Preman Campus

Preman Campus
KAMBING HITAM


"Kamu? Kamu yang bernama Udin kan? Orang yang suruh aku kemari? Ayo kita bahas tentang itu". Dengan melirik gw Luzy berbicara dengan Udin sambil menahan rasa malu gw lihat.


Wajar juga sih gw rasa, Luzy merasa malu dan terhina.. mungkin hari ini adalah hari yang tidak pernah dibayangkannya seumur hidupnya.


Hari dimana dia menawarkan mahkota berharga yang selama ini dia jaga hanya untuk sesuatu benda buatan manusia yang sangat mengerikan yaitu uang.


Inilah realita hidup bagi sebagian orang yang kurang beruntung seperti wanita cantik di depan gw ini.


Takdir memang terkadang sangat memilukan untuk kita hadapi, atas nama bertahan hidup dan rasa takut kehilangan orang yang dia kasihi, Luzy mengambil jalan pintas untuk memutar balikan takdir yang sedang dia hadapi sekarang.


Rasa iba dan berserta rasa kagum memang gw rasakan saat Udin bercerita tentang Luzy tadi, hati gw terenyuh seketika mendengar dia jual mahkota dia untuk biaya pengobatan Ibunya, itu juga yang mendasari gw untuk minta maaf.


Gw mengerti dan tidak akan pernah menghakimi orang yang berjuang untuk keluarga, walau jalan yang di ambil Luzy ini salah gw tetap aja kagum, karena dia tidak merugikan orang lain untuk mendapatkan uang itu.


Hati manusia itu tidak dapat ditebak, begitu juga dengan hati sejak tadi, Jiwa gw meronta-ronta dan berteriak jika gw kagak tolong ini wanita, gw akan berubah menjadi pria brengsek tanpa belas kasih dan perasaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maaf senior sepertinya saya berubah fikiran dan tidak ingin membahas lebih jauh lagi tentang rencana pembicaraan kita". Dengan raut wajah sedih dan menyesel Udin berucap, satu tetes air mata keluar dari matanya.


Udin setelah berbicara seperti itu langsung berpaling dari Luzy dan melihat gw dengan tatapan marah dan ngajak gelut dan gw pura-pura bego aja saat ini.


Sementara Luzy terdiam mendengar perkataan orang yang suruh dia kemari, raut wajah marah dan kesediahan bercampur jadi satu menghiasi wajah cantiknya.


"Kamu permainkan aku?! aku udah menjatuhkan harga diri serendah-rendahnya kamu malah mengelak dan membatalkan kesepakan sebelum kita berbicara". Luzy menatap Udin dengan mata berkaca-kaca.


"Din emang kagak punya perasaan lu sialan!". Gw mengumpat.


"Lu telah mempermainkan wanita sebaik dan se cantik senior Luzy, lu kalau mau batalin kenapa lu suruh kemari? Bener-bener emang lu ya". Gw ngomelin Udin dan dalam hati gw tertawa.


Udin menatap tajam gw dan saat dia akan bicara langsung gw remes kenceng punggung dia dan gw balas dengan pelototan lebih tajam lagi.


"Braaakkk!". Suara meja di gebrak oleh tangan seseorang dan itu adalah tangan Reza.


"Din?! emang bangsat dirimu jadi cowo! Kalau dirimu berubah fikiran kenapa baru sekarang berbicara dap biadap!". Reza marah ngumpat dan langsung berdiri dari duduknya.


"Za lu tenang dulu Za". Gw nenangin Reza dan dalam hati masih tertawa.


"Mana bisa diriku tenang cak! Harus diriku beri pelajaran Udin itu biar lurus kembali otaknya". Reza mulai melangkah dan menghampiri Udin.


Sontak gw berdiri dan hadang Jalan Reza. "Minggir cak, biar diriku sadarkan itu bocah".


"Sabar nyet sabar, Yo jangan begong aja lu! Ini pegangin temen lu biar kagak saling baku hantam".


"Iya Bim maaf terlalu asik menyimak saya". Rio tersenyum kecil dan berdiri di belakang Reza.


Emang anak cebong sialan! Dikira kita lagi main lenong apa yak? Dia malah asih menyimak.


"Maaf Za tenang dulu ya kamu, pertengkaran tidak menyelesaikan masalah". Rio menasehati dan memegang tangan Reza.


"Braaakkkk..!" Gw dikejutkan dengan gebrakan meja lagi dan kali ini adalah orang yang gw kambing hitamkan yang melakukannya yaitu Udin.


Dia langsung saja berdiri tanpa mau memandang gw dia melihat saudara ulernya. "Za andai loe tau apa yang gw alami saat ini, andai loe tau apa yang gua rasakan saat ini". Udin berucap lirih dan beranjak pergi.


Udin duduk bersender di pojokan dan melihat ke langit-langit ruangan dengan tatapan mata kosong.


"Dirimu malah kabur pengecut!". Reza masih marah dan menggebu-gebu.


"Udah nyet biarin aja itu bocah disana, biar dia merenungi kesalahannya". Dengan bijaknya gw berucap.


"Lu duduk lagi nyet, lu juga Yo duduk lagi lu. Biar gw yang selesaikan masalah yang di buat Udin".


"Dengar itu Din, bikin malu aja dirimu! Kalau enggak ada Bimo gimana coba ini? Malu-malu in aja". Reza masih sempat-sempatnya menghujat Udin disaat mau duduk kembali.


"Aku pergi dulu, tidak ada urusan juga disini dan terima kasih untuk kalian sudah mempermainkan aku". Luzy tiba-tiba berucap dan berdiri dari duduknya.


Gw langsung pegang pergelangan tangan dia. "Senior mau kemana? Kan yang mempermainkan kamu cuma 1 orang kan aku tidak".


Luzy menatap gw dengan pandangan bingung, dia beralih melihat tangannya yang gw pegang.


"Maaf senior enggak sengaja aku, reflek tadi". Gw melepas tangan Luzy.


"Mari duduk dulu senior saya mau bicara sebentar dan akan menangung kesalahan temen saya yang sangat hina dan tidak bertanggung jawab itu".


"Kamu mau bicara apa? aku tidak punya waktu jika kamu hanya bercanda, masih ada hal penting yang harus aku lakukan".


"Duduk dulu aja biar kita bicaranya enak, 10 menit cukup 10 menit aku akan berbicara dan tidak akan bercanda juga". Gw menyakinkan.


"Ok aku beri kamu waktu 10 menit". Jawab Luzy singkat dan kembali duduk.


Gw tersenyum mendengar itu dan ikut duduk, dan rencana gw akhirnya bisa gw mulai sekarang.


"Cepat ngomong, kamu mau bicara apa?". Luzy terlihat tidak sabar.


"Senior manusia hina yang senderan di pojokan itu, sudah cerita ke aku semuanya tentang keadaan dan apa yang senior alami.


"Berhubung dia sudah lari dan membatalkan kesepakatan, aku disini ingin menggantikannya untuk mengambil dan membeli apa yang akan senior jual dan tawarkan".


Luzy sontak melihat gw dengan pandangan tidak percaya, ada sedikit rasa malu gw lihat dari raut wajahnya dan itu cuma sesaat sebelum dia bersikap normal kembali, mungkin rasa malu itu menghilang ditutupi dengan keadaan dia yang sangat membutuhkan uang.


"Apa kamu serius?". Luzy berucap pelan bertanya dan memastikan.


Gw tersenyum dan mengangguk pelan. "Kalau boleh tau penawaran tertinggi yang senior pernah terima berapa? biar aku tidak salah menyebutkan angka nanti". Gw berucap selembut mungkin agar kagak menyinggung perasaannya.


"35". Jawab Luzy sambil menduduk.


"Terus kalau nominal yang senior butuhkan berapa?".


Luzy terdiam dan masih menunduk kagak ngejawab pertanyaan gw.


"Senior bilang saja, aku sudah tau tentang keadaan ibu senior jadi wajar saja menurut aku jika butuh banyak nominal". Gw menyakinkan.


"150! aku butuh 150 juta untuk biaya operasi, ini sudah menjadi takdir aku dan aku tidak seharusnya malu karena ini, karena aku lakulan untuk orang yang paling aku sayangi". Luzy mendongak melihat gw dengan sorot mata penuh akan ketegasan.


"Ok deal! Aku kasih 200 juta sekarang".