Preman Campus

Preman Campus
IMUTNYA MIKA


Gua keluar dari mobil dengan perasaan yang sangat bahagia karena di dalam mobil tadi dengan waktu yang singkat gua berhasil garap leher Suci dengan lihai.


Gua ciptakan mahakarya indah dari sebuah kecupan di kulit leher Suci yang membentuk sebuah ****** merah di berbagai titik, walau pada awalnya gua sempat kesulitan buka jilbabnya tapi usaha itu tidak akan mengkhianati hasil dan akhirnya gua berhasil.


Tadi itu gua ingin sekalian kasih tanda cinta di dua gunung kembar tapi karena posisi dan situasi yang kagak memungkinkan terpaksa gua urungkan karena Jono yang yang berdiri di luar kek satpam, kan kagak lucu jika dia dengar suara rintihan nikmat yang keluar dari mulut Suci.


Tidak lama setelah gua keluar Suci pun ikut keluar dari pintu yang sama.


"Jon! Ngapain loe berdiri di sono aja? Cepat ambil boneka loe dan barang-barang gua di belakang". Gua memerintah


"Asem! Kenapa gua merasa jadi pemeran pendukung yang kagak ada artinya gini! Kagak pernah dapat enak dan selalu ketiban sial dari loe Bemo!". Jono langsung menggerutu


"Hehe, jadi loe sekarang sudah mengakui Jon jika MC disini itu adalah gua? Hahahaha". Gua tertawa lebar jumawa di atas rasa dongkol yang sedang di alami si kampret


"MC gambar singo! Bubar novel jika MC nya model nya kek loe!". Jono mencaci sambil berjalan ke belakang mobil


"Bimo, hobi banget sih kamu godain Jono? kasian tau". Suci tampak prihatin melihat Jono tapi bibir dia tersenyum.


"Ya emang jalannya udah gitu sayang mau gimana lagi, tugas MC kan menggoda dan memanfaatkan pemeran pendukung". Jawab gua santai


"Dasar narsis kamu itu". Suci gemas dan mencubit lengan gua pelan


"Woi MC! Udah gua turunin semua ini, tugas apa lagi yang bakalan loe berikan ke pemeran pendukung ini?". Dengan sangat sarkas si kampret teriak dari belakang mobil


"Iya Jon bentar, coba loe hitung dulu aja capung yang lagi pada terbang di udara nanti angkanya buat beli nomer togel!".


"Iya gua hitung dan tangkap terus gua goreng buat makan malam kita entar".


"Sipp! buat juga sambel kecap nanti buat cocolan".


"Brakk!". Jono menutup bagasi mobil Suci dengan kencang


"Kek punya duit aja itu bocah main rusak mobil orang".


"Udah deh Bimo, jahil banget sih kamu.. Aku pulang dulu ya?". Suci berjalan ke arah pintu samping kemudi, gua ikuti dan gua bukakan pintunya


"Sayang nanti malam kamu kesini jam berapa?".


"Mungkin habis magrib, kenapa memang? Kamu mau dibawakan sesuatu?". Suci menjawab saat sudah duduk di belakang kemudi dan gua berdiri di luar pintu.


"Enggak aku enggak pengen apa-apa cuma.." gua berhenti bicara dan rada ragu untuk melanjutkan.


"Cuma apa Bimo? bilang aja kamu mau minta dibawain apa? Makanan?". Suci menebak.


"Cuma aku punya sesuatu barang yang baru berguna saat ada kamu dan aku mau tanya nanti kamu mau gak bantu aku gunain itu barang?".


"Barang apa emangnya? Kan aku enggak liat kamu beli sesuatu tadi".


Gua segera merogok saku celana mengambil barang yang gua maksud dan segera gua tunjukan ke Suci.


"Barang ini sayang, ini cuma berguna saat ada sama kamu saja kan?". Gua pura-pura bego dan bertanya memastikan


"Astaghfirullah! Bimo kenapa kamu punya barang seperti itu? Cepat singkirkan dari depan aku". Suci langsung terkejut dengan mendorong tangan gua yang memegang benda kecil alat pembungkus batang.


"Enggak sengaja ini dikasih sama penjual minuman saat kita awal berangkat tadi, mau aku buang ya gak enak nanti dikira enggak menghargai pemberian orang". Jawab gua sepolos mungkin


"Ya udah sekarang cepetan di buang, ngapain masih kamu pegang?". Suci menyipitkan matanya memandang gua


"Enggak mubazir ini sayang kalau dibuang gitu aja? Kamu enggak mau pikirin dulu dengan kepala dingin? Rasa apel lho ini.. mungkin ada manis-manisnya". Gua mulai membujuk


"Manis apa yang manis, Bimo ihh! pikiran kamu harus di sikat itu biar bersih, udah buang! aku enggak mau dengar bercanda kamu lagi". Suci segera menyalakan mesin mobil


"Tunggu bentar sayang!". Gua mencegah


"Apa lagi sih Bimo?".


"Wusssh!". Gua lempar pembungkus batang ke jok samping Suci


"Bimo kenapa malah kamu lempar ke sana?".


Lembut gua pegang pundak Suci dan lembut juga gua berucap, "Kamu tau kan aku enggak lagi sedang bercanda?"


"Sekarang keputusan aku lempar ke kamu sayang, jika kamu mau buang itu barang.. Buang saja dan sebaliknya jika kamu berubah pikiran cukup bawa itu barang nanti malam dan tunjukkan ke aku, aku tau kamu bisa buat keputusan yang tepat.. Cukup tanya sama diri kamu sendiri saja". Gua bicara dengan teknik mata sendu dan bibir yang selalu melengkung tersenyum


Suci terdiam menatap kedua mata gua dalam-dalam dan sebelum dia bicara, gua pergi terlebih dulu menghampiri Jono yang masih menghitung capung di belakang mobil.


"Udah loe turunin semua ini Jon?".


"Udahlah gua kan pemeran pendukung yang pengertian". jawab Jono cepat sambil mukanya yang masih di tekuk.


"Hehe, jangan suka ngambek an jadi cowo Jon.. wanita kagak suka itu sama cowo yang suka ngambek. Loe mau nanti sebelum berjuang mbak Arum udah ilfill duluan sama loe?".


"Apa benar seperti itu Bimo?". Jono bertanya saat gua masih menengok ke arah mobil Suci yang melaju.


"Ya benarlah ngambek itu kan udah identik sama cewe, masa mau cowo ambil.. Nanti jika mbak Arum dan loe sama-sama ngambek gimana? bakalan repot kan?".


"Sialan! Ada untungnya juga loe banyak pelihara betina Bim, jadi ahli dalam urusan ginian loe". Jono memuji


"Gua kan terkadang pintar juga Jon".


"Iya kadang-kadang doang pinter tapi keseringan gobloknya". Jono tertawa lebar.


"Kampret loe! Udah ayo masuk ke rumah, panas ini.. Mika udah pulang belum ya kira-kira?".


"Sepertinya sih udah, mungkin sedang di jemput itu sama nyokap gua di sekolah". Jawab Jono sambil membawa plastik besar berisi banyak boneka di tangan kiri dan plastik hitam yang berisi uang di tangan kanan.


Sementara gua membawa bungkusan oleh-oleh untuk Bianca.


Gua dan Jono segera melangkah berjalan tapi segera berhenti karena ada suara wanita yang memanggil nama kami berdua.


"Jono? Nak Bimo? Kalian sudah pulang?".


Dari jarak yang tidak jauh gua melihat nyokap Jono berjalan ke arah kami dengan Mika yang ada di gendongan punggungnya.


"Iya Tante baru saja kembali ini". Jawab gua cepat.


"Bunda turunin mika, cepetan". Mika yang semula malas-malasan di gendongan ibunya segera tampak ceria setelah melihat gua dan Jono.


Mika terlihat sangat imut dan manis sekali, dengan seragam merah putih dan rambut kepang 2 yang menyerupai telinga kelinci.


"Ka kakkkk". Mika berteriak lucu sambil tersenyum dia berlari memanggil kakaknya dengan tangan yang di rentang kan ke depan.


"Mika hati-hati". Nyokap Jono memperingatkan dari belakang.


"Oh adik kakak udah pulang sekolah ya?". Jono tersenyum lebar berjalan ke depan gua dan langsung jongkok menaruh barang di tanah dan merentangkan tangan menyambut pelukan mika.


"Ka kakkkk". Mika semakin mendekat dan wajahnya sudah sangat bahagia sekali.


"Adik kakak cantik ba..." Ucapan Jono terhenti seketika karena Mika bukannya meloncat ke pelukannya tapi malah terus berlari melewatinya seperti angin lalu.


"Kakak Bimooo..!". Mika menyebut nama gua dan bersiap untuk melompat.


Gua yang mau ketawa liat Jono yang di PHP ini Mika segera gua urungkan dan segera menjatuhkan bungkusan ungker dan belakang ke tanah.


Secepat kilat gua tangkap Mika di udara dan langsung gua peluk dari depan.


"Kak Bimo wangi". Dengan lucunya Mika berucap sambil peluk erat gua


"Iya dong kan supaya Mika betah di pelukan kak Bimo, di sekolah tadi Mika belajar apa?".


"Mika ulangan matematika dan dapat nilai 100". Dengan bangga Mika pamer.


"Wah ternyata Mika pintar ya?".


"Hehehe". Mika tertawa renyah gua puji.


"Mika? Kakak kamu kan aku? kenapa malah peluk Bemo kamu?". Jono yang sempat bengong langsung berdiri.


Di dalam pelukan gua Mika menengok ke belakang, "Wah kak Bimo belikan boneka buat Mika ya? banyak sekali...


Kedua mata mika langsung berbinar dan pelan turun dari pelukan gua


"Iya itu boneka untuk Mika dan Mila dari kakak Bimo, Mika suka kan?".


"Suka! Suka sekali". Dengan tergesa-gesa Mika langsung menghampiri sekumpulan boneka yang terbungkus di dalam plastik besar dekat Jono


"Wahhh banyak bonek cantik". Mika langsung tampak kagum


"Mika yang beli itu tadi kak Jono lho, kenapa gak bilang terima kasih kamu sama kakak?". Jono mengusap lembut pucuk rambut adiknya


"Kan Mika sudah tau".


"Tau apa emangnya adik kakak yang imut ini?".


"Mika tau kalau kak Jono beli ini dengan uang kak Bimo, kak Jono kan enggak pernah punya uang.. Jadi mika terima kasihnya ke kak Bimo aja". Jawab Mika polos dan mengambil boneka beruang.


Jono yang semula jongkok langsung jatuh terduduk mendengar jawaban adiknya.


Sementara gua langsung ambil barang di tanah dan segera jalan masuk ke halaman rumah Jono, tentu saja dengan tertawa ngakak


"Kak Bimo? Tunggu Mika...