
"Mantan! Suci bukan istri kamu lagi!". Jono mengoreksi ucapan Samsul.
Segel setan sudah terlepas di dalam diri gua dan rasa dahaga akan darah mulai menjalar di setiap sel dan pori-pori dalam tubuh.
"Hahaha, aku punya berita bagus Jon.. Diah minta aku untuk nikahi ibunya lagi, sepertinya Suci juga kangen itu sama belain dan tusukan aku.. Hahaha". Samsul masih jumawa dan tertawa terbahak-bahak.
Gua yang ada dibelakang Jono tanpa bicara langsung gua pegang kerah baju bagian belakang dia erat dengan satu tangan.
"Wusssshh..!". Gua tarik dan gua lempar Jono ke belakang dengan full power.
"Bim gua terbang Bim.. Asu Kowe yo!". di udara Jono mengumpat dan bunyi gedebuk keras langsung terdengar bertanda Jono udah mendarat dengan mulus.
"Adoh! bokong ku keseleo Bim!". Jono teriak dari arah belakang tapi gua bodo amat fokus gua saat ini sama orang di depan.
"Ternyata punya kemampuan juga kamu, tapi segitu saja tidak cukup buat..
"BACOT LOE ANJING!".
"Wusshhh!".
Gua maju dengan sedikit menunduk mengurangi tekanan tubuh bagian bawah dan akibatnya gua bisa melesat ke depan dengan cepat.
Pergerakan gua saat ini hampir mirip dengan Naruto yang lagi lari cuma beda di kedua tangan doang, Naruto ke belakang kalau kedua tangan gua kedepan siap untuk menyerang.
Reflek musuh mundur saat gua dekati dan langsung siaga dengan memasang kuda-kuda yang sekilas gua liat seperti kuda-kuda pencak silat.
Tanpa pikir panjang auto gua kejar dan langsung bilang hai dengan melancarkan serangan pembuka.
Bogem mentah kepalan tinju lurus gua arahkan ke wajahnya.
Dengan kecepatan tangan dan power tinju yang gua berikan, gua nyakin akan tepat sasaran tapi.
"Plaak!".
Tinju gua yang semula lurus berbelok arah memukul angin karena tangkisan dari Samsul yang memukul siku gua.
Merasa ada kesempatan, musuh langsung melancarkan serangan balik dengan bogem mentah pula dengan cepat mengarah ke wajah gua.
Tidak kalah cepat gua langsung menghindar dengan menunduk sebatas perut dia, pukulan Samsul seperti bunyi lebah terbang saat menerpa udara.
Kesempatan kedua untuk gua menyerang datang dan kagak gua sia-sia kan.
 Gua siap akan menyerang bagian bawah tubuhnya dengan pukulan tapi gua di kejutkan dengan lutut kanan musuh yang naik menuju dagu gua yang tepat ada di depannya.
Gua langsung gelagapan karena jika lulut itu masuk dan kena dagu pasti bakalan mental terbang ke belakang dan cidera parah gua.
Serangan yang akan gua lancaran segera gua ubah menjadi pertahanan mendadak, gua satukan kedua tangan dengan saling mengait erat di bawah dagu.
Segera lutut yang datang dari bawah gua tahan dengan dua telapak tangan gua yang sudah bergabung dan gua dorong kebawah.
"Aaaaaa!". Gua teriak kesakitan.
Serangan lutut memang bisa gua tahan tapi gua lupa 2 tangan Samsul di atas masih bebas dan keduanya langsung Jambak rambut gua yang langsung dia tarik ke atas hingga gua berdiri tegak lagi sejajar dengan dia.
Belum sempat gua bereaksi kepala gua dia tarik ke depan dan rasa sakit di hidung segera gua rasakan karena Samsul membenturkan keningnya ke hidung gua dengan keras.
"Mampus!".
"Mampus!".
Tiga kali hidung gua dihantam dan di adu dengan kening sambil berteriak si Samsul.
Kalau alurnya seperti ini bisa patah hidung gua dan darah juga sudah gua rasakan mengalir ke luar dari dalam hidung.
Tidak ada serangan yang sempurna dan akan selalu ada celah terbuka yang dibuat musuh untuk kita manfaatkan, jangan gegabah dan terus fokus walau dalam keadaan paling terdesak sekalipun, Itulah yang gua lakukan saat ini dan saatnya melakukan serangan balik.
Dengan kedua tangan nya yang masih memegang dan jambak rambut gua otomatis pertahanan bawah musuh terbuka dan itu yang akan gua serang untuk membalik keadaan yang tidak menguntungkan gua ini.
Gua biarkan Samsul mengulangi serangannya di hidung gua lagi yang dia hantam dengan kening tapi saat ini gua kagak diam.
Kaki kanan gua sedikit mundur ke belakang mengambil ancang-anang dan mengumpulkan power dengan semua otot kaki yang gua kencangkan.
"Mampus!". Samsul masih asik hantam hidung gua dengan keningnya dengan rambut gua yang masih dia pegang dengan kedua tangan.
Tanpa menunggu lama gerakan seperti menendang bola gua lakukan dengan kaki kanan yang membedakan hanya bola asli itu besar dan bola yang gua tendang saat ini kecil ada dua pula.
"Loe yang mampus anjing!". Gua ikut mengumpat.
"Buggkk!". tendangan pemecah telur gua tepat sasaran.
"Engngngek!". Suara Samsul tertahan dengan mata terbuka lebar dan wajah yang berubah merah ke hitaman.
"A a a a a a a a a a a..!!". Teriakan merdu dari rasa sakit pun segera gua dengar dari mulut Samsul yang dari tadi hanya bisa bilang mampus-mampus doang.
Rasa sakit di kedua telur burung itu segera membuat Samsul melepaskan jambakan terhadap rambut gua dan beralih memegang tempat tendangan gua mendarat tadi.
Melihat posisi musuh yang lemah dan pertahanan yang terbuka, kagak mungkin gua akan diam dan tidak memanfaatkannya.
Sekarang gantian rambut di kepala dia yang gua Jambak erat dengan tangan kiri yang membuat Samsul mendongak meringis ke sakitan.
"Loe jual pasti akan gua beli tong!". Dengan hidung berdarah dan senyum setan gua berucap dan langsung kasih hantam muka dia dengan bogem tangan kanan.
"Prakk!". Bogem pertama gua arahkan ke hidung.
"Aaaaa!". Samsul teriak lagi dan menunduk tapi segera gua angkat kepalanya karena tangan kiri gua masih menjambak rambutnya.
"Prakkk!". Bogem kedua tepat mengenai mata kiri.
"Aaaaa! Mataku..! tolong-tolong!".
Prakkk! Prakkk! Prakkk! ...
Gua hantam mulutnya bertubi-tubi tanpa henti yang membuat Samsul menjadi lunglai, darah segar dan beberapa giginya langsung muncrat keluar tapi gua belum puas.
Otak gua masih berisi adegan anjing ini menindih Suci yang buat gua semakin kalap.
Tangan dia yang semula memegang telor burung sekarang dengan putus asa memukul-mukul dada gua tapi kagak gua rasakan karena power dia yang berkurang seiring dengan hantaman gua diwajahnya.
Lambat laun kedua tangannya jatuh efek dari tenaga yang habis dan rasa sakit yang datang dari setiap serangan gua.
Wajah Samsul sudah kagak terbentuk setiap sisi dari pelipis, hidung mulut dan mata semuanya mengucurkan darah merah.
Jambakan di rambut kepalanya segera gua lepas dan dia langsung jatuh tak berdaya di lantai.
Mulutnya yang udah hancur merintih kecil dan dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia kek ulet ngesot dengan punggungnya ke belakang.
"Kagak sopan loe tong! Pesta belum berakhir udah mau cabut aja loe!". Gua berjalan santai menghampiri.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat! Pergi! Pergi". Dengan raut wajah ketakutan penuh darah Samsul ngesot berteriak.
"Loe suruh gua pergi kemana? Kan loe belum mampus!". Buggkk!". Gua injak dadanya dengan sepatu.
"Akkk!". Samsul langsung memegangi dadanya dan terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya.
Selanjutnya dengan sangat kejam gua injak-injak dada dan perut nya dengan membabi buta.
"Bim! Udah Bim bisa mampus dia entar!".
Tanpa gua sadari Jono udah ada dibelakang gua dan langsung menarik gua mundur.
"Minggir loe Jon!". Gua dorong Jono kebelakang dan gua kembali maju.
"Bim udah Bim, bisa dapat masalah entar kita". Jono masih menghentikan gua dan kali ini memeluk gua dari belakang.
"Lepas Jon! hidup gua udah penuh masalah! Kagak ngaruh juga jika tambah satu". Gua masih kalap dan beringas karena belum ada rasa puas, gua masih haus darah saat ini.
Tangan Jono yang melingkar di perut gua segera gua tarik dan kesamping, gua berbalik badan dan tatapan kami bertemu.
"Please Bim, cukup".
Tanpa menjawab gua dorong Jono kuat sampai dia mundur dan jatuh.
"Akhir itu gua yang nentuin Jon! Dan bukan elo!".
"Bim jangan Bim! Loe mau ngapain Bim!".
Jono panik liat gua yang akan nekad angkat motor yang terpajang di samping kiri.
Semua otot di dalam tubuh, gua alirkan ke kedua tangan.. Yamaha Fino yang tadi perkenalkan sales Lisa ternyata kagak terlalu berat dan sekali usaha gua bisa mengangkatnya naik sebatas dada dan segera gua bawa jalan ke arah Samsul yang sudah tepar tapi masih sadar.
Gua pengen liat apa masih bisa nafas itu amoeba setelah gua lempar motor tenggorokan nya.
"Bim jangan Bimooo!". Jono berteriak dan suara langkah kaki berlari bisa gua dengar dari belakang.
"Ampun! Ampun! Jangan! Jangan bunuh saya ampun!". Dengan keadaan babak belur Samsul melihat gua yang mendekat dengan ketakutan dan dia mencoba untuk berdiri.
"Ya benar gitu tong ayo berdiri loe! Gua nyakin loe pasti bisa, semangat!"
Seiring dengan Samsul tertatih berdiri dan berbalik badan mencoba menjauh saat itu juga gua lempar motor ke depan.
"Braaaaakkkkkkk....!".
"Uaaakkkkkkkkkk!".
Mantan suami Suci itu langsung tersungkur kedepan karena motor mengenai punggungnya.
Samsul tengkurep dengan motor yang berada dia atasnya.
Gua berjalan mendekat dengan santai untuk ngecek masih bernafas kagak itu orang.
"Anjing! Berapa sih nyawa loe Babi!". Gua mengumpat melihat Samsul yang masih bernafas dan sadar.
"Ampun mas.. ampun.. Saya salah ampun". Dengan memegang sepatu gua dia memelas.
"HOI KAMU BERHENTI!". Dari arah depan terdengar suara dan muncul 3 orang, Lisa sales wanita dan dua orang pria berpakaian satpam.. satu pria muda dan satunya pria setengah baya.
"Accccccchhhhhh!". Sales wanita itu berteriak histeris melihat Samsul yang lunglai di lantai bersimbah darah dengan motor di punggungnya
"Kamu! apa yang kamu lakukan?!". Salah satu satpam juga tampak terkejut dan langsung menarik pentungan hitam yang di ikuti oleh satpam satunya lagi.
"Bim ayo Bim kita lari Bim!". Jono yang menghampiri gua bicara dengan panik melihat 2 satpam yang menarik pentungan.
"Loe ngajak gua lari Jon? Kagak salah?! Sejak kapan loe jadi pengecut kek gini! biar gua hadapi 2 orang itu dan loe disini patahkan kaki dan tangan musuh loe ini".
"Bim sadar loe! Jangan menambah masalah! Loe enggak kasian sama..
"Alah bacot!". gua potong kata-kata Jono dan gua langsung melesat maju menghampiri 2 satpam yang tampak panik.
Gua Abimana Pramono kagak ada yang bisa menghentikan gua selain gua sendiri.
"Lisa cepat telfon ambulance dan polisi cepat". Satpam setengah baya memberi perintah.
Lisa dengan tangan gemetar mengambil hp dari sakunya yang langsung jatuh ke lantai.
2 satpam itu saling berpandangan dan mengangguk dengan pentungan yang mereka pegang erat, mereka langsung maju menyambut kedatangan gua.