
"ASU! siapa yang suruh loe berdiri?! Datang dan kembalikan korek kesini dengan merangkak". Dengan sangat merendahkan gua memberi perintah.
Mungkin sebenarnya yang bajingan tidak punya hati dan belas kasih di sini adalah gua.
Rasa malu dan hancurnya kepercayaan diri musuh entah kenapa membuat perasaan gua menjadi riang gembira.
Menyaksikan musuh memohon ampun bak binatang pesakitan buat gua merasa hebat.
Menghancurkan harkat dan martabat lawan adalah sebuah permainan yang sangat mengasikkan.
Dengan posisi tubuh merangkak, dia masih berdiam diri belum bergerak se inci pun.
Wajah dia menunduk menatap lantai, gua kagak bisa liat ekspresi wajahnya dan cuma darah menetes dari sana yang bisa gua saksikan.
"Kenapa diam loe! Ayo cepat sini, kesabaran gua Juga ada batasnya". Gua masih dengan gaya sok, berdirinya dengan dua tangan masuk saku.
Pemandangan dari atas memang sangat indah, pemandangan yang tercipta dari hasil karya gua menghancurkan dan merendahkan musuh.
"ASU! Kenapa masih diam loe sialan! cepat merangkak!! Apa perlu gua cambuk?". Gua udah mulai kagak sabar.
Musuh masih diam saja tapi entah kenapa gua merasakan sesuatu yang aneh saat ini.
Gua merasa seperti melihat pelangi tapi pelan-pelan warna indah itu hilang dan berubah jadi badai.
Pelan tapi pasti bukannya merangkak, musuh malah bangkit berdiri dengan kepala yang masih menunduk.
Perasaan gua semakin kagak enak dan langsung mundur satu langkah menjaga jarak lebih jauh.
Keduanya tangan dia tampak mengepal kuat nan erat dan bisa gua liat otot tangannya yang tegang muncul.
Pelan dia mendongak seperti adegan slow motion, dengan mata merah dia menatap gua dengan sorot mata mengerikan, sorot mata yang penuh akan kebencian.
Anjing! Gua mengumpat dalam hati, kenapa bisa berubah jadi gitu menakutkan itu orang.. Gua bisa merasakan semangat dia muncul lagi dan tambah kuat auranya, dua kali lipat dari sebelumnya.
Apa ini karena dia pahlawan negara ya? Jadi bermental baja.
"SAYA LEBIH BAIK MATI DARIPADA HARUS MERENDAHKAN DIRI!".
"HU.. AAAAAAAA.. AAAAA!".
Dengan teriakan lantang pria itu seperti kerasukan berlari menghampiri gua dengan langkah kaki pasti dan kokoh.
"Bang sabar bang, semua bisa kita bicarakan dengan baik-baik.. Jangan salah langkah, kepleset loe entar". Gua mundur beberapa langkah.
Indra pendengaran pria itu tampak sudah tersumbat dan terus saja maju mengejar.
"ANJING! Ini mau loe, dengan senang hati gua layani". Kuda-kuda gua pasang segera.
Seperti ronde awal tadi, musuh masih sama pola serangannya.
"Wusssshh!". Bogem mentah tangan kanan meluncur ke arah gua.
dengan sangat percaya diri gua juga ulangi adegan sebelumnya.
"Wusssshh!". Bogem mentah tangan kiri juga gua keluarkan dari sarangnya.
2 kepakan tinju terbang di udara dan sebentar lagi akan bertemu bentrok saling menyapa.
"Praaakkkkkkk..!!!". Suara hantaman tinju vs tinju terdengar lagi dan kali ini lebih nyaring.
Adegan sesaat membeku seperti waktu yang berhenti untuk beberapa detik dengan tinju kami yang masih nempel di udara.
Ekspresi wajah musuh datar dengan tatapan tajamnya yang masih sama tidak berubah, tatapan dengan insting membunuh yang sangat kuat.
Sementara di lain pihak berbanding terbalik sepertinya keadaan itu orang dengan gua.
Rasa jumawa atas kemenangan di awal yang gua rasakan menghilang terbang diterpa angin.
Ekspresi wajah gua pucat pasi dengan merasakan tangan yang masih mengambang mati rasa, rasa sakit di tangan begitu kuat dan sepertinya retak tulang jari gua.
"ADOOOOHHHHHHH...!!!".
Teriakan nyaring nan syahdu kembali terdengar bukan dari musuh tapi itu adalah teriakan gua.
Untuk saat ini gua harus menghindar, itulah yang gua rencanakan.
Tangan di udara segara gua tarik.
"Wusssshh!". Tendangan lurus ke depan muncul dengan cepat tanpa gua sadari musuh menyerang lagi.
"Anji...
"Buggkkk!".
"Aaakkkkk!".
"Brakkkkk!". Gua jatuh mundur guling-guling di lantai bus sampai depan dekat kemudi.
Baru saja gua mendongak, kagak tau musuh udah ada di depan gua saja.
"Bangs...
"Bugkkk!". bogem mentah kiss wajah gua tanpa bisa gua tahan dan hindari.
"Bugkkk!".
"Bugkkk!".
Kanan-kiri kanan-kiri, gua di hantam kek samsak tinju.
Sebelum mampus gua segara menunduk untuk menghindar.
Di depan gua liat musuh mundur satu langkah.
Di otak gua berfikir mungkin musuh lelah dan gua pun langsung berdiri lagi tapi dan tapi.
Perkiraan gua salah total, belum gua berdiri tegak 1 tendangan kuat meluncur dari depan.
"Asuuuuuu..!!!!". Gua mengumpat lagi dan langsung menutupi dada dengan tangan.
"Buggkkk!".
"Ennggggekk!!". Gua menahan sakit.
"Braaaakkk!". Gua auto jatuh lagi dan kali ini lebih parah.
Gua jatuh guling-guling sampai pintu dan jatuh keluar dari bus.
"Sialan! Punggung gua". Gua menahan sakit.
Para penumpang yang keluar sejak fight dimulai langsung pada teriak lagi melihat gua yang bonyok dan terlengkap dari dalam bus.
Mereka langsung pada menyingkir menjauh dari gua.
"Tap-tap-tap.." Langkah kaki gua serang dari dalam bus dan yang pasti itu adalah langkah kaki pria pahlawan negara yang murka dan kesurupan karena harga dirinya yang tadi gua injak-injak.
Gua segera bangkit, bisa di injak-injak gua jika asik rebahan di tanah.
"Jangan lari BANGSAT!".
"Wusssshh!". Dengan kerennya musuh loncat dari pintu bus dengan posisi menyerang, tendangan terbang menuju ke arah gua.
"Loe jual gua beli ANJING!!". nekad gua maju menyambut.
Musuh terbang dengan tendangan kaki sementara gua berpijak di tanah.
Adegan bejalan lambat, tendangan terbang menuju kepala gua.
'Setttt!". Suara angin seiringan dengan pergerakan gua menggeser badan.
"Praaaakkkk!". Bogem yang sudah gua siap kan telak mengenai wajahnya saat dia masih di udara.
"Braaaakkk!". Suara musuh terpelanting jatuh di tanah.
"Praaaakkkk!". tanpa menunggu dan memberi kesempatan musuh bangun, tendangan di batok kepala gua lancarkan.
1 tendangan
2 tendangan
Kepala manusia gua buat jadi bola, teriakan para orang yang melihat semakin nyaring.
Darah muncrat dari kuping mulut dan hidung musuh.
Dia sudah terkapar tapi masih sadar, gua segera duduk di perutnya.
1 pukulan di mata kiri.
1 lagi di mata kanan.
"GUA KAGAK SUKA SAMA MATA LOE ANJING!!!".
Gua mengambil batu dan kerikil-kerikil kecil dari tanah.
"BUTA, BUTA SEKALIAN LOE.. NGEN TOT!!".
"Mas jangan mas!".
'Mas cukup mas!".
Belum gua memasukkan tanah dan kerikil ke matanya, badan gua di pegang beberapa orang dan segera di tarik ke belakang dengan paksa.
"Anjing loe semua lepasin gua!!!". Gua meronta tapi kagak bisa melepaskan diri karena yang tahan dan pegang gua lebih dari 5 orang pria.