
Tetesan gerimis air hujan satu demi satu jatuh dari atas langit, dinginnya semilir angin yang dibawa seakan-akan tidak bisa mendinginkan otak dan hati iblis gw yang masih menguasai penuh naluri dan jalan fikiran kepala ini, gw udah gelap mata dan hanya ada satu kata yang tetus terniang dan kata itu ada BUNUH!
Yang terjadi memang seharusnya terjadi dan mungkin ini adalah waktunya buat gw untuk pertama kali melakukannya, mengambil nyawa seseorang dengan kedua tangan ini.
Jalan hidup dan takdir yang gw jalani memang berbeda, selalu akan ada musuh yang datang secara tiba-tiba dan dalam situasi yang kagak gw duga-duga seperti hari ini.
Mungkin dengan mengambil nyawa bajingan ini, gw akan naik level ke tingkat selanjutnya menjadi Bimo yang semakin kuat dan pantang menyerah dalam segala hal.
Dan untuk terus melindungi semua hal penting beserta orang-orang yang gw kasihi, Gw harus terus dan terus tumbuh menjadi kuat dan kokoh karena untuk kedepannya tanggung jawab yang akan gw pikul akan semakin bertambah besar.
Demi masa depan indah yang gw impikan dan demi semuanya, gw rela mengotori tangan dan tubuh ini dengan darah dan air mata, gw kagak akan menyesal jika berkoban untuk semua yang gw inginkan.. Walaupun dengan cara yang gw ambil salah di mata orang lain.
Golok gw pegang dengan 2 tangan dan gw angkat tinggi, tekad dan nyali sudah bergabung menjadi satu kesatuan dan tidak ada jalan untuk kembali dan mundur.
Musuh yang sudah tidak berbentuk dengan tangan patah dan muka hancur terus berteriak ketakukan tanpa henti, dia menangis darah dan minta ampun tapi gw hanya tersenyum sinis melihat dan mendengar itu semua, ampun dari gw tidak mudah untuk didapatkan.
"Tong jika dilahirkan kembali itu benar-benar ada dan nyata, berdoanya lu sekarang agar kagak ketemu gw lagi nantinya, tutup mata lu dan nikmati saja sensasi yang akan lu rasakan sebentar lagi".
"TIDAKK.. TIDAAAKKKK!! JANGANN.. JANGAAANNN!!". Teriakan histeris dari manusia sampah yang mau meninggalkan dunia bagaikan lonceng penanda untuk gw segera melakukannya.
Suasana hening dan hening dan waktu seakan-akan berjalan dengan lambat.
"Selamat tinggal sampah!". Golok yang gw pegang di udara mulai gw ayunkan ke bawah menuju leher dengan cepat dan kuat, pria di bawah kaki gw semakin ketakutan dan tampak pasrah memejamkan matanya.
"Taap!".
"Tapp!".
"Tapp!".
Lari dari sebuah langkah kaki terdengar memecah kesunyian dan menerjang gerimis yang turun.
"Brukkkk!".
"Uhhh!". Gw tersentak karena ada yang menabrak dan memeluk gw dari belakang dan 2 tangan yang melingkar ke depan di perut gw secara tiba-tiba tanpa gw sadari.
Gw terkejut dan Golok yang gw ayunkan terhenti 2 inci di atas leher sampah yang mau gw mampusin.
"UDAH BIMO STOPP! HENTIKANN! CUKUP! mbak gak mau kamu jadi pembunuh, udah hentikan aku mohon sama kamu". Suara parau bercampur isak tangis menggema dari wanita yang memeluk gw dari belakang.
"Mbak?" Gw kagak tau harus berkata apa saat ini dan hanya satu kata itu saja yang keluar dari mulut gw, semuanya terjadi begitu cepat dan diluar pemikiran normal otak ini yang telah kacau sejak awal.
Tau dengan situasi calon mayat yang masih bernafas dibawah sana dengan sisa-sisa kekuatannya ngesot mundur menjauh dengan naluri untuk bertahan hidup.
"Bimo udah, mbak mohon jangan terusin.. Mbak takut". Pelukan dari belakang mbak Suci semakin dia per erat menahan dan meminta gw mengakhiri ini semua dan seketika itu juga gerimis berhenti entah kenapa dan ini menambah keterkejutan gw.
"Traaanngg!". Golok terjatuh dari tangan gw dan membentur tanah.
Tubuh dan otot gw yang semula tegang pelan-pelan mulai kembali normal, fikiran gw yang semula penuh dengan nafsu dan niat membunuh saat ini tanpa gw sadari menghilang dengan sendirinya dan pandangan gw berubah kosong.
Langit, apa memang ini yang terbaik? kenapa lu seakan-akan ikut bahagia saat gw kagak jadi bunuh orang? Dimana tangisan gerimis lu itu? Kenapa sekarang lu tampak tersenyum lebar dan memberi gw sinar hangat sang mentari? Gw bertanya dalam diam dengan kepala yang masih menatap kosong ke atas.
Nafas gw yang tadi memburu lambat laun juga mulai normal kembali, kuping gw yang dari tadi penuh dengan bisikan iblis dan setan juga mulai menghilang dan tak terdengar lagi dan akhirnya gw tersadar penuh dan bisa kembali berfikir normal.
Seperti kata pepatah banyak jalan menuju SARKEM(pasar kembang/ tempat lokalisasi di Jogja) begitu juga dengan menjadi kuat dan tangguh dan gw rasa akan ada jalan dan cara lain untuk gw menggapai itu selain membunuh orang, gw mulai bernegosiasi dengan diri sendiri di tengah hangatnya pelukan mbak Suci dan sinar mentari.
Begitu juga dengan masa depan indah yang gw impikan itu, masa depan bersama orang-orang yang gw sayangi.. Akan ada banyak cara untuk gw mewujudkannya.
Hal bodoh yang baru gw sadari adalah kenapa gw harus menderita dan berkorban jika bisa berbahagia dan tertawa bersama?
Akhirnya di tempat asing ini gw mulai tercerahkan dan semua beban di hati gw seakan-akan menjadi ringan.
Tanpa gw sadari bibir gw mulai tersenyum kecil dengan sendirinya dan Bimo mode normal perlahan kembali.
Bibir gw terus tersenyum menikmati sesasi 2 benda bulat nan kenyal yang nempel di punggung, 2 gunung mbak Suci yang memeluk gw dari belakang.
tadi gw kagak sadar akan hal itu tapi seiring kembalinya otak somplak gw ini akhirnya gw mengerti inilah hadiah yang gw dapat setelah menang fight, hadiah yang membuat gw ngilu dan merasa sangat nyaman. Memang kekuatan dari SUSU itu sangat-sangat bisa membuat pria lugu seperti gw kelimpungan.
"Mbak Suci? Boleh lepas sekarang pelukannya, adik kamu ini udah tersadar dan udah gak apa-apa, semuanya telah berakhir bahagia dan aku tidak berniat untuk melanjutkan apa yang akan aku lakukan tadi". Gw berucap lembut sambil memegang dan mengelus kaitan tangan mbak Suci yang melingkar dari belakang di perut gw.
"Bener Bim? Kamu gak bohong kan?". Mbak Suci menjawab pelan dan masih tidak percaya.
"Bener mbak, jika posisi ini terus berlangsung akan ada yang bangun entar ini dan bisa tambah bahaya untuk kita berdua". Gw memperingatkan.
"Bahaya apa? Lebih bahaya liat kamu mau bunuh orang Bimo! mbak gak kuat dan takut".
"Malah nanya kamu mbak? Ya udah aku tunjukin". Gw auto pegang tangan mbak Suci di perut gw dan gw geser sedikit ke bawah tepatnya di benda berbentuk bantang.
"Aaaaaccccchh..!! Bimoooo!". Sontak mbak Suci berteriak terkejut saat tangan menyentuh benda di dalam celana gw.
Dia langsung melepas pelukannya dan yang kagak gw duga adalah dia melepas sambil dorong gw ke depan dengan kencang dan kuat.
"Mbaaaakkk! Aku gak bisa ngerem inii!!". Gw meluncur kedepan dan langsung nyungsep di tanah dan tengkurap.
Sialan! kisah apaan sih ini? Ngaco bener, seneng banget buat gw susah.. Ingin ku teriak tapi gw tahan karena jujur dalam keadaan lemah gw saat ini, tenaga gw terkuras abis setelah fight tadi.
"Bimo kamu ngapain itu? Seneng banget tiduran dan gak berdiri-berdiri?". Mbak Suci bicara dan mendekati.
"Kalau gak kamu dorong tadi ya kagak mungkin aku kiss tanah seperti ini mbak! cepet sini bantu bangun dan berdiri adikmu ini".
"Enggakk! Dasar adik mesum kamu ini, suruh mbaknya yang bukan-bukan".
"Bantu tubuh aku berdiri mbak! Bukan bantu berdiri batang di celana, please deh! Udah pegang juga masih kefikiran aja kamu sama milik adiknya, gak boleh ya?".
"BIMOO! Kamu yaaa!!". Dengan suara gemas mbak Suci cubit gw terlebih dahulu dan pelan dia bantu gw berdiri.