
"Bang Anton mari kita susun strategi sebentar bang untuk turun dari lantai 3 ini".
"Ok Bim!" Bang Anton berjalan ke depan gw dengan raut wajah serius.
"Dimana posisi mobil yang akan kita bawa untuk keluar dari sini bang? Gw mulai bertanya ke bang Anton.
"Mobil ada dibawah Bim tepatnya di samping gedung ini dan tidak jauh dari pintu darurat".
"Jadi kita akan kebawah menuju mobil itu dengan melewati tangga darurat bang?".
"Iya Bim,kalau lewat lift sangat beresiko dan keluar langsung di lantai 1 dan itu sangat berbahaya untuk kita bawa nona Bianca lewat sana" Bang Anton memberi penjelasan.
Bianca yang berdiri di depan bang Anton tampak tegang.
"Bie,loe jangan takut gw pasti bakal bawa loe keluat dari sini tanpa lecet sedikitpun". Gw menenangkan dia.
"Iya Bim,aku percaya sama kamu" Bianca menjawab pelan.
Dan dua anak cebong dibelakang gw masih aja berpelukan,kagak selesai-selesai itu bocah sesi saling menguatkannya.
"Jadi sudah kita tentukan ya bang,kita akan lewat tangga darurat untuk menghindari pertempuran di bawah sana".
"Iya Bim,itu jalan yang paling aman untuk saat ini".
"Nanti bang Anton jalan di depan,sebagai orang yang tau seluk beluk gedung ini,sekaligus melindungi Bianca saat ada serangan dari depan".
"Iya gw ngerti Bim" Bang jack mengangguk paham.
"Intuk Bianca nanti berada tepat dibelakang bang Anton,dan gw akan lindungi dari posisi belakang".
"Gimana bang dengan ide saya itu?".
"Bagus Bim,jadi kita bisa melindungi nona Bianca dari depan dan belakang". Bang Anton terlihat suka dengan rencana gw.
"1 lagi bang,apa di mobil ada senjata?".
"Ada Bim,tapi cuma 1 tongkat baseball sama 2 palu".
"Itu sudah cukup bang?"
"Memang kita akan ikut bertarung di bawah Bim,kita kan akan langsung pergi dari sini?" bang Anton terlihat bingung.
"Bang orang-orang yang serang itu pada pakai helm kan? itu berarti mereka kesini naik motor bang".
"Ada kemungkinan mereka serang kesini karena tau bang Jack dan Bianca ada disini".
"Dan mereka pasti punya rencana mengejar saat salah satu dari bang Jack dan Bianca pergi dan pengejaran yang paling cepat adalah menggunakan motor".
"Jadi mereka sudah merencanakan ini sebelumnya!!! Apollon keparat!!".Bang Anton terlihat emosi.
"Itu adalah firasat gw aja bang,semoga gak terjadi.Dan apabila mereka bener-bener kejar kita,gw udah ada solusi untuk itu jadi bang Anton tenang saja".
"Iya Bim gw percaya sama loe".
"Oke bang kita berangkat!"
Kami pun berjalan sesuai formasi yang gw katakan.
Dengan posisi bang Anton didepan Bianca di tengah dan gw dibelakang.
Kami berjalan ke arah pintu keluar ruangan ini.
Tapi perasaan gw sedikit mengganjal seperti ada yang kurang dan seperti ada yang tertinggal.
Padahal gw kesini kagak bawa apa-apa selain duit yang ada di kantong gw ini.
Tapi perasaan kehilangan apa ini yang gw rasakan.
"Bang berhenti sebentar bang?" Gw bicara sama bang Anton saat kita tepat mau keluar ruangan.
"Ada apa Bim? bang Anton dan Bianca yang ada didepan gw auto menengok ke arah gw.
"Sorry sepertinya gw melupakan sesuatu bang?" Gw mulai mengasah otak gw untuk berfikir.
"Plakk!! tiba-tiba Bianca yang ada tepat di depan gw memukul pundak gw pelan dan menunjuk ke belakang tanpa bersuara.
###
Pelan-pelan gw geser leher dan tubuh gw untuk berbalik dan melihat ke arah yang ditunjuk Bianca.
Dan benar saja di sana di dekat jendela ada 2 anak manusia yang masih dengan hangatnya berpelukan mesra.
"Nyett!! Pada ngapain lu berdua pelukan kek gitu terus anjing!!!"
"Bukannya ikut kita keluar dari sini lu pada".
"Malah berpelukan kek teletubies,jijik gw liatnya,cepet sini kita keluar!!".
Mereka pun melepaskan pelukannya.Tapi masih aja berdiri disana.
"Ngapain lu pada masih berdiri disana nyettt!!?" gedek gw sama ini dua cebong junior.
"Dirimu tidak tinggalin kita disini cak?"
"Iya Bim,kamu ajak kita? dan gak buang kita disini?".Mereka bicara dengan raut wajah sedih.
"Lu berdua bicara apa sih nyet mana ada gw tinggalin lu berdua,kita kan kesini barengan.Udah ah sini cepat!!".
"Tapi tadi dirimu tidak masukkan kami di dalam barisan itu cak? Reza menunjuk formasi barisan yang gw buat.
'Iya Bim,jadi kami pasrah aja disini dan berpelukan karena loe buang dan mungkin loe buat tumbal".Udin terlihat sakit hati sama gw.
"Bim mereka bener temen loe?" Bang Anton bicara dari depan.
"Sayangnya iya bang,mereka temen gw".
Sumpah malu banget gw sama bang Anton karena dua anak cebong ini.
"Nyet kalian kagak usah berfikir yang aneh-aneh dan cepat sini masuk formasi di belakang gw!!".
"Atau bener-bener gw tinggal disini lu berdua untuk tumbal".
Mereka berdua langsung berjalan ke arah gw.
"Gitu aja ngambek kalian nyet"Gw bicara saat 2 anak cebong udah menjadi ekor di barisan ini dengan Reza dibelakang gw dan Udin dibelakang Reza.
"Kita jalan lagi bang,tapi hati-hati bang! kita harus tetap waspada musuh bisa menyerang kapanpun".
"Ok Bim,kita jalan dan tetap waspada".
Dan kamipun berjalan keluar dari ruangan ini kek anak pramuka yang lagi baris- berbaris.
Tujuan kita adalah menuju tangga darurat di pojok lantai 3 ini.
"Nyet lu berdua waspada dan selalu liat belakang,kalau ada musuh kalian cepat beritahu gw".
"Iya cak!"
"Ok Bim!"
"Bim,itu tangga nya ada dibalik pintu warna merah,untuk kita turun ke lantai 1" bang Anton menunjuk sebuah pintu sekitar 20 meter di depan kami".
"Bim!!Bim!!Bim!!! Ada orang berlari ke arah kita Bim!" Udin terlihat panik.
Gw pun langsung tarik Udin untuk bertukar tempat sama gw.
Dan semua orang dibarisan pun menegok ke arah belakang.
Disana ada satu orang memakai help full face berjalan cepat ke arah gw.
Dan ditangannya ada memegang tongkat golf.
"Bang Anton lindungi Bie dan tetap waspada biar gw yang hadapi dia". bang Anton hanya mengangguk dan percaya sama gw.
"Bimo hati-hati".Bianca terlihat kawatir dari raut wajahnya.
"Cak semangat cak,dirimu pasti bisa!"
Biadap ini anak rantau dari Madura dikira gw mau ikut lomba makan krupuk apa.
"Bim,gw percaya loe,tolong jangan kecewakan kami".
Pengen gw unyet rasanya mulut si Udin.
"Kalian diem aja nyet dan bantu gw jaga Bianca,gw mau Olahraga bentar".Gw berbalik dan tersenyum ke arah pria berhelm.
Pria itu semakin berlari mendekat dengan mengacungkan tongkat golfnya ke arah gw.
Jarak diantara kami tinggal 10 meter dan gw pun langsung melesat berlari menyambut dan memberi ucapan selamat datang kearah pria berhelm itu.