
Langit senja keemasan pelan-pelan menghilang dan mulai berubah menjadi langit malam hitam yang bertabur bintang, gua saat ini sedang duduk di atas bangku kayu di dalam rumah sahabat gua Jono.
Menjelang magrib tadi mbak Suci juga udah pulang karena anak dan kedua orangtuanya yang sedang jalan-jalan sudah pulang.
Awal datang kemari bonceng mbak Suci tadi gua kagak memperhatikan tempat tinggal Jono dan keluarga karena perhatian gua teralihkan dengan emak-emak rempong yang minta ganti rugi.
Sekarang setelah keadaan kondusif baru gua menyadari sesuatu, rumah yang sedang gua masuki ini sangat indah dan mempesona sampai-sampai gua ini injak-injak itu muka si kampret Jono.
Bertahun-tahun merantau di Jakarta yang pasti dapat uang, walaupun tidak banyak setidaknya bisa memperbaiki rumahnya yang reot dan kagak layak huni ini.
Rumah dengan dinding di segala sisinya cuma dari ayaman bambu dengan lantai yang masih tanah dan tampak tidak rata, kayu penyangga genting pun udah pada keropos dimakan rayap.
Genting yang aslinya berwarna merah di atas rumah Jono pun sudah berubah menjadi hitam pekat dan ada retakan yang akan bocor jika ada hujan.
Ruang tamu dengan meja yang kakinya di ganjal batu dengan 2 kursi kayu panjang dan 1 kursi pendek yang sedang gua duduki saat ini, ruang tamu yang sangat efisien sekali karena digunakan sebagai ruang makan juga.
Jangankan Tv, radio buat hiburan aja kagak ada di ruangan ini.. Cuma lemari kayu yang sama sudah keropos berada di pojokan yang bisa gua tebak disanalah tempat baju keluarga berkumpul dan saling bercengkrama menerima nasib.
Saat ini gua hanya bisa berdoa agar kagak hujan lebat plus angin nanti malam, jika itu terjadi saat gua tidur.. Saat bangun nanti pasti gua udah berpindah tempat entah di negara mana.
Gua mengalihkan pandangan ke Mila dan Mika yang duduk berjejer, dengan wajah polos dan tampak sangat senang bahagia mereka menikmati sate kambing dan sate ayam.
Dua gadis yang seharusnya bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan tawa dan canda harus menjalani kehidupan yang sangat memprihatikan seperti ini dengan segala macam kekurangan.
Tanpa gua sadari 2 butir air mata gua menetes Karena merasakan nyeri di hati saat memandang wajah tanpa dosa 2 Adik baru gua, Mila dan Mika.
"Mila, Mika.. Makannya pelan-pelan saja, enggak ada yang akan merebut makanan kalian kok". Jono yang sedang duduk berdampingan dengan nyokap nya bersuara sambil tersenyum memandang kedua adiknya.
Mila dan Mika tampak hanya mengangguk, tidak menjawab karena mulut mereka yang masih penuh dengan makanan.
Tidak seperti kedua anaknya yang sangat lahap makan, nyokap Mika tampak malu-malu dan sungkan memakan martabak manis yang ada di depannya, mungkin karena ada gua.
"Oya Bim loe diam aja dari tadi, mau minum apa biar gua buatkan?". Jono berpaling melihat gua yang ada samping kirinya.
Sok banget ini bocah pakai nawarin minum apa segala, kek gua bisa milih aja.
"Bim kenapa loe malah melototin gua seperti itu? Gua kan tanya baik-baik nawarin minum".
"Mungkin nak Bimo capek Jono". Nyokap Mika menyela.
"Nak Bimo mau dibuatkan kopi? Biar Tante belikan di warung sebentar".
"Enggak, enggak usah tante". Gua segera menolak dan kagak mau merepotkan, "Saya enggak haus kok, tante silahkan makan saja". Jawab gua dengan senyum ramah.
"Kak Bimo.. Kak Bimo..? Sate ayam ini kak Bimo yang belikan buat Mika ya?". Mika dengan mulut yang masih mengunyah makanan bertanya dengan imutnya.
"Iya dong kak Bimo kan tau jika Mika suka makan daging ayam dan Mila suka daging kambing, itu kakak beli spesial buat kalian berdua".
"Kak Bimo memang yang terbaik". Mika memberi gua senyum indahnya yang buat gua gemes pengen cubit itu pipinya.
"Mila kenapa kamu berhenti makannya? Itu masih banyak sate kambingnya, udah kenyang kamu?". Gua bertanya lembut memperhatikan Mila yang berhenti makan tapi pandangan matanya masih menatap lekat sama sate di atas meja.
"Ini mau Mila simpan buat makan besok kak". Jawab Mila pelan dan malu-malu.
"Buat besok?". Mika yang mendengar kakaknya bicara langsung terkejut dengan wajah imutnya, "Jadi kak Mila besok masih bisa makan sate ya? Kalau gitu Mika juga berhenti makan deh dan mau Mika simpan sate ayam ini untuk Mika makan besok".
"Ya udah biar emak simpankan buat kalian ya". Nyokap Mika tampak tidak terkejut berucap dan saat akan beranjak segera secepat kilat gua cegah dengan kata-kata.
"Tante enggak usah tante,kalau Tante simpan rasanya udah berbeda besok dan juga dingin itu tidak baik untuk kesehatan Mila dan Mika Jika memakannya". Gua segera melarang.
"Mila, Mika kalian habiskan saja jika masih lapar.. Itu makanan kesukaan kalian kan? Dan juga kalian udah punya kakak Bimo sekarang, kakak janji mulai besok kakak akan selalu membelikan makan-makanan yang enak-enak buat kalian jadi enggak usah khawatir ya".
"Bim?".
"Nak Bimo?".
Jono dan nyokap nya bersamaan memanggil nama gua.
"Benar kak Bimo? Mulai besok Mika bisa makan daging ayam terus? Kakak enggak bohong kan?". Mika mulai antusias lagi, sementara Mila juga memandang gua dengan matanya yang berbinar.
"Mana mungkin kak Bimo bohong sama kalian, kak Bimo punya banyak sekali uang untuk Mila dan Mika beli makanan dan mainan, jadi cepat makan lagi".
"Yeeeaaa! Kak Bimo memang yang terbaik". Mika berteriak kecil dan dengan cepat mengambil lagi sate ayam di atas meja dan langsung dia lahap dengan ekspresinya yang menggemaskan.
"Tante, Tante jangan merasa enggak enak sama saya dan jangan anggap saya sebagai orang asing walau kita baru kenal.. Saya dan Jono sudah bersama-sama dan bersahabat sejak dia menginjakkan kaki di jakarta dulu, bisa dibilang kami sudah seperti saudara.. Dan keluarga ini sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri jadi Tante tidak perlu merasa terbebani". Gua bicara pelan menyakinkan nyokap Mika yang tampak masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.
"Iya Bim, entah ini ke berapa sekian kalinya gua ngucapin terima kasih ke elo.. yang pasti gua sama keluarga enggak akan pernah lupa dengan semua kebaikan yang loe berikan ini". Jono ikut berbicara dengan wajahnya yang mulai kumat Melo lagi.
"Udah Tante jangan bersedih di moment yang bahagia ini, Oya Jon kamar mandi loe sebelah mana?". Gua segera mengalihkan pembicaraan dan bertanya ke Jono, lagian dari tadi emang pengen cepat-cepat mandi gua karena keringat di tubuh yang mulai kagak enak karena lengket dan juga efek minum soda gembira di rumah mbak Suci perut gua juga mules.
"Loe mau kebelakang Bim? Ya udah ayo gua antar". Jono langsung berdiri dan langsung gua ikuti.
"Hati-hati nak Bimo".
"Iya kak Bimo hati-hati".
Mika dan nyokap nya bergantian berbicara, begitu perhatiannya mereka sama gua hingga mau ke kamar mandi saja di ingatkan untuk hati-hati.
"Iya Mika sayang kak Bimo kan cuma mau ke belakang, lanjut makan aja ya kamu dan abis itu istirahat.. Besok main sama kak Bimo lagi".
"Bim ayo udah ambil senter ini gua, katanya mau ke belakang". Jono mulai berjalan dan langsung gua ikuti dari belakang.
Itu bocah ambil dan bawa senter segala buat apaan yak? Apa kamar mandinya enggak ada lampu? gua menebak dan bertanya dalam diam sambil berjalan melewati dapur sederhana keluarga Jono.
Jono membuka pintu belakang rumahnya dan langsung keluar gua ikuti.
"Ajib! pintu belakang yang loe buka itu tadi pintu apa Jon? Bisa berpindah tempat dan suasana gini kita". Gua langsung kagum dengan halaman belakang rumah Jono karena udara sangat dingin disini dengan pohon bambu yang berjejer dengan lebatnya membuat gua merinding.
"Hehe, ini malam Bim enggak kelihatan semua.. Kalau siang disini itu tempat favorit gua untuk bersantai". Jono tampak bangga.
"Ngomong-ngomong mana ini kamar mandi dan kamar kecil loe? Udah kagak tahan ini gua".
"Itu ada di balik bambu-bambu, ayo ikut gua.. awas gelap jalannya gak rata ini".
"Iya, cepat jalan gua ikuti dari belakang". Gua mendorong kecil punggung Jono untuk segera bergerak.
Suara daun bambu yang bergoyang di terpa angin malam mengiringi gua berjalan dan suara batang bambu yang bergesekan juga mulai menambah sensasi yang sangat aneh ini.
"Depan itu ada turunan Bim, hati-hati melangkah ya loe". Di depan Jono mengingatkan.
"Katanya di belakang pohon bambu kamar mandi loe Jon? ini sudah lewat beberapa meter dari pohon bambu kagak kelihatan, jauh amat sih loe buat kamar mandinya? Susahin diri sendiri banget". Gua mulai ngedumel.
"Udah mau sampai kok kita, abis turunan ini udah mulai kelihatan kamar mandinya".
"Ya udah cepat, udah gak tahan ini gua". Gua mulai kagak sabar.
Beberapa saat kemudian setelah menuruni jalan yang lumayan terjal akhirnya Jono berhenti berjalan.
"Udah sampai kita Bim".
Gua langsung berjalan kesamping si Jono, "mana kamar mandi loe? Coba loe senterin gi, gelap banget ini dan gua kagak bisa liat".
"Itu di bawah.. loe bisa mandi, berenang dan sekaligus buang air secara bersamaan di kamar mandi gua". Jono mengarahkan senter ke depan bawah.
"Jon? Loe lagi bercanda sama gua ya? Apa emang loe mau ngerjain gua? Itu yang loe senterin kan kali alias sungai anjing!". Gua langsung murka dan mengumpat.
"Siapa yang ngerjain loe Bemo! Kamar mandi dan kamar kecil gua memang itu.. Gimana sangat alami sekali kan, loe bisa buang air sekaligus memberi makan ikan".
"Emang Kampret ya loe jadi orang Jon! Senang banget loe buat gua terkejut dan mengumpat, pantas aja tadi nyokap dan adik loe suruh gua hati-hati ternyata karena ini, sialan! gua sempet GR karena itu perhatian mereka".
"Udah jangan marah-marah Mulu loe Bim, manja banget sih jadi orang loe.. Seperti tidak pernah liat sungai saja.. Dulu saat loe tawuran dan dikejar massa pernah lompat ke sungai juga kan? kenapa terkejut gitu sih loe?".
"Eh kang tatto! Dulu itu gua lompat ke sungai karena terpaksa di kejar puluhan musuh yang membawa senjata, lagian dari mana sih loe tau itu cerita loe kan ada di sana".
"Darimana lagi ya dari si codet Melky lah, setiap abis tawuran dia selalu nongkrong di lapak gua". Jawab Jono santai.
"Emang ember bangat itu mulut si Melky.. Tapi kan dulu sama sekarang konteks nya berbeda Jon, dulu gua kepepet tauk". Gua beralasan.
"Kalau sekarang apa loe kagak kepepet Bim? Kalau kagak ya udah sono loe balik ke rumah gua duluan, gua mau mandi bentar..2 hari nunggu loe di terminal kagak pernah ketemu air gua". Jono menaruh senternya di tanah dan mulai melucuti pakaiannya, cuma meninggalkan CD doang.
"Ya ampun Jon, gini amat sih hidup loe.. Entah kejutan apalagi entar yang bakalan loe tunjukan ke gua".
"Loe mau ikut ke bawah atau mau terus ngedumel disini terus seperti emak-emak".
"Iya gua ikut Jontor! Tapi di kamar mandi loe itu kagak ada buayanya kan?".
"Emang ini sungai Amazon?! Ya kagak ada lah Bemo, ada paling ikan lele doang.. gua ingat dulu waktu kecil saat mandi pernah di patil burung gua.. hehehe, pengalaman itu tidak bisa gua lupakan sampai sekarang". Jono menatap langit hitam sambil tersenyum.
Sementara gua lagi melihat sekeliling siapa tau Nemu kayu yang bisa gua pakai untuk ngehantam bajingan samping gua ini.