
2 hari serasa 2 bulan itulah yang gua rasakan saat berkunjung ke rumah Jono.
Banyak hal yang bisa gua pelajari dan hikmah yang bisa teladani saat bertemu orang-orang baru yang ramah dan baik hati.
Gua juga beruntung karena bisa bertemu Mika dan Mila, terutama Mika yang sangat menggemaskan dan sangat mengidolakan gua.
Mungkin satu-satunya ketidakberuntungan gua adalah bertemu Samsul dan putrinya, Samsul yang songong nya minta ampun gua hajar dan putrinya yang balas dendam dengan cakar-cakar wajah gua yang semalam di belai dan di kiss oleh nyokap nya.
Gua kagak tau kedepannya hubungan gua sama Suci akan seperti apa karena udah terlanjur juga gua putar, jilat dan celupin.
Mungkin untuk sekarang gua nikmati saja alur hidup masa muda gua ini, awal yang tidak bisa gua prediksi akan seperti ini dan akhir yang tidak bisa gua liat seperti apa nantinya.
15 menit sudah gua berada di dalam bus dengan nama EKA yang membawa gua ke terminal Purwodadi.
Perpisahan sementara gua dengan Suci tadi sempat diwarnai haru dan tetesan air mata dari janda satu anak itu, Suci peluk gua erat dan di tempat keramaian itu kami ber ciuman hangat nan dalam.
Ciuman yang buat 1 terminal heboh sebelum Jono yang ganggu tarik dan dorong gua masuk ke dalam bus.
Lambaikan tangan perpisahan pun terjadi seperti di drama-drama, Suci mengiringi kepergian gua balik ke Jogja dengan senyum dan mata berkaca-kaca.
Sementara Jono tidak usah ditanya, itu bocah bukannya melambai malah mengacungkan 2 jari tengahnya ke arah gua tapi bisa gua liat ekspresi wajah nya yang melo.
Saat ini gua duduk di bangku bus bagian tengah, sejak masuk tadi bus sudah sangat ramai penuh akan penumpang yang di dominasi dengan emak-emak dan bapak-bapak.
Dus kecil berisi ungker dan belalang gua pangku karena ini adalah pesanan Bianca.
Untung saja tadi Suci kasih gua masker dan minyak kayu putih kalau tidak pasti bakalan muntah gua saat ini.
Bau di bus ini sangat tidak enak sekali prengus dan sangat menyengat sampai hampir pingsan gua kalau kaca samping tidak gua buka.
Setalah beberapa saat akhirnya gua sadar setelah mendengar suara-suara perbincangan, bau tidak enak ini berasal dari para penumpang bapak-bapak yang baru saja dari pasar sapi dan kambing.
Baru kali ini gua naik bus horor banget dan ini harus gua hadapi selama 2 jam ke depan sampai di terminal Purwodadi, sungguh penyiksaan ini namanya.
Andai saya yang berbau kagak sedap itu anak-anak muda pasti udah gua tendang keluar dari bus dengan jiwa villain (penjahat) yang membara di dalam tubuh ini.
Nyatanya bau ini berasal dari orang tua yang baru saja mencari nafkah untuk keluarga jadi sejahat-jahatnya gua ya hanya bisa diam sambil terus oleskan minyak kayu putih di masker dan perut.
"Mas?".
Suara wanita gua dengar entah dari mana, mungkin ini hanyalah halusinasi yang tercipta dari bau tidak sedap ini jadi gua abaikan saja dan terus melihat ke luar jendela.
"Mas?".
Suara itu terdengar lagi dan sekarang dengan colekan kecil di lengan gua, sepertinya ini bukan halusinasi lagi dan gua segera menengok ke samping.
Entah kenapa gua kagak sadar kalau dari awal gua berjejer dengan wanita yang gua perkirakan seumuran dengan nyokap Jono.
"Oh iya buk ada apa ya?". Gua menjawab dan bertanya sopan karena wanita ini juga berpakaian muslimah sekali.
"Maaf mas apa boleh minta minyak kayu putih nya sedikit". Dengan wajah pucat dia bicara.
"Oh iya silahkan buk, ini silahkan". Gua segera menyodorkan minyak kayu putih.
"Terima kasih mas". Dia menerima dan berucap.
"Iya buk sama-sama". Jawab gua singkat se ramah mungkin sambil mengangguk pelan.
Selanjutnya gua berpaling karena tidak sopan jika mengamati ibu ini pakai itu minyak, gua tunggu saja sampai dia mengembalikannya.
"Ini mas terima kasih". dengan sopan dan mengulangi rasa terima kasih dia mengembalikan minyak kayu putih yang segera gua terima.
"Mas nya juga terganggu ya dengan bau ini?". Dengan suara pelan dia ajak gua ngobrol.
"Hehe, lumayan buk". Jawab gua canggung karena takut di dengar para penumpang lain jika terlalu jelas gua bicara.
"Memang mas mau kemana? Ke Purwodadi ya?".
"Tujuan saya ke Jogja buk kalau ibu sendiri?". Gak apa-apalah ngobrol santai untuk menghabiskan waktu.
"Oh Jogja kalau saya mau pulang ini karena rumah di Purwodadi, ke Blora jenguk orang tua.. Mas asli Blora ya?".
"Saya Jakarta buk ke Blora cuma main ke rumah teman".
"Lho katanya tadi Jogja?". Dengan ekspresi bingung dia tampak aneh melihat gua.
"Di Jogja saya kuliah dan rumah saya Jakarta". Agar kagak disangka gila gua segera menjelaskan.
"Oh seperti itu, saya kira sudah kerja masnya ternyata masih kuliah". Langsung tampak mengerti dia.
"Iya Buk baru semester satu".
"Kalau semester satu berarti seumuran dengan anak saya dong, anak saya juga kuliah dan baru semester satu juga tapi di Semarang".
"Hehe, iya buk bisa kebetulan gini ya". Gua cuma bisa tersenyum kagak tau musti jawab apa lagi.
Dari depan gua liat kondektur bus berjalan menarik ongkos kepada para penumpang dan kagak lama sampai juga di deretan bangku yang gua duduki.
Segera gua mengambil dompet.
"Ini pak berdua sama masnya ini ya?". Ibu disebelah gua memberi kondektur uang 100 ribuan.
"Buk tidak usah repot-repot saya ada kok". Merasa tidak enak gua langsung menolak
"Udah mas tidak apa-apa, saya ikhlas kok anggap saja sebagai rasa terima kasih dari saya karena sudah dengan baik hati memberi minyak kayu putih tadi".
Kondektur itu langsung pergi jalan ke belakang setelah memberi kembalian 20 ribu.
"Jadi enggak enak saya buk, saya ganti ya uangnya?".
"Udah mas tidak usah, saya tau kok anak kuliahan seperti masnya harus berhemat.. Apalagi jauh dari orang tua".
Hemat apa bu? Baru kemarin saya hamburkan uang 1 milyar lebih. Gua bicara dalam hati.
"Kalau seperti itu terima kasih Bu, beruntung saya bisa hemat uang makan". Gua acting aja biar ibu ini senang.
Selanjutkan kami ngobrol ringan sampai tiba di simpang lima Purwodadi bus berhenti untuk menurunkan penumpang dan teman ngobrol gua juga turun disini.
"Mas saya turun dulu, hati-hati semoga selamat sampai Jogja". Dengan senyum ramah dia berpamitan.
"Iya, ibu juga hati-hati dan terima kasih lagi karena sudah dibayarin". Gua menjawab dan mengangguk.
Sungguh wanita yang baik hati, gua bergumam pelan dan Bus kembali berjalan.
Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh simpang lima dan terminal, hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja.
Gua segera turun setelah bus terparkir dan segera mencari bus jurusan kota Solo.