
Tanpa basa-basi gw langsung berlari ke arah kolam renang lagi karena mendengar teriakan dari Bianca.
Hal yang gw kawatirkan akhirnya terjadi juga, kelihatannya kelelep sudah menjadi hobi baru adik bang Jack ini.
gw liat gelembung air naik ke atas dari dalam kolam, itu bertanda Bianca masih bernafas di dalam sana.
Tanpa menunggu lama langsung melepas baju, sepatu dan ngeluarin hp beserta dompet, auto gw langsung nyebur untuk selamatkan itu bocah.
Bak perenang profesional gw dengan kerenya berenang dan menyelam ke menghampiri posisi Bianca kelelep.
Gw panik saat itu juga ketika gw kagak bisa menemukan Bianca, bisa dimusuhi Zeus ini kalau gw kagak bisa selamatkan nonanya.
Gw menyelam lebih dalam lagi siapa tau Bie pingsan dan tengelam sampai dasar kolam.
Dengan nafas yang hampir habis gw muter-muter di dasar kolam renang tapi masih belum nemuin itu si Bianca.
Ini kolam ada setannya apa yak! Apa itu bocah dibawa ke dunia lain. Gw semakin megap-megap di dalam air.
Gw berenang dulu kepermukaan untuk mengambil nafas panjang sebelum menyelam lagi.
"Uhukkk-uhukkk!!". Gw langsung terbatuk saat mengambil oksigen di permukaan air.
Bukan karena tersedak air kolam tapi lebih ke terkejut sampai mau ngumpat keras.
Gw melihat orang yang gw cari keliling di dasar kolam dengan panik, saat ini dengan santainya sedang bersender di bangku panjang pinggir kolam sambil menikmati segelas jus jeruk.
Sambil menggerakan kaki di dalam air supaya kagak tenggelam, gw pandang tajam itu betina bernama Bianca, itu anak malah tersenyum mengejek.
"Bimo ngapain kamu di situ belum mandi ya?". Bianca berucap yang lebih tepatnya nyindir gw.
"Loe ngerjain gw bie!".
"Ngerjain apa? Mana berani aku ngerjain pembohong seperti kamu". Dia menyindir gw lagi.
Gw segera berenang ke tepi kolam dan langsung naik dan duduk sambil mengatur nafas.
"Bercandaan kamu enggak lucu! Kamu enggak tau aku sampai panik banget tadi waktu kamu teriak".
"Iya yang lucu kan saat aku percaya omongan kamu Bim".
Gw berdiri dengan berjalan menghampiri Bianca.
"Mau apa kamu!". Bianca langsung panik saat gw mendekat.
Tanpa bicara gw ambil handuk yang menutupi tubuhnya yang hanya terbalut baju renang.
"Bimo itu handuk aku". Dia langsung protes
Tapi gw tetap diam aja dan pakai handuk Bianca untuk menyeka rambut dan tubuh atas gw yang basah kuyup.
"Kenapa kamu diam dan liatin aku kek gitu? Kagum sama perut roti sobek ini?". Gw bicara sambil terus mengelap tubuh.
"Mana ada aku kagum sama seorang pembohong!". Jawab dia sinis.
"Plukkk!". Gw langsung lempar itu handuk ke wajah Bianca.
"Bimoooo!!". Auto Bianca marah dan berteriak.
"Kamu sebut aku pembohong mulu dari tadi, emang aku bohongi kamu apa sih Bieee?". Gw duduk di bangku panjang sebelah Bianca masih dengan keadaan toples tanpa atasan gw menatap dia.
"Kamu jangan pura-pura lupa! Kamu pernah ada janji apa sama aku?". Bianca dengan nada suara yang masih sama menjawab dan menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk yang gw lempar tadi.
"Janji? Oh janji bawa kamu ke taman hiburan itu ya?".
"Tauk! Iya kalik". Bianca masih saja sinis.
"Sepele kamu bilang!".
"Kamu enggak tau! Aku seminggu ini tungguin kamu? kamu menghilang tanpa jejak, hp mati dan aku cari di Campus tidak ada. Kamu tidak peduli kan seberapa paniknya aku cariin kamu!".
Bianca bicara mengebu-gebu mengeluarkan semua ganjalan di hatinya. Auto gw terdiam mendengar semua itu, sampai segitunya Bianca care sama gw.
"Sorry Bie, aku enggak lupa kok sama janji kita. Kemarin itu aku mudik ke Jakarta selama 1 minggu, sorry kalau aku enggak sempat kasih kabar ke kamu".
"Kamu jangan bohong Bimo! Aku tau kamu tidak di jakarta". Bianca menatap gw serius.
Gw langsung terdiam kek patung mendengar itu, apa Bianca tau gw bohong? Tapi darimana dia tau. Gw berfikir keras mencerna situasi ini.
"Aku beri kesempatan kamu untuk jujur Bimo".
Gw semakin nyakin jika Bianca ini tau gw kagak mudik ke Jakarta, tiba-tiba bayangan dua anak cebong muncul di ingatan gw.
Apa dua upil kadal itu yang kasih tau Bianca ya, kalau gw urutkan bisa saja itu terjadi hari ini kan Reza dan Udin ngampus begitu juga dengan Bianca.
Walau Bianca senior tapi kan fakultas kita sama, udah fix ini dua cebong yang memberi info sama Bianca.
"Bimo kok diem! Apa kamu anggap aku bodoh ya? bisa kamu bohongi gitu aja!".
"Sorry Bie, aku memang tidak ke Jakarta tapi ke Singapore untuk berobat. 2 orang gak guna itu bicara dan ngomong apa aja sama kamu?".
Bianca langsung berdiri menatap gw dengan sendu, tapa bicara dia berlari menuju ke dalam rumah.
"Bie mau kemana kamu!". gw reflek berteriak tapi itu bocah kagak mau jawab dan masih berlari.
Apa itu anak kebelet kencing yak? Tapi kok mendadak, Keknya ada yang aneh ini.
Gw putuskan untuk mengejar Bianca ke dalam dan tidak lupa gw ambil dan memakai baju yanh gw lepas sebelum nyebur ke kolam tadi.
Hp gw matiin dan gw taruh disaku begitu juga dengan dompet.
Gw bergesas masuk dan melihat Simbok Asisten Rumah Tangga di berdiri di bawah tangga melihat ke atas.
"Mbok Bianca ke mana?".
"Den Bimo? Non Bianca lari sambil nangis naik ke kamarnya den?".
"Nangis Mbok?".
"Iya den nangis, den Bimo apakan nona saya". Simbok ini menatap curiga ke gw.
"Enggak saya apa-apakan mbok sueer, tadi aja aku dikerjain sama dia".
"Mungkin non Bianca uring-uringan beberapa hari ini karena den Bimo, coba aden ajak bicara baik-baik".
"Iya mbok, kelihatannya ini salah saya. Biar saya bicara sama Bianca".
"Iya den silahkan tapi yang lembut ya den, non bianca sebenarnya rapuh dan kurang kasih sayang".
"Tenang aja mbok, saya punya banyak kasih sayang kok. Cukup kelihatannya buat ngempani itu anak".
"Den Bimo bisa saja, cepat bujuk non Bianca den saya kawatir".
"Iya mbok saya naik sekarang". Gw bicara dan langsung menaiki tangga dengan nyeker karena sepatu gw ketinggalan di tepi kolam renang.
Kamu kenapa sih Bie, apa segitu marahnya kamu karena gw bohong. Dua anak cebong itu bicara apa saja sama kamu hingga kamu sampai nanggis kek gini?
Segala macam pertanyaan muncul di dalam benak gw disaat gw telah sampai dan berdiri tepat di depan pintu kamar Bianca.