
"Bim?! Rem Bim tarik rem nya cepat, bego banget sih loe jadi orang!". Dengan suara kagak jelas Jono masih histeris di belakang dengan punggung gua yang jadi sasaran pukulan.
Adegan saat ini masih menegangkan dan berbahaya Laju sepeda masih kencang di turunan curam menuju kampung si Jono.
"Kagak bisa ini Jontor! Kan loe udah bilang tadi jika remnya blong, gua tarik-tarik tekan-tekan remas-remas dan colok-colok kagak berfungsi ataupun muncrat ini".
"Hei otak bokep! itu rem Bemo! bukan me**k, apanya yang loe colok-colok dan muncrat!". Usaha apa kek! Pakai otak dong buat mikir, otak udang ya loe".
"******! Kenapa loe malah marah-marah dan bentak-bentak gua babi!". Gua yang juga panik ikut tersulut emosi. "Rem pakai apaan ini?".
"Ya apaan ajalah yang penting sepeda ini bisa berhenti dan kita selamat, cepetan di depan sana itu udah rumah padat penduduk dan sering ada anak-anak yang main di jalan".
"Coba loe buka resleting celana Jon! Cepat". gua memberi perintah karena punya sebuah ide brilian.
"Bangsat loe Bim! Loe suruh gua ngocok di situasi kek gini? Saraf ya loe".
"Bukan gitu tolol! loe kan pernah bilang Jika batang loe panjang, siapa tau helm ujung palanya bisa loe julurkan ke tanah dan buat nahan laju sepeda ini".
"Plaaaakkkk!!"
"Adoooohhh! Kenapa malah loe keplak kepala belakang gua? Ngajak ribut loe Jon?". Sepeda sempat goyang karena serangan Jono ke kepala gua tapi segera gua stabilkan dengan kecepatan masih sama.
"Lama-lama bisa kena ayan gua jika berfikir loe adalah orang yang waras Bim, gua lupa kalau loe sebenarnya gila! Kenapa gua biarkan loe yang di depan tadi, ahhhhh.. Nyesal hamba ya Allah". Jono berteriak.
"Kalau gak mau ya bilang aja Jon kagak usah ngatain segala! Jadi gimana ini? kalau laju sepeda seperti ini terus bisa Sampai Malaysia ini kita".
"Gunain kaki loe Bemo buat nge rem! Cepat, loe kan pakai sepatu". Jono menjawab cepat.
"Apa loe bilang?! Pakai sepatu gua! Ogah.. Ini kan sepatu air Jordan limited edition kesayangan gua hadiah ulang tahun sweet seventeen dari bunda". Gua menolak tegas.
"Mau sweet seventeen kek! sweet dak (60) kek! Percuma loe bakalan kagak bisa pakai lagi kalau kita jatuh dari ini sepeda dan lumpuh berjamaah".
"Tapi Jon sepatu gua ini kan mahal banget, sama hutang bokap loe ke rentenir itu aja mahalan sepatu gua ini".
"Emang Kampret ya loe itu Bim! Loe kagak liat situasi dan kondisi kita kek apa hah!". Jono udah enggak bisa bicara halus lagi.
Sepeda sudah kembali di jalan standar setelah turunan curam di belakang dan memasuki kampung si Jono, tapi akibat jalan yang menurun tadi sepeda malah seperti anak panah yang baru saja dilesatkan dari busurnya.
"Bim cepat pakai kaki loe Bim! adik gua masih kecil-kecil Bim".
"Loe nangis lagi Jon? Murahan banget sih air mata loe!".
"Batang loe itu yang murahan Bemo! cepat berfikir sebelum gua kumat dan sodok bokong loe dari bekalang".
"Cowo blangsak! Nafsu amat loe sama bokong gua, oke gua punya ide dan ini pasti berhasil untuk hentikan laju sepeda sialan ini".
"Ide apaan? kenapa kagak loe bilang dari tadi sih? cepat lakukan".
"Tapi gua butuh bantuan loe ini Jon, loe kan pernah bilang dulu kalau waktu kecil anak langgar?".
"Kagak usah bertele-tele Bemo! Keburu sampai neraka kita!".
"Oke-oke untuk mensukseskan ide brilian gua ini gua butuh doa dari loe agar berhasil".
"Baik, urusan doa serahkan sama gua!". Jono menjawab cepat.
Gua mengaktifkan mode mata saringan teh celupnya sasuke uchiha dan fokus menyipitkan mata melihat jauh ke depan, akhirnya target gua temukan dan siap gua mengarahkan sepeda kesana.
"Allah Huma barikelana fima Rozak ketana wakina ada banar".
Sepeda oleng sesaat di kala gua mendengar doa yang dipanjatkan sama si kampret, fokus gua ke target pudar sesaat. "Jon doa keselamatan bego! Bukan doa makan loe lantunkan, sedang ya otak loe". Gua langsung gundah gulana pertanda buruk ini pasti.
"Sorry Bim sorry panik gua! Gua ulang doanya, Bismika Allah Huma ahya wabismika amud".
"Loe mau mampus Jon! Segala doa tidur loe lantunkan? Mau tidur selamanya loe?".
"Hiyaaaaaaaa!". Gua yang udah emosi dengan otak yang bulet mengayuh sepeda lagi semakin kencang menuju target yang telah gua kunci.
"Bim, itu depan pohon mangga besar yang loe tuju Bim? please Bim jangan gua mohon mending kita terjun dari jembatan saja Bim!"
"Bacot loe Jon, dengan ini akan gua akhiri adegan gila dan kagak bermakna ini, hiyaaaaaaaa!". Sepeda semakin dekat dengan pohon mangga di depan rumah warga.
"Ahhhhhhh.. Bimoooooo.. Tidaaakkkkkkk!". Jono histeris dan kali ini dia memeluk gua dari belakang, mirip seperti film tinatic saat Jack memeluk Rose dari belakang yang membedakan hanya mereka di atas kapal dan sedang bahagia sementara gua dan Jono di atas sepeda dan sendang panik gila.
"Wusssshhhhhh.". laju sepeda membelah angin dan Braaakkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!".
Suara keras nan nyaring bentrokan antara sepeda vs pohon mangga terdengar.
"Ahhhhhh.. Anjing loe Bemo! Hampir aja gua mampus!". Jono jatuh terlentang ke samping dengan jidat dia berdarah tapi utungnya kagak pingsan.
Dia langsung berdiri menaruh bungkusan makanan yang untungnya masih selamat.
"Bim? Bimo, loe dimana Bim? Kemana keparat itu pergi setelah buat gua sengsara".
"Jon tolongin gua Jon, gua Atut Jon!".
"Bim? dimana loe!". Jono panik mendengar gua minta tolong.
"Jon gua disini, cepat tolongin gua Jon".
"Disini mana anjing! Ngomong yang jelas".
"Disini Kampret! Di atas pohon mangga depan loe! cepat cari tangga biar gua bisa turun".
"Heh?". Jono langsung mendongak melihat gua yang nangkring di atas pohon. "Behahahaha.. Ngapain loe di atas sono Bim?". Jono ngakak liat keadaan gua.
Mulut gua akan mengumpat keras melihat orang yang dari awal histeris dan sekarang malah tertawa ngakak, umpatan gua urungkan karena gua mendengar langkah kaki terdengar mendekat yang asalnya dari dalam rumah memilik pohon mangga.
"Astaghfirullah Jono? Kenapa kamu? Jadi suara keras tadi suara kamu jatuh nabrak pohon?". Suara wanita terdengar merdu, suara yang kagak asing seperti gua pernah dengar entah dimana.. Gua kagak bisa liat wajah pemilik suara itu karena ketutupan rimbunnya pohon mangga.
"Lho kamu pulang?". Si kampret melupakan gua yang masih nangkring di atas pohon dan berbalik badan menjawab wanita itu.
"Iya baru sampai beberapa saat yang lalu, ya ampun Jono kepala kamu berdarah itu". Wanita itu tampak mendekati Jono tapi gua hanya bisa liat kakinya doang.
"Luka kecil kok santai aja, Oya aku pinjam tangga dong".
"Tangga? buat apa?". Dari suaranya wanita itu tampak bingung.
"Aku jatuh nabrak pohon mangga kamu tidak sendirian dan bareng sama teman aku".
"Teman kamu? Terus dimana dia? Kok enggak ada?".
"Itu di sana". Tanpa basa-basi si kampret nunjuk gua di atas pohon dengan wajahnya yang menahan tawa.
"Di atas pohon?. Wanita itu tampak terkejut dan dengan cepat berjalan mendekati, sementara gua mulai sibuk halau para semut penghuni pohon yang akan masuk ke dalam celana, tau aja ini para semut betina mana batang bagus.
"Ya ampun Bimo? Itu kamu?".
Mendengar suara wanita itu terkejut lagi dan kali ini menyebut nama, gua juga terkejut seketika dan melupakan para semut nakal dan langsung memandang kebawah.
Wajah cantik nan dewasa dengan body montok dan langsing dengan bibir sensualnya yang terbuka bengong memandang gua tanpa kedip.
"CINTA! ITU KAMU?". Gua juga terperanjat saat ini karena menyadari siapa wanita di bawah sana.
Wanita itu yang semula bengong langsung tersenyum bukan senyum indah melainkan senyum yang syarat akan pembalasan dendam.
Jono juga tampak terkejut melihat ekspresi gua dan wanita itu.
"Jono aku rasa teman kamu sangat suka di atas pohon, biarin aja dia di sana dulu.. Ayo kita obati dulu kepala kamu". Wanita itu mengedipkan satu mata ke gua dan beranjak menarik Jono yang bengong pergi.
"Mbak Suci! Kebangetan kamu mbakkk! aku kan adik kamuuuu!". Kali ini gua yang berteriak histeris.