Preman Campus

Preman Campus
PEMBAGIAN WILAYAH


Sinar mentari masuk melalui atap genting kamar gw yang berlubang dan untungnya ini musim kemarau jadi yang masuk kagak air hujan.


di dalam kamar kost yang sederhana ini 2 anak manusia berlawanan jenis berada di atas kasur tanpa kaki alias lesehan.


Dengan sang wanita yang berada tepat di atas tubuh sang pria menampilkan pemandangan yang sangat erotis bagi siapa saja yang melihatnya.


Pria yang sangat beruntung itu tidak lain tidak bukan adalah gw dan sang wanita yang kagak beruntung itu adalah Amora.


Sebagai laki-laki normal dengan posisi seperti ini tentu membuat darah gw berdesir yang semula dingin sekarang menjadi begitu panas.


Gw kagak bodoh jadi langsung tau benda kenyal apa yang sedang menempel dan menekan dada gw ini karena itu juga membuat batang tak bertulang di bawah sana, bergerak-gerak dengan sendirinya seakan-akan terbangun dari tidur lelapnya.


Amora langsung beranjak dari atas tubuh gw, dia duduk sementara gw masih rebahan.


Amora membenahi posisi baju dia yang sedikit berantakan dengan pandangan mata yang selalu melihat gw.


"Apa mksud kamu Bim, kamu mau pacaran sama aku backstreet?".


"Apa aku terlalu memalukan ya untuk jalan di samping kamu di keramaian?".


"Kenapa kita harus sembunyi-sembunyi segala, hubungan kita kan tidak menggangu orang lain?".


Amora terus saja berbicara protes tanpa henti setelah gw mengatakan ingin pacaran backstreet.


Gw masih rebahan dan meletakkan tangan kanan di bawah kepala untuk bantal sambil mendengarkan Amora yang terus saja ngoceh.


"Bimo kok kamu diem aja? jawab dong!".


"Kamu aja bicara tanpa titik dan koma gitu, mana bisa aku ngejawab". Jawab gw santai sambil melihat Amora yang duduk di kasur samping kiri gw.


"Masih untung enggak aku sentil kening kamu karena terus saja menerka-nerka hal yang enggak masuk akal".


"Ya udah cepet apa katakan apa maksud kamu yang ngajak aku backstreet itu".


Gw bangkit dan langsung duduk bersila di depan Amora, gw pasang wajah seserius mungkin.


"Amora cantik". Gw awali kalimat gw dengan pujian. "Yang pacaran kan kita berdua, yang menjalani juga kita berdua. Kenapa harus mengumbar kemesraan kita di khalayak umum?".


"Kan supaya semua orang tau kita ini pasangan Bimo, agar tidak ada orang yang salah paham nantinya".


"Kamu nyakin dengan yang kamu ucapkan itu?".


"Aku yakin!". Amora mengangguk cepat.


"Nyakin kita masih bisa bersama jika orang tua aku tau hubungan kita? Kalau orang-orang tau pasti orang tua aku juga pasti tau Amora, apalagi Ayah yang selalu menempatkan mata-mata untuk mengawasi kehidupan aku disini".


Amora terdiam untuk sesaat di seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Cantik, kamu belum kenal Ayah dan Bunda aku. Mereka tidak sesederhana yang kamu kira".


Ayah bunda maafkan putra kalian yang tidak tau di untung ini, hanya kalian berdua yang bisa Bimo jadikan alasan. Gw bicara dalam hati menyesal.


"Apa kamu sudah di jodohkan dengan wanita lain yang setara dengan keluarga kamu Bimo?". Amora berucap dengan raut wajah sedihnya.


"Tidak aku enggak dijodohkan sama siapapun". Gw langsung menjawab cepat yang membuat raut wajah sedih Amora langsung menghilang.


"Aku minta kita backstreet dulu itu karena ingin pelan-pelan hati-hati dan sedikit demi sedikit bawa masuk kamu ke keluarga aku dengan persiapan matang juga tentunya".


"Jika hari ini kita umbar status pacaran kita, besok pasti kamu sudah ada di depan orang tua aku, apa kamu sudah siap dengan itu?".


Amora mengelengkan kepala nya pelan dan menatap gw sendu.


"Maka dari itu kita pacarannya backstreet dulu, maaf karena aku sebagai cowo ngecewain kamu dan enggak bisa perjuangkan kamu". Wajah sedih gw tampilkan untuk mendukung acting gw yang sudah sangat keblalasan ini.


"Kamu gak salah Bimo, harusnya aku yang ngertiin posisi kamu. Aku lupa karena kamu bukan pria biasa".


"Aku juga akan berjuang untuk menjadi lebih baik sehingga orang tua kamu terkesan sama aku nantinya".


"Kamu tidak sendirian, aku juga akan berjuang untuk lebih baik kedepannya untuk menjaga hubungan kita dan masalah yang akan kita lalui".


"Selama kamu percaya sama aku nyakinlah kebahagian sempurna akan kita dapatkan di akhir nanti".


"Iya aku percaya sama kamu". Amora tersenyum lembut.


Beban di pundak gw seakan-akan menghilang melihat senyum Amora itu.


"Jadi kamu setuju kita pacarannya backstreet dulu?". Gw bicara, memajukan tangan dan mengelus pelan pipi Amora lembut.


"Iya aku mau". Dia bicara dan tersipu.


Gw langsung menjatuhkan diri kebelakang dan rebahan diatas kasur.


"Bangun Bimo kita belum selesai bicara". Amora menarik tangan gw.


"Aku terlalu senang dan lega karena punya pacar secantik kamu, hingga badan aku lemes".


"Kamu emang paling bisa kalau sudah bicara manis seperti itu".


"Kamu mau bahas apa lagi? aku dengerin sambil rebahan dan jika kamu capek disana".


"Pukk! pukk! pukk!". Gw menepuk dada 3 kali


"Dada aku cukup lebar dan kuat untuk menahan berat dari kepala kamu". Gw tersenyum genit melihat Amora.


"ihhh itu sih maunya kamu!".


"Cuma sentuhan ringan ini, kemarin yang kamu lakukan ke aku lebih parah".


Amora langsung maju melotot dan membungkan mulut gw.


"Aaaacchh!!".


Amora berteriak saat gw menarik tangannya kenceng dan "Brukkk!". Dia jatuh di samping dengan kepala di atas dada bidang yang gw banggakan ini.


"Plakkk!!". Plaaak!!". Plaakk!!".


"Sakit Amora kenapa kamu pukulin perut aku!".


"Kamu buat aku terkejut Bimo!". Dia bicara tapi tidak beranjak bangun dengan kepala yang masih sangat nyaman di dada kiri gw.


"Tenang aku bisa kasih nafas buatan nanti jika kamu terkejut sampai pinggsan".


"aaaaaa!!".


"Sakit Amora, kagak pilih tempat kalau kamu mau cubit aku".


"Kamu sih godain aku terus".


"Aku kan cowo kamu jadi wajar dong cowo godain cewenya?".


"Cewe aku kok diem? kenapa malu ya?". Gw tersenyum saat Amora menyembunyikan wajahnya di dada gw.


Amora kembali mencubit perut gw berkali-kali dan anehnya cubitan dia selalu tepat di perut dan kagak mau nyasar sedikit kebawah dan cubit benda yang bergelantungan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 11:30 gw masih dengan Amora bercanda ria dan saling menggoda layaknya pasangan yang baru saja jadian.


Posisi kita sekarang duduk bersender di tembok dan Amora yang menaruh kepalanya di pundak gw, dengan kaki kami berdua yang selonjoran.


"Bimo sekarang kan kita backstreet terus kita ketemuannya gimana?". Amora bertanya pelan sambil memainkan jari-jari tangan gw.


"Kita kan satu kost, tempat teraman ya kamar kamu dan kamar aku ini, dan nanti jika kita jalan berdua sebisa mungkin tidak menarik banyak perhatian dengan memakai masker dan topi misalnya".


"Ini sudah kamu rencanakan ya Bim? detail banget kamu jawabnya".


"Mana mungkin Amora aku rencanakan, drama-drama idola itu kan model pacaran backstreetnya seperti itu, aku tau karena pernah nonton". Gw bicara setenang mungkin.


"Kalau aku hubungi kamu gimana jika kita lagi gak bersama?".


"Kamu tingal telfon atau kirim pesan kan bisa cantik gitu aja kamu tanyakan, yang penting itu jika ada yang tanya hubungan kita, kamu sudah tau jawabannya".


"Iya aku ngerti, sebisa mungkin aku akan jaga rahasia hubungan kita dahulu". Amora merguman pelan dan gw tersenyum melihatnya.


"Aku juga punya permintaan Bimo". Amora bicara dan duduk tegak dan menatap gw serius, dan entah kenapa perasaan gw jadi kagak enak.


"Permintaan Apa? sebisa mungkin akan aku kabulkan". Jawab gw cepat.


"Jujur aku tidak suka pacaran backstreet seperti ini tapi karena memang keadaan dan situasi kamu yang spesial aku mencoba untuk mengerti karena aku terlanjur sayang dan cinta sama kamu".


"Aku juga sayang dan cinta sama kamu". Dia tersenyum mendengarnya, gw yang aneh dan merasa geli sendiri bicara kek gitu. Masak preman bicara sayang dan cinta biasanya kan umpatan dan makian yang keluar dari mulut gw.


"Terus permintaan kamu apa Amora?".


"Ini tentang skinship Bimo". Jawab Amora cepat.


"Amora kamu mau ajak aku jadi nelayan? skin kan kulit, ship kan kapal kalau kagak salah, apa kamu minta aku beliin kapal?". Gw bertanya dan berfikir ada yang salah dengan isi kepala cewe gw ini.


"Ihhh Bimo kan kamu pangeran masak enggak tau bahasa inggris dan kata skinship?". Amora terkejut dengan jawaban gw.


"Pangeran apaan, kebanyakan baca novel romanca sampah dirimu cantik, enggak semua anak sultan itu pada pinter-pinter dan ganteng-ganteng. Ini bukti nyatanya ada di depan kamu". Gw membusungkan dada dengan bangga.


"Kok kamu malah sombong, harusnya kan iri sama mereka". Amora tampak gemas dengan jawaban gw.


"Ya harus sombong dong, gw yang bodoh dan berwajah pas-pasan gini aja, wanita cantik seperti kamu bisa nembak aku, bayangin aja jika aku pinter dan ganteng. Bukannya semua cewe yang ngelihat aku bakalan nyatain perasaannya".


"Harusnya kamu bangga punya cowo bodoh dan berbawajah pas-pas an gini".


Amora malah senyum-senyum sendiri mendengar gw berbicara, masak baru pacaran sama gw beberapa jam udah gila aja ini cewe.


"Logika yang kamu ucapkan itu ngawur". Amora bicara dan tersenyum. "Tapi entah kenapa aku suka kamu yang seperti ini". Dia mencubit pipi gw dengan gemas.


"Iya dong Bumi kan berputar mengelilingi aku bukan matahari". Gw semakin percaya diri


"Stop sayang, jangan berlebihan nanti jadinya kamu gak tau malu".


Ge cemberut mendengar itu dan tawa dia langsung meledak kembali.


"Jadi skinship itu apa? jika artinya bukan kulit kapal". Gw bicara ditengah tawa Amora.


"Shinship itu kontak fisik Bimo". Jawab Amora pelan dan tampak malu-malu.


"Wahh, udah kagak bener kamu!". Gw langsung berucap tegas


"Maksud kamu apa Bim?". Amora tampak binggung.


"Kita kan pacaran Amora, bukan lagi gelut dan baku hantam masak kamu bahas kontak fisik. Udah gila kamu ya? kalau kamu mau pukul aku silahkan aja, sampai kapanpun aku enggak bakalan bales".


"Bimo kamu baru kali ini kamu pacaran ya?". Amora bertanya dengan raut wajah kasian.


"Iya kenapa? baru ini aku pacaran dan kamu pacar pertama aku". Jawab gw sinis.


"Kok kamu marah". Amora malah tersenyum


"Ya marah lah kamu liat aku dengan tatapan kasian gitu, kek liat anak anjing yang kedingingan di pinggir jalan".


"Kamu sih, mengartikan ucapan aku macem-macem kontak fisik dan skinship maksud aku itu sentuhan kita berdua selama pacaran untuk berperdalam ikatan kita sebagai sepasang kekasih.


Gw langsung terseyum lebar mendengar itu.


"Sayang senyum kamu nakutin aku". Amora geser tubuhnya mundur ke belalang.


"Kenapa takut? senyum imut aku emang seperti ini kok".


"Imut apa? senyum kamu itu seperti srigala yang liat mangsanya".


"Cuma perasaan kamu aja itu, cepat kamu mau minta apa soal skinship atau sentuhan tubuh kita berdua itu". Gw udah terlalu bersemangat.


"Aku ngerti kalau kamu sebagai cowo pasti ingin bersentuhan dengan aku sebagai cewe kamu".


"Iya lanjutakan beb, Bimo disini mendengarkan". jawab gw cepat.


Amora terlihat senang gw panggil beb. "Aku mau minta batasan dan kamu untuk menahan diri Bim".


"Batasan apa?".


Amora malah terdiam dan tampak ragu untuk berbicara.


"Kamu bicara aja, semua permintaan kamu pasti akan turuti sebagai wujud permintaan maaf saat ajakin kamu backstreet".


"Saat kita masih dalam tahap backstreet, wilayah sentuhan kamu hanya boleh leher ke atas, saat kita sudah sudah pacaran normal dan semua orang tau hubungan kita, leher kebawah sampai perut dan disaat kamu sudah sematkan cincin di jari manis aku, semuanya milik kamu seorang". Amora bicara dengan muka semerah cat nippon pain.


"Heeeeeeeee!!!". Mulut gw terbuka lebar tapapan kosong dan mata berkunang-kunang mendengar itu.