
Gw dengar dari orang yang berbicara di dekat pintu sana bahwa akan datang kesini Kapolda DIY beserta jajarannya.
Semua orang terkejut mendengarnya tapi gw bodo amat karena merasa kagak salah, walaupun gw hampir bunuh orang itu adalah tindakan membela diri dan yang menyerang duluan bukan gw.
Berbanding terbalik dengan orang yang mencaci gw sejak tadi yaitu bokapnya Putri, dia begitu bersemangat dan antusias karena sejak awal dia bilang bahwa berteman Pemimpin rombongan yang sedang menuju kemari itu.
"Nyet gw pengen makan buah, ambilin buah manggis yang lu bawa tadi dong". Gw bicara ke Reza yang tampak bengong mendengar permintaan gw.
"Cakkk!!". Reza membentak gw dengan pandangan tidak percaya yang dia tujukan ke gw.
"Dek Za turuti aja permintaan Bimo, abis operasi dia jadi belum waras sepenuhnya".
"Kak Din dirimu kok malah belain si Bemo? apa wajar di situasi gawat darurat gini dia malah mau makan buah!".
"Wajar itu dek Za, daripada dia minta rujak buah!".
"Berubah dirimu kak Din, cuma karena di iming-imingi ayam Campus, dirimu tega berpihak ke Bemo sekarang!".
"Lu tenang aja nyet, situasi gawat apa sih? orang biasa juga kan mereka yang datang itu?".
"Cak dirimu enggak dengar tadi orang itu bicara apa? Kapolda cak, kapolda!. Datang kesini beserta jajarannya".
"Emang kenapa kalau mereka datang? mungkin mau besuk gw yang sakit ini Udah ah! ambilin aja itu buah buat gw".
"Ha-ha-ha-ha..! apa kamu bilang?! mau besuk kamu?! ha-ha-ha-ha.. kalau mimpi itu jangan di siang bolong anak muda". Bokap Putri kembali berbicara dengan mulut pedasnya.
Gw cuma tersenyum doang untuk membalas perkataan itu, udah males gw menanggapi ini orang.
Kok bisa ya bokap sama anak sifatnya jauh berbeda, Putri yang lembut sopan dan baik hati sangat berbeda dengan bokapnya yang sombong dan blangsak ini.
Gw liat aja apa yang akan terjadi selanjutnya jikalau nanti gw diseret ke kantor polisi pun kagak bakal gentar karena sejak dulu tempat itu udah seperti tempat nongkrong gw sehabis gelut dan tawuran.
Walaupun tidak pernah ngandang di jeruji besi karena dengan cepat dijemput Bunda dengan membawa beberapa pengacara kondang di negeri ini.
Dan gw sedikit rindu dengan tempat itu karena sejak kuliah di Jogja ini gw belum sempat di tangkap dan bersilaturahmi ke kantor polisi.
"Nyet ambil itu buah, malah bengong aja lu! udah nyidam gw ni!".
Takut-takut Reza berjalan dengan menunduk melewati 2 polisi dan Bokap Putri untuk mengambil buah yang ada di tas putih yang dia taruh di sebelah kiri meja.
Dengan cepat dia kembali ke sisi kanan gw. "Kupasin nyet dan suapin gw ya?".
"Kak Din?".
"Iya dek Za kenapa?".
"Santai banget ya ini anak, enggak tau apa masalah besar yang sedang menghampiri! nglunjak minta disuapin segala".
"Udalah del Za loe suapin aja, mungkin itu permintaan terakhir Bemo sebelum jalan-jalan dan berwisata ke kantor polisi".
"Tangan gw kan yang satu diborgol nyet, mana bisa kupas itu manggis yang tebel banget kulitnya".
"Seperti kulit dirimu kan cak ini kulit manggis?".
"Sialan lu, udah cepet kupas".
Reza pun turuti kemauan gw walau bibirnya monyong dan cemberut, si kampret Udin pun ikut mengupas manggis dan langsung dimakan sendiri.
Jadilah kita bertiga makan buah sambil menunggu dan menanti kejutan apa lagi yang akan menghampiri.
"Pak polisi makan buah dulu pak, jangan terlalu tegang gitu!". Gw menawari 2 polisi yang wajahnya tegang dari tadi menanti atasannya datang.
2 polisi itu langsung melihat ke arah gw dengan muka yang sudah penuh akan keringat. Tanpa menjawab mereka kembali melihat ke arah pintu.
Suara langkah laki beberapa orang terdengar dengan jelas dan masuk ke indra pendengaran semua orang.
"Minggir-minggir beri jalan.. beri jalan!". Suara orang sedang menertipkan lorong menuju ke ruangan ini yang penuh akan manusia yang sedang melihat drama di ruangan ini sejak tadi.
Bokap Putri langsung bergegas berjalan ke arah pintu untuk menyambut rombongan yang datang.
Dan gw menyaksikan itu sambil ngemil buah manggis yang di suapi oleh cebong no 2 Reza.
Tidak lama tampaklah sesosok pria dewasa bersorot mata tajam dengan pakaian Polisi lengkap beserta embel-embel pangkat di bajunya, dia berdiri tegak bak pemimpin upacara di depan pintu.
Dan dibelakangnya ada juga sekitar 4 orang yang juga memakai pakaian yang sama dengan atribut lengkap.
Gw rasa yang paling depan itu adalah kapolda DIY dan yang berdiri di belakang adalah jajarannya yang ikut kemari.
"Selamat datang Amir baguslah kamu kemari, 2 bawahan kamu sungguh tidak becus dalam bertugas". Bokap Putri langsung bicara dan mencoba memeluk orang yang dipanggilnya Amir itu.
"Diam kamu budi!!". Suara yang tegas langsung terucap dari orang yang dipangging Amir oleh bokap Putri itu, membuat suasana menjadi hening.
Bokap Putri terkejut dan langsung menurunkan tangannya yang sudah siap meraih dan memeluk.
"Cak itu pistol! pistol!". Reza berbisik ketakutan ke telinga gw sambil menunjuk pistol yang ada di pinggan orang-orang di dekat pintu itu.
"Bim gua mau pura-pura pingsan nanti kalau masalah berhasil loe tangani bangunin gua ya?". Udin yang dari tadi tampak tenang sekarang ikutan minder seperti Reza setelah melihat pistol.
"Nyet kalian tenang aja, santai bukan pistol beneran itu". jawab gw menenangkan 2 cebong bersaudara.
"Iya Bim loe kira kalau itu pistol ditarik pelatuknya akan keluar air atau busa gitu?!".
Gw pengen ngakak dengar jawaban dari 2 cebong ini, spontanitas bicara mereka membuat gw terpana dan kagum sungguh sangat berbakat mereka berdua untuk menghibur gw.
***
"Amir harusnya saya yang marah disini karena 2 anak buah kamu yang bodoh itu! dan berani melawan perintah saya".
"Budi yang bodoh dan tolol itu kamu! kelakuan kamu ini bisa membuat banyak orang menderita! kenapa dari dulu kamu tidak berubah ha! masih menanggapi semua dengan emosi sesaat kamu itu!".
Pria bernama amir itu berbicara dan melangkah maju melewati bokapnya Putri yang termenung karena tidak menyangka temannya akan berkata seperti itu.
4 orang di belangkang pun ikut melangkah masuk ke dalam ruangan mengikuti orang bernama Amir.
Dia berhenti dan dan menyapu seluruh ruangan dengan padangan matanya yang tajam dan berwibawa.
Udin dan Reza langsung menunduk dan menghitung jumlah kancing baju yang mereka pakai saat mereka dipandang dengan tajam.
Dan tidak lama sampailah kedua netra dia melihat gw yang lagi ngemil manggis dengan nikmat bin syahdu.
"Buah manggis pak? anda mau? produk lokal ini, manis banget!". Gw basa-basi menawari.
Dia tidak menjawab tapi dia sedikit menundukan kepalanya ke arah gw dan langsung melihat ke arah tangan kiri gw yang di borgol dengan besi sisi ranjang.
"Lancang kamu ya! kamu tidak tau siapa beliau ini ha!". Bokap Putri berbicara disaat semua orang diam.
"Emang siapa dia? gw cuma nawari buah, kalau kagak mau ya sudah". Jawab gw sewot
"Kamuu!!" Bokap Putri menujuk gw dengan emosi.
"Diam Budi!! Jangan bicara lagi kamu jika tidak mau menyesal!".
"Amir maksud kamu apa? harusnya kamu bantu saya dan bawa bocah kurang ajar ini ke penjara dia sudah berani mencelaki dokter kebanggaan saya dan telah menguna-guna Putri saya".
"Apa kamu bilang! anak kamu di guna-guna? jangan bercanda kamu! mungkin sebaliknya anak kamu yang menguna-guna tuan muda ini!".
"Ha-ha-ha-ha..! apa kamu bilang?! tuan muda? dia hanya anak muda kolong jembatan Amir!".
"Jaga bicara kamu Budi! walau kita berteman saya tidak akan segan-segan untuk menangkap kamu!".
Suasana kembali hening semua orang sibuk dengan fikirannya masing-masing tentang apa yang sebenarnya terjadi disini.
"Apa kalian berdua yang memborgol tuan muda ini!". Dia berbicara ke arah 2 polisi yang masih tegak berdiri.
Suara bisik-bisik dari luar langsung terdengar saat Kapolda ini menyebut gw tuan muda. Bokap Putri pun seakan tidak percaya saat Amir ini mau menangkap dia.
"Iya kami komandan yang melakukannya". jawab mereka serempak.
"Bodoh!!".
"Duaakk!!".
"Duaakk!!".
Pria itu maju dan langsung menendang betis kedua polisi yang langsung meringis kesakitan tapi masih tegak berdiri.
"Cepat lepas sekarang juga!".
"Siap laksanakan!". Tanpa bertanya salah satu dari mereka menghapiri gw dan langsung melepas borgol yang dari tadi nempel di pergelangan tangan kiri.
"Maaf tuan muda atas kesalahan anak buah saya yang bodoh ini, semoga tuan muda Abimana Pramono bisa memberi maaf".
Benar kan dugaan gw ini orang pasti tau identitas gw, entah tau darimana ini orang.
"Amirr!!! Kenapa kamu merendah di depan pemuda kampung ini ha! apa kamu sudah gila?! Emosi Bokap Putri sudah tidak bisa terkontrol lagi.
"Kamu yang gila dan sudah tidak waras! kamu mencari masalah dengan orang yang salah bodoh! kamu tau siapa dia ha!!".
Fix udah ini, benar firasat gw dari sejak Udin video call bokap dan tunjukin gw yang beradah-darah.
Pasti Rama Putra Pramono kagak bakalan bisa diam melihat jagoannya teraniaya.
"Bim ini pasti ulah bokap loe ya?". Udin bicara pelan tapi bisa di dengar oleh semua orang.
"Emang ulah siapa lagi nyet, lu sih pakai video call segala jadi ruyam kan ini masalah".
Bokap Putri terlihat Bingung dengan keadaan yang berbanding terbalik dengan keinginannya.
"Amir memang siapa dia ha! hingga kamu sangat ketakutan seperti ini, dia hanya preman kampung asal kamu tau!".
"Kamu sudah tuli tidak dengar yang saya katakan tadi?! dia adalah tuan muda Abimana Pramono! Pramono..! coba kamu ingat-ingat nama itu dokter bodoh!".
Bokap Putri yang bernama Budi tampak berfikir dan mengingat-ingat.
Dengan cepat dia melihat gw dengan raut wajah panik ketakutan.
Sialan drama banget yak hidup gw, ini ma sudah bisa ketebak alur kedepannya bakalan gimana.