Preman Campus

Preman Campus
TRADISI


"Mbak ketawa kan karena perkenalan ngaco kamu tadi Bim, perkenalan apa coba itu tadi". Mbak Suci tampak lucu saat kagak mau gw salahkan, berasa bukan janda gw liatnya.


Jadi pengen tau dan semakin penasaran gw sama bajingan mana yang tega sakitin ini cewe, dari kesan pertama gw liat mbak Suci aja dia ramah dan ceria. Wajah dan body juga Ok, keknya bener-bener gila itu mantan suaminya. Punya istri kek gini kok kagak bisa mempertahankan.


"Kenapa diam Bim? Kamu mau ngaku salah yaaa?". Mbak Suci tersenyum dan menebak.


"Serius lho mbak aku tadi, kan katanya mbak Suci enggak punya adik dan enggak punya teman. Aku mau jadi adik sekaligus temannya mbak Suci". Segera gw menjawab dan gw tahan rasa penasaran untuk nanti gw tanyakan jika suasana dan waktu memungkinkan.


"Hehe, aneh-aneh saja kamu ini kita kan baru kenal dan juga mana ada aku punya adik sebesar kamu ini".


"Kenapa emangnya jika baru kenal? yang kenal lama saja terkadang tidak bisa saling mengerti, kita yang baru kenal sudah bicara dan ngobrol dengan santai. Bukannya ini pertanda ya mbak?".


"Pertanda apa?".


"Lha malah nanya? Ya bertanda kita cocok jadi kakak adik sekaligus teman lah".


"Aku kan dapat penumpang kan ini? Kenapa malah jadi dapat adik? Padahal enggak mimpi macam-macam lho semalam". Suci tampak bingung dan ragu untuk sejenak.


"Udah mbak Suci jangan kebanyakan mikir, jarang-jarang lho aku ngakuin saudara temu jalan seperti ini, mbak Suci kalau mau anggap aku adik itu ibaratkan nemu berlian di pinggir jalan". Gw tersenyum polos.


"Ya ampun.. kok ada lho ya orang sepede kamu Bim, emang kamu crazy rich apa yang seperti di TV itu, menyamakan diri sendiri dengan berlian?".


"Bukan Pd mbak tapi lebih ke narsis aja aku ini, hehe. Dan juga memang crazy rich plus anak orang terkaya se Asia calon adikmu ini". Gw berucap dengan jumawa.


"Hehehe, adik kecil siapa yang mau kamu bodohi..? Gini-gini mbak juga sekolah tauk, mana ada crazy rich luntang-lantung di terminal dan naik grab". Mbak Suci mencibir dengan canda.


"Bener juga ya? sepertinya cuma dapat crazy nya doang ini aku mbak, rich nya nyelip entah kemana". Kagak masalah juga sih jika mbak Suci kagak percaya, dari tampang gw juga kagak menyakinkan dan kagak mirip orang tajir.


"Ngomong-ngomong udah panggil adik berarti udah resmi ini kita kan mbak?".


"Hehe, iya terserah kamu saja.. mungkin sudah jalannya mbak dapat adik angkat aneh seperti kamu ini".


"Nah kalau gini kan enak mbak, jadi aku enggak akan sungkan lagi kalau mau nanya". Gw lebih rileks saat ini.


"Mau nanya apa memangnya? Kenapa aku jadi was-was gini ya?". Mbak Suci tampak kawatir.


"Emang pertanyaan aku bisa gigit apa mbak? Cuma penasaran sama 1 hal saja aku, mbak Suci nikah umur berapa e? Kok 24 tahun udah punya baby umur 4 tahun?".


"Oh tanya itu, mbak nikah umur 18 Bim.. tepat setelah lulus SMA". Jawab Mbak Suci tanpa ragu.


"Emang udah boleh mbak nikah umur segitu?". Gw yang masih amatir di dunia KUA bertanya memastikan.


"Pria atau wanita 17 tahun keatas dan bila sudah punya KTP bisa menikah. Di Desa mbak 15, 16 tahun malah banyak yang sudah menikah".


"Lha! Bukannya itu masih amis dan bau kencur mbak?". Gw geleng-geleng kepala mendengar fakta yang diucapkan mbak Suci.


"Husss.. Kamu ini ngaco kalau ngomong, apanya yang amis? Di desa terpencil seperti desanya mbak itu sudah wajar Bim pernikahan dini, apalagi seorang wanita.. Biasanya sih itu karena perjodohan dari orang tua, sangat jarang nikah suka sama suka di usia itu".


"Sorry mbak, berarti masih kolot ya para orang tua itu.. Ini kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi, orang aja sudah menginjakan kaki dan bisa ngopi di bulan masak masih ada orang tua yang jodohin anaknya".


"Ya memang seperti itulah Bim orang tua kan berbeda-beda apalagi di desa, mbak juga enggak tau itu tradisi baik apa buruk".


"Ya jelas buruklah mbak, kerja keras Ibu kita Kartini sia-sia kalau seperti ini. Masak takdir wanita di Desa mbak jadi ibu rumah tangga semua, kalau memang seperti itu sudah parah sih.. Komnas HAM bisa ikut terlibat jika mereka tau".


"Kok kamu jadi seperti aktivis wanita gini Bim? Cita-cita kamu jadi pahlawan ya? Hehe.


"Malah bercanda, kesel aja aku mbak dengar orang tua yang memaksakan kehendak anaknya kek gitu, tradisi enggak baik kok dipelihara".


"Lha memang sudah seperti itu mau gimana lagi Bim, orang desa itu kebanyakan keras kepala. Apalagi desa di Jawa tengah seperti desanya mbak, banyak yang mengikuti tradisi leluhur".


"Kalau mbak Suci sendiri, tipe yang mana?". Topik dengan halus gw ubah jalurnya.


"Mbak Suci menikah dulu atas kemauan sendiri apa tipe tradisi dijodohkan?". Tanya gw to the poin.


"mbak menikah atas dasar Cinta dan suka sama suka kok".


"Atas dasar cinta kok cerai". Sindir gw tanpa berfikir.


"Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi.. Minta dicubit ya kamu". Mbak Suci langsung melototi gw sejenak tapi buru-buru liat ke depan lagi.


"Hehehe, kan kita udah jadi adik kakak.. Jadi wajar dong aku sedikit mengkritik".


"Oh jadi alasan kamu minta jadi saudara itu, mau kritik mbak ya? Batal kalau gitu putus tali persaudaraan kita". Mbak Suci tampak serius tapi gw bisa liat sudut bibirnya yang tersenyum.


"Eittt! Enggak bisa dong mbak, sekali saudara selamanya saudara. Janji deh adik kamu yang manis ini enggak akan kritik lagi".


"Memang benar-benar narsis ya kamu ini, sepertinya salah deh aku pilih adik. Bisa ditukar tambah gak ya?". Mbak Suci berucap dan tersenyum simpul.


"Parah! emang aku barang apa? Punya adik sempurna gini mau dituker, lagian mana ada orang yang setara sama aku mbak? Cari dimanapun pasti enggak bakalan nemu". Gw menyombongkan diri.


"Kalau cari ditempat umum sih memang enggak nemu Bim orang seperti kamu, tapi jika itu tempat lain pasti ada banyak orang yang mirip seperti kamu".


"Tempat lain apa mbak? luar negeri ya?".


"Ngapain keluar negeri? Di Indo aja banyak kok RJS, hehehehe". Mbak Suci tertawa lepas, seneng banget itu keknya dia setelah ngatain gw.


"Terkadang orang gila itu adalah orang yang paling rasional mbak karena mereka jujur dan apa adanya. Beda sama orang Waras yang malah berpura-pura Gila, kan banyak orang yang seperti itu di Indo.. Jadi intinya Bimo bangga jadi orang gila original. Ha ha ha ha"


"Bener-bener pandai bicara kamu ya, bisa-bisanya lho membalik sindirin jadi pujian untuk diri sendiri gitu, mana bangga lagi kamu.. Tapi anehnya kok masuk akal juga ya kata-kata kamu Bim".


Ya jelas dong, adik mbak Suci ini kan cerdas.. Cuma enggak mau sombong saja aku". Gw berucap angka.


"Hahaha, dasar kamu ini..


"Bentar mbak bentar". Gw menyela mbak Suci karena di depan sana gw melihat Bus bangsat yang tadi kagak mau berhenti saat gw kejar.


"Kenapa Bim? Kamu liatin apa sih?". Mbak Suci melihat arah pandangan gw.


"Bisa gak mbak salip itu Bus?".


"Bisa-bisa aja sih, memangnya kenapa?". Mbak Suci melihat ekpresi wajah gw yang berubah.


"Ceritanya panjang mbak, salip aja dulu". Jawab gw cepat.


"Ok, mbak tambah kecepatan ini ya?".


Mbak Suci turuti apa mau gw dan menginjak gas lebih dalam, mobilpun melaju lumayan kenceng dan mendekati Bus menyalip dari sisi kanan.


Dengan cepat gw buka jendela samping dan "Cuuuiihhh!". Gw meludah ke sisi Bus tepat di pintu supir yang kebelutan melihat kesamping dia dan langsung melolot tajam memandang gw.


"Bimo! Apa yang kamu lakuin?". Mbak Suci yang telah berhasil menempatkan mobil di depan Bus tampak terkejut dan panik.


"Ngeludahin Bus kurang ajar mbak". Jawab gw santai.


"Tololeeettt!". Klakson bus kenceng terdengar dari belakang.


"Tololeeettt!". Bus semakin mendekat.


"Benar-benar adik gila kamu Bim! Gimana sekarang kelihatannya marah dan ngejar kita itu bus yang kamu ludahin". Mbak Suci tampak panik.


Sebelum gw menjawab mbak Suci tampak sudah membuat keputusan dan menambah kecepatan laju mobil di saat Bus di belakang terus membunyikan klakson.