
Jam menunjukkan pukul 22:46, suasana malam minggu di kota pelajar ini masih sangat ramai.
Jalan-jalan masih di isi dengan kendaran yang berlalu lalang dengan berbagai kendaraan yang didominasi roda dua. Dan pemuda-pemudi yang saling bergoncengan dengan mesra.
Tak jarang gw juga melihat bule-bule berambut blonde berjalan santai di trotoar. Mereka tinggi-tinggi sekali mungkin dari orok mereka sudah minum obat peninggi badan.
Gw berfikir bakalan menang kagak ya kalau gw gelut sama bule itu, selama ini kan lawan gw produk lokal terus.
Kenapa gw merasa tertantang ya? dan entah kenapa feeling gw merasa cepat atau lambat gw bakalan gelut sama bule.
Karena feeling gw kagak pernah salah, gw jadi bersemangat menantikan moment itu.
"Jalannya macet sekali ya pak?" gw membuka pembicaraan mencairkan suasana di dalam mobil yang dari tadi sunyi senyap.
"Biasa nak Bimo, ini kan malam minggu. Pasti orang-orang keluar untuk mencari hiburan dan berjalan-jalan". Pak Rohmat berbicara sambil fokus menyetir dan mencari warung tenda untuk kita makan.
"Jakarta kan lebih ramai Bim, dibandingkan Jogja ini". Amora yang masih senderan di pundak gw ikut berbicara.
"Gw kagak tau Amora, gw jarang keluar malam soalnya". Gw ngibul padahal dulu tiap malam pasti gw nongkrong sama anak-anak basis, mabok judi dan gelut kalau ketemu musuh.
"Kamu pasti bohong kan? mana mungkin cowo seperti kamu enggak pernah keluar". Amora meragukan ngibul gw.
"Keluar kan butuh modal Amora, kalau aku enggak bantu-bantu orang tua dulu mana mungkin dikasih uang jajan lebih dan di jakartan kan apa-apa mahal.
"Uhukk-Uhuuk!" Pak Rohmat terbatuk pelan. Mungkin dia tau kalau gw lagi acting, karena dia sudah tau identitas asli gw.
"Maaf kalau boleh tau orang tua kamu kerja apa? kalau kamu enggak nyaman dan enggak mau jawab juga gak apa-apa". Amora bicara panjang, takut gw tersinggung mungkin.
Santai aja, masak kamu tanya gitu aja gw marah,lagian mana bisa gw marah sama kamu Ayah jualan batu dan ibu jualan baju". Gw menjawab pertanyaan Amora.
"Batu? batu apa? baru ini aku tau ada yang jualan batu". Amora kembali duduk tegak dan melihat gw.
Akhirnya dia kagak senderan lagi, benar sih adegan senderan itu terlihat sangat romantis tapi pegel cok di pundak.
"Batu akik Amora tapi ayah spesialis batu warna hitam saja".
"Oh iya aku tau kalau batu akik". Amora tampak mengangguk mengerti.
"Uhuk-uhuk!". Suara batuk terdengar lagi dari depan
kelihatannya sengaja itu pak Rohmat batuknya, mungkin dia binggung kenapa gw yang tajir ini masih pura-pura kere di depan orang-orang.
"Kalau saudara kamu Bim? kamu anak tunggal apa punya saudara?". Amora bertanya lagi seperti lagi survei sensus penduduk aja ini anak.
"Gw anak tunggal Amora, enggak punya saudara". Gw menjawab jujur
"Maaf ya kalau aku banyak tanya, aku ingin tau tentang kamu lebih dalam soalnya".
"Santai aja, wajar kok. Gw cuma cowo sederhana dari keluarga sederhana".
Amora tersenyum lembut melihat gw. "Kamu enggak mau tanya soal aku Bim?" Dia kelihatan berharap banget gw menayakan tentang dirinya.
Biar dia kagak marah dan ngambek akhirnya gw memikirkan satu pertanyaan untuk Amora.
"Sebenarnya aku penasaran akan satu hal tentang kamu, tapi gw kagak enak mau bertanya".
"Tanya aja, aku pasti jawab kok". Amora menyakinkan
"Enggak ah, enggak enak gw, nanti aja biar gw lihat sendiri".
"Kamu mau lihat apa? keluarga aku ya?".
Kamu tanya aja pasti akan aku ceritain semua ke kamu".
"Aku akan tanya tapi kamu jangan marah ya?".
"Iya Bimoo aku enggak bakal marah".
"Kenapa pakai bisik-bisik segala sih". Amora protes tapi tetep saja dia menyodorkan kuping kanannya ke gw.
Gw liat itu kuping kecil nan mungil milik Amora, rasanya pengen gw tusuk itu sama lidah gw dan gw e*mut sampai basah.
Sabar Bimo sabar, jangan gegabah semua ada waktunya, gw mencoba untuk tidak bertidak terlalu jauh.
Gw dekatkan bibir gw ke kuping Amora.
"Fuuuu!!" Dan gw tiup pelan.
Amora langsung menglincang dan menjauh.
"Hahahaha!!" Gw ketawa lebar dan Amora langsung pukulin gw dengan boneka yang dia pegang.
"Kamu ya, enggak bisa di ajak serius". Amora tampak cemberut manja.
"Emang adek mau abang seriusin?".
"Ihhhh, Bimo nyebelin!". Amora mukulin gw lagi pakai boneka.
"Ok, Ok stop. Gw bakal bertanya serius kali ini. Sini in kuping kamu!".
"Awas ya kalau kamu bercanda lagi, aku loncat ini dari mobil". Dia mengancam
"Adek gemesin banget sih, pakai mau loncat segala. Loncat aja nanti biar abang pungut lagi".
"Bimo iiihh!, bukannya di bujuk akunya. Malah disuruh lompat beneran".
Gw cuma tersenyum melihat Amora yang cemberut.
"Siniin kupingnya biar abang bisikin pertanyaan?".
"Awas ya kalau kamu tiup lagi kuping aku!". Amora menyodorkan kuping kanannya lagi dengan hati-hati.
Gw pun kembali memajukan bibir. "Sebenarnya gw sangat penasaran, sekarang ini kamu pakai CD warna apa?"
Gw berbisik dan bertanya, gw angsung mundur menjauh takut Amora meledak lagi.
Tapi dugaan gw salah total dia malah diam seribu bahasa dan melihat gw dengan senyum kecil menakutkan yang dia tunjukan ke gw.
Dia melambaikan tangannya untuk memanggil gw mendekat.
Merasakan bakal ada bahaya yang mengancam gw auto menggelengkan kepala menolak untuk mendekat.
"sorry, gw cuma bercanda tadi". Gw berkata pelan dengan wajah takut melihat Amora.
Tanpa bicara Amora menarik lengan dan megang kepala gw dan mencoba berbisik sesuatu di telinga kiri gw.
Gw pasrah aja kalau dia mau berteriak atau mengumpat tepat di kendang telinga gw.
"Sebenarnya aku enggak pakai ****** ***** Bim". Dia berbisik pelan melepaskan kepala gw dan kembali duduk normal.
Gw auto tutupi sarung depan gw saat mendegar bisikan itu, karena batang yang tadi udah bisa tidur sekarang seperti disentil dan bangun tegak berdiri.
Tidak salah lagi Amora tadi bisikin gw dan bilang kagak pakai ****** *****, berarti di balik celana itu dia polosan dong? Gw meneguk air liur, Itu adalah bisikan terindah yang pernah di dengar kuping gw selama ini.
Gw melihat Amora yang tampak biasa aja dan memandang ke depan, tapi bisa gw liat wajah dia yang merah merona.
"Amora gimana kalau kita langsung balik ke kost aja".
"Emang kenapa? enggak ah, kita makan dulu lapar aku". Di bicara tanpa lihat wajah gw.
"Bukan gitu, gw cuma kagak sabar aja pengen ngecek apa yang kamu bisikin tadi bener apa kagak?".