
"Itu ada wahana mandi bola Bie, kita main disana dulu gimana?".
"Bimo umur kamu berapa sih? Itu kan tempat anak-anak kecil bermain. Kamu enggak liat itu di dalam banyak anak-anak kecilnya?".
"Emang kenapa asal kita beli tiket kan bisa masuk, ayoalah Bie.. Aku dari kecil aku belum pernah ngerasain mandi bola". Gw merengek manja sambil mengoyangkan lengan Bianca.
"Kok kebalik gini ya Bim?".
"Apanya yang kebalik Bie?".
"Kamu kan yang harusnya temani aku main kok jadi aku yang momong kamu dan temani kamu mandi bola".
"Gitu aja kamu fikirkan Bie, yuk ah kita kesana". Kali ini gw yang menyeret Bianca ke wahana mandi bola.
Terlihat di luar banyak orang tua yang sedang menunggu dan melihat anak-anaknya yang sedang bermain.
"Mbak tolong dong tiketnya 2 biji untuk masuk dan mandi bola". Gw segera memesan tiket kali ini kagak ada loket tapi cuma seorang wanita yang berjaga di depan wahana mandi bola.
"Oh iya mas 2 tiket 20 ribu dan bermain selama 10 menit silahkan anaknya masuk aja".
"Mbak anak apa?". Gw bertanya bingung.
"Ya anaknya mas sama istrinya ini". Jawab dia santai.
"Kami belum nikah mbak". Bianca menjawab malu-malu.
"Terus siapa yang mau bermain? Ponakannya ya?".
"Kami berdua yang mau bermain, boleh kan?". Gw langsung aja to the point.
Tatapan mbaknya dan semua orang yang ada disitu tertuju ke gw, mereka ngeliat gw sambil geleng-geleng kepala heran.
"Maaf mas ini wahana hanya boleh dimasuki anak-anak, orang dewasa tidak boleh masuk".
"Tu kan Bim, apa aku bilang ayok kita ke tempat lain aja". Bianca bicara dan berbisik.
"Kan kita sama-sama bayar mbak masak kagak boleh masuk".
"Maaf mas ini sudah aturannya".
Saat gw mau bicara lagi Bianca sudah mencubit pinggang gw duluan buat gw mengglinjang manja.
"Maaf mbak teman saya emang suka bercanda, kami pergi dulu". Bianca bicara dan seret gw menjauh.
"Bie kok kamu malah minta maaf aku kan belum berdebat sama itu wanita".
"Bimo jangan manja deh, itu memang bukan wahana untuk orang dewasa. Kamu enggak liat tadi kita di tatap banyak orang, enggak malu kamu?".
"Urat malu aku udah putus Bie". Jawab gw ngasal karena sebel.
"Lagian kan kita kagak kenal sama mereka, ngapain juga malu".
"Udahlah sayang jangan seperti anak kecil kita naik komedi putar aja gimana itu lumayan sepi wahananya". Bianca menunjuk ke depan.
"Apa serunya naik itu cuma muter-muter doang kek gitu Bie, di sekolah Tk juga banyak mainan gituan". Gw mencibir
"Seru sayang, itu kita bisa naik yang bentuknya seperti kuda itu sama-sama".
Mata gw langsung berbinar cerah dan berkilauan. "1 kuda kita naiki berdua Bie". Gw bertanya untuk memastikan.
"Iya Bimo emang kamu enggak mau?".
"Ya udah deh, ngikut aja aku asal kamu senang". Gw bicara sedatar dan semalas mungkin agar bianca kagak curiga dan lihat hati gw yang lagi bersorak sorai bersamangat.
"Ya udah ayok, tunggu apa lagi kita kesana sekarang". Bianca mengandeng tangan gw lagi dan berjalan ke wahana komedi putar.
"Mas tiket untuk 2 orang". Gw segera memesan tiket setelah sampai di depan pria muda yang berdiri dengan baju yang warna merah cerah seperti baju para penjaga wahana bermain lainnya, termasuk wanita di depan wahana mandi bola tadi.
"Oh iya kak 2 tiket 20 ribu". Jawab dia sambil senyum ramah.
Setelah menyerahkan uang gw dan Bianca segera maju ke depan di samping komedi putar yang sudah berputar karena ada yang sudah naik dan bermain.
"Mau naik mbak?". salah satu pria bertanya.
Bianca hanya mengangguk pelan tanpa ngejawab, mata pria ini sama aja seperti yang lain menjelajahi setiap lekuk tubuh cewe gw.
"1 naikk!!". Dia berteriak dan 2 orang lainnya mengerti bersama-sama menghentikan komedi putar secara manual dengan tangan tentunya.
Banyak anak-anak yang juga sudah bermain dan menaiki bentuk yang mereka suka yang kebayakan adalah bentuk mobil dan binatang.
"Mbak mau naik yang mana?". Pria itu bertanya saat komedi putar berhenti.
"Kuda itu". Bianca menjawab dan berjalan dengan gw di belakangnya.
"Mari mbak saya bantu naik?". Dia akan memegang Bianca tapi dengan cepat bianca menghindar.
Semua orang yang ada disitu melihat ke arah Bianca semua termasuk anak-anak kecil dan orang tua yang ada diluar wahana komedi putar.
"Sayang kok kamu diem aja, ayo kita naik". Bianca memandang gw, berucap pelan tapi masih bisa didengar semua orang yang ada di situ termasuk pria yang akan membantu Bianca naik.
Dia memandang gw tajam dan gw cuma tersenyum mencemooh.
"Sorry bang, bisa minggir kagak cewe gw mau naik ini".
Dia diam dengan melotot melihat gw dan menjauh keposisinya semula.
Gw ngakak dalam hati dikira gw takut apa, untung gw dalam suasana hati yang baik jadi santai aja.
Lagian mana mungkin Bianca mau dipegang orang kampung katrok item dekil kek gitu, paling juga otot doang yang gede. Otaknya mungkin cuma sebesar biji kuaci.
"Bimo kok kamu malah diem, ayo bantu aku naik".
"Iya Bie lagi ngumpulin tenaga ini aku". Gw beralasan.
Bianca berdiri di samping patung kuda, kaki kirinya naik auto gw langsung pegang bokongnya dan gw dorong ke atas.
Suasana hening terlihat semua orang terutama para pria menatap gw dengan pandangan iri.
"Bimo lebih kenceng dorongnya belum bisa naik ini aku". Suara manja Bianca menambah gerah suasana ini.
Gw liat 3 orang yang bersiul dan mencemooh gw tadi juga melihat ke arah gw dengan pandangan membunuh.
"Auuuhh! Bimo jangan di remes, di di dorong aja". Teriakan Bianca membuat orang-orang di kejauhan pada datang untuk melihat.
"Mas kalau tidak bisa biar saya aja yang bantu". Pria kekar dekil tadi berbicara sambil nelen ludah.
"Kagak usah bang, gw juga bisa ini". Jawab gw tanpa melihat dia.
"Bimo dorong Bimo, jangan dicubit". Bianca kembali protes.
"Iya Bie sorry, sakit ya biar aku elus-elus bentar ya?".
"Woi! Kalian sedang apa? banyak anak kecil ini yang melihat jangan berbuat aneh-aneh disini!". Suara pria terdengar tapi kagak tau yang mana gw, karena banyak banget orang yang ngeliat gw pegang bokong Bianca.
Dengan sekali dorong Bianca akhirnya bisa naik di patung kuda.
"Ayo sayang cepet naik" Bianca mengulurkan tangannya ke gw".
Gw pegang dan dengan cepat gw meloncat naik dan duduk di belakang Bianca dengan kedua tangan gw yang melingkar ke depan memegang perut Bianca.
"Mas ini masih banyak tempat yang kosong kenapa duduk disitu?". Pria kekar itu malah bertanya dan kagak mulai kerja muter ini mainan.
"Cewe gw penakut bang, lagian gw udah beli tiket bebas dong mau duduk dimana aja". Jawab gw santai.
Pria itu mengeratkan giginya dan kagak bicara lagi.
Bodo amat dilihati banyak orang pakai masker ini gw.
"Bimo geli jangan cium leher belakang aku".