ini.
Tidak salah dan benar artinya kata-kata yang pernah gw dengat jika dosa itu nikmat.
"Pakai mulut saja". Bibir gw bicara dengan sendirinya mengikuti suasana yang mulai panas dan sangat e.r.o.t.i.s ini, saat ini otak gw seluruhnya diselimuti oleh nafsu akibat efek dari belaian ringan Sisil di bawah sana.
"Pilihan yang sangat bagus, tau aja kamu aku pandai mengunakan mulut dan lidah". Sisil menjadi sangat begitu antusias mendengar jawaban spontan dari gw.
Adegan gila apa yang selanjutkan akan terjadi, sudah bisa ditebak ... Gw pasrah menunggu takdir membawa gw ke sisi yang mana dan yang pasti jika tidak ada halangan sisi sang pendosa adalah sisi yang akan gw masuki.
Jari-jari lentik Sisil sudah mulai beraksi mencari resleting celana gw, tidak butuh lama dan kerja keras dia dengan mudah menemukannya.
Suasana sunyi dan hening di dalam lift, gw melihat ke atas dan memandang CCTV entah sekarang berapa orang yang sedang memperhatikan kami, untung saja gw memakai topi hitam.. Bisa menutupi sebagia wajah.
Dengan pelan dan lembut Sisil mulai menarik resleting celana gw kebawah.
Baru ini gw dengar suara resleting terbuka semerdu ini.
Gw melihat ke bawah dan memandang Sisil yang matanya berbinar sambil m.e.l.u.m.a.t bibir dengan lidahnya sendiri, dia tampak terpesona dengan benda yang masih di bungkus CD di depan matanya.
"Uuuhhh..! Jangan dipencet-pencet". Gw berasakan ngilu dan perasaan tidak dapat terlukiskan menerima servis mendadak Sisil, dengan tidak sabarannya dia mempermainkan benda yang masih terbalut CD dibawah sana, dia urut pelan.
"Aku percaya kamu itu spesial tapi aku enggak menyangka akan sebesar ini". Sisil memuji dan tampak kagum.
Gw kagak ngejawab dan kagak juga menolak dengan apa yang selanjutnya akan dilakukan Sisil, gw hanya bisa menikmati dalam diam dan seutuhnya tunduk di dalam nafsu binatang ini.
Tanpa banyak bicara lagi jari-jari lentik Sisil mencoba mengeluarkan batang berbentuk daging panjang dari sangkar terakhir yang melindunginya.
"Uuuhh..!" mata gw terpejam dan bibir gw mendesah merasakan nikmat.
"Tiing!".
Suara aneh terdengar, auto gw berubah bego dan terkejut seketika, mata gw langsung terbuka lebar terbelalak. Begitu juga dengan sisil tapi dia masih berjongkok di depan gw dengan ekpresi jengkelnya yang menghiasi wajahnya.
"Jgleekk!". pintu lift pelan-pelan terbuka.
"Mampus!". Gw auto panik, segera dengan cepat kedua tangan gw menjulur kebawah mengangkat Sisil untuk berdiri.
"Apa sih? Lidah aku kan belum menari-nari". Sisil tampak tidak senang.
Gw kagak ngejawab, segera berbalik badan dan memasukan lagi batang gw yang sudah keluar separuh, dia sedikit berontak dengan masih tegak berdiri menantang, gw sentil unjungnya pelan dan dengan paksa gw masukan lagi ke dalam CD dan menarik resleting celana ke atas.
Walau sedikit mengganjal dan kagak enak gw berbalik badan dan mencoba tenang, Sisil masih di depan gw menatap seorang pria dengan jas rapi dengan tag nama, bisa gw pastikan dia adalah staf hotel atau mungkin salah satu manager disini.
"Kalian! Kalian melakukan apa barusan?!". Pria yang gw perkirakan berumur 30 tahunan ini berbicara menatap tajam gw dan Sisil bergantian dengan kecurigaan tingkat tinggi.
"Kamu kenal sama kita? Jangan sok kenal dan kepo dengan urusan orang lain, minggir! Kami mau keluar". Bentak Sisil tanpa takut.
"Jangan harap bisa keluar dari lift ini sebelum kalian jujur dan menjelaskan semuanya kepada saya, kalian anak muda pasti melakunan tindakan asusila kan tadi? Sebagai manager magang lantai 2 hotel ini saya tidak akan tinggal diam, ini demi nama baik hotel". Dengan tegak dia berdiri ditengah-tengah pintu lift.
"Baru manager magang aja sombong kamu! Apa ini perlakuan manager hotel terhadap para tamu? Kamu Udah tidak sayang pekerjaan? jika saya sebagai tamu melakukan komplain ke atasan kamu hah!". Sisil mengeluarkan ancamannya.
Sementara gw masih diem tepat dibelakang dia, dengan posisi memet banget bongkahan pinggul bulat dia nempel tepat di depan batang gw yang masih tegak berdiri, situasi ini buat gw kagak nyaman.
"Kamu mengancam saya? asal kamu tau ya saya tidak takut dengan acaman anak kecil dan juga kalian sudah berbuat tidak senonoh di tempat umum hotel kami, ada CCTV dan saya akan mendapatkan rekamannya dan melaporkan kalian!". Pria di depan kami gantian mengamcam.
Jika bener-bener ini orang ngelaluin itu dan jika video tadi tersebar, ada kemungkinan Ayah dan bunda gw tau, ada resiko dihapus dari Kartu keluarga gw jika itu terjadi belum lagi jika cewe-cewe gw pada tau dan liat, bisa sakit hati mereka dan bisa dipastikan gw bakalan jomblo lagi.
Secara kagak langsung ini orang mau buat gw dalam masalah besar, Gw auto memegang pundak Sisil dan menggesernya ke samping.
Sisil tampak terkejut dengan tindakan gw tapi dia nurut dan diam aja.
"Kamu mau apa? Mau beralasan apa lagi kamu hah! Ayo ikut saya ke bawah dan akui kesalahan kalian". Pria di depan gw berucap tegas dengan tangan yang akan mendorong gw kebelakang.
"Plakk!". Dengan sekali ayun gw tepis tangan kurang ajar itu.
"Kamu beraa... " kata dia tercekat di tenggorkan.
"Bacot!". Gw cuma mengucapkan 1 kata dan langsung tangan kiri gw angkat dan mencengkram leher dia kuat.
Dia terperanjat kaget, kedua matanya melotot.
Segera gw dorong di mundur keluar lift dan langsung gw himpit di tembok dengan tangan gw yang masih mencengkram lehernya.
Sisil dengan santainya dan tenang juga mengikuti gw dari belakang dan sekarang berdiri diam disamping gw.
"Aaahkkkk! Lepas..!". Dia berontak mencoba memukul muka gw.
"Diam bangsat! Buggkkkkl!". Gw dahului dan gw kasih bogem mentah tepat di hidungnya.
"Aaaahhkkk! Uhuk-uhukk!". Darah segar langsung keluar dari kedua lubang bernafas, cengkraman gw di lehernya gw tekan.
"Diam! Jangan kebanyakan bacot, berani ngelawan lagi bisa gw pastikan saluran bernafas lu ini akan patah dan lu bakalan mampus disini!". Gw mengintimidasi dengan aura preman yang pekat.
Mata dia berkaca-kaca ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.. Dengan tekanan gw di lehernya.
Gw tersenyum kecil, mungkin dimata dia senyum yang gw tunjukkan adalah senyum iblis.
Muka dia memerah dan segera gw longgarkan cekek an gw di lehernya tapi masih gw tekan untuk menakuti dan memberi pelajaan.
"Denger ya njing! Buka mata dan telinga lu lebar-lebar ... Siapa lu dengan berani-beraninya ngancam kita berdua, dimata orang seperti kita lu itu hanya semut kagak guna yang bisa kami injak sesuka hati!". Gw acting sombong.
"Lu fikir dengan kedudukan lu ini bisa mengintimidasi kita? Hahahaha, cuiiihhh!". Gw ludahin muka dia. "Jangan pernah bermimpi di siang bolong". Acting gw berlanjut.
"Gw katakan sekali lagi, jika sampai video di dalam lift tadi tersebar ... Hidup lu bakalan hancur sampai 7 turunan". Lu bisa mengancam gw bisa mengancam dan mari kita bandingan ancaman siapa yang akan menjadi kenyataan?".
Suasana hening untuk sesaat di lorong kamar hotel lantai dua ini.
"A .. A ..asal kamu tau paman saya manager senior di hotel ini dan dekat dengan pemilik hotel, kamu tau siapa pemilik hotel ini? Cepat lepaskan saya!".
Dia masih aja ngelawan dan menggukan koneksi yang kagak seberapa itu, melihat gw diam dia tampak di atas angin walau lehernya masih di dalam cengkraman gw.
"Nyakin lu ngancam kita dengan itu? kalau lu bilang bapak lu anggota DPR RI pun gw kagak gentar, sampah!"
"Gw Abimana Pramono! Kalau lu masih berbuat bego, bakalan gw beli ini hotel ... Gw hancurkan dan gw buat empang pembuangan sampah!".
Dia kembali terbelalak mendengar ancaman gw, mungkin saja dia tau apa arti nama belakang gw itu.
Gw menengok ke samping, memandang Sisil yang memandang gw dengan mata berbinar dari tadi.
"Lu ngapain Ngeliat gw kek gitu? Lu kagak ngikut ngancam ini orang? Gw udah tau lu bukan orang sembarangan dan punya latar belakang kuat".
Sisil malah tersenyum. "Kamu keren banget, seperti penjahat tampan yang selama ini aku impikan".
"Ini bukan waktu yang tepat untuk lu gombalin gw! kagak liat situasi lu?". Gw tambah emosi ngelihat tingkah Sisil yang kagak koperatif.
"Hehe, Ok kalau mengunakan latar belakang sih aku enggak terlalu kalah sama kamu". Sisil berucap penuh percaya diri.
Dia mengalihkan pandangannya kepada orang yang masih gw cekek dan gw teken di tembok.
"Kamu orang tidak tau diri berani-beraninya mengusik kesenangan aku, aku Sisilia Putri Adithama pewaris tunggal Adithama grup kalau mau bakalan aku beli ini hotel dan aku jadikan kandang ayam". Sisil dengan ancamannya yang buat gw sedikit terkejut mendengar nama Adithama di belakang namanya.
Adithama grup walau bukan perusahan internasional seperti Pramono grup, mereka masih perusahan yang mendominasi di Indonesia. Mereka bergerak di bidang kebutuhan pokok, gw pernah dengar ada sekitar 15 ribu supermarket besar di seluruh indonesia atas nama Adithama grup.
Sungguh latar belakang bukan kaleng-kaleng tapi mendengar itu segala macam pertanyaan muncul di benak gw, Sisil anak orang tajir kenapa malah jadi ayam?