Preman Campus

Preman Campus
KITA ADU HARTA!


Rektor berkumis ini tampak puas saat gw mengaku. Dan memang benar itu semua dan kagak mengelak gw, semua mahasiswa baru juga tau karena gw hajar itu orang waktu ospek.


"Kamu juga kan pelaku yang dari penyerangan senior lainya yang bernama Fikri di kantin Campus bersama 2 temanmu ini?" Dia melayangkan tuduhan lagi ke gw.


Reza dan Udin langsung memandang pak Seno takut,saat mereka disebut.


"Iya itu saya pelakunya tapi jangan bawa-bawa 2 teman saya ini, mereka cuma ngikut-ngikut saja. Semua saya yang lakukan".


"Bagus sekali kamu tidak takut apapun dan mengakuinya sendiri!".


"Kenapa saya harus takut? tidak ada alasan untuk saya takut!". Suara gw masih datar.


"Kamu terlalu sombong dan tidak tau siapa yang kamu celakai".


"Memang saya tidak tau dan saya juga tidak mau tau, selama ada yang mengusik saya pasti bisa saya pastikan orang itu tidak akan baik-baik saja".


Pak Seno tampak terkejut dengan ucapan gw yang tanpa basa-basi ini.


"Gini aja deh pak No! sekarang anda mau apa sama saya?".


"Lacang!! sebuah bencana Campus saya meneriama mahasiswa seperti kamu".


"Apa kamu tidak tau Fikri saat in sangat ketakutan dan tidak mau masuk kuliah gara-gara kamu hajar!".


Gw diam saja mendengarkan rektor ini bicara sesukanya.


"Satu lagi! kamu juga kan yang menghajar 4 senior di gor basket dan kamu telanjangi mereka!?".


"Hoooaaammm!! iya itu saya, dan juga saya menghajar 3 senior lainnya yang saya tidak tau namanya dengan botol sprite di toilet mall Malioboro". Biar kagak muter-muter gw bicara aja semuanya udah ngantuk juga gw semalam kagak tidur.


"Bencana!! ini bencana!! kamu sudah mencoreng nama baik Campus kita! Dikeluarkan saja tidak cukup untuk menghukum kamu!".


"Pak tolong di fikirkan lagi pak, teman saya ini tidak melakukannya dengan sengaja". Kagak gw sangka Udin berbicara membela gw.


"Iya cak,eh pak maksudnya. Temen diriku ini punya alasan melakukan itu semua".


"Brak!!! meja bergetar sekali lagi.


"Kalau salah ya salah jangan banyak alasan!!".


"Pak seno,kalau aturan dan kebijakan Campus benar pasti saya tidak akan berontak dan melakukan tindakan kekerasan".


"Apa maksud kamu?! Apa kamu mau bilang sistem di Campus saya rusak?!" Dia melotot tajam.


"Bukan rusak lagi, tapi sudah sangat bobrok. Apa bapak tau Ospek kemarin seperti apa? kita kesini mau kuliah dan mencari ilmu bukan mau berangkat perang, kenapa panitia Ospek itu sampai segitunya menyiksa kami?".


"Itu kan semua untuk menggembleng mental kalian agar kalian tau kalian bukan remaja lagi"


"Bapak jangan bercanda mental apa yang bisa digembleng hanya dalam waktu satu minggu, Bilang saja Campus membiarkan itu semua terjadi".


"Itu semua kan sudah tradisi turun temurun" Ini rektor beralasan lagi.


"Apanya yang tradisi bapak rektor yang terhormat! mengancam mahasiswa baru apa itu tradisi? menyuruh mahasiswa membawa batu satu tas dan menyuruh mereka berpanas-panas apa itu juga tradisi? kalau senioritas semena-mena itu adalah tradisi maka hancur sudah masa depan negri ini".


"Dan saya tidak akan dan tidak akan pernah mau tunduk dengan hal yang bapak sebut tradisi ini". Gw bicara tegas.


"Saya juga pak? saya akan melawan tindakan semena-mena ini! Udin ikut angkat bicara.


"Diriku juga pak, apa kita orang miskin dan kalangan bawah tidak boleh bersuara dan disaat kami di injak? semut kecilpun akan mengigit jika di ganggu". Reza dengan konotasinya ikut bersuara lantang.


"Braaakkkk!!!"


"Kalian!!"


Pak seno menggebrak meja lagi dan berteriak kepada kami bertiga.


"Kalian boleh saja protes tapi dengan cara yang benar! yang pasti kalian dalam masalah besar sekarang! Karena Bagas dan fikri bukan dari keluarga sembarangan".


"Kelurga mereka masih dalam kalangan manusia kan pak? kalau mereka masih bisa berdarah saat dipukul botol saya tidak akan pernah takut".


"Tok".


"Tok".


"Tok".


"Iya silahkan masuk" Pak Seno berucap dan berdiri dari duduknya.


Dan masuklah seorang pria setengah baya dengan memakai jas lengkap dengan dasinya.


"Pak Ilham!" Pak seno menyebut nama dan langsung berjalan cepat menghampiri orang tersebut.


"Tidak usah basa-basi pak Seno,saya ingin liat wajah orang yang sudah berani membuat anak saya terbaring lemah di rumah sakit".


"Bapak tenang dulu mari kita bicarakan dengan baik-baik". Pak Seno mencoba meredam amarah orang itu yang mulai terbakar emosi.


"Nyet apapun yang terjadi lu berdua harus tetap di belakang punggung gw".


Gw berbisik ke 2 cebong dan berdiri diikuti mereka yang langsung beralih ke belakang gw.


"Apa kamu pelakunya yang telah buat anak saya menderita?!". Dia melihat gw yang berdiri.


"Maaf nama anak bapak memang siapa?!".


"Nama anak saya Bagas!".


"Pak seno apa benar orang ini yang sudah menyelakai anak saya?".


Pak Seno tampak diam dan tidak bisa berkata,sepertinya dia berada dalam situasi yang sulit.


"Pak Seno kenapa anda diam?! anda lupa saya adalah manager hotel terbesar di Jogja ini dan saya adalah salah satu donatur tetap di Campus ini?!".


"Terus kenapa kalau anda orang kaya!" gw bicara saat pak Seno masih saja diam.


"Kamu berani ya! jadi benar kamu pelakunya?!".


"Iya itu saya yang buat anak anda makan dari selang infus!".


Wajah dia merah karena emosi dan marah dan langsung maju ke arah gw dengan tangan yang langsung terangkat.


"Pak Ilham tunggu pak!" Pak Seno mencoba menghentikan.


"Plak!!".


Sebelum tamparan mendarat di pipi,gw tangkap lengan dia.


"Bapak kira saya akan diam saja saat anda mau pukul! anda salah besar! Tidak peduli anda siapa selama anda tidak sopan dan mencoba menyerang. Saya tidak akan segan!".


Gw bicara dan mendorong dia ke belakang dan di tangkap oleh pak Seno.


Dan Ayah Bagas itu terlihat sangat terkejut karena gw sangat berani.


"Abimana kamu yang sopan ya sama orang tua!". Pak Seno menegur gw.


"Maaf pak saya cuma membela diri,masak saya diam saja saat orang ini mau menampar saya? Apa bapak mau saya diam saja dan menawarkan pipi saya yang satunya lagi untuk ditampar?!"


"Bagus-bagus kamu benar-benar berani ya?! kita liat saja saya akan menggunakan semua kekayaan dan koneksi saya untuk menghancurkanmu dan keluarga kamu!".


"Anda jangan bawa-bawa keluarga saya!" Suara meninggi karena keluarga gw di bawa-bawa.


"Cak sabar cak, tenang dulu orang ini terlihat sangat kaya". Reza bicara pelan dari belakang gw.


"Emang apa peduli saya keluarga kamu terlibat juga enggak becus didik anak".


Gw langsung panas,emosi gw memuncak. Gw mau maju menyerang tapi langsung di tahan sama Udin dan Reza.


"Cak jangan cak!"


"Bim tahan Bim!". Sambil memengangi gw Udin Dan Reza mencoba menenangkan.


Ayah Bagas dan pak Seno tampak takut dan mundur melihat gw akan maju.


"Anda tadi mau gunakan kekayaan kan tadi untuk menghancurkan keluarga saya! Ok sekarang kita adu harta".


"Plakk!! gw dengan emosi mengambil dan membating dompet di meja.


"Kalau semua kekayaan anda dan semua aset anda lebih banyak dari isi dompet ini, saya akan berlutut dan anda bebas melakukan apapun!".