Preman Campus

Preman Campus
2 PERAWAT


Pukul 19:00 setelah memberi minum 3 peliharaan yang lagi sakit, gw rebahan di sofa untuk sekedar lurusin ini pinggang yang kaku banget.


"Bim kok malah mapan loe, bukannya tadi bilang mau temui dokter Putri?".


"Nanti aja Din, capek gw gerak mulu dari pagi sampai sekarang. Stamina gw kekuras banget , mau istirahat bentar ini. Kalian juga istirahat gi enggak usah banyak gerak dan banyak bacot". Gw menjawab sambil menguap lebar.


Tidak ada balasan dari Udin ataupun Reza, syukur deh jika mereka ngerti dan kagak ngerecoki gw.


Tidak berselang lama suara dengkuran pelan gw dengar dan 3 orang pembuat onar itu akhirnya pada terlelap juga mereka.


Gw yang juga menguap mulu dari tadi mulai kagak bisa mengendalikan kelopak mata yang pelan-pelan mulai tertutup dan akhirnya gw juga mulai tertidur selonjoran di atas sofa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat masih di kawasan Rumah Sakit Bethesda yang tepatnya di cafetaria lantai 1. Suasana begitu ramai karena banyak dokter dan para pegawai Rumah Sakit sedang santap malam. Bagi para dokter yang sibuk dan tidak ada waktu untuk makan di luar itu, cafetaria ini adalah sebuah pilihan yang praktis.


Pihak Rumah Sakit juga sangat memperhatikan makanan disini, ahli gizi dan koki profesional dipekerjakan untuk menunjang kebutuan pokok para manusia itu.


Di sudut ruangan duduk seorang diri wanita cantik yang di depannya ada nampan dengan segala lauk pauknya. Makanan itu masih utuh belum terjamah se endok pun karena wanita itu malah tampak seperti sedang melamun.


Kedua mata indahnya tampak menerawang entah kemana, banyak rekan Dokter suster dan perawat yang dengan ramah menyapanya tapi dia hanya diam saja dan enggak menanggapi seakan - akan dia sedang asik didunianya sendiri.


"Bimo apa bener kamu anggap aku cuma sebagai kakak aja? Terus maksud ciuman kamu kemarin itu apa?". Wanita itu berguman pelan dan langsung cemberut, dua pertanyaan itu selalu dia gumankan dalam diam.


Tidak jauh dari sang wanita duduk 2 perawat yang sejak tadi diam-diam memandang sang wanita. Tatapan 2 merawat itu menujukan rasa kasian dan iba.


"Mbak Indah, dokter Putri lagi sakit ya itu? Kok enggak makan dan malah melamun aja". Salah seorang perawat membuka pembicaraan.


"Huss jangan keras-keras Tari, nanti Dokter Putri dengar". Perawat yang bernama Indah itu menjawab sambil berbisik takut-takut melihat sang dokter jika mendengar.


"Bukan begitu mbak, aku liat dokter Putri itu aneh banget. Tadi sore mbak liat kan dia lari heboh banget tanpa alas kaki dari ruangannya ke UGD?".


"Iya aku lihat memang kenapa?". Indah bertanya datar seakan-akan sudah tau alasan sang dokter bersikap seperti itu.


"Ya aneh saja mbak, dokter yang biasanya cuek bebek dan pendiam anak pemilik Rumah Sakit bisa heboh gitu. Aku yang memberi kabar tadi sore ikutan panik dan lari dibelakang dia".


"Oh iya kamu kan Tar yang menerima info soal 3 pasien itu dari Ambulance dan meneruskan ke dokter Putri?".


"Iya mbak itu aku, apa mereka bertiga orang-orang penting ya? Kok bisa membuat dokter Putri heboh gitu dan juga berada di ruangan VVIP spesial juga?". Tari bertanya dengan wajah penasaran.


"Bisa dibilang seperti itu". Jawab Indah singkat.


"Masak sih mbak Dari penampilannya kok enggak menyakinkan gitu ya? Tadi saat kita kesana sama dokter Putri juga tampak katrok-katrok mereka kecuali 1 cowo yang nunggu 3 pasien itu sih, dia maskulin banget berkarisma dan juga lucu, hehe".


"Tar mending tarik lagi itu kata-kata kamu cowo itu terlalu tinggi untuk kamu jangkau, liat aja itu dokter Putri dia heboh tadi sore dan linglung sekarang itu kemungkinan besar karena pria yang kamu puji itu". Indah berucap dengan serius.


"Masak sih mbak? wanita hebat seperti dokter Putri bisa galau karena cowo, memang setinggi apa sih cowo itu kedudukannya? Anak DPR apa anak Pejabat? Bukannya keluarga dokter Putri tidak kalah ya?".


"Kamu Perawat baru Tari belum tau kisah dan legenda Rumah Sakit kita kan?". Indah tersenyum penuh arti.


"Kisah dan legenda?". Tari tampak berfikir sejenak "Aku pernah dengar sih mbak dari rekan-rekan disini tapi saat mau bertanya sama mbak Indah aku takut". Tari berucap jujur.


"Kenapa harus takut Tari? Memang benar kok waktu itu aku yang disandera sama mantan suami aku dan di tolong sama pria yang kamu puji itu". Indah tampak membanyangkan moment itu dan teringat aksi heroik Bimo.


"Jadi cowo itu?!". Tari tampak terkejut dan menutup mulutnya.


"Kenapa ekpresi kamu lebay banget gitu sih?". Indah tersenyum melihat perawat baru di sebelahnya.


Tari clingak-clinguk melihat ke kiri dan ke kanan, takut ada yang dengar apa yang akan dia katakan. Setelah memastikan keadaan aman di bertanya pelan. "Jadi cowo itu Pangerang mbak? Orang yang dibicarakan semuanya itu?". Dengan mata bulatnya perawat muda itu memastikan.


"Hehe, iya itu mas Pangeran tapi nama itu cuma nama samaran aja sih, aku rasa hanya untuk menggoda dokter Putri".


"Masih gak ngeh ya kamu? Putri dan Pangeran bukannya itu nama yang serasi ya?".


"Ya ampun, romantis banget sih cowo itu dan pinter cari celah. Andai aku jadi dokter Putri ya?". Tari tersenyum sendiri.


"Jangan ngarep kamu, liat no dokter Putri aja bisa dibuat sampai gitu apalagi kamu bisa stress malah nanti jika dibuat galau mas Bimo".


"Oya aku tadi juga dengar dokter Putri panggil dia Bimo, jadi nama aslinya Bimo ya mbak?".


"Iya Bimo itu nama panggilannya, nama aslinya Abimana Pramono, aku tau karena pernah ngobrol sama dia saat dia sakit dan dirawat disini dulu. Mas Bimo itu ramah dan baik banget orangnya".


"Sakit? Kelihatannya sehat dan bugar gitu mbak, sakit apa emangnya?".


"Katanya kamu tau legenda rumah sakit kita, kok malah nanya lagi?". Indah menatap Tari aneh.


"Kan cuma dengar 2 saja mbak, emang ada legenda lagi ya? Banyak sekali ya legenda di Rumah sakit kita? Aneh banget".


"Kamu itu yang aneh Tari, gemesin banget sih kamu".


"Hehe, aku memang gemesin dari dulu mbak". Tari tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih.


"Dua legenda yang kamu tau itu apa saja memang Tar?". Indah bertanya pelan.


"Ya itu legenda kamu mbak yang disandera dan ditolong sama tersangka pembuat galau dokter yang lagi bengong itu".


Itu yang pertama terus yang kedua?".


"Aku dengar-dengar dari perawat lainya jika ada pasien orang penting yang di jemput dengan 5 heli mbak tapi mereka tidak tau siapa pasien itu karena identitasnya yang sangat penting dan rahasia".


"Ya jelas sangat penting dan rahasialah lha pasien itu anak orang terkaya se Asia".


Tari tampak syok tidak percaya dan kembali matanya melebar dengan mulut terbuka.


"Tar.. Tari? Kamu enggak lagi kesurupan kan? Ekpresi kamu nakutin aku itu".


"Ya Tuhan, ternyata Rumah Sakit kita pernah didatangi orang seperti itu pantas saja jadi legenda". Tari dengan sigap mengeluarkan Hp nya.


"Kamu mau ngapain? Terkejut kok ngeluarlin HP?". Indah binggung dengan tingkah juniornya ini.


"Cari taulah mbak siapa nama orang terkaya se Asia itu, sekarang kan internet ada informasi apa saja".


"Ya udah cari tau aja". Indah tersenyum penuh arti.


"Ketemu mbak! Ketemu". Tari tampak fokus melihat layar hpnya. "Ini fotonya pasangan terkaya se Asia dan namanya adalah Rama Putra Pramono dan Istrinya Shinta Wiratama, ya ampun mereka pasangan serasi banget. Ganteng dan cantik. Jadi mereka yang buat legenda di Rumah sakit kita?".


"Lebih tepatnya sih anak putra mereka yang sakit dan di jemput sama kedua orang tuanya itu dengan 5 heli".


"Putra mereka? Kok di internet enggak ada foto putra itu mbak? jadi penasaran aku pengen liat". Tari terus mengotak-atik Hp nya mencari info lagi.


"Bukannya kamu udah liat ya? Tari-Tari kenapa enggak nyadar juga sih kamu? kenapa kamu bisa jadi perawat lulusan terbaik tahun ini sih dengan isi kepala seperti itu?". Indah tampak mengelengkan kepalanya sedih melihat Gadis disampingnya.


"Nyadar apa mbak? Kenapa kamu liat aku seperti itu?". Tari bingung.


"2 legenda itu di ciptakan oleh orang yang sama Tariiii, bikin pengen cubit pipi kamu aja ini aku".


"Bentar-bentar mbak, nama orang terkaya itu kan Rama Putra Pramono terus nama cowo yang selamatkan mbak Indah itu Abimana Pramono. Nama belakang mereka sama jadi apa mungkin..?". Tari memandang Indah takut-takut.


"Jawaban aku sama dengan yang kamu fikirkan". Jawab Indah cepat.


Tari: "OH MY GOD!!".