Preman Campus

Preman Campus
PERMINTAAN 2


Gw duduk termenung sendirian di atas sofa dengan baju dan sabuk yang masih belum gw pakai.


Pandangan gw kosong menatap pintu, beberapa saat yang lalu Putri lari keluar entah kemana dan meninggalkan gw sendirian disini.


Saat ini rasanya gw ingin mengumpati otak gw sendiri, yang asal dalam menebak maksud dari permintaan Putri.


Mungkin otak gw udah terkontaminasi dengan nikmatnya bercinta dengan Bianca tadi siang jadi secara tidak langsung mengartikan permintaan Putri ke arah sana.


Harusnya gw sadar dan tau, setiap cewe gw punya kpribadian dan sifat yang berbeda. Harusnya gw sadar enggak mungkin juga baru beberapa menit jadian kita langsung *******.


Malu plus takut gw rasakan saat ini, entah kemana itu Putri pergi dan semoga saja kagak ke kantor polisi. Masak mau melaporkan cowonya sendiri dia, toh belum terjadi apa-apa juga.


Apa mungkin dia lari untuk beli ****** ya? Siapa tau dalam mulut dia nolak tapi dalam hati dia berkata hayukk-hayukk.


Sialan! Kenapa gw jadi berspekulasi lagi sih. Keknya kagak kapok ini otak. Gw langsung menjambaki rambut gw sendiri yang kagak gatal, semoga saja bisa cepat sadar ini otak mesum.


Gw kembali mengenakan baju dan sabuk juga gw pasang lagi, jika Putri ngambek dan enggak balik terpaksa gw akan pergi dan kembali menemani 3 peliharaan gw sambil menunggu subuh datang dan langsung otw Blora.


10 menit, gw akan menunggu di sini sepuluh menit dan jika Putri kagak balik juga berarti memang marah dia. Gw berguman sambil tangan yang tanpa sadar mengelus batang dari atas celana.


Tidak lama gw melihat Pintu bergerak terbuka dari luar dan bisa gw tebak pasti itu Putri.


Gw langsung senderan dan memejamkan mata, acting tidur adalah jalan terbaik untuk saat ini.


Gw mendengar langkah kali Putri mulai masuk dan berjalan medekat.


Suara dia duduk di sofa samping gw juga terdengar.


"Udah Bimo jangan pura-pura lagi kamu, cepat buka". Putri menyenggol lengan gw.


"Tadi aku udah lepas suruh kamu pakai Put, sekarang kamu suruh buka lagi. Sebenarnya mau kamu apa sih?".


"Muka mata kamu Bimoo, bukan buka baju. Bener-bener ya kamu ini menebak salah terus masih aja enggak nyadar".


"Hehehe, aku salah lagi ya?". Gw membuka mata dan tersenyum canggung melihat Putri di samping gw.


"Memang dasar kamu cowo paling aneh". Putri mengelengkan kepalanya milhat gw.


"Tapi itu kan yang buat kamu sayang Put, buktinya kamu keluar ngambil soft drink dingin itu buat aku kan?". Gw menunjuk coca-cola yang dipegang Putri.


"Kamu kesel tapi masih sangat perhatian, hehe.. Jadi makin sayang aku". Gw towel dagu Putri pelan dan dia langsung tersenyum.


"Memang paling bisa ya kamu". Putri tampak gemes melihat gw. "Ini minum untuk mendinginkan fikiran kamu itu". Putri memberi gw dan langsung gw terima.


"Terima kasih pacar". Gw berucap dan langsung membuka kaleng minuman.


"Kamu minum dulu Put". Gw meyodorkan minuman balik ke Putri.


"Kok aku? Kan minum itu untuk kamu Bimo, aku enggak haus". Putri menolak.


"Cicipi dulu ngapa Put".


"Oh jadi kamu enggak percaya sama aku Bimo? Kamu takut minuman itu aku kasih sesuatu ya?". Putri tampak kesal.


"Ya ampun Put, jangan niru aku dong kamu.. Berspekulasi ngawur kek gitu. Cukup aku saja yang gila masak kamu mau ikutan".


"Hehehe, ngaku sendiri kamu Bim". Sini biar aku minum dulu jika kamu enggak percaya". Putri dengan sewot meraih kaleng yang ada di tangan gw.


Dengan cepat dia minum beberapa teguk dan gw tersenyum melihat itu.


"Tu udah aku minum, udah percaya kan sekarang? Masak aku tega racuni cowo aku sendiri".


Tanpa menjawab gw langsung mengambil kaleng minuman dari tangan Putri.


"Iya memang kena..


"Bimoo kamu ngapain itu?". Putri tercengang memandang gw.


"Ngapain lagi? Ya jilati bekas bibir cewe aku lah". gw langsung tempelkan bibir di bekas bibir Putri dan nenggak minuman sampai habis.


"Aahhhh.. seger pacar, minum dari bekas bibir kamu itu seperti ada manis-manisnya". Gw dengan santai menaruh kaleng kosong di atas meja.


"Pacar kenapa wajah kamu merah seperti itu? Kamu demam ya?". Gw mempelkan telapak tangan di kening Putri.


"Aaahhhh!". Gw teriak karena langsung dapat cubitan.


"Bimoo mesummm!". ,


"Aahhhh!".


"Ampun pacar ampun!'. Gw mundur karena Purtri dengan gemesnya cubit manja lengan gw.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"kebangetan kamu Put, bukannya seneng cowo nya romantis malah kamu cubitin. Boro-boro nyubit pakai bibir ini tangan kamu seperti tang". Gw mengeluh pelan.


"Hehe, itu hukuman untuk pacar jail Bimo. Banyak banget ide kamu untuk buat aku gemes". Putri berucap tanpa rasa bersalah.


"Gemes itu di kiss Putri bukan dicubit". Cepat gw menjawab.


"Iya- iya maaf, sakit ya?".


"Sakitlah ini ada bekas merah-merahnya". Gw menunjukan lengan bekas cubitan dia.


"Tenang saja Bimo, pacar kamu ini kan dokter. Sakit gitu aja sih mudah untuk di obati".


"Obat apa?". Tanya gw ragu-ragu karena perasaan gw mulai kagak enak ngeliat Putri yang tersenyum aneh.


"Suntik? Kamu suka jarum tipis apa yang tebal?". Jawab Putri sambil nahan ketawa.


"Dokter Gila! Ogah aku enggak mau.. Aku mau pulang aja, aku mau pulang!". Gw mundur takut sampai ujung sofa.


"Hahahaha, liat ekpresi kamu Bimo.. Lucu banget. Harusnya aku rekam ya tadi". Putri tertawa bahagia.


"Parah! seneng ya kamu ngerjain cowo sendiri, pakai bawa-bawa jarum suntik segala. Ngeri tau aku banyanginnya".


"Hehhe, dari tadi di cafetaria kan kamu yang ngerjain aku ya sekarang gantian". Putri tersenyum.


Parah-parah, keknya salah deh gw pacaran sama dokter. Takutnya jika nanti kita berantem, gw tertidur dan tiba-tiba langsung di operasi dibedah sama dia karena marah kan bahaya.


"Udah jangan cemberut terus gitu kamu, sini kita lanjut bicara". Putri kembali ke mode lembut dan menepuk-nepuk sofa.


"Bicara apa?". Takut-takut gw mendekat.


"Ini soal permintaan aku Bimo, tentang hubungan kita". Putri berucap dan memandang gw serius.


"Iya bilang aja tentang itu Put, jangan kawatir.. jika itu masalah mari kita diskusikan bersama".


"Bimo aku minta bisa gak hubungan ini, kita rahasiakan dulu dari umum?". Putri mengucapkan permintaannya, dia langsung menunduk setelah mengatakan itu.


Sementara gw langsung tersenyum cerah, secerah langit di pagi hari tanpa awan mendung.


Hal yang selalu gw inginkan dan katakan kepada 3 cewe pertama gw, saat ini tanpa gw duga cewe ke 4 malah memintanya lebih dulu.


Sepertinya memang takdir indah gw ini masih akan terus berlanjut. Gw tertawa dalam hati dan bersorak sorai gembira.