Preman Campus

Preman Campus
HURAAAA!!


"Cepat apa Bie?". Gw bertanya dengan memutar mata bingung menatap Bianca.


"Cepat kasih mereka pelajaran lah sayang, udah lancang banget gitu bicaranya". Bianca bicara enteng banget dan nampak kesal raut wajah dia.


"Kamu enggak lagi ngigau kan Bie? setau aku kepala kamu enggak kebentur apapun, kamu kan harusnya takut".


"Kenapa aku harus takut kan ada kamu disini dan aku percaya sama kamu, saat lindungi aku melawan orang membawa pedang, tongkat dan palu aja kamu bisa menang. Mereka kan cuma memakai sarung kamu tendang juga terbang itu".


Gw kagak tahan untuk tidak tertawa mendengar perkataan Bianca, percaya banget keknya dia sama gw.


"Sayang kok malah tertawa kamu, itu liat mereka bertiga melotot ke arah kita. Jika kamu diem aku akan hubungi kakak ini".


"Santai Bie ngapain juga kamu hubungi Joko, pacar kamu ini bisa atasi kalau cuma mereka bertiga".


"Berani ya kamu panggil kakak gitu, mau aku bilangin apa kamu bilang sendiri?". Bianca tersenyum mengancam gw.


"Heii kalian manusia tidak beradap! Ngapain bisik-bisik mau kabur kalian hah?!".


"Ngapain juga gw kabur! cuma kalian bertiga ini, lu pada mau apa sekarang berhubung ini udah malam dan mulai sepi ini tempat, gimana kalau kita adu nyawa?!". Gw maju satu langkah dan meregangkan badan gw ke kiri dan ke kanan.


Mereka bertiga malah mundur satu langkah dan langsung saling berpandangan satu sama lain kek orang bego.


"Ngapain kalian mundur?! Katanya mau berbuat kasar, ayo sini maju! langsung aja kalian bertiga sini, kagak ngapa-ngapa saya masuk penjara sekali lagi karena ngebunuh orang". Intimidasi gw lancarkan.


"Kamu berani ya sama kita?! Kamu tidak tau kita siapa dan dari mana?!". Pria berwajah hitam membalas.


"Bego lu ya?! Ngapain juga gw kepo sama orang gak guna kek kalian! kagak usah banyak cincong lah, sini maju!" Gw menantang tanpa rasa takut.


Gw maju lagi satu langkah bangsatnya mereka malam mundur lagi satu langkah.


"Bangsat! Lu bertiga mau adu nyawa apa ngajak bercanda anjing! Gw maju lu malah pada mundur, ini bukan acara komedi sialan!". Gw mengumpat kesal.


Wajah mereka bertiga tampak tengang dimana coba bacot mereka yang mau arak telanjang gw.


"Tunggu disini kamu kalau berani!". Si pendek bicara sambil nunjuk gw.


"Babi cebol! upil kadal! Lu kagak liat gw di sini nantang kalian kenapa lu pada suruh gw nunggu kampret?!".


Mereka saling memandang lagi dan saling menganggukan kepala perasaaan gw jadi kagak enak.


Mereka mengambil ancang-ancang, gw pun siaga penuh siap dengan kemungkinan apapun.


Gw tunggu sampai mereka melesat duluan baru gw melesat menyambut.


Rencana sudah gw susun matang di dalam otak, target pertama gw adalah si hitam kedua adalah si jangkung dan terakhir si pendek itu.


Gw akan menyerang dengan tendangan, mereka bertiga memakai sarung jadi pasti akan memainkan pukulan. Mau nendang pasti juga kejengkang duluan.


Gw menunggu tapi mereka kagak maju-maju padahal sudah pasang kuda-kuda.


Gw tetap tenang dan fokus. "Sayang hati-hati". Bianca memberi peringatan ke gw dari belakang.


Gw diem aja kagak ngejawab. "Sayang semangat!". Kali ini Bianca menyemangati gw.


Santai banget yak itu cewe gw, bisa-biasanya kasih semangat cowonya yang mau adu nyawa.


"Kyaaaaaaa!!". 3 orang itu berteriak bersamaaan.


"Huraaaa!!". Gw juga beteriak kek beruang.


Mereka melesat gw juga langsung melesat.


"Kampret! Gw disini anjing! Kenapa lu pada lari kebelakang!". Gw berteriak sambil berlari.


Katarak keknya mereka bertiga, gw kan ada di depan kenapa mereka lari kebelakang?.


Gw terus berlari. "Mau kemana kalian anjing! Gw disini!". Gw terus berteriak mengingatkan karena mereka salah arah.


Otak isi lem gw segera sadar, apa trio wek-wek itu pada kabur yak? Sialan kecolongan gw.


Pengecut bacot doang ditantang adu nyawa pada ciut.


Gw meraung marah, gw kejar mereka bertiga.


Tapi terlanjur basah, kaki gw kagak bisa berhenti lari.


Mereka bertiga lari dengan sarung dengan cepat bisa gw kejar.


Si jangkung dan si pendek lari di depan, si hitam yang tubuhnya lumayan lebar tertinggal.


Gw semakin mendekat, gw tersenyum setan saat bisa menjangkau si hitam.


Gw terbang tendangan 2 kali gw lancarkan dari belakang tepat di punggung si hitam.


"Brukkk!!". Auto di jatuh nyungsep ke depan.


Gw yang ikut jatuh langsung berdiri, badan gw kotor semua karena tanah basah abis hujan.


Si hitam merangkak dan mencoba untuk berdiei dan lari, langsung aja gw injek punggungnya.


"Ahh!". Tolong!". Suara dia ketahan.


"Praaakkk!". Gw tendang kepalanya hingga di berguling yang semula tengkurep di tanah sekarang berbalik menghadap atas.


Gw langsung duduk di atas perutnya.


"Plaaak!". Plakk!! Bugggkk!!". 2 kali tamparan dan 1 kali bogem mentah mendarat dengan sempurna di wajah si hitam.


Dia meraung kesakitan darah mulai keluar dari hidungya.


Menatap gw ketakutan dengan air mata mengalir deras.


"Ennngggg!! Amp..!". Gw cekek dia sebelum melanjutkan bicara.


Si Jangkung dan si pendek melihat gw menganianya temannya dari jauh.


"Banci sini kita pesta sama-sama, temen lu ini keenakan gw cekek! Lu pada kagak pengen?". Gw berteriak.


Orang dibawah nepuk-nepuk tangan gw yang nempel di leher dia.


"Ayo sini, kenapa bengong kalian!". Gw tertawa terbahak-bahak ke orang gila.


Mereka malah lanjut lari lagi dan kabur, gw geleng-geleng kepala liatnya.


Temen macam apa coba yang kabur ninggalin temennya dalam masalah. Percuma pada belajar di pesantren. Gw geleng-geleng kepala melihat 2 manusia fana yang kabur itu.


Gw melihat ke bawah, si hitam megap-megap dengan mata melotot kek mau mampus. Segera gw lepas cekekan gw di lehernya dan berdiri.


"Uhukk-uhuuk! Uhuk-uhuk!". Dia langsung terbatuk sambil memegangi lehernya berguling-guling menjauh dari gw.


"Tolong cukup, sudah-sudah! saya minta maaf. Apa kamu tidak takut dosa?". Dia bicara ketakutan saat gw menghampiri dia lagi.


"Kagak usah banyak bacot! Lu kan yang mulai? Sekarang gw bersemangat lu malah ngomongin dosa".


Dia langsung menduduk dan sujud di bawah kaki gw dengan tertarih.


"Ampun tolong ampun! Saya menyesal tolong!".


Gw jongkok dan jambak rambut dia hingga kepalanya mendongak ke atas.


"Gw ampuni lu bukan karena gw kasian tapi karena Labibah faza khairunnisa, lu tau kan siapa dia".


Dia melotot terkejut melihat gw.


"Aaaaaaa!". Diteriak saat gw kencangkan jambakan di rambut dia.


"Kalau ditanya itu jawab anjing!". Gw membentak.


"Iya saya kenal..saya kenal". Dia menjawab sambil menahan sakit.


"Tolong sampaikan salam rindu gw, bilang aja dari Bimo". Sekarang lu cepat enyah dari pandangan gw.


Gw berdiri dan dia langsung merangkak berdiri dan berlari sambil mengangkat sarungnya.


"Sayang kamu apain itu tadi sampai dia lari seperti itu?". Suara Bianca terdengar dari belakang.