Preman Campus

Preman Campus
SALAH PAHAM


"Reza ini minum dulu, Udin juga minum dulu supaya tenang". Rio meletakkan 2 kaleng cola di depan 2 temannya dan menyimpan 1 kaleng untuk dirinya sendiri.


Tadi melihat suasana yang gaduh Rio bernisiatif membeli cola itu dan sekarang perjalanan mereka ke fakultas kedokteran terhenti di depan masjid campus untuk sementara karena sebuah insiden mendebarkan yang baru saja terjadi.


"Kak Din! Diriku enggak mau tau pokoknya dirimu harus ganti ini HP, kalau emosi kenapa enggak injak Hp dirimu sendiri tadi? Malah hp diriku jadi korban, cicilan masih belum lunas ini dan masih 2 bulan lagi.. Sekarang yang tersisa cuma remukannya doang". Reza mengeluh panjang meminta pertanggung jawaban Udin.


Sementara sang tersangka hanya terliat dia dan tidak mau menjawab, dia membuka cola dan langsung mencecapnya.


"Reza memang enggak ada garansi ya dari tokonya?". Rio bertanya pelan.


"Garansi ada Yo tapi mana mungkin mereka mau ganti jika kerusakan disengaja seperti ini, garansi bisa di claim cuma jika tidak sengaja hp mati masuk air dan tidak sengaja mati jatuh dari genggaman tangan, lha ini remuk redap seperti di lindes traktor".


Mendengar jawaban Reza Rio cuma mengangguk mengerti dan beralih memandang Udin.


"Sorry dek Za khilaf gua tadi, enggak sadar gua banting dan injak-injak HP kamu. Enggak cowo nya enggak cewenya sama aja pada ngerjain kita terus, aku kira senior Bianca baik mau liat kemampuan kita gelut.. Ehh ini cuma datang cuma mau merekam doang, loe juga emosi kan dengernya?". Udin langsung menjelaskan alasanya, mungkin dada dia udah adem sehabis minum cola.


"Iya diriku juga marah tapi kan kelakuan Bemo undah seperti itu sejak dulu dan suka banget menindas kita, mungkin senior Bianca ketularan.. dan juga jika dirimu emosi kan bisa pukul tembok atau teriak-teriak kenapa musti Hp diriku yang kamu injak-injak?".


"Namanya orang emosi dek Za, mana bisa direncanakan seperti itu.. Kan spontan ini". Udin berkelah.


"Uhuuii!". Rio tiba-tiba bersuara.


"Ri ngapain loe! Ngeledek gua loe?". Udin langsung emosi.


"Enggak Din enggak! Maaf, dari kecil kalau ada orang bilang spontan.. Kebiasaan aku selalu jawab uhuuii". Rio dengan terbata langsung menjawab dan memukul pelan mulutnya.


"Kak Din? Rio? Ini bukan sesi komedi ya dan lagi serius, gimana ini kelangsungan alat komukasi diriku selanjutnya". Reza menatap tajam Udin dan Rio.


"Emang berapa harganya dek Za?". Udin bertanya pelan dan hati-hati.


"Iphone 11 dan diriku kridit dengan harga pokok 12 juta 800 ribu dan aku cicil 12 bulan dan ini masih 2 bulan lagi".


Udin auto melotot mendengar itu, "Serius dek Za Hp yang gua injak-injak harganya segitu? Enggak lagi ngibulin gua kan loe?".


"Seriuslah ini Iphone bukan hp sembarangan, tanya aja Rio kalau enggak percaya?".


"Bener apa kata Reza, Iphone 11 memang harganya itu". Rio tanpa menunggu ditanya langsung setuju dengan Reza.


"Dek Za, bisa beli HP mahal pasti loe juga sultan tersembuyi kan seperti Bemo? Apa mungkin benar dirimu adalah pangeran Madura? Jika benar kenapa Hp aja kamu ributin sih? Kita kan sudah seperti saudara". Udin tersenyum kecil membujuk.


"Sultan apa yang sultan! Dirimu enggak tau apa yang diriku korbankan untuk beli ini HP? Uang bulanan diriku sisihkan separuh untuk bayar cicilan dan di kost cuma makan mie instan aja, untuk mengakali agar enggak bosan segala rasa mie diriku beli". Reza bicara menggebu.


Suasana hening dan Udin tampak terkejut.


"Yo kenapa dirimu malah nanggis?".


"Aku mengerti penderitaan kamu Za, aku juga mengalami itu.. Beberapa bulan hanya makan mie instan berbagai rasa". Rio menjawab dengan melepaskan kaca matanya yang basah.


"Dek Za kenapa dirimu enggak bilang dari awal, kan kemarin kita pegang uang banyak hasil malak musuh yang culik loe, ada 4 juta lebih kalau tau gitu biar Bemo aja yang bayar makanan di cafe dan kita enggak belikan dia miras jack daniels semalam". Udin tampak menyesal.


"Itu kan uang panas dan haram kak Din yang bagus ya digunakan bersama-sama masak diriku gunakan sebagai kebutuhan pribadi nanti dosa diriku tanggung sendiri dong, kalau kita hamburkan sama-sama kan dosa yang kita dapatkan merata".


"Sialan! Tumben loe jadi pinter gini, sepertinya habis rapat rohis dapat hidayah loe Za?".


Halah! Udah enggak usah memuji gimana ini pertanggung jawaban dirimu?".


"Iya nanti akan gw ganti tapi enggak sekarang ya? gua cicil bisa kan?". Udin menjawab dengan cengengesan.


"Kalau dirimu cicil diriku enggak pegang HP dong? Nanti kalau papa dan mamah diriku calling gimana? Kan mereka bisa kawatir jika hp diriku enggak aktif".


"Hahahaha.. Biasa panggil pak'e mak'e aja loe bilang papa mamah". Udin tertawa.


Rio pun tampak tersenyum kecil setelah tadi menangis.


"Ehhh! Dirimu yang salah disini? Malah ketawa?". Reza tampak tidak senang.


"Iya-iya sorry dek Za, gimana kalau sambil gua nyicil loe pakai hp gua yang lama dulu? Walau enggak canggih-canggih amat tapi lumayan udah android". Udin membuat penawaran.


"Android? dari dulu diriku enggak pernah pegang android, nanti kalau tangan diriku kaku dan gatal-gatal gimana?".


"Halah! Lagak loe, biasa cebok pakai tangan aja belagu.. Gua bisanya cuma nawari itu sambil nyicil kalau loe gak mau ya udah". Udin langsung sewot.


Reza sejenak tampak berfikir, "Memang keistimewaan android apa?". Dan dia pun bertanya.


"Ya biasa aja seperti Hp yang lainnya, tapi Hp lama gw itu ada yang istimewa". Udin berucap misterius dan tampak bangga.


"Apa istimewanya?". Reza terpancing dan tampak penasaran.


"Itu yang dirimu anggap spesial kak Din?! Mau buat diriku semakin marah ya? Kamu enggak tau spesifikasi hp diriku yang dirimu injak-injak tadi?".


"Gw belum selesai bicara! Dengerin dulu ngapa, nyolot aja loe kek Bemo! 16 gb dan 32 gb itu isinya full dengan bokep dari yang lokal sama internasional dari ariel, gisel sampai skandal-skandal artis dan pejabat semua ada, album kakek sugiona ada disitu juga dan ada folder khusus yang isinya kolaborasi manusia betina sama binatang anjing dan kuda".


"Gimana sekarang? Apa loe masih enggak mau? kalau gak mau ya udah". Udin kek ahli pemasaran yang menggoda konsumen s.a.n.g.e.a.n


Reza tampak bengong dengan mata melebar mendengar kata-kata Udin, dia tampak nelen air liur kasar.


Sementara Rio yang hanya menyimak dari samping wajahnya langsung memerah, mungkin dia teringat dengan pertempuranya semalam dengan Ayam yang mungkin saja akan hamil anaknya.


"Gimana ini Tertarik gak loe? Malah begong". Udin minta kejelasan.


Reza tampak tersadar dan senyum kecil terlihat dari bibirnya, "Berhubung kita man teman dan sudah seperti saudara diriku dengan terpaksa akan terima niat baik dari dirimu kak Din".


"Terpaksa? dari wajah loe aja kelihatan itu seneng banget, pakai ngibul segala.. Ya udah nanti setelah kita gelut pulangnya mampir kost gua dulu untuk ambil itu hp".


"Ok deal kalau gitu". Reza tersenyum lebar.


Jalan fikiran Reza itu sangat sederhana dan berbeda, iphone belasan juta rusak ditukar sama video sudah seneng banget dan kembali tersenyum ceria dia.


"Ayo kita langsung aja kalau gitu! Meluncur dan menghabisi anak fakultas kedokteran gigi itu".


"Ri tunjukan jalan!".


"Siap". Rio menanggapi cepat dan melangkah terlebih dahulu dan di ikuti Reza dan Udin dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disebuah kamar besar dan luas seorang pria dan wanita tampak sangat bahagia dan sedang tertawa bersama, mereka duduk di sofa berdampingan dengan mesranya.


"Sayang temen-temen kamu itu pada kocak-kocak semua nya?".


"Emang pada kagak bener itu Bie isi otak mereka". Jawab gw santai dan udah kagak terkejut dengan kelakuan 2 anak uler itu.


"Padahal saat dulu aku traktir makan pada jaim-jaim dan sok cool banget mereka".


"Itu ma cuma acting mereka masak di depan cewe cakep mau bringasan, kek kagak tau aja kamu".


"Hehe gitu ya, kelihatannya kamu enggak akan bosan ya sayang karena punya 2 teman kocak dan aneh seperti itu".


"Iya enggak bosan tapi emosi tiap hari karena mereka berdua". Jawab gw jujur.


"Pasti lucu kalau liat ekpresi kamu saat dibuat kesel sama Reza dan Udin, hehehe". Bianca tersenyum mulu itu dari tadi.


"Udah gak usah dibahas lagi itu 2 manusia figuran nanti kita sebagai pemeran utama enggak punya adegan lagi". Gw mengalihkan pembicaraan dan perhatian Bianca.


"Hehehe, apa sih.. Memang kita lagi main film?". Bianca memukul dada gw pelan dan tersipu.


"Ngomong-ngomong jadi kagak ini kamu kerokin aku? Kalau kagak jadi biar aku langsung Otw Blora aja".


"Oya sampai lupa aku, jadi dong nanti tambah parah flu dan masuk angin kamu.. Ini aku udah ambil minyak kayu putih dari bawah tadi". Bianca mmenaruh minyak kayu putih di atas meja. "Kamu mau duduk atau tengkerup di ranjang?". Tanpa rasa malu sedikitpun dan dengan wajah datar Bianca bertanya.


"Sambil duduk disini aja Bie, aneh nanti jadinya kalau aku tengkurep di ranjang kamu".


"Aneh gimana? Kan aku cuma kerokin kamu, enggak yang aneh-aneh.. Pasti fikiran kamu kemana-mana ya?". Bianca menujuk wajah gw dengan jari telunjuknya.


"Ma ma mana mungkin fikiran aku kek gitu, enggak lah". Gw memalingkan wajah langsung merasa ke gap sama Bianca.


"Hehe.. Imut banget cowo aku ternyata kalau lagi malu". Bianca tersenyum gemas. "Ya udah kamu lepas gi kalau mau di sofa aja, aku ambil koin di di tas dulu". Amora berdiri dan menuju meja ria tempat tas kecilnya berada.


Cewe gw kalau lagi pakai gaun selutut ketat kek gitu terlihat sangat seksi, apalagi bemper belakangnya itu.. Gw nelen ludah cok banyangin 2 bongkahan yang mantul-mantul itu.


Gw langsung mengelengkan kepala untuk menyadarkan diri.


"Sayang aku udah nemu koinnya". Bianca di depan meja rias berbalik badan melihat gw.


"BIMOOOO!". Bianca nampak terperajat seketika, wajahnya memerah melihat gw.


"Apa sih Bie? Kagetin aku aja kamu.. Biasa aja ngapa".


"Bimo kamu ngapain itu?". Bianca menutup matanya.


"Ngapain apa Bie? Yang nunggu kamu kerokinlah apa lagi coba, cepet sini!". Gw mulai kagak sabar.


"Yang akan aku kerokoin kan punggung sayang! Kenapa yang kamu lepas malah celana gitu, cepat ahh pakai lagi".