
Taksi kembali berjalan dan meninggalkan mini market tempat gw adu nyawa dengan Roni dan Juan. 2 pemuda salah arah alias keblinger dengan hidup yang mereka jalani.
Dua pemuda yang harusnya masih duduk di bangku SMA menikmati masa indah remaja malah tertelan akan kerasnya kehidupan jalanan yang membuat meraka jatuh ke dalam jurang hitam.
Mungkin takdir menemukan gw sama mereka karena sebuah alasan. Gw sadar akan itu dan secara tidak langsung gw sudah lempar tali panjang ke mereka berdua yang berada di dasar jurang hitam dan kehidupan kelam.
Sekarang gw tinggal menunggu mereka mau naik ke atas apa kagak, naik meninggalkan dunia sampah yang mereka tempati.
Karena jujur gw terkesan dengan kemaunan dan tekad dari salah satu dari mereka yaitu Juan, tinggal dipoles dikit sudah jadi itu bocah.
Gw mendesah pelan, cuma waktu yang akan menjawab semua itu semoga saja investasi gw kagak sia-sia dan mereka berdua suatu saat nanti akan mencari gw.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang tengok kesini biar aku bersihkan hidung kamu". Bianca memegang pundak gw dan memutar badan gw menghadap dirinya.
"Auu! Pelan-pelan Bie nyeri itu jangan di teken hidung aku". Gw mengerenyit kesakitan.
"Salah sendiri kamu main-main tadi, seharusnya kan kamu bisa mengalahkan mereka dengan mudah". Bianca mengomel sambil membersihkan darah yang sudah mengering di bawah hidung gw dengan tissue.
"Dengan mudah apa Bie? kamu kagak liat tadi dia pegang ini kunci inggris, untung aja saat dia ngelempar yang kedua kalinya aku bisa ngehindar kalau kagak udah pecah ini pala".
"Jangan bohong kamu sayang, dari awal juga aku sudah lihat kamu itu main-main sama mereka, kalau kamu serius mungkin cuma butuh 5 menit untuk kamu melumpuhkan mereka".
Enteng banget yak ini cewe gw bicaranya, iya emang gw masih nahan tadi, tapi ya kagak main-main juga. Gw bicara dalam hati.
"Maaf mas, tapi tadi masnya keren sekali. Sungguh saya seperti liat film action Apalagi tendangan saat mas meloncat ke udara tadi, saya sampai tercengang melihatnya". Supir taksi yang tadi diam ikut berbicara dan memuji gw.
"Hehehe, terima kasih pak cuma kebetulan aja kok itu tadi". Gw merendah.
"Diem sayang jangan banyak gerak, sulit ini aku bersihin wajah kamu". Bianca memegang kepala gw yang menegok saat bicara menjawab supir taksi.
"Mana mungkin itu kebelutan mas, setiap gerakan masnya saja seperti sudah terencana dan seakan tau musuh akan menyerang kemana, mas nya atlet tarung bebas ya?".
"Bukan pak saya cuma mahasiswa biasa yang kebetulan mengerti sedikit bela diri".
Bianca tersenyum mendengar jawaban gw, masih dengan tissuenya dia dengan perhatian membersihkan noda darah yang nempel di wajah gw.
Sementara supir itu hanya mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi dan kembali fokus mengemudikan taksi.
"Sudah sayang sudah bersih wajah kamu". Bianca bicara dan menghentikan aktifitasnya menyeka wajah gw.
Gw mengangguk dan meraih tas, memasukan kunci inggris milik Roni dan Juan yang gw sita.
"Pisau ibu kantin sudah kamu masukan ke sini kan Bie?". Gw bertanya dan mencari keberadaan pisau.
"Sudah sayang ada di dalam sana kok, abis ngantar aku kamu kembali ke Campus ya?".
"Iya mau balikin pisau sama ada kuliah siang aku". Jawab gw ngibul.
"Nanti malam kamu main ke tempat aku ya?". Bianca merajuk dan memegang lengan gw.
"Bie kamu lupa ya besok pagi kan aku harus ke Blora, kalau malam ke tempat kamu bisa kesiangan akunya".
"Oh iya ya? Lupa aku". Bianca tertawa pelan.
"Iya sayang aku juga sudah bilang kok ke kakak soal rencana kamu itu dan kakak sudah siapin mobil dan supir buat antar kamu kesana".
"Baik banget Bie kakak kamu, apa jangan-jangan kamu bilang ya sama Joko tentang hubungan kita?".
"Enggak sayang kan kamu enggak mau kakak tau dulu jadi aku enggak bilang, mungkin kakak mau balas budi sama kamu. Kan kamu banyak bantu dia".
"Ok deh besok aku ke tempat kamu sekalian nemuin Joko, makasih ya Bie". Gw acak-acak rambut Bianca pelan.
"Sayangg.. jadi rusak ini rambut aku". Bianca menurunkan tangan gw yang berada di atas kepalanya.
"Biar pada jatuh Bie kutu di rambut kamu". Gw tersenyum dan gemas melihat Bianca yang manyun.
"Yeee! Mana ada kutu di rambut indah aku ini". Bianca mengibaskan rambutnya di depan muka gw.
Perbedaan jelas sangat terasa saat gw sudah punya kekasih. Dulu disaat abis gelut kagak ada yang ngerawat dan memperhatikan. Abis gelut kalau kagak langsung tidur ya mabok.
Tapi sekarang gw sehabis adu nyawa ada betina yang menghibur gw dengan kasih dan sayangnya yang membuat rasa sakit di tubuh gw berkurang.
"Sayang kok kamu diem, ada yang sakit ya tubuh kamu". Bianca memandang gw seperti biasa dengan mata penuh akan cinta dan kekaguman.
"Enggak kok Bie, aku lagi seneng aja ada kamu di sisi aku". Jawab gw jujur.
"Ehh gombal". Bianca tersipu dengan bacot manis mendadak gw.
Gw bergeser dan mendekat di samping Bianca dan dia pasrah saja dengan senyum kecil tercetal di sudut bibirnya, di saat gw pegang bahu dia dan gw senderkan kepalanya di dada bidang gw.
"Sayang kamu kesurupan ya? Kok jadi romantis gini kamunya". Bianca berucap sambil menautkan jarinya ke sela-sela jari gw.
"Mungkin Bie, tapi yang pasti aku mau menikmati moment ini sama kamu".
Mata Bianca terpejam disaat gw mencium mesra kepala dia yang berada tepat di bawah dagu gw.
"Pak pelan-pelan aja ya nyetirnya, kalau bisa sampai tujuan tengah malam tidak apa-apa, nanti saya gandakan argonya". Bianca berucap ngawur.
"Hehehe, iya neng. Bapak serasa jadi obat nyamuk ini". Supir taksi menjawab tanpa melihat ke kursi penumpang di belakang.
"Bie ngaco kamu, mau lumutan pantat kita duduk di sini sampai malam?".
"Biarin aku ingin seperti ini sama kamu agak lamaan, beberapa hari besok kan belum tentu aku bisa peluk kamu seperti ini karena Jono teman kamu itu".
"Iya maaf akan aku usahakan tidak sampai 3 hari disana dan langsung balik ke sini dan peluk kamu lagi, kamu mau oleh-oleh apa dari blora? nanti aku bawakan".
"Oh iya sayang sampai lupa aku kalau enggak kamu ingatkan, tolong bawakan aku makanan khas blora abon lele dan ungker jati ya".
"Aku pernah makan abon lele rasanya enak banget sayang dan ternyata itu adalah makanan khas Blora, dan juga ungker jati itu sumpah enak banget kamu kembali harus bawakan aku itu". Bianca sangat bersemangat sekali sampai kagak ada jeda nya itu kalimat yang dia ucapkan.
"Bentar-bentar Bie, kalau abon aku ngerti dan tau bentuknya dan mudah carinya tapi kalau ungker jati itu apa e? Baru ini aku dengar nama makanan seperti itu".
"Ungker jati itu ulat yang masih ada di dalam kepompong dan terdapat di daun jati yang berguguran sayang, kandungan proteinnya banyak banget itu".
"Gila kamu! masak mau makan ulet kamu Bie". Gw terkejut seketika keknya ada salah dengan isi kepala cewe gw.