
Di moment yang begitu romantis ini, disaat kedua mata gw dan nying-nying saling bertemu dan memandang lekat.
Pelan gw mulai memajukan wajah mendekati wanita cantik yang berdiri di depan gw dan tentu saja pelabuhan yang hendak gw kunjungi adalah bibir tipis nan ranum milik nying-nying.
Sebuah ciuman yang akan menjadi awal terbentuknya hubungan kita dan sebuah ciuman yang menjadi tanda kepemilikan satu sama lain. Sebuah tindakan yang kami lakukan atas dasar suka sama suka.
Seakan mengerti dan tau apa yang akan gw lakukan, nying-nying pelan-pelan menutup kedua matanya.
Tidak ada nafsu yang gw rasakan hanya bukti kasih sayang yang ingin gw tunjukan, segala fikiran kotor dan negatif gw buang dan hanya ingin menikmati moment indah ini bersama nying-nying.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Gw mememiringkan kepala di saat bibir kami mulai bersentuhan.
Sensasi empuk dan kenyal gw rasakan saat bibir kami bersatu untuk pertama kalinya.
Tubuh gw berasa teraliri aliran listrik kecil-kecil yang membuat semua indra gw menyala dan perasaan senang campur bahagia gw rasakan.
Bagai pupuk bagi tanaman, bibir nying-nying serasa mengidupkan akar pohon hati gw yang telah layu.
Pelan tapi pasti kedua tangan nying-nying naik merangkul ke leher belakang gw, mengusap pelan rambut dan leher.
Begitu juga dengan tangan gw pemegang pinggang nying-nying yang raping.
Tanpa komando bibir kami yang saling menempel, pelan-pelan bergerak saling m*lum*at dengan ritme yang masih terjaga dan nafas yang masih teratur.
Lambat laun suara kecupan bibir kami menggema di dalam ruangan.
Disaat aliran darah kami mulai naik saat itu juga intensitas dan kecepatan l*m*tan bibir kami berdua beralih dari sedang menjadi tinggi.
Nafas kami yang semula teratur sekarang semakin memburu bersamaan dengan bunyi erotis l*m*tan kami yang terdengar di seluruh ruangan.
3 menit terlewati bibir gw pun mulai basah, begitu juga dengan bibir nying-nying.
Tidak ada tanda-tanda dari kami yang akan berhenti, Gw dan nying-nying tau kami melakukan ini atas dasar cinta dan kasih.
Intensitas l*m*tan kami naik kembali dari tinggi menjadi brutal, seiringan dengan tangan nying-nying yang menekan leher gw untuk memperdalam ciuman dan l*m*tan kami.
"Cup!".
"Engg!".
"Hemm!!".
"emmm!".
'Cupp!'.
Segala macam bunyi muncul akibat dua benda lembut yang bertemu.
"Tok..!".
"Tok..!".
"Tok..!".
Samar gw mendengar suara ketukan pintu disaat gw dan nying-nying masih beradu bibir.
"Kak aku masuk ya?!". Suara wanita dari luar pintu terdengar.
Auto mata gw terbuka lebar begitu juga dengan kedua mata nying-nying saat terdengar suara dari luar pintu.
Kami saling memandang di saat bibir kami masih menempel dan bergerak m*l*mat.
"Criek!". Suara pintu di buka dari luar dan nying-nying melebarkan matanya.
Nying-nying melepaskan tautan bibirnya dari bibir gw.
"Nyong maaf". Nying-nying berucap pelan.
"Maaf a..".
"Heeehh!". Sebelum gw mencerna situasi dan ucapan nying-nying, tubuh gw terdorong ke belakang dengan cepat.
Gw mau teriak kesakitan dan mengeluh tapi nying-nying sudah kagak ada di depan gw.
Gw bengong kek orang bego saat tau nying-nying malah duduk di sofa dengan santainya.
"Nyong-nyong! Kamu cari kecoak aja lama banget! cepat cari aku paling takut sama kecoa". Nying-nying bicara dengan suara keras dan lantang.
Kesurupan apa yak ini cewe gw, kecoa apaan coba. Otak gw yang isinya air doang kagak ngarti apa yang sedang diucapkan nying-nying.
"Kakak kenapa teriak-teriak seperti itu?". Suara wanita dan suara langkah kaki mendekat ke arah kami.
Suara yang sangat familiar, suara resepsionis baru butik Shinta yang tidak lain adalah adiknya nying-nying.
"Kamu! Kamu ngapain disana?!". Nina memegang nampan minuman dan terkejut melihat gw yang masih tiduran di lantai.
Apa lagi karena kakak lu lah yang bar-bar itu, dorong gw seenak jidatnya. Suara hati gw yang dongkol.
"Dia lagi cari kecoak dek". Nying-nying menjawab dan memutus pandangan gw dengan Nina.
"Cari kecoa? Cari kecoa kok posisinya aneh gitu kak? Lagian emang ada kecoa di sini?". Nina melihat gw dan nying-nying bergantian seperti orang yang sedang mencurigai sesuatu.
"Ada kok, kecoanya besar banget tadi dan hampir aja sentuh kakak". Nying menjawab dan berusaha tenang.
"Iya kan nyong tadi ada kecoa besar banget?". Nying bertanya sambik melotot ke arah gw yang masih nyaman tiduran di lantai.
"Iya kecoaknya gw tadi?".
"Apa?!". Nina terkejut seketika.
"Nyong-nyong!". nying-nying berucap dengan pandangan mengintimidasi.
"Sorry maksudnya kecoaknya gw yang cari ini tadi tapi keknya udah kabur". Pelan gw bangun sambil memegangi punggung.
"Oh seperti itu". Nina berucap datar, gw kagak tau dia percaya apa kagak dengan acting kakaknya yang sangat tidak menyakinkan ini.
Gw langsung duduk di sofa panjang melihat 2 wanita yang mempunyai bentuk tubuh yang hampir mirip.
"Dek kok kamu yang membawa minuman? Tadi kan kakak suruh anak pantri?". Nying-nying pinter banget mengubah topik pembicaraan.
"Iya tadi saat kakak telfon aku ada di pantri jadi aku yang ngantar ini minuman sama mau ketemu kecoak". Jawab Nina sambil melirik gw.
Nying-nying terlihat salah tingkah sendiri terlihat dari cara dia duduk yang mulai kagak nyaman.
" Oya Kecoaknya nakal ya kak?". Nina bertanya dengan senyum penuh arti memandang gw dan nying-nying bergantian.
"Hee! Oh iya anu, iya nakal kecoanya". Jawaban panik dari nying-nying membuat Nina semakin curiga.
"Emang ya kak kecoa itu paling suka sama lipstik". Ucap nina pelan dan gw langsung sadar saat melihat bibir nying-nying yang belepotan karena lipstik yang dia pakai luntur akibat ulah gw dan menyebar ke samping.
"Maksud kamu apa dek? Lipstik apa?". Nying-nying bertanya bingung.
Nina tidak menjawab tapi langsung memandang gw lagi.
Fuuuuu..!".
"Fuuuu!".
"Fuuuu!".
Gw yang grogi dipandang kek gitu mencoba menengok kesamping dan bersiul dan sialnya siulan gw kagak bunyi malah terdengar sepeti orang niup udara.
"Kenapa ruangan ini jadi gerah banget ya? Nying-nying Ac ruangan kamu mati ya?". Gw berucap pelan tanpa memandang nying-nying dan Nina.
"Mungkin karena musim panas ini nyong Ac nya jadi rusak, hehehe". Jawab nying-nying pelan dan tertawa garing.
"kak Sandiwara kakak masih buruk saja sejak dulu, apa hubungannya coba Ac mati dengan musim panas".
"Mending kakak bercermin saja dulu dan liat wajah kakak sekarang seperti apa".
"Emang ada apa dengan wajah kakak?". Nying berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.
Dia mengambil cermin dari dalam tas dan saat itu juga raut wajahnya berubah setelah melihat lipstik di bibirnya yang luntur.
"Dek kakak bisa jelasin, kamu tunggu disini sebentar dan jangan pergi". Nying-nying berbicara dan tanpa menunggu jawaban Nina dia langsung berjalan cepat ke toilet membawa alat make up.
Gw melihat Nina yang menggelengkan kepalanya memandang Nying-nying, disaat dia melihat gw lagi dan pandangan kami bertemu. Gw langsung menengok kesamping dan berusaha untuk bersiul kembali yang kagak pernah keluar bunyinya.