
Pelan gw keluar dari kamar mandi dengan kedua tangan di kepala mengeringkan rambut dengan handuk.
"Sayang ayo duduk!". Bunda tiba-tiba memegang tangan gw dan dia tarik untuk duduk di sofa berdampingan dengan dia.
"Bunda enggak sabaran sekali sih, dikasih minum dulu napa anaknya baru selesai mandi juga". Gw mengerutu.
Gw liat di depan, duduk 2 cebong dan Nuri berjejer di sofa panjang yang terhalang meja dengan sofa yang gw duduki.
Sementara Ayah duduk sendiri di single sofa dengan santai tapi pandangan matanya selalu tertuju ke bunda. Dasar bucin!
"Sayang jangan mengulur waktu, cepat cerita sama Bunda. Apa yang terjadi hingga kamu pukuli suami Nuri ini".
"Emang Reza dan Udin enggak cerita Bunda?". Gw melihat 2 anak cebong yang pada diem kek patung.
"Mereka enggak mau cerita dan tunggu kamu aja katanya". Bunda menjelaskan
Dasar dua anak cebong pada lempar batu sembunyi tangan,Selalu aja gw yang kena saat mereka buat masalah.
"Kalau gitu kenapa bunda tidak tanya Nuri saja? dia juga pasti tau". Gw liat itu betina nunduk terus dari tadi.
"Dia juga nunggu kamu sayang, dan enggak berani bicara".
Sialan pada punya mulut kok kagak pada di pakai 3 orang itu, apa itu mulut cuma buat pajangan dan baru di gunakan saat jilat dan ngulum sesuatu doang, gw mencaci dalam hati.
"Sayang kok diem, ayo cerita sama Bunda". Bunda bicara membuyarkan lamunan gw.
"Mama, jangan dipaksa jagoan kita. Papa tau kok bimo enggak salah". Ayah ikut bicara.
"Mama juga tau pah, walau salah juga enggak akan Mama marahi kok". Bunda tersenyum lembut.
"Sayang, cepat cerita mungkin nanti Bunda dan Ayah bisa bantu jika ada masalah lainya".
Apa boleh buat Gw pun menceritakan semuanya ke Bunda tanpa ada yang gw tutupi kejadian di Merlion Park, sejak datang hingga balik kesini.
"Ya ampun kok ada ya suami seperti itu". Bunda tampak geram
"Dunia ini luas Ma, mungkin suami yang paling sempurna di dunia ini cuma Papa doang". Bokap memuji dirinya sendiri
Tapi langsung murung saat tidak ditanggapi Bunda yang lebih fokus melihat Nuri.
"Nuri pasti kamu sangat menderita selama ini nak". Bunda bicara dan melihat Nuri dengan tatapan sedih dan kasian.
"Mungkin ini sudah menjadi takdir saya tante". Dia menjawab pelan.
"Reza Udin tolong kalian pindah kesini". Bunda memberi perintah.
Bunda berdiri dan duduk di samping Nuri, Sementara 2 anak cebong disamping gw.
"Takdir bisa di ubah cantik, kita harus terus berusaha dan berdoa". Bunda memengang tangan Nuri.
Nuri tersenyum miris dengan mata yang mulai basah.
"Anak haram seperti saya hanya bisa mengikuti takdir tante". Jawab dia pelan dan menetetesan air mata bening dari kedua mata indahnya.
Semua orang terkejut tidak terkecuali bokap dan gw yang kagak ngira Nuri akan bicara seperti itu.
"Saya dari bayi sampai umur 5 tahun sudah diasuh dan dirawat di pantin asuhan". Nuri kembali bicara.
"Ya ampun kamu pasti sangat menderita". Bunda langsung memeluk wanita di sampingnya.
"Terus siapa orang tua yang kamu sebut kan jodohin kamu sama suami kamu itu". Gw yang terlalu penasaran ikut berbicara
"Sayang, kamu sabar dulu jangan paksa Nuri bicara. Biar dia tenang dulu". Bunda melepaskan pelukannya dan bicara ke gw.
"Iya bunda maaf".
2 cebong yang mendengar awal kisah itu juga ikut basah mata mereka.
Ini kan genre Action komedi romantis, kenapa jadi melo gini yak? gw bicara dalam hati.
Bunda mengambil tissue di meja dan mengusap air mata Nuri dengan lembut seperti sangat tersentuh dia dengan kisah melo ini.
"Sejak umur 5 tahun saya di adopsi sama satu keluarga, sebagai anak kecil yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga saya begitu sangat bahagia".
"Tapi mungkin saya terlalu berharap banyak, keluarga yang mengadopsi saya tidak seperti yang saya harapkan". Dia terisak kembali
Gw jadi terenyuh mendengar itu, nyesel gw anjing! bicara kasar dan cuek sama dia.
Dari kecil tidak pernah measakan kebahagian. Entah kenapa mata gw ikut basah banyanginnya.
"Nuri tidak ada namanya anak haram didunia ini, itu cuma kata-kata yang dirangkai manusia untuk memghina sesamanya, lupakan ya cantik semuanya. Kamu jangan tenggelam terlalu dalam di dalam kesedihan". Bunda bicara lembut sambil mengelus pelan punggung Nuri.
"Apa bisa tante saya melupakan status saya yang hanya orang terbuang ini yang selalu saja menjadi korban keluarga angkat saya". Nuri masih sangat pesimis dengan kata-kata yang dia ucapkan.
"Bisa pasti bisa, tante akan bantu kamu". Bunda langsung bicara menyakinkan.
"Jadi siapa keluarga yang adopsi kamu, yang paksa kamu menikah itu?". Bokap yang dari tadi diam bertanya dengan tenang tapi bisa gw lihat bokap juga ikut tersentuh dengan kisah hidup menyedihkan Nuri.
Bunda melepaskan pelukannya lagi dan dengan lembut menyeka air mata Nuri.
"Mungkin petemuan kita adalah jodoh cantik, agar kami bisa bantu kamu keluar dari semua masalah yang kamu alami selama ini". Bunda masih dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Keluarga purnawirawan TNI om yang mengadopsi saya". Nuri menjawab takut-takut.
"Nama dan jabatan terakhir?". Ayah bertanya to the poin.
Nuri terlihat bingung dengan maksud ayah yang menanyakan keluarga yang mengadopsi dia.
"Ehem-ehem, Bunda ayah? bentar dulu biar Bimo yang bicara, Nuri kebingungan itu dengan mksud kalian yang mau bantu dia".
"Sayang tumben kamu pengertian". Bunda memuji.
"Jagoan emang kamu mengerti arah dan maksud ayah?".
"Ya ngertilah kita kan keluarga, dan juga Bimo kan pinter". Jawab gw pede
"Jangan ketawa lu berdua nyet! gw tinggalin disini nanti lu berdua jika ketawa".
Gw ngancam 2 anak cebong, yang menahan ketawa saat gw memuji diri gw sendiri.
"Jangan salah paham dirimu cak, diriku kalau lagi merenung ya seperti ini". Reza berasalan
"Iya Bim, mana berani aku ketawain kamu. Aku kalau laper emang pengen ketawa bawaannya". Udin dengan alasan kagak masuk akalnya.
Dan itu mencairkan suasana yang dari tadi sangat melo. Dengan semua orang tersenyum mendengar alasan ngawur dari dua anak cebong.
"Ayah mau bantu Nuri keluar dari keluarga yang mengadopsinya kan?"
"Benar tebakan kamu jagoan, itupun jika dia mau dan berkeinginan untuk hidup dengan kehendaknya sendiri". Ayah bicara dan menatap Nuri serius.
Nuri tampak terkejut dan seperti bingung mau menjawab apa.
"Cantik kamu mau kan kami bantu". Bunda bicara ikut menyakinkan.
"Jangan bimbang dan jangan ragu mungkin ini adalah takdir kamu bertemu keluarga gw, kami bisa buat kamu bebas seperti burung yang keluar dari sangkar penderitaan kamu itu, karena kami adalah keluarga Pramono".
"Prok!prok!prok". Ayah bertempuk tangan seketika saat gw berhenti bicara senyum lebar terlukis di wajahnya.
"Sayang kamu belajar dari mana kata-kata narsis seperti itu?". Bunda tidak kuasa menahan senyumnya mendengar ucapan gw.
"Siapa lagi kalau bukan dari idola Bimo bunda". Gw bicara dan melihat Ayah yang terlihat sangat bangga.
"Papa? kamu ajarin apa anak kita?".
"Hahaha, akhirnya jagoan kita mengerti Ma. Memang seharusnya kamu sombong jagoan punya darah Pramono".
"Iya Yah, dari dulu juga udah sombong dan jumawa Bimo". Gw tersenyum membalas omongan bokap.
"Kalian gimana nyet? kalau boleh tau darah apa yang mengalir di tubuh kalian?". Gw bertanya dan tersenyum mengejek kepada Reza dan Udin.
"Darah cebong". Jawab mereka bersamaan dengan kesal dan sewot menatap gw.
"Udah Bimo, Papa! kalian menakuti Nuri ini".
"Cantik apa kamu tau keluarga Pramono?". Bunda bertanya.
"Tau tante, saya pernah melihat berita tentang om dan tante". Jawab Nuri pelan.
"Jadi gimana, kamu mau kan kami bantu?".