
Gua berjalan sendiri dan ibaratkan menuruni lembah dan bukit kek ninja Hatori hanya untuk menuju ke kamar mandi alami, kamar mandi yang menyatu dengan alam yang biasa disebut dengan sungai.
Badan gua pada lengket, walau siang hari dan terik banget matahari di atas pala gua. Tetap gua putuskan untuk mandi dan berganti baju, gua harus tampil tampan dan wangi di depan Mika yang imutnya kagak ketulungan itu.
Saat tadi gua ajak si kampret dia langsung menjawab tidak dengan alasan mau mengambil lagi hati adiknya yang sudah terlanjur di berikan ke gua.
Setelah beberapa saat akhirnya gua sampai juga di sungai dan untungnya dalam keadaan sepi, tanpa pikir panjang gua langsung lepas baju dan celana menyisakan Cd dan langsung loncat ke tengah sungai.
Kagak bisa gua pungkiri, air sungai di pedesaan memang berbeda dari air di sungai-sungai yang berada di kota-kota besar.
disini air begitu segar dan sangat jernih sampai bisa buat gua untuk ngaca memandang muka gua yang pas-pas an lewat pantulan air, wajah yang telah memikat beberapa betina spek bidadari.
Kurang lebih 20 menit gua berenang dan menyelam di dalam sungai, bercengkrama dengan para ikan wader kecil-kecil yang dari tadi pada berenang di sekitaran CD gua, tau aja itu mereka barang bagus.
Setelah merasa cukup pamer batang sama para ikan, gua segera berenang ke tepian.
Baju batik pemberian Bu Sum gua jadikan handuk untuk menyeka tubuh yang basah.
Baju dan celana ganti yang gua bawa segera gua pakai, badan sudah bersih dan saatnya balik.
Sampai di belakang rumah Jono, segera gua jemur CD gua yang basah dan segera masuk ke dalam rumah melewati dapur.
Di ruang tamu terdapat Jono yang sedang duduk bersama ibunya berserta Mika yang sedang asik dengan bonekanya.
"Nak Bimo sudah mandinya?". Nyokap Jono menyapa setelah melihat gua datang.
"Sudah Tante, segar sekali air sungainya". Jawab gua dan tersenyum kecil
"Kak Bimo, sini kak main sama Mika". Mika terlihat sangat begitu antusias membuka setiap boneka yang masih terbungkus plastik
"Iya sayang, kamu udah makan siang belum? Makan dulu nanti bermain lagi". Gua berjalan menghampiri Mika dan duduk di sebelahnya
"Mika udah makan kok kak, ini perut mika udah besar". dengan polosnya Mika mengelus perutnya dengan gayanya yang lucu dan menyenangkan
"Ya ampun kenapa Mika bisa imut gini sih?". Gua auto gemas dan cubit pipi Mika lembut yang membuat dia semakin tersenyum lebar
"Kata Budi sih Mika sudah terlahir imut kak".
"Budi? Siapa Budi?". Tanya gua sedikit terkejut dengan nama khas Indonesia itu.
"Teman sekolah Mika kak, dia anak yang sering puji mika.. Mika suka dipuji".
"Jon adek loe udah di gombalin dan di dekati ini sama bocil, loe harus cepat bertindak". Gua bicara sama Jono tidak melihat nyokap dia yang hanya tersenyum dari tadi melihat interaksi gua sama Mika
"Bertindak apa Bemo?! Masak gua musti ancam bocil kelas 3 SD agar kagak goda adek gua, mungkin mereka hanya berteman dan juga Budi itu anaknya lurah".
"Emang kenapa kalau anaknya lurah? Loe kagak tau gua anak siapa?".
"Gila! Seneng banget loe bandingin diri". Jono menggelengkan kepalanya tidak percaya
Gua segera beralih ke Mika lagi, "Mika sayang kamu enggak suka kan sama Budi?".
"Enggak Mika gak suka, Budi kan jelek.. Mika sukanya sama kak Bimo". Dengan suara yang lucu Mika nembak gua
"Hehe, Bagus kalau gitu". Gua tersenyum lebar
"Jangan GR loe Bemo! kata-kata anak kecil itu dan gua ogah punya adik ipar kek elo!".
"Apa sih Jon, ganggu aja loe!".
"Iya kak Jono ganggu saja". Mika tertawa kecil
"Benar Mika kakak kamu itu ganggu saja, oya jika Mika udah dewasa nanti cita-citanya mau jadi apa kalau kak Bimo boleh tau?".
"Emm". Mika dengan imutnya melihat ke atas sambil berfikir sejenak dengan jari telunjuk kecilnya yang berada di pipi, "Mika ingin jadi dokter". dengan antusias Mika berucap
"Oh Mika ingin jadi dokter ya kenapa memangnya kok dokter?".
"Karena dokter bisa sulap kak, jika nanti bunda sakit atau kak Mila sakit bisa Mika sulap biar sembuh".
Gua sedikit terenyuh dengan jawaban polos Mika begitu juga dengan ibunya yang tampak haru, cuma Jono saja yang sekarang masih cemberut itu wajahnya.
"Mika kalau kak Jono sakit, Mika akan sulap juga kan biar sembuh?". Jono bertanya dengan muka berharap
"Sulap Mika hanya untuk perempuan". Jawab Mika cepat yang memuat si kampret langsung duduk senderan lemas
Hampir gua tertawa ngakak tapi gua tahan karena nyokap nya Jono hanya tersenyum saat ini.
"Emm.. Mika akan belajar dengan rajin".
"Belajar untuk jadi dokter yang hebat ya?"
"Iya belajar agar bisa sulap untuk kak Bimo jika sakit". Masih dengan polosnya mika menjawab
"Berarti kak Jono bisa ya ikut di sulap jika sakit? kak Bimo kan laki-laki seperti kak Jono?". Si kampret masih kagak menyerah
"Sulap Mika hanya khusus untuk kak Bimo". Jawab Mika sambil menjulurkan lidah kecilnya ke Jono dan langsung tertawa dia.
Udah punya bakat sejak dini sepertinya Mika untuk godain kakaknya.
"Jawaban yang indah Mika, tos dulu sama kak Bimo".
"Yeah!". Mika berteriak kecil dan menepuk telapak tangan gua.
"Mak liat Mak, kelakuan putri emak.. kakak kandungnya udah dilupakan". Jono memeluk nyokap nya dari samping dan merengek
"Bercanda adik kamu Jono, seperti itu aja kamu ngambek". nyokap Jono bicara dan tersenyum kecil melihat tingkah anaknya
"Iya kak Jono ngambek an seperti bocil". Mika menunjuk kakaknya
"Yang bocil itu kamu". Jono langsung sewot
"Udah Mika sayang jangan kamu liat itu kakak kamu yang manja, kalau cita-cita Mika ingin jadi dokter nanti kak Bimo bantu".
"Bantu?". Mika memandang gua bingung
"Iya kak Bimo bantu, dokter kan perlu rumah sakit untuk bekerja dan nanti kak Bimo akan buatkan Mika rumah sakit yang besar agar Mika bisa dengan bebas untuk bermain sulap"
"Rumah sakit besar?". Mika langsung memandang gua dengan antusias dan kedua mata kecilnya yang melebar
"Mika mau! Mika mau rumah sakit besar!". Gadis kecil disebelah gua ini langsung sangat bersemangat.
"Ok nanti kak Bimo buatkan Mika rumah sakit yang besar, terbesar di dunia pokoknya".
"Janji kak Bimo? Janji? Janji!". Mika langsung mengulurkan jari kelingkingnya
"Hehe, iya kak Bimo janji". Gua sambut dan kaitkan jari kelingking gua di jari kelingking Mika
"Terima kasih kak Bimo!". Mika tampak sangat bahagia dan langsung memeluk gua.
"Sama-sama sayang". Jawab gua pelan dan berasa adem banget ini hati gua, jadi kagak sabar pengen punya adek.
"Mak andai Jono punya uang banyak ya Mak, pasti adik Jono enggak di ambil orang". Jono masih merajuk dengan kepala nya yang masih bersandar di pundak nyokap nya
"Hehehe, ngomong apa sih kamu". Jono dipukul pelan oleh Nyokap nya sambil tertawa.
Mika juga tertawa melihat tingkah kakak kandungnya itu, begitu juga dengan gua yang merasa sangat bangga bisa merebut hati keluarganya
Suasana hangat di keluarga Jono yang gua rasakan saat ini begitu indah sampai dengan kepulangan Mila dari sekolah SMP yang langsung tampak bahagia juga melihat banyak boneka.
Mila berganti baju dengan cepat dan tanpa makan siang langsung ikut bermain boneka dengan Mika di ruang tengah.
"Mika, Mila.. kalian bermain bonekanya di kamar dulu ya? Ibu mau bicara sama nak Bimo.. Mila ajak adek ke kamar". Nyokap Jono berbicara lembut ke kedua putrinya.
"Iya Bu". Jawab Mila patuh, "Ayo dek kita main di kamar".
"Kenapa di kamar sih bunda, Mika kan mau bermain di dekat kak Bimo". Mika langsung cemberut.
Gua kagak tau kenapa nyokap Jono ingin bicara sama gua tapi melihat wajahnya yang serius, gua menebak pasti ada hal penting yang ingin dia katakan.
"Mika sayang, main boneka di kamar dulu ya? nanti sore main lagi sama kak Bimo dan beli ice cream sama kak Mila juga". pelan gua ikut membujuk Mika
"Ice cream?". Mika langsung menjilat bibir mungilnya dan tampak sudah masuk ke dalam bujuk rayu gua. "Mika mau ice cream coklat".
"Iya nanti kakak belikan ice cream coklat buat Mika, kalau Mila suka ice cream apa?". Gua kagak mau pilih kasih dan membedakan
"Fanila". Jawab Mila pelan malu-malu
"Baik nanti kak Bimo belikan semua ice cream kesukaan kalian, sekarang main boneka di kamar dulu ya?".
Mika mengangguk cepat dan segera mengangkut 3 boneka besar dengan lengan kecilnya sementara Mila membawa lebih dari 5 sisanya, mereka berjalan berhati-hati.. Mungkin takut bonekanya jatuh dan kotor.
Gua segera memandang Jono dan Nyokap nya, menanti apa yang ingin dibicarakan sama gua.