
"Oya Jon kamu kesini sebenarnya mau apa?".
Samsul manager dealer ini masih saja kagak pergi dan masih mau merendahkan Jono dengan terus bertanya dengan pertanyaan kagak penting.
"Mereka mau beli motor pak dan saya sedang melayani dan menunjukan beberapa produk kita".
Sebelum Jono menjawab sales tepos itu buruan menjawab mencari perhatian sang manager, menjilat atasan adalah hal yang wajar bagi sebagian pekerja di Indonesia.
Tidak pria tidak wanita semua ingin tampil baik di depan atasan tapi kaum pemilik serabi lempit lebih terdepan dalam hal menjilat karena jika tidak berhasil menjilat di tempat kerja masih ada ranjang tempat dia nego dengan para atasan.
"Lisa kamu sedang bercanda ya? Jono ini kan masuk dalam golongan orang tidak mampu, buat makan aja susah mau beli motor.. Bener kan Jon?". Dengan muka tak bersalah nya, itu orang kembali bicara dengan lidahnya yang berbisa.
"Sebenarnya memang benar aku ingin beli motor..
"Dapat uang dari mana kamu Jono?" Samsul memotong dengan ekspresi wajahnya yang masih songong abis.
"Mending kalau punya uang buat buka usaha yang baik-baik, enggak malu kamu selalu di bantu sama warga kampung? Ini aku beri kamu nasehat ya bukan menyindir jangan tersinggung". Samsul mengeluarkan actingnya, acting minta ditabok dengan ucapan yang nyelekit dan merendahkan Jono banget.
"Sraaakkk!'. Gua tendang plastik di tangan kiri Jono dengan sengaja dari belakang dan uang di dalam nya langsung tumpah berserakan di lantai dan menyebar ke berbagai arah.
Manager dan sales itu langsung terpaku berjamaah dengan mulut terbuka lebar melihat uang pecahan seratus ribu berserakan di lantai.
"Bim?". Jono menengok ke belakang melihat gua dengan tatapan bertanya
"Jon mentang-mentang abis menang .... 1 milyar loe buang-buang itu duit kek sampah, mau pamer loe!". Gua bicara duluan sebelum si kampret buka mulutnya.
"Jono kamu menang .... 1 milyar?!". Samsul lebih terkejut lagi saat mendengar omongan gua, suara dia gemetar dan serak secara bersamaan.
Sementara sales tepos itu kagak bisa mengalihkan perhatiannya dari uang di lantai, dia sekarang melihat Jono dengan berbeda tanda love di mata kirinya dan di mata kanannya ada perut Jono yang berubah menjadi mesin ATM.
Gua tersenyum kecil melihat ciri khas yang Indonesia banget ini, tidak semuanya tapi ada beberapa wanita demi uang status sosial dan gaya hidup glamor mereka menjual harga diri dan tubuhnya walau tanpa rasa cinta.
Jono dengan cepat meletakkan plastik yang ada di tangan kanannya, dia langsung berlutut mengambil uang yang berserakan di lantai.
"Iya Sul iseng beli lotre... karena mimpi eh taunya dapat". Sambil bicara Jono memasukkan lagi uang ke dalam plastik hitam dengan tergesa-gesa
"Mas biar saya bantu". Sales wanita itu berinisiatif menawarkan bantuan dan langsung ikut jongkok di depan Jono.
"Oh iya dek, terima kaaaa". Jono langsung terdiam dengan suara yang nyangkut di tenggorokan, gerakan dia mengumpulkan uang pun terhenti karena sales di depannya jongkok dan Jono melihat apa yang seharusnya kagak dia liat.. Karena sales wanita itu juga tampak sengaja mempertontonkan sesuatu yang indah di depan Jono.
Gua aja yang berdiri di belakang Jono bisa liat dengan jelas CD berwarna biru muda itu apalagi Jono yang ada tepat di depannya dengan kedua matanya yang sejajar pasti udah nyut-nyutan itu bocah.
Sales itu pura-pura cuek dan terus mengambil uang di lantai.
"Ehem?". Gua berdehem keras memberi sinyal agar itu bocah sadar dan usaha gua langsung berhasil.
Kek orang sakau Jono menggelengkan kepalanya cepat, dia kembali mengambil uang yang masih ada di lantai tapi yang bangsat nya dia ambil uang dengan mata yang masih melihat anu itu sales.
"Jon biar aku bantu juga". Samsul ikut berinisiatif.
Gua langsung waspada saat ini bukan karena takut itu duit bakal dicuri sama itu orang tapi lebih takut jika si Samsul ikut melakukan tindakan sales wanitanya itu.
Kagak lucu kan kalau itu orang ikut jongkok mm menirukan apa yang dilakukan sales bawahannya.
Keknya gua salah perhitungan deh nendang itu plastik tadi, suasana yang semula panas dengan resiko baku hantam berubah jadi adegan tak senonoh yang tidak patut dilihat di tempat umum gini.
"Enggak usah Sul udah selesai ini". Jono buru-buru melarang dan segera bangkit dengan uang yang sudah dia masukkan kembali ke plastik dengan bantuan sales bernama Lisa itu yang segera ikut berdiri dan melanjutkan aktivitas nya memandang Jono lekat.
Samsul yang akan ikut berjongkok segera mengurung kan niatnya.
"Mimpi apa kamu Jon bisa menang 1 milyar?". Samsul masih tidak bisa menahan rasa penasarannya dan tampak iri terlihat dari pandangannya yang masih melihat ke plastik hitam. "Apa jangan-jangan plastik yang itu juga berisi uang?". Samsul menunjuk.
"Iya tadi baru aja aku ambil dari bandar, enggak bawa tas ya aku taruh di plastik aja". Jawab Jono dengan muka sombong.
"Kamu benar menang lotre itu? Bukan maling kan?". Samsul memandang Jono curiga.
"Sul tolong jangan asal bicara, aku sudah sabar dari tadi karena seseorang yang minta, tapi kenapa kamu tidak peka juga". Jono tampak serius dan memandang Samsul tajam dan gua mulai suka dengan itu karena Jono mulai balik ke sifat setelan pabriknya.
Yang buat gua bingung adalah siapa yang minta Jono bersabar? Bukannya dia ya yang malah minta gua untuk sabar tadi pakai minta janji segala. Kenapa ada teka-teki segala sih, gua kan goblok mana bisa nebak dengan benar.
"Hahahaha.. Jon-Jon, Apa kamu pikir dengan punya uang 1 milyar itu bisa merubah pandangan aku ke kamu?". Samsul tertawa lebar penuh akan penghinaan dan rasa jijik ekspresi wajahnya memandang Jono.
"Apa maksud kamu?!". Suara Jono mulai meninggi dan gua udah siap-siap karena darah akan tumpah dan muncrat tidak lama lagi.
"Cukup Sul! jangan kamu bawa-bawa lagi keluargaku yang tidak bersalah jangan kamu tarik lebih dalam emosi ini".
"Kalau kamu emosi mau apa hah! Mau apa kamu! MAU APAA!". Samsul mendorong Jono ke belakang dan segera gua tangkap sebelum jatuh.
"Pak sabar pak, jangan terbawa emosi". Sales wanita itu tampak ketakutan dan bicara menenangkan managernya.
"Apa yang sabar hah?! Kenapa kamu masih disini cepat panggil 2 satpam sialan itu dan bilang ada maling yang masuk ke dalam dealer".
"Tapi pak?!".
"Plakkk!". tamparan Samsul melayang sebelum Lisa menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu mau saya pecat! Cepat lakukan apa yang saya perintahkan?". Samsul udah kek orang kalap dengan mata melotot dan wajah merah marah.
Lisa hanya mengangguk pelan takut, dengan tangan yang memegangi pipinya dan butiran air bening yang menetes dari kedua netra nya dia langsung berlari ke depan.
"Loe kagak ngapa-ngapa Jon? Masih mau bersabar loe ini?". Gua tersenyum dan bertanya sambil mendorong Jono pelan ke depan untuk dia berdiri tegak lagi.
"Sabar tai kucing yang sabar! harusnya gua tau kelakuan bangsat ini orang kagak akan bisa berubah". Jono mulai mengeluarkan umpatannya.
"Plok-plok-plok". Samsul tersenyum jahat dan bertepuk tangan seperti psikopat.
"Akhirnya sifat asli kamu keluar juga, sifat dari benalu tidak tau diri,vBagaimana? apa kamu masih suka minta-minta sama mantan mertua saya? Hahaha.. Mental pengemis tetap saja mental pengemis dan tidak akan pernah berubah". Pria itu mencibir dan meludah.
"Mantan mertua? Siapa Jon mantan mertua calon orang cacat ini?". Gua bertanya dan perasaan gua mulai kagak enak saat ini.
gua merasa teka- teki yang dari awal rumit tadi mulai menemui titik terang di otak gua, dimulai dari berubah nya sikap betina yang lagi nunggu di mobil sampai keanehan sikap di Jono dari awal sebelum kita jalan kesini.
"Gua gak tau!". Jawab Jono cepat tanpa memandang gua dan masih menatap tajam Samsul.
"Kamu anak kecil! Jangan ikut campur dan segera pergi dari sini, apa kamu mau masuk penjara sama dia. Apa mungkin kalian udah berkomplot untuk maling itu uang?!".
"Tong gua kagak mau basa-basi lagi sama loe, cepat bilang siapa mantan mertua loe itu?!".
"Kenapa kamu tanya? Apa urusan kamu?! Kalau tidak mau basa basi kamu mau apa? Mau ajak berantem? sini maju! sekali tinju juga nangis kamu".
"Anjing! Mau mampus ini orang! Minggir Jon!". Gua tarik Jono kebelakang.
"Jangan Bim!". Jono langsung teriak dan meluk gua dari belakang.
Sementara musuh udah bersiap mengambil ancang-ancang untuk memukul.
"Bukk!". Pukulan mendarat tepat di pipi kiri gua.
"Bukk!". Di ikuti dengan tendangan lurus ke perut.
Gua kagak bisa menghindar karena si kampret yang peluk dan kunci gua dari belakang.
Dengan tendangan lurus dari musuh, gua langsung jatuh ke belakang menimpa si Jono.
"Jon! Picek apa mata loe!". Gua langsung berdiri dan mengumpat marah.
"Sorry Bim". Jono minta maaf dan bangun dengan tertatih.
"Hahaha.. dasar 2 pecundang!". Samsul tertawa lebar penuh kemenangan. "Gaya kamu aja setinggi langit cuma 1 tendangan aja langsung roboh, mau minta ampun kan kamu sekarang? Sini merangkak di kolong kaki dulu baru nanti aku ampuni".
"Terlalu jumawa loe tong!". Gua mulai masuk dalam mode pantang pulang sebelum buat cacat orang.
"Sul mumpung ada kesempatan mending loe cepat pergi dari sini cepat!". Jono langsung berdiri di depan gua menghalangi. "Ingat Diah yang akan sedih jika loe kenapa-napa".
"Jon Kamu kira aku takut sama kalian berdua hah! Sini maju sama-sama! Dan jangan sebut nama anak aku dengan mulut busuk kamu itu".
"Diah? bukannya Diah itu anaknya Suci? Jon?! apa yang loe katakan barusan itu benar!". Gua merasa semakin marah dan ada rasa sakit di hati setelah menyadari hasil teka-teki yang gua pikirkan menjadi kenyataan.
"Cecunguk! siapa kamu berani sebut istri saya?!". Samsul menatap gua tajam.
"Mantan! Suci bukan istri kamu lagi!". Jono mengoreksi.
tangan gua mengepal keras sampai kuku di jari menembus kulit mendengar fakta yang baru saja gua dengar.
Saat ini nafsu membunuh gua udah kagak bisa gua bendung lagi, memikirkan Suci yang pernah di ..... oleh orang macam itu membuat setan yang mendiami di dalam tubuh gua mulai bangun dan terlepas dari segelnya.