
"Kenalin ini mas Taufik suami saya dan ini.. " Mbak Arum menarik cewe dari belakang punggungnya yang dari tadi menatap gua tajam.
"Dan ini ponakan saya Siti, baru 3 hari dia pindah sekolah dari Jakarta ke Yogja".
Mbak Arum memperkenalkan 2 orang yang ada di dekatnya, sebagai sopan santun gua langsung mengulurkan tangan ke depan.
"Halo mas saya Bimo". Sambil tersenyum gua menyapa.
"Oh iya Bimo, salam kenal.. Maaf jika tadi saat curiga sama kamu". Uluran tangan gua langsung disambut dan kagak sangka dia akan minta maaf.
"Bukan masalah itu mas, wajar kok karena wajah saya emang mencurigakan". Gua tersenyum canggung.
Dia bersikap baik tentu saja gua akan balas dengan sikap baik pula, walaupun ke depannya gua kagak tau seperti apa jika Jono udah disini dan menagih janji ke gua.
"Saya tau luka kamu itu bukan luka biasa, jika kamu bersedia saya bisa menemani jika kamu mau buat laporan". kali ini dengan serius dia tatap gua.
Insting seorang polisi memang sangat mengagumkan, hanya dengan melihat dia seperti sudah tau apa yang terjadi sama gua.
"Iya Bimo, suami mbak polisi mungkin dia bisa bantu dan temani kamu". Mbak Arum ikut bicara dan ekspresinya tampak kasian melihat gua.
"Enggak usah mas, terima kasih.. ini bukan luka penganiayaan kok, cuma ada Miss komunikasi saja tadi sama orang.. Udah selesai juga masalahnya". Dengan cepat gua menolak.
"Bohong itu dia Tante, dari suaranya sangat jelas dia berbohong". Dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, cewe berseragam SMA itu berucap lantang tanpa rasa takut.
"Siti! jaga bicara kamu, enggak sopan banget.. Bimo ini lebih tua dari kamu tauk gak? Harusnya kamu panggil kak atau mas". Mbak Arum bicara dan menasehati keponakannya.
"Tante? Kan udah aku bilang panggil aku Minta kenapa Siti terus sih?".
"Nama kamu kan Siti dari kamu kecil kan Tante sudah panggil kamu seperti itu". Mbak Arum Malah tersenyum.
"Ya kan nama aku Siti Aminah Tante, aku lebih suka dipanggil Mina daripada nama depan kampungan itu".
"Dek? Tidak ada nama yang kampungan di dunia ini, nama itu adalah doa setiap orang tua yang diberikan kepada anaknya". Dengan tubuh tegak gua ikut bicara menasehati, sok dewasa banget gua kali ini.
Mbak Arum malah terlihat mau tertawa setelah mendengar perkataan gua sementara suaminya cuma tersenyum dan Si Siti malah merah wajahnya, bukan merah malu tapi merah marah itu keknya.
"Dek? siapa yang loe panggil dek! gua bukan adek loe". Dia semakin melotot memandang gua tapi masih manis, mungkin karena tai lalat kecil imut di bawah bibir merahnya itu.
"Siti! Kamu ya? Jika di sini sikap kamu masih sama akan Tante bilang sama mama kamu agar dimasukkan ke pondok pesantren saja". Mbak Arum langsung berubah tegas.
"Udah sayang jangan marah, beri Mina waktu untuk berubah.. Dia masih remaja".
"Masih remaja apa mas? Kamu kan tau dia dikeluarkan dari SMA 3 kali di Jakarta sampai dia di blacklist di setiap SMA jakarta, kalau sampai dia berbuat ulah disini juga ya kebangetan".
Ancrit! Dikeluarkan sampai 3 kali? Gua auto terkejut sepertinya ini anak lebih gila dari gua, auto terkejut dan merasa kagum gua.
"Tante apa sih? Aku di keluarkan 3 kali kan membela kebenaran". Siti langsung protes tidak terima.
"Kebenaran apa? mentang-mentang kamu sabuk hitam taekwondo malah pukuli sesama murid dan itu laki-laki pula, tidak sekali tapi 3 kali di tiga SMA yang berbeda kamu seperti itu".
Sabuk hitam taekwondo? Gadis kecil berseragam SMA ini sudah sabuk hitam taekwondo? Gua langsung mundur teratur dua langkah ke belakang dan itu dilihat sama Taufik.
"Ya kan mereka yang salah, tukang palak dan bully teman.. Aku gak suka liatnya". Dengan cuek siti membantah.
"Bimo maaf pasti kamu terkejut, istri saya sama ponakannya memang seperti itu selalu saja debat". Taufik tampak sungkan.
"Tidak apa-apa mas, silahkan saja dilanjutkan saya masuk masuk dulu.. Permisi".
"Tunggu Bimo?". Baru selangkah gua gerak tapi langsung di tahan sama mbak Arum
"Iya kenapa mbak?". Gua bertanya bingung.
"Itu Bimo saya mau minta tolong sama kamu, tolong bantu saya awasi keponakan nakal saya ini".
"Tante apa sih? Memang aku anak kecil".
"Udah Siti kamu diam saja, apa kamu tidur bersama sepupu kamu aja kalau gitu?".
Siti langsung terdiam dan gua masih kagak mengerti dengan maksud perkataan mbak Arum.
"Maaf mbak awasi gimana ya?".
"Jadi gini Bimo, ponakan saya ini sudah 3 hari tinggal di rumah kami tapi dia tidak bisa akur sama sepupunya.. apalagi cuma ada 3 kamar di rumah, jadi saya memberikan 1 kamar disini untuk Siti tinggal, kamar di sebelah kamu itu". Mbak Arum menjelaskan panjang.
"Mbak bukannya cewe harus nya di lantai 2 ya?".
"Lantai 2 udah penuh Bim dan yang tersedia cuma satu kamar di lantai bawah ini".
Sialan! telat gua, harusnya kan kamar itu bakalan gua sewa untuk si kang tatto, gua mengumpat dalam diam.
"Oh seperti itu, iya mbak saya akan bantu jaga adek Siti". Gua iyakan aja biar cepat kelar.
"Emang gua anak kecil harus loe jaga! mungkin malah sebaliknya, gua yang mungkin jagain loe yang tidak bisa jaga diri sampai bonyok gitu".
"Siti kamu itu ya?". Mbak Arum langsung jewer kuping keponakannya.
"Aduh Tante sakit, sakit Tante". Siti langsung merengek.
"Mbak, mas saya masuk sekarang ya". Gua pamitan lagi, kalau masih ditahan sih kebangetan.
"Oh iya Bimo maaf jika saya dan istri merepotkan kamu". Mas Taufik yang menjawab kali ini.
Gua hanya mengangguk sambil tersenyum kecil dan berjalan pergi.
"Sayang ayo kita pulang dan kamu Mina, cepat masuk besok harus sekolah.. barang-barang kamu udah paman tata di dalam sana".
"Awas ya kalau kamu buat ulah lagi dan tidak bisa kontrol emosi kamu itu, Tante dan mama kamu akan benar-benar masukkan kamu ke pondok pesantren". Mbak Arum mengancam lagi dan langsung pergi bersama istrinya.
Gua berasa di depan pintu kamar, mengambil kunci di dalam tas dan sedikit melirik ke gadis yang sedang tampak kesal menghentakkan kakinya di tanah, dia berbalik badan dan pandangan kami bertemu.
"Apa loe liat-liat!". Dia melotot dan langsung berjalan ke pintu kamar sebelah gua.
Dia masuk dan "Brakkkk!!!". Pintu ditutup dengan keras.
Gua hanya bisa menghela nafas panjang, gadis kecil itu sangat mengerikan.