
"Bie pelan-pelan Bie!".
"Sakit Bianca.. bisa sabar gak sih kamu?".
"Aduh! Jangan kamu dorong kenceng-kenceng Bie, gak sabaran banget sih kamu jadi cewe".
"Cepat keluar Bimo!!".
"Iya keluar tapi belum bisa ini dan jangan kamu dorong terus akunya, jangan maksa dong.. Enggak enak nanti jadinya".
"Kenapa belum bisa? Cepat keluar..
"Bie bisa diam gak kamu? Mana bisa aku keluar jika kamu dorong terus, kan jadi enggak bisa buka pintu mobil ini". Gua langsung nge gas karena belum sempat nge cas, Bianca malah marah karena gua yang tadi salah paham.. Dia paksa gua untuk keluar dari mobil.
"Tinggal buka apa susahnya sih?".
"Ya susahlah kamu enggak liat ini keadaan aku gimana? celana masih melorot, kamu yang minta di cas malah gak jadi dan usir aku.. Setidaknya biarkan aku masukin ini burung dulu". Gua segera me masukkan botol saus ABC ke dalam sem pak.
"Udah gak mood aku, cas pelukan tapi kamu malah salah tangkap". Bianca menjawab dengan muka kesal.
"Aku kan bodoh Bie mana bisa artikan bahasa yang aneh kek gitu dengan benar, aku kira cara berpamitan pasangan yang kamu maksud itu begituan".
"Alasan saja kamu sayang, dasarnya aja kamu yang berpikirnya terlalu jauh". Bianca kelihatannya malu campur marah itu, tangan kiri dia menjulur melewati gua dan membuka pintu.
"Tadi aja katanya masih rindu, sekarang malah di usir aku". Gua langsung keluar sambil memegangi celana yang belum gua kancing kan.
"Hehe, selamat malam sayang.. Mimpikan aku ya nanti malam". Bianca melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Ogah!". Jawab gua cepat sambil menutup pintu.
"Apa kamu bilang Bimo?!". kaca terbuka dan Bianca menatap gua tajam.
"Aku bilang hati-hati di jalan sayang, jangan ngebut dan sampai bertemu besok". dengan senyum gua bicara takut.
"Hehehe.. Dasar kamu, ok aku jalan dulu.. Dada sayang". Bianca melambaikan tangan.
"Bimo kamu kok gak dada, melambaikan tangan ke aku?!".
"Ya ampun Bianca! Kamu gak liat ini tangan aku lagi pegang celana? Pergi gak kamu!"
"Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran masuk dan perkaos kamu!". Gua mengancam.
"Masuk sini kalau bisa, hehehe". Dia menantang dan malah tertawa sambil menjulurkan lidah.
Mesin mobil menyala dengan satu bunyi klakson perpisahan, akhirnya cewe gua itu benar-benar pergi.
...***...
Setelah membetulkan celana gua segera nyebrang jalan menuju kost.
Entah kenapa gua merasa senang saat ini melihat bangunan reot dengan gerbang yang hampir roboh itu.
Mungkin ini adalah kost pertama gua dan sudah merasa seperti rumah sendiri.
Pelan gua buka gerbang dan pemandangan pertama yang gua liat adalah mobil putih grand Livina, mobil yang gua belikan untuk Amora.
Pasti heboh banget itu cewe jika tau gua udah balik, penasaran gua sama ekspresi.
Sambil tersenyum gua berjalan melewati mobil dan ancak dari bambu bawah pohon yang biasanya gua buat tiduran.
"Berhenti! siapa loe?! tante? paman? Ada maling cepat keluar!".
Cewe kagak gua kenal duduk di teras berteriak sambil nunjuk gua.
"Maling mana maling?". Gua yang belum ngerti, clingak-clinguk mencari.
"Gua!". mulut berucap dan gua berubah bloon nunjuk diri sendiri.
Kampret baru pulang udah dituduh maling gua di kost sendiri.
Sebenarnya siapa sih ini cewe? Dari seragam yang dia pakai sepertinya masih SMA, kenapa ini bocah ada disini? Gua jadi bingung sendiri.
"Ya ampun Siti kenapa kamu teriak-teriak sih?". Suara wanita yang familiar terdengar dari dalam kamar bekas pacar Amora, kamar yang tepat di sebelah kamar gua.
Gua auto mundur satu langkah ke belakang saat pria dan wanita keluar dari sana.
"Itu Tante.. Ada maling". Cewe berseragam SMA yang lumayan manis itu nunjuk gua lagi.
Pria dan wanita yang baru keluar dari kamar langsung memandang gua penuh selidik.
"Selamat malam mbak Arum". Sapa gua pelan sambil tersenyum kecil.
Ya benar wanita itu adalah mbak Arum pemilik kost sekaligus betina bersuami yang ditaksir sama si kampret Jono.
Mbak Arum tampak terperanjat kaget saat gua kasih salam.
"Siapa kamu? kenapa tau nama istri saya?". Pria dewasa di samping mbak Arum langsung waspada dan maju satu langkah ke depan, menarik mbak Arum dan bocah berseragam SMA ke balik punggungnya.
Gua ingin ketawa saat ini, kenapa adegannya berubah jadi seperti pahlawan yang mau lindungi orang dari penjahat.
"Mbak ini saya Bimo, cowo terkeren yang kost disini.. Masak mbak Arum lupa dengan penyewanya sendiri". Gua langsung mengungkapkan indentitas.
Cewe berseragam SMA itu langsung menatap gua jijik setelah mendengar perkenalan diri gua.
"Ya ampun! ini kamu Bimo? Kenapa dengan wajah kamu itu?". Mbak Suci langsung mengenali gua dan maju melangkah tapi langsung di tahan lengannya sama pria di depannya.
"Sayang kamu kenal sama dia?". Pria itu masih tampak curiga dengan gua.
"Mas, benar yang dia katakan tadi.. Dia Bimo penyewa dari Jakarta yang pernah aku ceritakan ke kamu dulu". Mbak Arum menjelaskan kepada pria yang identitasnya udah bisa gua tebak.
Jon sepertinya saingan loe berat banget ini. Gua bicara dalam hati dan mengamati pria yang berdiri tegap di depan.
Pria yang gua perkiraan berumur sekitar 32 tahun, pria dengan garis wajah tegas dan potongan rambut cepak.
Gua semakin pesimis dan prihatin dengan nasib si kampret karena liat kaos yang dipakai pria itu.
Kaos bukan sembarang kaos karena hanya anggota polri yang biasa pakai kaos itu, kaos coklat muda dengan lambang polri di sebelah kiri atas.
Gimana coba misahkan ini orang dari mbak Arum, pasti bakalan berat banget ini dan beresiko pula.. Harusnya gua kagak janji sama si kampret, jadi menyesal ini gua sekarang.
"Dia penyewa dari Jakarta itu? Tapi kok dulu kamu gak bilang kalau wajahnya..." Pria itu berhenti bicara dan tampak ragu menatap gua.
"Iya mas dia Bimo, Bimo kenapa dengan wajah kamu itu? Kok lebah dan banyak luka seperti itu?".
Gua melangkah maju dan berdiri 2 meter di depan mbak Arum dan suaminya.
Cewe SMA itu masih di belakang dan masih juga menatap gua tajam, tatapan seperti orang yang ngajak gelut.
"Hehe, maaf mbak jika saya buat mbak Arum terkejut.. saya sedikit terluka saat perjalanan tadi". Gua berucap se kenanya.
"Sedikit apa? Wajah kamu sampai tidak bisa dikenali gitu kok sedikit, udah kamu obati apa belum itu". Mbak Arum malah kasih perhatian ke gua.
"Sudah kok mbak, ngomong-ngomong kalau boleh tau.. ini siapa ya?". Gua dengan sopan bertanya dan memandang pria di sebelah mbak Arum untuk lebih memastikan identitasnya.
"Oh iya, kamu belum kenal kan? Kenalin ini mas Taufik suami saya dan.. " Mbak Arum menarik cewe di belakang punggungnya.
"Dan ini Siti keponakan saya, baru 3 hari dia pindah sekolah dari Jakarta ke Jogja ini".