Preman Campus

Preman Campus
SUNGAI 3


"Plok.. Plok.. Plok..!!".


"Plok.. Plok.. Plok..!!".


"Plok.. Plok.. Plok..!!".


Suara yang terdengar sangat berirama itu bukan suara tepuk tangan seperti yang ada dipikiran melainkan suara ...


Air sungai yang bergejolak ini bukan karena akan datangnya banjir tapi karena gua yang ...


Suara jeritan dan teriakan yang tidak lazim yang mungkin kalian dengar ini juga bukan suara makhluk tak kasat mata melainkan suara ...


Bersama dia sekarang gua berasa di tengah sungai dengan posisi berdiri tanpa ...


Dinginnya air kagak kami rasakan sama sekali karena dengan nafas yang memburu dan keringat yang keluar serta darah yang mendidih, sungai ini berasa pemandangan air panas.


Langit semakin gelap efek dari cahaya bulan yang mulai tertutup oleh mendung yang udah muter-muter dari sore.


Walaupun gua kagak bisa melihat keadaan tapi yang dibawah sana masih bisa tau dimana tempat yang hangat dan terus saja keluar masuk dengan tempo dan irama yang stabil, kadang cepat dan kadang lambat.


Gua udah kagak bisa menghitung waktu saat ini, mungkin ini sudah lebih dari 2 jam.. Yang pasti ini sudah yang ke 4 kalinya sejak insiden drone kamera hanyut tadi.


Gua yang takut hal-hal mistis sekarang bodo amat saat mendengar suara burung hantu yang menyeramkan, gua lebih fokus dengan kegiatan yang sedang gua lakukan saat ini dan seseorang yang selalu minta tambah Mulu dari tadi.


Ini mungkin adalah pengalaman gila yang pernah gua lakukan, malam-malam di sungai tempat terbuka bermain air dalam tanda kutip.


Gua merasa bingung apa ini aib atau kebanggaan yang bisa gua ceritakan ke anak cucu nanti.


Bagi para pria yang belum pernah merasakan dan belum sempat merasakan dengan senang hati sambil "Plok.. Plok.. Plok..!!" gua akan bercerita dan membagi pengalaman yang saat ini gua rasakan.


Sahabatku jangan mengira semua wanita itu punya rasa dan kehangatan yang sama.


Jika itu yang ada di dalam pikiran pria berarti tempat bermain pria itu belum terlalu jauh kek gua.


Baru beberapa saat yang lalu gua menyadari itu, Tingkat kehangatan dan cengkraman wanita itu berbeda-beda.


Sebagai contoh Bianca cengkeramannya kuat tapi tingkat kehangatannya normal tapi berbeda dengan Suci yang tingkat kehangatannya sangat tinggi tapi cengkraman nya yang tidak terlalu kuat.


Mungkin status mereka berdua yang membedakan, saat gua unboxing Bianca doi masih orisinil sementara saat gua unboxing Suci keadaanya sudah berbeda.


Tapi dalam segi bentuk dan keindahan hampir mirip lah, walau lebih tembem punya Bianca sedikit.


...****...


Tenaga gua sudah semakin terkuras saat ini tapi musuh terus saja menyerang minta lebih, minta lagi dan lagi membuat gua semakin terpojok.


Musuh gua kali ini memang sudah sangat berpengalaman dan sudah mempunyai jam terbang tinggi.


Di saat doi mau mendominasi pertempuran segera gua kerahkan semua yang gua punya, malu dong masak gua yang nantang gua yang kalah.


Apa mungkin efek dia tidak pernah berantem lama jadi langsung bringas seperti ini, sepertinya salah pilih musuh gua, musti berjuang agar bisa menang dan kagak malu.


Sebagai pejantan yang pantang menyerah gua terus bertahan dan terus meladeni dengan segala macam gempuran yang gua lancarkan.


Jika kek gini aja gua kalah dan KO pasti akan mempengaruhi gua kedepannya karena masih ada beberapa musuh yang belum gua ajak gelut dan unboxing.


Gua terengah-engah dan musuh pun mulai kewalahan saat ini segera gua ingin mengakhiri ronde ke empat ini.


Dengan kaki musuh yang gua angkat satu, serangan demi serangan benda tumpul gua hunjamkan dengan cepat dan brutal sampai bukan bunyi plok.. plok.. plok lagi yang terdengar tapi sudah berubah menjadi Jleb.. Jleb.. Jleb..


Tidak lama musuh menjerit keras dan kencang sampai burung-burung yang lagi tidur di pohon dekat sungai pada terbang ketakutan.


Teriakan yang menandakan sesuatu hal telah terjadi, teriakan yang menandakan gua telah menang dalam pertemuan ini.


Sisa-sisa tenaga masih sedikit tersisa di dalam tubuh ini dan juga gua belum ...


Walau musuh sudah nyerah tetap saja gua serang dengan brutal untuk melampiaskan amarah benda tumpul.


Tidak lama gua merasakan sensasi yang familiar, mata gua terpejam dan menikmati sensasi yang datang.


Gua langsung lemas seketika dan ambruk ke belakang dengan musuh yang masih memeluk gua.


Untung saja kedalaman sungai cuma sebatas lutut jadi tidak terjadi hal yang membahayakan terhadap kami.


Gua dan dia terengah-engah menikmati sisa-sisa rasa dari adu ilmu kesaktian 4 kali tadi.


"Sayang bagaimana? Aku enggak buruk-buruk amat kan?".


"Kamu yang terbaik Bimo". Suci dengan malu-malu berucap dan bangun.


"Mau kemana sayang? kamu gak mau lagi?".


"Sayang ini sudah terlalu malam, kita enggak tau berapa lama kita disini.. Aku enggak mau keluarga aku khawatir dan curiga, kamu mengerti kan?".


"Hehe.. iya aku mengerti kok, udah kamu ke tepi dulu dan pakai baju.. Aku mau berendam bentar".


"Iya cepat dan jangan terlalu lama, masuk angin nanti kamu". Suci bicara dan berjalan ke tepi.


Sementara gua bernafas lega karena tantangan gua untuk lagi dia tolak, tadi itu gua cuma sok aja.. Jika dia berani ma pasti langsung KO gua, badan ini saja sudah kagak terasa karena stamina terkuras.


Anjing! Gua mengumpat dalam hati karena saat ini gua bisa duduk tapi untuk bangun kedua kaki gua lemah banget dan lemas.


"Bimo kenapa kamu masih di sana? Ayo cepat sini". Suci tampak sudah memakai pakaiannya.


"Bukannya aku enggak mau kesana sayang tapi.." Gua ragu untuk bicara.


"Tapi apa? katanya tadi kamu mengerti kenapa malah mau lagi sih? Aku juga udah pakai baju ini". Suci malah salah paham.


"Sayang bukannya aku mau lagi tapi kedua kaki aku enggak bisa aku gerakkan untuk berdiri, lemas dan lunglai ini".


"Heeee...!!!". Suci tampak terkejut dan tidak percaya dan setelah itu langsung tertawa cekikikan sendiri dia.


"Bimo yang manis ternyata sudah sangat kelelahan ya? berarti tadi itu cuma...


"Udah deh sayang wajar dong aku kek gini, 4 ronde aku yang berkerja keras.. udah cepat sini bantu aku".


"Hehe .. nanti celana aku basah dong? kenapa enggak bilang dari tadi sih?".


"BEMOOO!!! LOE DIMANA?!!".


"Astagfirullah! Bimo bukanya itu suara teriakan Jono ya?". Suci langsung panik kagak jadi nyemplung ke sungai untuk bantu gua berdiri.


"Teriakan apa sih aku enggak dengar apa-apa".


"BEMOOO?! LOE DIMANA?".


"Itu Bim suara kencang dan keras gitu masak kamu enggak dengar, sepertinya Jono sedang cariin kita ini dan menuju kemari.. Gimana ini".


"Tenang sayang kagak usah panik gitu, emang jam berapa sekarang? Coba kamu liat hp".


"Ya ampun! Udah jam 11 malam Bimo!".


"Serius!". Gua auto terkejut saat ini dan kaki gua semakin lemas saja, 4 ronde dari setengah delapan sampai jam 11.


Berarti 3 jam setengah gua dan Suci melakukan itu tanpa istirahat.