Preman Campus

Preman Campus
MESIN TUA


"Neng, mas? Lama sekali saya tunggu, wahana sudah siap dari tadi". Penjaga loket biang lala keluar dan menyambut gw dan Bianca saat datang.


"Maaf Pak, kami keliling dulu tadi sebentar enggak nyangka lebih dari sepuluh menit". Bianca segera menjawab dan tersenyum canggung.


"Bagaimana pak kita bisa naik sekarang kan?". Gw segera bertanya karena pengen cepet naik dan balik, kepala gw pusing banget abis main komedi putar.


Ini aja gw tahan perut, agar kagak muntah. Masak preman naik komedi putar turun muntah bisa malu tujuh turunan gw.


"Silahkan naik mas, karena tempat duduk sudah mas beli semua tidak akan menunggu lagi".


"Iya pak terima kasih".


Gw dan Bianca masuk melalui pagar besi setinggi dada dan wahana besar seperti roda ada di depan kami, biang lala permainan berputar ke atas dan turun kebawah.


Bianca langsung masuk ke dalam satu ruangan yang mengantung dan gw ikuti dari belakang.


Bener kata penjaga loket tadi, setiap ruangan berbentuk bulat ini hanya muat 2 orang dengan 2 tempat duduk yang berhadap-hadapan.


Bianca yang duduk di depan gw tampak sangat bahagia tersenyum dan melihat keluar saat wahana Biang lala ini mulai berjalan dan naik ke atas pelan-pelan.


Angin dingin masuk melalu sisi kanan dan kiri karena kagak ada kaca ataupun penutup, wajar aja ini pasar malam murah dan tradisional.


Wahana biang lala turun ke bawah dan naik lagi ke atas perputar pelan-pelan tidak ada perbincangan di antara kami karena masih menikmati suasana.


Mata gw dengan seksama melihat wanita cantik yang sedang tersenyum melihat ke arah luar.


Wajah yang cantik putih bersih, bulu mata lentik hidung yang sangat indah dan bibir yang merah yang sangat sensual.


Turun kebawah gw bisa melihat gunung semeru dan gunung merapi berdampingan dengan rukun walau terhalang kabut yang bernama baju, gw masih bisa dengan jelas melihat 2 gunung yang begitu besar dan megah itu.


Turun kebawah sedikit walau kagak kelihatan, gw bisa menebak disana ada sawah dengan semak belukar yang basah akibat ulah dari tangan dan jari setan gw.


Gw tersenyum sendiri membanyangkan insiden nikmat di atas patung kuda komedi putar, baru tadi itu gw selama hidup memegang dan mengelus bagian paling sensitif dari wanita. Ternyata itu begitu empuk dan kenyal.


Itupun baru dari luar celana sudah buat gw merasakan sensasi nikmat, bagaimana jika kagak ada penghalang sama sekali? Mungkin yang terbenam disana bukan jari lagi melainkan wajah dan lidah gw.


"Gluk!". Gw menelan ludah kasar membayangkan itu, kapan ya hari itu tiba? Otak ngeres gw bertanya entah kepada siapa.


"Bimo kamu kok diem? Liat itu pemandangannya indah banget". Tiba-tiba Bianca bersuara membunyarkan lamunan gw.


"Pemandangan mana? Ini kan kan malam dan gelap Bie?".


"Itu yang di sana seperti gunung itu?". Bianca menunjuk ke luar dengan mata berbinar


Gw tajamkan mata untuk melihat dan skill mata saringan beras gw aktifkan. "Bie itu kan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) apanya yang indah? Sampah itu yang numpuk seperti gunung". Gw geleng-geleng kepala ngeliat tempat yang ditunjuk Bianca.


"Hehe, aku kira itu gunung Bim". Bianca menertawakan kebodohannya.


"Kalau yang disana itu Bim, terang banget ya cahayanya pasti ada pesta kembang api". Bianca kembali menunjuk ke arah lain.


"Bie, coba kamu liat dengan benar itu kan rumah warga yang punya hajatan ya terang lah cahaya lampunya".


"Oh iya ada tendanya juga ya itu Bim". Bianca tersenyum.


"Bie kamu enggak usah cari pemandangan indah jauh-jauh, capek sendiri nanti mata kamu".


"Naik Biang lala kan intinya bisa liat pemandangan dari atas Bim".


"Iya tapi kagak usah liat keluar jika di depan kamu sudah ada pemandangan yang mempesona".


Bianca melihat gw dan seketika itu juga dia tertawa. "Narsis lagi kamu Bim, harusnya kan yang bilang gitu aku".


"Dimana lagi coba kamu nemuin cewe secantik aku". Bianca bicara dan menyibakkan rambut ke belakang, kek iklan shampoo gw liatnya.


"Harusnya aku yang bilang gitu Bie, dimana lagi coba kamu nemukan cowo yang bisa memberi kamu kenikmatan hanya dengan elusan dan tusukan jari". Gw tersenyum penuh arti dan bersiul melihat bagian bawah tubuh Bianca.


"Bimo, jangan dibahas lagi malu aku". Bianca menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Ngapain malu sama cowo kamu sendiri ini". Gw menjawab santai.


"Deket-deket dengan kamu itu bahaya Bim".


"Bahaya gimana? Bukannya kamu tadi mengglinjang ke enakan ya Bie?". Gw mengedipkan satu mata.


"Ya itu bahayanya Bimo, aku merasa lemah dan enggak bisa berfikir jernih saat bersama dengan kamu, aneh kan?".


"Aku juga berfikir seperti itu Bie, walaupun aku tau ini salah dan tidak benar tapi entah kenapa aku ingin selalu sentuh kamu, berhubung sudah terlanjur gimana kalau kita lanjutkan aja, tanggung kan?". Gw memberi solusi.


"Itu sih maunya kamu Bim, aku enggak akan masuk dalam perangkap kamu lagi". Bianca menjulurkan lidahnya ngejek gw.


"Perangkap apaan? Kan yang aku enakin kamu Bie?".


"Wahh parah, emang kita pacaran apa lagi ngukur jalan? Pakai dibatasi dengan jarak segala". Gw cemberut ngelit Bianca.


"Kalau enggak gitu nanti kalau kita khilaf lagi gimana sayang". Bianca berucap lembut


"Ya kamu harus tanggung jawab lah Bie kalau khilaf".


"Bukannya kebalik itu, kan kamu yang harusnya tanggung jawab kok malah aku".


"Traaaang!! Traaangg!". "Bluuugk!!"


"Aaccchhh! Bimo!". Bianca berteriak dan memeluk gw yang duduk di depannya.


Kami berdua terkejut di tengah-tengah obrloan ngawur gw dan Bianca terdengar suara besi bertabrakan dan ledakan seperti kompor meleduk.


"Sayang suara apa itu? Aku takut". Badan Bianca bergetar didalam pelukan gw.


"Bie kamu tenang dulu, kamu jangan takut dan panik ada aku disini". Gw bicara nenangin Bianca.


"Bimo Biang lala ini kok berhenti bergerak, apa jangan-jangan kita terjebak di atas sini". Bianca semakin mempererat pelukannya.


"Mas? mbak? Kalian enggak apa-apa kan?". Terdengar suara teriakan dari bawah.


"Bie lepasin dulu ya pelukannya biar aku tanya sama orang di bawah itu". Gw bicara dan mengelus rambut Bianca lembut.


Bianca pun mundur dan kembali duduk di depan gw, masih terlihat panik dia.


Segera gw usap wajahnya. "Hei cantik kenapa panik? Kan ada aku disini, tenang aja enggak akan aku biarin kamu terluka dan lecet seinci pun".


Bianca tersenyum kecil dan mengangguk pelan.


Gw ucap rambutnya lagi dan dan segera menengok kebawah dari sisi kiri untuk melihat orang yang berteriak dari bawah.


"Pak kenapa ini mainan berhenti? Kehabisan bensin atau bapak lagi ngeprank kami?". Gw segera menebak.


"Maaf mas mesin kami rusak dan tidak mau berjalan".


"Anda bercanda kan pak? Kita turunnya gimana kalau gitu, kejebak ini kita disini?".


"Maaf mas mesin wahana ini memang sudah tua dan sering bandel".


"Kenapa masih dipakai pak bukannya dimasukin museum aja kalau udah tua?". Gw semakin emosi karena pasar malam keliling ini kagak becus kerja.


"Maaf mas, sekali lagi saya minta maaf. Biar saya panggilkan orang dulu untuk memperbaiki mesinnya?".


"Lama kagak pak?".


"Sebentar kok mas, paling cuma 2 jam". Jawab dia sambil berteriak.


"Apa 2jam?! Kagak 2 bulan sekalian biar pantat saya keluar jamurnya?!".


"Mas sabar dulu akan kami usahakan secepatnya". Pria di bawah itu bicara dan langsung ngacir pergi.


Pengen ngumpat gw rasanya, masak ngegantung disini selama 2 jam mana gw laper lagi. Gw mengeluh dalam hati dan kembali duduk.


"Sayang kita terjebak disini ya?". Bianca yang sudah tenang bertanya.


"Iya Bie, kamu dengar sendiri kan tadi mesin ini wahana tua dan sakit-sakit tan".


"Jadi kita diem di atas sini selama 2 jam sayang?".


"Kemungkinan ya seperti itu, hiburan murah ya gini beresiko tinggi mending tadi kita main gaple aja di rumah kamu".


"Sayang gawat ini kalau kita terjebak disini selama 2 jam". Wajah Bianca memerah dan tampak panik.


"Gawat gimana? Kamu tenang aja walau mesin ini wahana tua, tapi aku liat besi penyangga kuat kok enggak akan jatuh kita".


"Kita cuma bisa sabar sampai mesin di perbaiki Bie".


"Bukan gitu sayang, aku udah enggak tahan ini". Bianca meremas tali tas kecilnya.


"Ya udah ayok kalau gitu, enggak ada yang lihat juga. Ngapain kamu tahan? Sini naik ke pangkuan aku".


"Bimooo! Aku enggak lagi bercanda ini, seriusan aku enggak tahan".


"Iya makanya sini jangan malu-malu".


"Aku enggak tahan Bim, pengen pipis! Gimana ini?".