Preman Campus

Preman Campus
AIR MINUM DARI NISSA


Ruangan Rohis telah sepi dan menyisakan 3 orang di dalam ruangan yang sedang menata kursi dan meja dengan muka cemberut masam.


"Ini kapan ta kita kefakultas kedokteran gigi jika harus merapikan meja dan kursi sebanyak ini?". Reza mengeluh pelan.


"Ini kan gara-gara loe Za!". Celetuk Udin.


"Kok diriku Din? Rio tu yang bertanya, kalau dia enggak bertanya enggak bakalan ta kita masih disini". Reza mengelak.


"Kan cikal bakal pertanyaan itu dari bacot lu Za, pakai penasaran segala sama hubungan Nissa sama Bemo jadi dapat hukuman gini kan kita". Udin masih ngotot menyalahkan Reza.


"Reza, Udin sudah jangan bertengkar.. aku yang salah karena bertanya tadi dan juga ini bukan hukuman kok kan tadi ketua Nissa minta tolong sama kita untuk merapikan ini".


"Ri nanti banyakin makan roti biar loe dapat mengartikan maksud terselubung dari sebuah kata-kata". Udin memberi nasehat dengan kalimat sarkas.


"Maksudnya Udin? Aku enggak terlalu mengerti". Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya diriku juga enggak ngerti Din, apa hubungannya roti sama ucapan Nissa?". Reza tampak berfikir.


"Kalian berdua ini ya dengan isi pala seperti itu kenapa bisa masuk ke UGM sih? heran gua, apa jangan-jangan pakai orang dalam ya loe berdua?".


"Mulut dirimu Din! belum belum pernah ngerasain lancipnya tusuk sate Madura ya?". Reza langsung tampak kesal.


"Aku dapat beasiswa Din dan enggak ada orang dalam". Rio membela diri.


"Kalian dengerin ya akan gua jelasin, Nissa minta tolong itu tadi cuma kedok saja faktanya dia menghukum kita, enggak mungkin juga dia bilang akan menghukum kita secara terang-terangan, udah mengerti kalian".


"Jangan fitnah dirimu kak Din, siapa tau Nissa tulus minta tolong sama kita".


"Iya Udin jangan salah paham dulu".


Reza dan Rio tampak tidak setuju dengan ucapan Udin.


"Serah kalian dah mau percaya apa enggak, mending cepat kita selesaikan ini dan cepat balas dendam sama bajingan yang ngebully loe Ri, udah gatal ini tangan gua pengen nonjok rahang orang".


"Hehe, kalau ini setuju diriku kak Din sama ucapan dirimu. Kaki diriku juga sudah kesemutan ini dari tadi dan ingin injak tenggorokan orang". Reza menjawab penuh semangat.


"Terima kasih Reza, Udin.. Udah mau membatu aku, aku akan selalu ada setiap saat jika kalian butuh bantuan tentang apapun". Rio tampak terharu melihat Reza dan Udin.


"Udah enggak usah loe fikirin Ri, kita kan teman.. Bukan begitu dek Za?".


"Tul betul tak ye! Jika Bimo disini juga pasti akan membantu dia".


"Dek Za udah ngapa jangan sebut nama Bemo mulu". Udin menyela.


"Memang kenapa? Cak Bimo kan sahabat ta kita juga, walau baru semalam bertemu diriku udah rindu ini liat dia marah-marah". Reza tersenyum lebar.


"Iya Reza walau aku baru kenal sama Bimo, walau dia agak keras tapi hatinya baik sekali, biasanya aku akan takut jika liat orang marah-marah tapi liat Bimo marah aku enggak takut sama sekali malah terkadang aku senang liat dia marah, hehehe". Rio tampak tersenyum canggung.


"Bisa jumawa dah besar kepala itu tuan muda kita jika kalian puji seperti itu, untuk sementara kita jangan sebut nama Bimo dulu untuk menghindari masalah yang enggak perlu, loe berdua lupa kita dihukum seperti ini karena apa?". Udin bertanya sambil memandang Reza dan Rio bergantian.


"Karena nyebut nama Bimo dan bertanya tadi ya kak Din?". Reza menjawab cepat.


"Tumben loe pinter dek Za, maka dari itu walau loe berdua rindu sama itu anak sekalipun jangan sebut namanya, bisa sial terus entar kita".


"Kok bisa gitu Udin, bukannya kita selalu beruntung ya jika sama-sama Bimo". Rio bertanya Bingung.


"Jadi gini Ri jika..


"Tok-tok-tok! Assalamualaikum". Suara ketukan pintu dari luar terdengar menyela Udin yang mau berbicara.


3 anak manusia itu terkejut seketika dan langsung berbaris dengan rapi setelah mendengar suara salam dari luar.


"Waalikumsalam". Jawab mereka bertiga serempak.


"Pintu di dorong dari luar dan muncul sosok ketua Rohis yang cantik dan mempesona.


"Kalian bertiga udah selesai?". Nissa berjalan mendekat dan berhenti agak jauh dari 3 sekawan.


"Kesalahan apa? Enggak kok.. Saya kemari mau nganterin minum ini untuk kalian dan mau ngucapin terima kasih karena mau membantu membersihkan ruangan". Seperti biasa nada suara Nissa halus dan lembut dan menaruh 3 botol air mineral diatas meja.


Reza langsung tersipu seketika dan langsung berubah bego saat mendapat perhatian dari Nissa. "Apa ini adalah saat dan waktu yang diriku tunggu-tunggu itu? Apakah diriku akhirnya bisa bersinar terang?". Suara hati Reza berkata.


Udin bengong dan dan langsung mencubit dirinya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi. "Din akhirnya selain emak di kampung ada juga wanita yang beri perhatian sama kamu Din, kamu harus terus ingat hari spesial ini Din". Udin berbicara dalam diam.


Sementara Rio senyum-senyum sendiri dan menunduk, hatinya mau berbicara tapi kagak tau mau bicara apaan karena terlalu terkejut dan tidak percaya.


"Kok kalian diam saja, enggak suka sama air putih yang aku bawakan ya? Apa aku belikan minuman yang lainya?". Nissa menawari.


"Enggak Ketua saya suka.. Saya suka!". Udin menjawab cepat dan langsung mengambil 1 botol air, dia buka dan langsung dia tenggak sampai habis.


"Diriku juga suka, air putih adalah minuman favorit diriku dari bayi". Reza juga dengan cepat mengambil air dan langsung dia tenggak sampai habis.


Sementara Rio masih dengan senyum malu-malunya tanpa bicara juga mengambil 1 botol air yang tersisa dan langsung meminumnya.


"Bagus jika kalian suka". Nissa menahan senyum melihat 3 orang di depannya.


"Terima kasih ketua, ini adalah air minum paling segar yang pernah saya rasakan". Udin terus memuji.


"Iya ketua ini seperti air minuman pegunungan yang alami berasa mandi dibawah air terjun diriku". Reza kagak mau kalah.


Sementara Rio tampak binggung mendengar ucapan Reza dan Udin, "Bukanya ini air minum Aqua biasa ya? Kenapa Reza dan Udin bicara seperti itu? Apa mungkin aku yang tidak tau spesialnya air ini?". Rio bertanya dalam hati dan langsung mengamati botol air yang dia pegang.


"Kalian bisa saja". Nissa tersenyum kecil.


Reza dan Udin yang melihat itu langsung saling berpengan satu sama lain untuk saling menguatkan agar tidak pingsan di tempat,saat ini di hati mereka berdua sudah banyak bunga yang bermekaran.


Sementara Rio tampak masih fokus mengamati botol air, dia mencari keanehan yang dibicarakan Reza dan Udin tadi.


"Kalian udah selesai minum kan?". Nissa bertanya lembut.


"Udah ketua tenaga kami udah pulih dan siap untuk melanjutkan bersih-bersih ruangan". Udin cepat menjawab dan di angguki oleh Reza.


"Santai saja kalian dan jangan terburu-buru, ngomong-ngomong saya boleh tanya sesusatu gak sama kalian?".


"Ketua mau bertanya apa? Sebagai anggota Rohis diriku akan patuh dan menjawab". Reza buru-buru menjawab dan sangat antusias.


"Benar sekali ketua jangan ragu kami akan menjawab semua pertanyaan yang akan ketua tanyakan". Udin kagak mau kalah.


Nissa memandang aneh Rio yang sedang fokus mengamati botol dengan seksama.


"Ri ngapain kamu? ditanya sama ketua itu malah melamun gak sopan banget". Udin langsung menyenggol lengan Rio yang langsung membuat Rio tersadar.


"Maaf ketua dia memang seperti itu terkadang sering kumat sendiri, ketua tanya sama ta kita berdua saja". Reza menambahi.


Rio cuma plonga-plongo mendengar kata-kata 2 teman barunya, dia tampak tidak mengerti situasi apa yang terjadi.


"Kalian lucu dan suka bercanda". Nissa memuji lagi.


Saya mau tanya, Biasanya kan Bimo sama-sama kalian.. Aku liat dia enggak ada di Campus, belum datang ya Bimonya?". Nissa bertanya polos.


Seketika langit di atas kepala Reza dan Udin tampak mendung hitam pekat mendengar pertanyaan ketua Rohis mereka.


Bunga- bunga yang sudah mekar di hati keduanyapun langsung layu dan mati seketika.


Kedua kaki Reza bergetar hebat seakan-akan siap jatuh kapan saja, sementara kedua tangan Udin mengepal keras.


Seakan-akan mereka akan berteriak saat ini juga tapi tampak mereka tahan karena enggak mau malu di hadapan Nissa.


Melihat Reza dan Udin diam, Rio bernisiatif menjawab. "Bimo tidak masuk kuliah untuk beberapa hari kedepan ketua". Jawab Rio pelan.


"Tidak kuliah beberapa hari? Bimo kenapa? sakit ya? Apa parah? Di rumah sakit mana?". Nissa langsung panik dan tanpa sadar tanya bertubi-tubi.


Reza dan Udin yang melihat dan mendengar kepanikan Nissa untuk Bimo, sudah tampak pasrah mereka dan langsung kehilangan semangat hidup.