
Jono tampak diam kagak membalas umpatan dari gua, kalau dia menjawab dan kasih gua alasan omong kosong benar-benar akan gua tonjok itu muka dia.
Dalam keadaan apapun sebagai anak lelaki tidak peduli masalah apa yang dihadapi keluarga wajib untuk melindungi harkat martabat dan harga diri, apalagi harga diri seorang ibu wajib dan harus di utamakan karena surga akan selalu ada di telapak kakinya dan tidak akan berpindah ke tempat lain.
"Nak kamu siapa?". Ibu Jono berucap lirih masih dengan lengannya yang gua pegang.
"Saya Bimo tante dan saya teman anak tante". Jawab gua lembut, selembut saat berbicara kepada bunda tercinta.
Nyokap Jono terdiam setelah mendengar perkenalan diri gua, dia hanya menatap gua sendu dengan mata yang masih berair, gua juga bisa merasakan lengannya yang bergetar.
"Tante tenang saja, saya sudah datang dan semua akan baik-baik saja". Gua melanjutkan bicara dan mulai menuntun nyokap Jono kembali ke samping anaknya.
"Kamu pasti adiknya manusia tidak berguna ini ya? Kalau boleh tau siapa namanya? nama kakak Bimo". Gua memandang dan tersenyum melihat adik Jono yang SMP.
Gadis itu tampak takut-takut dan memandang Jono sesaat, setelah melihat kakaknya tersenyum dan mengangguk akhirnya dia mulai bicara. "Mila". Ucap adik Jono singkat.
"Oh Mila ya? Nama yang cantik". Gua mengusap rambut Mila lembut dan penuh kasih.
"Kalau yang kecil imut seperti boneka ini siapa namanya?". Gua berjongkok di depan si bungsu.
Si bungsu yang masih polos tersenyum saat gua puji dan dia langsung menjawab dengan suara kecil. "Mika".
"Oh Mika? Nama yang imut seperti orangnya, Mika jangan sedih lagi ya? nanti kak Bimo akan belikan apapun yang Mika suka".
"Siapa kamu ha! Datang-datang mencari perhatian, kalau tidak mau dapat masalah mending kamu minggir!". Suara bentakan terdengar dari arah belakang gua yang langsung membuat Mika takut dan reflek meraih dan memeluk gua yang berjongkok di di depannya.
Entah kenapa mendapat pelukan gadis kecil yang ketakutan hati gua berasa sangat hangat dan nyaman.
"Mika jangan takut ya? Kak Bimo adalah pahlawan pembela kebenaran yang bisa mengusir iblis wanita jahat". Gua berdiri dengan Mika yang memeluk gua erat di gendongan depan.
"Lancang! Apa kamu bilang?! Kamu ngatain saya iblis hah! orang luar jangan macam-macam ya kamu, kamu enggak tau siapa saya". Wanita itu kembali mengganas dan berteriak menatap gua dengan jumawa yang penuh akan kesombongan diri.
"Maaf saya tidak tau dan tidak mau tau siapa anda! Yang anda butuhkan uang ganti rugi kan?".
"Iya 7 juta kenapa?! Apa kamu mau bayar? Apa mampu kamu hah?! penampilan kamu aja tidak menyakinkan mau sok-sok an". Cibiran keluar dari mulut busuk wanita itu.
"Jon bayar Jon! biar cepat kelar.. capek gua pengen cepat istirahat". Tanpa terpancing emosi yang kagak Guna ke emak-emak sialan, gua langsung memberi perintah ke Jono.
"Tapi Bim? Bayar pakai apa?". dengan muka polos yang lebih menjurus ke bego Jono menjawab dan memandang gua dengan kedua matanya yang penuh akan tanda tanya.
"Ya ampun Jon seneng banget sih loe buat gua emosi, kelamaan miskin ya loe jadi berubah bego kek gini? Ya bayar pakai uang lah".
"Iya Bimo bayar ya pakai uang tapi aku kan enggak punya uang".
"Allahuakbar, astaghfirullah!". Gua mencoba bersabar saat ini.
Tanpa banyak bicara gua kembali berjalan ke depan nyokap Mika, gua kagak mau lagi sebut nyokap Jono.. Lagi sebel gua sama itu bocah yang bloonnya kagak ketulungan.
"Tante bisa tolong gendong Mika sebentar gak? Saya mau sadarkan anak tante yang sedang lupa ingatan itu". gua melirik si kampret.
Nyokap Mika tampak bingung dengan perkataan gua, dia hanya mengangguk kecil dan segera meraih mika dari pelukan gua.
"Kak Bimo?". Mika memanggil gua pelan setelah sampai di pelukan ibunya.
"Mika sama bunda dulu ya? Nanti kakak Bimo gendong lagi, Mika pejamkan mata aja sebentar dan hitung 1 Sampai 20 setelah selesai nanti pasti akan baik-baik saja.. Percaya ya sama kak Bimo sang pembela kebenaran ini". Gua mengusap rambut Mika lembut dan segera beralih ke sisi si Jono.
"Kalian jangan mengulur waktu ya? Mana uangnya?! Jangan sampai saya bawa masalah ini ke ranah hukum dan ke pengadilan". wanita berkalung emas bukan sorban itu sudah sangat tidak sabar.
"Oh iya! Ya ampun kenapa gua bisa lupa sih Bim tas loe ada punggung gua.. Ahhh karena terlalu panik pasti ini tadi gua". Jono mendesah pelan sambil mengambil tas dari punggung nya, "Aku ambil 7 juta enggak apa-apa ini kan Bim?". Jono tersenyum malu-malu melihat gua.
"Loe kagak dengar apa yang gua suruh tadi?! buka dan tumpahkan isi tas gua ke tanah!".
"Bim loe lagi bercanda kan?". Jono bertanya ragu.
"Emang wajah gua ini tampak bercanda Jon!".
"Udah cepat bayar kalau memang kalian punya uang, berapa sih isi dalam tas itu?". Dengan sewotnya wanita depan kami kembali mencibir dengan kedua tangannya yang dia silangkan di dada.
"Terkadang gua akan takut Bim jika loe udah seperti ini". Jono mengeluh dan tanpa banyak bicara lagi dia langsung membuka tas gua, dia balik dan langsung dia tumpahkan seluruh isinya ke tanah kering.
Yang pertama keluar dan jatuh adalah CD bergambar pala doraemon dan kotak alat mandi gua yang berisi sikat dan pasta gigi beserta sabun cair dan setelahnya di ikuti dengan baju dan celana.
"Apa ini? Kalian sedang bercanda hah! Apa kalian sedang mempermainkan saya?". Wanita itu kembali naik pitam.
Semua warga yang melihat pun semuanya tersenyum menahan tawa apalagi saat melihat CD gambar Doraemon favorit gua.
Mbak Suci yang sudah ada di sebelah nyokap Mika pun langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan, dia tampak malu tapi masih bisa melihat dari rongga-rongga jari.
"Jon? Resleting mana yang loe buka? Kenapa barang pribadi gua yang pada berhamburan keluar? Ini adegan serius anjing! bukan komedi". Gua memberi Jono pandangan membunuh.
"Sorry-sorry Bim, gua salah tarik". Jono yang tampak juga menahan tawa menjawab.
Dengan terburu-buru si kampret langsung menarik resleting tas yang satunya dan langsung di balik, sesaat kemudian uang pecahan 100 ribu berhamburan keluar dan jatuh ke tanah, itu duit 50 juta yang gua ambil di ATM tadi dan hanya berkurang sekitar 200 ribu untuk beli makanan si Jono.
Suasana hening untuk beberapa saat dan pandangan semua orang semua teralihkan dari CD Doraemon gua ke uang yang berceceran di tanah.
Wanita yang dari tadi nyolot Mulu minta ganti rugi pun tampak matanya melebar sambil kagak kedip melihat uang di tanah.
Gua juga memperhatikan para warga kampung yang berkerumun satu persatu dan kebanyakan dari mereka mulai aneh dan bernafas tidak tenang.
"Mak yang banyak Mak". Keheningan di pecahkan dengan suara imut dari Mika yang masih berada di gendongan bundanya.
"Jon ngapain wajah loe terlihat sombong dan jumawa kek gitu? Cepat ambil 7 juta dan kasih ke tetangga loe ini".
"Iya Bim". Jono yang langsung tampak bersemangat dan langsung berjongkok mengambil uang dan tidak lama dia berdiri lagi.
"Ini Bu RT pas 7 juta, uang buat beli sepeda baru". Dengan senyum sombong yang masih tercetak di bibirnya Jono menyodorkan uang.
"Terima kasih, saya pergi dulu!". Jawab wanita itu sewot sambil meraih uang dan sekilas melirik ke arah gua.
Wanita mengambil sepeda listrik di depannya dan berbalik badan.
"Tunggu?". gua segera berteriak menghentikan.
"Apa lagi hah? Udah beruntung saya mau berdamai sama kalian".
"Serakah banget sih anda jadi orang! Situ kan udah dapat uang buat beli sepeda baru, logikanya kan sepeda bekas itu sekarang milik kamu kenapa masih anda bawa?".
Semua warga yang mendengar perkataan gua langsung saling berbisik dan terdengar pelan saling mencemooh wanita itu.
Dengan muka merah marah menahan malu wanita itu langsung melempar sepeda ke tanah dan langsung membelah kerumunan untuk pergi dengan cepat.