Preman Campus

Preman Campus
DOA


Baru sekarang gua tau hidup bisa menyenangkan seperti ini, sore hari berjalan cari ice cream di temani Mika gadis kecil nan imut dan Mila si gadis pendiam dan pemalu.


Mungkin jika di kota, gua udah dikira bapak-bapak yang sedang jalan sore sama anaknya atau mungkin bisa dikira penculik.


Setelah memborong beberapa ice cream Mika dan Mila berjalan pulang dengan riang gembira dan terus saja puji gua dengan ungkapan terima kasih.


"Mika Mila.. Ibu cariin dari tadi, ibu kira kemana ternyata sama kak Bimo kalian?".


Setelah sampai di depan rumah kami langsung disambut dengan nyokap nya Jono.


"Iya Tante Mika minta ice cream ya sekalian saja jalan-jalan sore, saya juga sudah janji tadi siang". Gua dengan cepat menjawab dan menjelaskan.


Sementara Mika dan Mila tanpa menjawab ibunya, dengan sangat bersemangat dan tidak sabar langsung membuka dan ice cream ya masing-masing.


Mila yang sedikit dewasa tampak normal cuma buka satu ice cream dan mencecap nya pelan-pelan tapi tidak untuk gadis kecil imut dengan rambut telinga kelinci itu.


Mika membuka 2 ice cream sekaligus dan dia pegang dengan kedua tangan mungilnya, bibir kecilnya sampai belepotan saat ini karena dengan cepat bergantian mencecap.


Gua tidak kuasa untuk tidak tersenyum lebar melihat adegan ini.


"Mika pelan-pelan makannya, enggak ada yang rebut dari kamu kok sayang". Mika dihampiri ibunya yang langsung membersihkan pipi putri kecilnya yang berwarna coklat dan merah muda karena Mika memegang ice cream rasa coklat dan stroberi.


"Ueenak banget ini Bunda, Mika mau makan ice cream tiap hari". Mika menjawab dengan lebay khas seorang anak kecil yang tampak bahagia.


"Tidak boleh makan ice cream tiap hari sayang nanti gigi Mika sakit". Dengan sayang Mika dinasehati ibunya.


Mika auto cemberut dan beralih memandang gua, "Kak Bimo?". Dengan kedua mata yang murni Mika memandang dan memanggil nama gua.


"Hehe, Mika jangan liat kak Bimo dengan mata seperti itu gak bisa nolak nanti kak Bimo. Benar kata bundanya Mika tidak baik makan ice cream banyak-banyak tiap hari". Gua ikut menasehati.


"Kalau satu ice cream tiap hari?". Mika dengan cepat bertanya dengan wajahnya yang penuh harap, Mila pun yang dari tadi diam ikut memandang gua.


"Iya deh boleh tapi makan ice cream ya sehabis makan siang dan itu pun hanya 1 saja dan tidak lebih". Gua terima negosiasi dari Mika karena apa? Tentu saja karena gua sayang dan kagak mau kecewakan fans kecil gua itu.


"Hore!! kak Mila kita boleh makan ice cream tiap hari". Mika langsung meloncat bahagia menghampiri kakak perempuannya.


"Nak Bimo?". nyokap Mika memandang gua dengan wajah penuh pertanyaan.


"Tante tenang saja yang penting Mika dan Mila bahagia, soal yang lainnya termasuk uang Tante juga jangan khawatir". Gua menyakinkan dengan beberapa isyarat dan tidak mau terlalu banyak bicara yang bisa membuat suasana berubah Melo lagi.


Nyokap Mika mengangguk dengan senyum tulus penuh akan rasa terima kasih ke gua dan langsung gua balas dengan senyum juga.


"Ngomong-ngomong Jono kemana Tante? Enggak dengar suaranya saya". Gua bertanya mengalihkan topik. "Tidur ya dia?".


"Mika Mila? Ayo cepat habiskan itu ice cream nya , udah sore kalian juga harus mandi". Tante beralih ke kedua putrinya.


Mendapat instruksi dari nyokap ya kedua gadis itu hanya mengangguk dengan bibir yang masih mencecap ice cream.


"Tante saya masuk dan tunggu Jono di dalam saja".


"Oh iya nak Bimo silahkan, di meja itu juga ada camilan sederhana silahkan nak Bimo cicipi". Dengan malu-malu Tante menunjuk meja di ruang tamu.


"Iya Tante terima kasih". Gua berjalan masuk dan melihat 2 piring kacang tanah rebus di meja, terlihat masih hangat itu kacang.


"Tante saya bawa 1 piring ke kamar Jono gak apa-apa kan ini?". Gua meminta izin.


"Iya silahkan saja nak, jangan sungkan.. Bawa dua-duanya juga tidak apa-apa".


"Hehe.. Satu piring saja Tante". Gua tersenyum dan mengambil piring berisi kacang di meja dan segera berjalan masuk ke kamar si kampret.


Gua rebahan di kasur lesehan menatap genting kamar Jono sudah sangat hitam dan tipis, keknya hanya dengan gua tiup bakalan pecah itu genting.


Gua melamun sambil ngemil kacang, skill gua udah tinggal jadi kalian kagak usah khawatir gua bakalan tersedak rebahan sambil makan.


Besok gua udah balik Jogja pasti bakalan sangat padat lagi ini jadwal gua, bukan saja ngurusin para betina tapi juga musti membalaskan dendam trio wek-wek yang saat ini masih terbaring di rumah sakit.


Belum juga cari tempat buat buka lapak tatto buat si kampret, liburan tahun baru juga kagak bisa bebas gua karena Bianca yang mau ikut ke Jakarta.


Rada pusing pala gua saat ini tapi entah kenapa pikiran ini malah melayang terbang dan teringat dengan 1 nama secara tiba-tiba, Labibah Faza Khairunnisa!


Entah dari mana datangnya wajah itu cewe tiba-tiba saya muncul di dalam lamunan gua.


"Plak!".


"Plak!".


Gua auto tampar pipi kanan dan kiri, "Sadar Bemo! Jangan ke sana arah otak loe, kurang itu cewe loe.. Jangan cari dan tambah masalah semakin runyam!". Gua bicara sendiri agar cepat sadar.


Semakin gua ingin melupakan Nissa tapi entah kenapa semakin jelas wajah itu cewe di dalam benak gua, pakai tersenyum manis lagi.


Gua segera bangun dan untuk mengalihkan perhatian, gua makan dan kupas kacang rebus dengan cepat tapi masih saja kagak ada efeknya.


Apa yang cewe itu lakukan hingga gua secara tiba-tiba bisa kepikiran terbayang wajahnya.


Gua dengan percaya diri langsung berspekulasi liar, apa jangan-jangan Labibah Faza Khairunnisa selalu menyebut nama gua di setiap doanya?