
"Tong apa lu nyakin mau terusin ini acara adu nyawa kita?". Gw berbicara dan memandang si gondrong serius dengan aura intimidasi yang gw keluarkan dari sorot mata tajam.
Setelah memeriksa kakaknya yang dia hantam sendiri sampai pingsan, dia langsung berdiri memegang lebih erat senjatanya.. tanpa menjawab dia memandang gw dengan bola matanya yang merah karena amarah yang telah memuncak.
Mungkin dia kagak nyangka penjarahan biasa yang akan mereka lakukan dengan mudah akan berakhir seperti ini, itu semua nasib sial mereka ber empat yang bertemu gw.
"Lu harus berhenti tong disaat tidak bisa memanjat tingginya gunung jika lu tetap maksa lu sendiri yang bakalan jatuh, gw akan kasih lu 2 pilihan sederhana". Ciri khas pilihan dari gw hadir lagi setelah fight di depan Bioskop dulu saat sama Amora selamatkan pak Rohmat.
"Pilihan apa anjing!". Suara dia sudah meninggi tidak terkontrol karena emosi yang naik ke puncak tertinggi.
"Hahaha, gw suka semangat lu tong.. Satu lu bisa pergi sekarang dan bawa itu 3 sampah yang tergeletak di tanah".
"Dua lu bisa turuti otak gila lu itu yang ingin menjatuhkan gw dan balas dendam sekarang juga tapi lu harus ingat 1 hal! Jika lu pilih opsi 2, gw kagak akan segen lagi". Gw mengancam secara halus.
Suasana hening Lagi untuk sesaat dan mata si gondrong semakin menyala lebar memandang gw dengan api permusuhan yang berkobar hebat.
"Bacot!". Dia berteriak dengan mengebu-gebu.
"Musuh ada di depan mata gw! Gw milih bertarung daripada lari dan jadi pecundang, Mampus loe anjing!".
Dia melesat menghampiri gw dengan semangat dan amarah yang menggebu dan gw pun kembali fokus, ternyata bener dugaan gw.. Orang gila yang otaknya berisi tai ayam akan selalu memilih opsi yang kedua.
Semangat saja terkadang tidak cukup untuk lu bisa ngalahin gw, walau lu punya tekad besar pun belum tentu juga bisa jatuhin gw, terkadang jadi pengecut itu lebih baik untuk bertahan hidup daripada mampus sia-sia. Gw berguman pelan dan bersiap untuk menghadapi serangan yang akan dia lakukan.
Tongkat basebaall dia pegang erat dan "Wuungg..wunggg..wungg!".
"Asuuu!". Gw mengumpat dalam hati terkejut karena gw kira dia akan memukul tapi tanpa gw duga itu tongkat dia lempar dan langsung berputar-putar di udara kek gangsing.
Karena jarak yang sempit dan kurangnya reaksi, itu tongkat langsung menghantam dada gw yang polosan kagak pakai baju.
"Buuugggkk!".
"Ketepuk!". Tongkat baseball jatuh di tanah setelah mencium dada gw.
"Ahhh!". Gw langsung mundur dan memegangi dada yang nyeri dan sakitnya minta ampun.
"Uhuk-uhukk..!". Gw langsung terbatuk karena dada adalah tempat paru-paru, sedikit terguncang pasti nafas akan terganggu.
Gw yang terlalu percaya diri lengah untuk sesaat, memori tadi pagi muncul lagi saat fight di depan indomaret saat ngantar Bianca balik, memory kunci inggris lawan melayang menghantam batang hidung gw dan sekarang terjadi lagi dan kali ini adalah tongkat baseball.
"Hahahahaha.. Mampus loe anjing!". Si gondrong tertawa lebar melihat gw kesakitan, ekpresi wajahnya udah kek udah menang saja.. penuh akan kesombongan.
"Tong jika lu tertawa sekarang pada akhirnya di akhir lu bakalan nanggis". Gw jongjok dan mengambil tongkat baseball di tanah dan langsung berdiri lagi.
"Tong gw akan tujukin gimana caranya gunakan senjata dengan baik dan benar". Gw tersenyum setan sambil mengacungkan tongkat baseball ke arah si gondrong.
"Selama kaki gw masih berdiri dan kedua tangan gw masih bisa gerak, lu masih berada di tepi jurang maut.. Kesombongan lu itu akan berubah menjadi jeritan dan setiap kata yang lu ucapkan akan berubah menjadi tangisan meminta ampun".
Dengan pose gagah gw bicara dengan kagak pakai baju dan ngacungin senjata, gw berasa jadi Kenji di film Crow Zero.. Walau tampang gw kagak seperti Shun Oguri si pemeran utama yang tampan, tapi soal nyali dan skill fight gw kagak mungkin kalah.
Si gondrong melihat gw mengacungkan senjata, dia dengan cepat juga mengambil tongkat baseball yang di jatuhkan si gendut yang masih pingsan atau tidur gw kagak bisa membedakannya karena dengkuran halus gw dengar keluar dari mulut gentong itu.
"Ok tong, mari kita akhiri sekarang juga.. Kali ini akan gw tunjukin ke elu apa itu rasa sakit yang sesungguhnya sehingga lu akan menyesal seumur hidup karena telah bertemu gw.
"Wusssshh!". Udara di belakang gw tersapu saat gw melesat maju dengan kecepatan tinggi, kali ini gw akan menyerang tidak seperti sebelumnya yang bertahan dan menunggu.
Melihat gw yang datang dengan cepat dia pun langsung iku maju menghampiri dengan tongkat baseball di tangannya.
Gw ayunkan tongkat baseball dan dia pun mengayunkannya bersaaman.
"Praaakkk!". 2 senjata bertemu dan beradu di udara menimbulkan suara nyaring.
"Buggggk!". Kaki gw langsung maju menendang lurus di dadanya dengan cepat saat fokus dia masih di adu senjata.
Dia terbawa mundur kebelakang efek dari tendangan gw, walau fight ini adu senjata masih bisa dicampur dengan tendangan dan inilah yang gw lakukan.. Dalam adu nyawa segalanya bisa digunakan sebagai senjata dan bisa mempengaruhi hasil.
Tanpa banyak bicara gw maju lagi dengan cepat.. "Wuuuussss!". Gw mengayunkan tongkat baseball menyamping mengincar tepat di wajahnya.
Dia yang belum seimbang akibat tendangan gw tadi tampak panik dan langsung menyilangkan tongkat baseball yang dia pegang ke depan untuk menghadap serangan gw dan melakukan pertahanan.
"Praaakkk!". Serangan gw ditahan dan 2 senjata kembali menempel dan beradu dengan sengit.
2 tongkat baseball masih di depan wajah si gondrong, saling bergesekan satu sama lain, gw menekan dan dia bertahan.. Gw mendorong dan dia pun mendorong.
Saat ini kita berdua mengadu power kekuatan dan disaat gw berada diatas angin, kaki dia dengan cepat maju dan mendengang lurus ke depan.
"Bugggkkk!".
Gw terbawa mundur 2 langkah dengan cepat menyetabilkan pijakan kaki yang goyah.
"Terima kasih ilmunya guru!". Si gondrong tersenyum mengejek setelah menjiplak gerakan gw.
Dia dengan cepat maju untuk menyerang memanfaatkan keadaan disaat posisi gw belum sepenuhnya berdiri tegak.
Dia mengayunkan senjatanya menyamping dengan cepat dan bertenaga mengincar kepala gw.
Menghindar adalah satu-satunya jalan dan gw langsung menunduk dan jongkok di tanah langsung menyiapkan serangan balik.
"Wuuuuung!". Suara sabetan tongkat baseball seperti tawon, mengenai udara kosong tepat diatas kepala gw.. Udara yang dibawa ayunan tongkat itu membuat rambut gw yang ada dibawahnya menari-nari untuk sesaat.
Gw yang Masih berjongkok dengan persiapan counter langsung dengan cepat mengayunkan senjata penyamping.
"Praaaakkkkk!". Suara tulang kaki kanan dia gw pukul dengan keras dan tepat sasaran.
"Aaaaaaa!". Dia berteriak dan langsung meloncat ke kiri menghindar, menjaga jarak dari gw agar terhindar dari serangan lanjutan yang mungkin lebih berbahaya.
"Mau kemana lu tong! Guru ini masih banyak ilmu yang perlu di ajarkan ke elu!". Gw segera bangkit dan mengejar, ini adalah kesempatan yang gw tunggu kagak mungkin gw lepaskan gitu aja kemenangan yang sudah berada di depan mata.
Tongkat baseball gw pegang erat dan semua tenaga gw kumpulkan jadi satu di tangan, ancang-ancang gw sempurnya dan jika serangan ini kena bakalan langsung mampus dia karena fokus serangan gw adalah tengorokannya, tulang lunak dan rentan saluran pernafasan itu pasti bakalan remuk saat terkena hantaman powerfull dari serangan gw ini.
Mata dia terbelalak dan penuh akan ketakutan kematian yang luar biasa dalam.
Dengan insting bertahan hidup dia segera mundur walau kaki kanannya cidera karena gw hantam tadi dengan cepat dia mengangkat tongkat baseball untuk menahan datangnya serangan kuat dari gw.
"Praaaakkkkk!". Suara benturan 2 tongkat baseball terdengar lagi.
"Wuussss!". 2 tongkat terlempar terbang karena power ayunan gw yang kuat dan si gondrong yang lemah dalam bertahan.
2 senjata itu jatuh dan langsung patah dua-duanya, karena beban benturan yang sangat kuat, sekuat-kuatnya itu tongkat bakalan hancur juga karena hanya terbuat dari kayu.
"Buggkkk!".
"Buggkkk!".
"Buggkkk!".
Tanpa menunggu lama gw langsung mengunakan tinju untuk menyerang.
Bogem gw menghantam wajahnya kiri kanan kiri kanan, si gondrong glagapan terombang ambing oleh pukulan gw yang membabi buta dan brutal tanpa ampun dan belas kasih sedikitpun, karena ini adalah adu nyawa jika kagak dia ya pasti gw yang hancur.
Darah muncrat dari mulutnya disaat pukulan gw jatuh di wajahnya berkali-kali.
"Buggkkk!". Bogem kiri gw melayang dan wajahnya langsung menengok ke kanan dengan darah yang terbang di udara.
Pukulan kanan gw melayang menunju sasaran tapi dengan sisa tenaga dia langsung mengangkat kedua tanganya, bertahan dan mengcover melindungi wajahnya dengan erat sambil menunduk seperti petinju yang sedang bertahan dari serangan lawan di atas ring.
Walau dia bertahan gw tetap menyerang, tidak masalah terkena tangannya.. Yang pasti gw ingin memojokan dia dulu, membuat dia semakin panik dan putus asa.
Ayunan bogem gw terus maju dan menyerang, dia mundur dan gw ikuti dengan serangan terus menerus ke wajahnya.
"Tahan ya tong". Gw berucap dan "Praaakkk!". Kaki gw dari bawah menganyun ke depan masuk ke s.e.l.a.n.g.k.a.n.g.anya.
"Engg ekkk!". Suara di tertahan dan kedua tangan yang menutupi wajah seketika jatuh.
Wajah dia yang sudah bonyok gw hantam terlihat sangat menyedihkan, bibirnya melengkung ke bawah kek bayi yang mau nangis dan suara yang gw tunggu akhirnya keluar juga.
"Aaaaaaa!". Dia langsung memengangi batang dan bijinya yang gw tendang, teriak kesakitan dan jingkrak-jingkrak kek kuda lumping yang kesurupan.
Gw langsung hampiri dan jambak rambut panjangnya hingga dia mendongak ke atas.
"Berisik lu tong!".
Gw langsung tumbuk mulut, hidung dan matanya dengan sadis dan brutal kembali, gw udah kek psikopat gila kalau seperti ini yang terlalu bersemangat dan menghayati peran.
Tanpa perlawanan dia terkulai dengan loyo masih berdiri dan gw pegang rambutnya, dia akan jatuh karena kedua kakinya tidak bisa menopang tapi dengan cepat gw tarik rambutnya lagi dan membuat dia berdiri sempoyongan dengan tubuh yang bergoyang-goyang.
"Gimana tong ilmu dari guru? Udah ngerti kan lu?!". Gw bicara di depan wajahnya yang udah kagak terbentuk.
"Ampu.. Uhukk-uhuk, ampun jangan bunuh saya.. Uhuk-uhuk". Setiap kalimat yang dia ucapkan di iringi dengan batuk darah segar.
"Murid kurang ajar! Darah lu kena tubuh gw anjing!".
"Bugggkkk!". Gw hantam dagunya dari bawah yang membuat di langsung jatuh terlentang di tanah tanpa daya.
Gw menghapus noda darah si gondrong yang nyiprat di dada, "Tong jangan minta ampun duku lu, pelajaran kita belum selesai ini". Gw berucap dan menyeringai jahat, berjalan mengambil dan mengangkat kaki kirinya, tanpa perlawanan dia tampak pasrah dan memejamkan mata, mungkin tau apa yang akan gw lakukan selanjutnya.
"Tahan ya tong! Sakitnya kaki patah cuma kek digigit semut kok". Gw dengan serigai jahat mengibur.
"Bos jangan bos.. Jangan! ampuni adik saya bos!".
Disaat gw akan memutar kaki si gondrong suara familiar terdengar di tengah-tengah kesunyian, gw menengok ke samping melihat si gendut yang telah tersadar dari pingsannya.
"Bos ampuni adik saya Bos, tolong". Dia merangkak kek babi dengan air mata berlinang menghampiri gw.
"Gw bukan bos lu setan!". Gw langsung mengumpat kejam.
"Ampun saya salah, saya hanya sampah tolong.. Tolong lepaskan kami". Si gendut berhenti merangkak dan bersujud 3 meter di depan gw dengan wajah yang nempel di tanah.
"Dimana tingkah lu tadi yang mau bunuh gw anjing! Sekarang lu malah minta ampun, cuihhh!". Gw meludah kasar.
"Emang gw biksu Tong yang suka berbelas kasih!". Cibiran keluar dari kalimat yang gw ucapkan.
"Ambil motor saya bang.. Ambil saja sebagai ganti rugi dan permintaan maaf dari saya tapi tolong.. Saya minta tolong sekali jangan patahkan kaki adik saya". Si gendut mendongak melihat gw menangkupkan kedua tangan meminta belas kasih.
"Kakk? Uhuk-uhuk.. Jangan memo.. Uhuk-uhuk.. Hon lagi kak". Dengan suara tersengal-sengal si gondrong yang sudah tidak berdaya membuka mata menatap si gendut.
"Tidak adik tidakk! Kakak akan memohon kalau perlu mengantikan posisi kamu".
"Bang patahkan kaki dan tulang saya saja sebagai gantinya dan tolong lepaskan adik saya". Si gendut memohon lagi.
"Tidak ada negosiasi tong! Pintu negosiasi telah tertutup rapat sejak kalian serang gw, dan juga hati gw kagak lemah dan termakan acting sampah kalian ini.. Tunggu saja giliran lu setelah gw patahin kaki dan tangan adik lu ini, selanjutnya adalah kaki dan tangan lu yang bakalan gw buat bergeser itu tulangnya". Senyum jahat nan sadis gw tampilkan.
"Brummm... Bruumm.. Brummm.. Citttttt!".
Gw akan memutar mematahkan kaki si gondrong yang telah gw kunci dari tadi tapi lagi-lagi dikejutkan dengan sebuah suara yang menyela.
Kali ini adalah suara motor berhenti di pinggir jalan dengan suara remnya yang berdecit kek tikus kejepit pintu.
Gw auto waspada melihat 1 orang dengan wajah yang tertutup helm hijau turun dari motor.
Motor itu.. Postur tubuh dan pakaian yang dikenakan, seperti mirip seseorang.. Gw memutar mata untuk mengingat-ingat.
Dengan tergesa-gesa dia berjalan menghampiri gw dengan wajah yang masih tertutup helm.
Helm hijau?! Akhirnya gw tau dan seketika mengingat betina yang baru aja gw cuekin di hotel JambuWuluk tadi, Ayam perawan yang datang terlambat sampai 4 jam dan tidak lain tidak bukan dia adalah Luzy.