
"Sayang kenapa diam cepat makan itu keburu dingin nanti sotonya, kamu enggak akan marah lagi kan?". Amora memandang gw curiga.
"Enggak kok ngapain juga aku marah". Jawab gw datar tanpa memandang Amora dan masih fokus memandang mangkuk soto mini di depan, menahan untuk kagak gw ambil dan gw banting langsung di lantai.
"Kalau gak marah kenapa nafas kamu memburu gitu seperti orang yang lagi emosi? Ada yang buat kamu enggak srek lagi ya?". Amora sangat teliti dan bisa menebak dengan tepat.
"Enggak emosi kok cuma lagi gemes aja sama mangkuknya ini, imut banget dan lucu". Gw berusaha nahan ini amarah yang mau meledak.
"Hehehe makanya ini soto viral sayang, aku dan semua orang juga berfikir seperti itu".
"Iya ini soto memang beda dari yang lain Amora, cepat makan dan kita langsung cabut". Gw kagak mau lama-lama disini dan ingin cepet-cepet minggat.
"Iya selamat makan sayang". Amora mulai memejamkan mata dan berdoa, setelah itu dengan pelan dia mulai menyendok soto yang porsinya cuma se uprit itu.
Sementara gw hanya diam saja memandang Amora makan dengan sangat lahap dan enggak ada 1 menit udah selesai makan dia.
"Ahhhh.. Enaknya kalau enggak diet aku akan pesan lagi ini". Amora berguman pelan setelah menselesaikan makannya.
"Sayang kok belum makan kamu?". Amora memandang mangkuk di depan gw yang masih belum gw sentuh.
"Iya maaf terlalu terpesona sama cara kamu menikmati soto ini aku".
"Hehehe, apa sih sayang orang makan kok dilihatin.. Cepat makan aku ambilin sendok ya?".
"Enggak usah Amora". Gw langsung mencegah saat Amora akan mengambil sendok yang telah ditempatkan banyak di atas meja di dalam sebuah kotak kayu panjang.
"Kok enggak usah, terus kamu makannya gimana?". Amora menatap gw bingung.
Gw cuma tersenyum kecil dan langsung mengangkat mangkuk soto mini diatas meja.
"Sayang kamu mau ngapain?!". Amora terkejut seketika tapi gw bodo amat.
Saat ini sisi mangkuk udah ada di bibir gw dan dengan membayangkan Arak di dalam otak, langsung gw telen soto tanpa mengunyah.
"Glukk!".
"Glukkk!".
2 x tegukan udah kosong melompong abis kagak tersisa.
"Triingg!". Gw lempar pelan mangkuk ke atas meja.
"Amora kenapa kamu liatin aku kek gitu? Kamu juga terpesona ya dengan cara makan aku?". Gw bertanya datar tanpa ekpresi sambil mengaduk teh tawar di atas meja.
"Iya terpesona? Sampai enggak bisa berkata-kata aku liatnya, bukannya di kunyah dulu baru di telan.. Ini kamu makan seperti orang yang lagi minum air, kalau kamu tersedak gimana coba?".
"Yang penting kan udah masuk perut kan sayang dan juga males ngunyah aku". Jawab gw santai.
"Orang makan kok males ngunyah baru ini aku liat yang seperti ini". Amora mengelengkan kepalanya atara takjub dan tidak percaya.
Tidak berselang lama gw dan Amora keluar dari Rumah makan setelah membayar dan berjalan lagi menuju mobil.
"Sayang kamu tau gak tadi kita makan abis berapa?". Amora bertanya dengan riang sambil menggandeng tangan gw.
"Abis berapa emang?".
"Kamu tebak dong kan aku yang tanya kok malah kamu balik tanya?".
"30 ribu ya?". Gw asal nebak.
"Deng! Salah". Amora dengan cepat menjawab.
"40 ribu". Gw menebak lagi.
"hehe.. Masih salah sayang". Amora tersenyum kecil.
"Berapa dong? Mahal ya? Mau aku ganti uang kamu".
"Apa sih sayang kan aku yang traktir kamu, enggak mahal kok cuma habis 20 ribu kita tadi, gimana murah kan?".
"Serius cuma 20 ribu?". Tanya gw tidak percaya.
"iya sayang cuma 20 ribu soto 2 cuma 14 ribu dan teh tawar 2 cuma 6 ribu". Amora merincikan harga.
"Wajar juga sih kalau murah gitu, porsinya aja cuma segitu".
"Tadi kan aku udah bilang dan tawari kamu di awal 1 mangkuk kurang apa enggak kamu bilang cukup 1 mangkuk aja".
"Iya kan awalnya aku enggak tau kalau porsinya kek makanan kucing".
"Kapan-kapan kalau kita kesini lagi kamu mau berapa mangkuk?". Amora bertanya dengan antusias kagak tau gw lagi males ngomong.
"Biarlah takdir yang menentukan Amora, sejatinya manusia tidak tau akan masa depan".
"Ihh sayang kok jawabnya gitu?".
"Udah enggak usah bahas itu soto lagi, mau nyebrang jalan kita ini.. nyawa lebih penting dengan soto viral kamu itu".
"Ayo kita nyebrang mumpung sepi!". Tanpa menunggu jawaban, gw langsung tarik tangan Amora menyebrang dan langsung berjalan ke parkiran Toko emas cik ****.
Amora langsung masuk dari pintu samping kemudi dan gw yang kagak bisa nyetir dengan nyaman duduk di kursi penumpang.
"Kita balik ke kost ini sayang?". Amora bertanya sambil memasang sabuk pengaman.
"Kamu lupa ya jika di kost ada motor yang ancur karena kamu lempar batu? Mau dituntut kamu jika 2 orang itu masih disana?".
"Oh iya, jadi gimana dong sayang ini aku? Kalau berangkat kerja juga udah telat banget dan sudah jam 9 ini". Amora tampak kawatir.
"Ya sesuai rencan awal aja, biar aku yang balik sendiri ke kost dan nanti turunin aku agak jauh dari gerbang biar aku atasi masalahnya dan kalau udah beres nanti aku kabari".
"Ya udah kalau gitu nanti aku ke kost kak Lulu saja sampai dapat kabar dari kamu". Amora dengan idenya.
"Gitu juga bagus tapi nanti aku langsung OTW blora lho ya kalau abis selesaikan masalah ini, udah telat banget juga aku".
"Iya sayang, kita jalan sekarang". Amora dengan cepat menyalakan mesin mobil dan mulai melaju dengan kecepatan normal.
Gw menengok ke belakang dan mengambil tas gw yang kemarin tertinggal di bawah jok belakang.
"Itu tas kamu sayang? Kenapa bisa ada disitu?". Amora menengok sebentar bertanya dan kembali melihat ke depan.
"Iya kemarin ketinggalan karena kelupaan aku bawa turun". Jawab gw jujur.
"Kok kelihatannya berat banget gitu emang apa isinya? Bukan buku kan itu?". Amora menebak.
"Kok kamu tau ini bukan buku?".
"Ya taulah walaupun kamu kuliah dengan kepribadian kamu mana mungkin pernah bawa buku".
"Teriama kasih atas pujiannya". Gw tersenyum.
"Itu sindiran sayang bukan pujian!".
"Hehe, semua yang keluar dari bibir manis kamu udah aku anggap pujian Amora".
"Gombal! apa jangan-jangan itu tas isinya minuman keras ya?". Amora menebak.
"Minuman apa? Enggak lah ... Ini isinya cuma kunci inggris sama uang saja". Gw menunjukan isi tas ke Amora.
"Ini kunci inggris kenang-kenangan dari teman dan mau aku pajang di kamar kost sayang".
"Teman seperti apa yang beri kenang-kenangan kunci inggris? Aneh banget". Amora tampak tidak percaya.
"Ada 2 temen baru dan kenalan di depan indomaret karena ini kunci inggris adalah benda pertama yang bisa hantam hidung cowo kamu jadi bakalan aku buat kenang-kenangan, hehe".
"Kenapa aku enggak kaget ya? Jika jawaban kamu seperti itu". Amora menjawab datar.
"Hahaha, kalau gitu kamu udah kebal dengan kelakuan cowo kamu yang hobi gelut ini sayang".
"Kebal apa yang kebal, aku itu kawatir tiap hari sama kamu tau gak? tiap hari aku bayangin kamu berantem itu selalu takut".
"Ngapain bayangin aku berantem? Bayangin aja moment kita bertukar air liur kan lebih seru".
"Ihhh sayang aku serius! Aku tabrakin lho ini mobil ke pohon jika kamu bercanda terus". Amora mengancam.
"NGAWUR KAMU! jangan dong anuku kan belum masuk anumu".
"SAYANG!". Amora berucap lantang sampai-sampai hampir buka pintu dan loncat dari mobil gw.
"Ya ampun Amora kegetin abang aja kamu itu, yang halus dong hati abang lemah ini".
"Yang ada itu hati aku yang lemah kalau bayangin kamu ngelakuin hobi aneh kamu itu". Amora mendengus kesal.
"Iya-iya sorry aku salah, harunya aku ngibul aja tadi ya?".
"Apa kamu bilang? Coba ulangi? Kamu mau bohongin aku?".
"Ya aku jawab jujur asal-usul kunci inggris kamu marah gini, ya mending tadi aku bohong aja dan dapat ini kunci nemu di jalan".
"Marah aku itu karena kawartir sayang sama kamu, kamu ngerti gak sih?! Cewe mana coba yang tidak takut dan kawatir jika cowo yang dicintainya berada dalam bahaya tiap hari".
"Iya sayang ngerti aku tapi bisa gak itu kamu jangan injak gas dalam-dalam, aku takut". Gw udah panik sendiri dan memengang erat sabuk pengaman melihat mobil melaju kenceng banget dengan gaya nyetir Amora yang bar-bar.
Amora diam dan untungnya otak dia masih normal dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang, gw langsung bernafas lega.
"Adek Amora jangan cemberut terus dong, abang janji deh akan hati-hati dan tidak gegabah lagi untuk kedepannya dan akan selalu membela kebenaran dan keadilan umat manusia".
Amora tampak tidak kuasa untuk tidak tersenyum dengan kata-kata gw yang nyeleneh. "Kamu ya emang paling pinter buat aku gagal marah, Ok aku terima janji kamu sayang. Jangan pakai kekerasan terlalu sering jika mendapat masalah bicarakan dulu baik-baik".
Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kata-kata Amora, dunia ini tidak se indah yang kamu kira.. Begitu juga dengan para penghuninya tidak semua manusia itu baik dan terkadang hanya tinju dan tendangan yang akan bisa menyelesaikan masalah. Jawab gw dalam hati.
"Sayang kok diem, jawab dong.. Malah ngelamun kamu".
"Iya Amora sayang aku akan lakuin saran dari kamu dan kedepannya enggak akan gegabah lagi". Jawab gw halus.
"Nah gitu dong, cowo itu harus nurut sama cewenya". Amora menyunggingkan senyum indah mendengar jawaban dari gw yang sebagian ngibul doang agar kagak cemberut terus itu dia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil berjalan lambat dan berhenti sekitar 50 meter dari kost.
"Kamu turun disini sayang?". Amora mematikan mesin mobil.
"Iya aku akan jalan aja ke sana, aku turun ya? Kamu hati-hati nyetirnya kalau mau ke kost Lulu, nanti aku kabari lagi".
"Tunggu sayang!". Amora memegang lengan gw disaat akan membuka pintu mobil.
"Kenapa lagi sayang? Ada sesuatu yang kamu mau? apa kamu mau uang di dalam tas ini buat jajan es? Ini ambil saja". Gw membuka tas.
"Bukan sayang bukan itu, uang yang kamu kasih kemarin aja masih utuh belum aku sentuh". Amora menolak.
"Lha terus? kamu mau apa?". Tanya gw bingung.
Amora malah diam dan salah tingkah sendiri gw liat, dia memandang gw malu-malu.
"Amora sayang aku enggak bisa nebak kalau kamu diem, aku belum belajar cara membaca ekpresi wajah".
"Kamu kan mau pergi ke Blora sayang, kan kamu enggak jelas berapa lama disana".
"Ya mungkin sekitar 3 hari dan paling lama satu minggu, kenapa memangnya kamu mau minta oleh-oleh?".
"Bukan, bukan itu tapi..". Amora memotong ucapannya membuat gw semakin gemes.
"Tapi apa Amora? kenapa malu-malu sih sama cowo sendiri, bilang aja mau apa?". Gw mulai kagak sabar.
"Kan kita enggak akan bertemu beberapa hari sayang, kamu kok main keluar mobil gitu aja enggak mau kasih salam perpisahan dulu gitu atau apa, enggak peka banget jadi cowo". Amora berucap dan langsung memalingkan wajahnya.
"Hehehe ya ampun, maaf-maaf". Gw tersenyum dan mengerti arah pembicaraan wanitaku ini.
Gw langsung taruh tas di bawah jok dengan cepat menghadap Amora dan menarik lenganya pelan.
"Sini peluk dulu". Gw langsung membawa Amora masuk kedalam pelukan.
"Ini kan yang pacar aku mau". Gw berucap lembut sambil membelai rambut Amora.
"Kamu nunggu dikasih sinyal dulu baru ngerti sayang, masak aku harus kasih kode dan sinyal duluan terus". Amora mengerutu pelan tapi dia tampak nyaman bersandar di dalam pelukan gw.
"Iya maaf kan kamu tau sendiri sinyal di kepala atasku lemah dan lelet mana peka, beda jika yang kamu kasih sinyal kepala bawah pasti langsung cepat nanggapinya karena sinyal bawah aku kuat banget, hehe".
"Sayang mesum!". Amora memukul punggung gw manja.
Hampir 5 menit kita berpelukan dan Amora tampak masih nyaman banget dalam dekapan gw, beberapa saat kemudian akhirnya Amora dengan sendirinya keluar dari pelukan gw dengan ekpresinya yang malu-malu.
"Sayang hati-hati ya di jalan dan awas jangan genit saat di Blora nanti". Amora menunjukan perhatian dan ancamannya secara bersamaan.
"Iya adek Amora, abang akan hati-hati dan juga nanti kalau berpapasan sama wanita akan langsung menunduk aku, udah kan abang turun ya sekarang?".
"Tunggu sayang?!". Amora memegang lengan gw lagi.
"Allah huakbar! Apa lagi sih adek Amora? Abang juga bisa kesel ini kalau gini terus, kamu ngerjain abang ya?".
"Ya udah kalau gitu cepat keluar padahal kan aku mau kasih ciuman sebelum kamu keluar, kamu bilang gitu ya enggak jadi". Amora cemberut dan langsung menyalakan mesin mobil.
"Sepertinya memang aku perlu itu deh sayang untuk menambah semangat, ini silahkan pilih sendiri mau cium dimana". Gw langsung memajukan wajah dan merem.
"Enggak jadi, kesempatan cuma sekali dan kamu udah sia-siakan, cepet keluar".
Gw diam saja dan kagak ngejawab dengan posisi merem dan monyongin bibir ke depan, gw membuka mata sedikit dan tampak Amora yang gemes ngeliat gw.
Setelah itu gw merasakan cubitan kecil Amora di tangan dan itu hanya awal aja selanjutnya adalah ciuman dari Amora yang menjelah merata di setiap inci pipi dan bibir gw.
Gw turun dari mobil dengan wajah basah, basah bukan karena air hujan tapi basah akan air liur Amora.
Gw tersenyum kecil dan mendesah pelan sambil memandang mobil yang dikendarai Amora mulai menjauh pergi.
Gw mulai berjalan balik ke kost dengan membawa tas di punggung dan baru aja 3 langkah gw jalan Hp di saku geter-geter.
Kenapa ini bocah malah calling gw kan nanti juga ketemu. Gw berguman pelan saat liat layar HP dan ada nama kang tatto kampret disana, segera gw angkat callingannya.
"Hallo Bemo udah sampai mana lu?". Tanpa salam atau say hai Jono langsung nerocos aja.
"Gw masih di kost anjing! Malah tanya sampai mana lu! Mandi aja belum gw ini".