
Dengan sangat pengertian dokter manis cewe baru gua mengakhiri video call nya, ada hikmah nya juga si kampret robohin sepeda sampai dua kali entah itu disengaja atau kagak yang pasti gua senang video call Putri cepat berakhir.
"Jon udah kelar belum loe benerin itu rantai sepeda warisan?". Gua bertanya dan melihat si kang tatto yang sudah berdiri di samping sepedanya.
"Udah selesai dari tadi". Jawab Jono singkat tanpa melihat gua yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
Jono tampak menerawang jauh ke depan melihat jalan yang tak berujung seperti pujangga yang sedang mencari inspirasi, entah apa yang dia pikirkan saat ini tapi yang pasti gua kagak mau tau dan bodo amat.
"Sip kalau gitu, selain ngerajah kulit orang dengan tinta ternyata loe punya bakat bengkel juga ya?". Gua memuji dan langsung naik ke boncengan sepeda dengan nyaman, gua rasa sepeda itu adalah kendaraan yang extrem karena kagak ada seat bell dan terpaksa gua pegangan sadel depan, tepat di bawah pantat si Jono.
"Mau ngapain loe?!". Jono melirik gua yang sudah naik sementara dia masih memegangi sepeda dari samping, posisi kita ini saat di lihat dari jauh sangat aneh dan ambigu sekali.
Dengan pemandangan persawahan hijau, di pinggir jalan Jono berpose menuntun sepeda dan gua naik di boncengan.. Mata kami saling memandang tanpa kedip dan dalam hati gua langsung berteriak DANCOK!!.
Moment romantis kek gini kan harusnya gua alami sama betina salah satu cewe gua atau setidaknya sama yang ada lobang nya lah bukan sama-sama berbatang kek gini, sungguh sial kenapa banyak banget komedi sih kisah hidup gua ini, rindu action gebukin orang gua. Untung aja jalanan sepi kalau ada yang liat mungkin gua dan si kampret dikira sedang foto prewedding pasangan maho.
"Gila ya loe Jon? malah nanya ngapain! Ayo cepat naik dan kayuh lagi ini sepeda loe, keburu gelap entar". Gua bicara setengah membentak.
"Loe yang gila Bim, sejak kapan nama cewe loe Bianca berubah jadi Putri hah?! Tadi sekilas gua juga melirik ke layar hp loe, setau gua Bianca juga gemoy gede dan montok kenapa jadi berubah gitu?".
"Heh kang somay! Upil kuda! kentut biawak! Semfak cino!". Segala macam kata-kata mutiara gua keluar dari mulut gua. "Loe bilang apa tadi? Gemoy gede dan montok? Jadi otak loe isinya blenuk-blenuk boing-boing milik cewe gua? Emang perlu di kasih pembersih itu otak loe, cewe temen sendiri loe jadiin bahan ****". Gua segera meloncat kebelakang turun dari sepeda.
"Sabar Bim.. Sabar.. bukan seperti itu maksud gua, siapa juga yang bayangin cewe loe yang aneh-aneh? Mana berani gua". Jono langsung melepaskan sepedanya hingga jatuh dan mudur sedikit menjauh dari gua.
"Lha itu tadi maksud omongan loe apaan bilang kek gitu?".
"Gua cuma terkejut tadi itu Bemo! setau gua kan saat terakhir aku calling minta bantuan saat loe sama Bianca jalan ke pasar malam kan? Gua kan sempat bicara sama cewe loe itu, amnesia ya loe?".
"Jadi kan gua tau seperti apa cewe loe itu dan sangat berbeda banget sama cewe yang video call loe tadi dan juga kamu bilang kan Bianca masih senior loe di Campus, sejak kapan dia jadi dokter?". Jono memutar bola matanya ane melihat gua.
"Masuk akal juga sih penjelasan loe Jon, wajar aja sih jika loe terkejut.. sebenarnya ya banyak kisah dan tragedi yang gua alami sejak datang ke Jogja, kehidupan gua penuh akan kejutan dan juga kenikmatan yang datang tidak terduga, semua datang satu persatu tanpa gua sadari memberi gua sensasi berbeda yang tidak pernah gua rasakan sebelumnya".
Jono memandang gua sambil garuk-garuk kepala.
"Kenapa Jon? Ada kutunya itu rambut loe, gua udah bicara panjang sepanjang batang kuda, Eh ekspresi loe malah kek gitu".
"Gua bingung Bemo dengan omongan loe yang sok pakai bahasa novel seperti itu, banyak penjelasan tapi intinya malah enggak ada dan loe lupain, yang singkat aja ngapa bilang aja loe dua in Bianca Sama dokter yang loe panggil Putri tadi".
"Bukan sesederhana itu Jon, kalau gua curhat semua bakalan bisa sampai malam entar kita disini mending kita jalan aja dulu nanti gua ceritain semua kalau udah sampai rumah loe dan dalam moment yang santai.. Tujuan gua kesini bukan karena semata mau bantu loe doang tapi juga melarikan diri sejenak dan juga mau bahas rencana kedepannya tentang kita dan melky nanti saat dia lulus STM dan ke Jogja bareng-bareng kita lagi".
"Nah itu ngerti pakai acara sinis segala loe tadi sama gua, ya udah ayo kita lanjut jalan lagi". Gua meraih sepeda yang jatuh di tanah dan segera duduk di belakang.
"Siap komandan". Jawab Jono dengan bersemangat dan langsung loncat dari ke sepeda dan kembali kakinya berkerja mengayuh.
Perjalanan panjang Kita pun berlanjut di temani senja sore hari yang berwarna kuning ke emasan.
"Bim di depan sana ada waduk besar yang akan kita lewati biasanya banyak orang yang memancing di sana, banyak juga warung tenda yang jual kopi dan makanan".
"Sama-sama isinya air kan itu waduk? Kagak usah berhenti lah, kalau loe mau makan ikan besok aja kita beli".
"Siapa yang mau makan ikan? Gua kan cuma kasih tau loe doang, walau daerah kabupaten Blora ini sedikit terbelakang tapi kami punya ciri khas dan kebanggaannya sendiri".
"Hahahaha, kok gua merasa jadi turis gini sih Jon dan loe jadi tour guide nya… Emang apa ciri khas dan keistimewaan kabupaten yang loe banggakan ini?".
"Banyak lah Bim, salah satunya sih soal kayu jati.. lebih dari separuh wilayah kabupaten gua ini adalah hutan jati yang terbesar se Indonesia, kayu jati kwalitas terbaik yang mungkin ada di rumah loe ataupun yang mungkin ada di luar negeri mungkin itu berasal dari sini".
"Uwiihhh serius Jon? Keren kalau gitu ya, terus apalagi masak cuma 1 doang?".
"Loe tau block Cepu kagak Bim?". Sambil mengayuh sepeda pelan Jono bertanya.
"Block Cepu? Bukannya itu salah satu kilang minyak terbesar di Indonesia ya? Kenapa emangnya? jangan bilang itu juga ada di sini?". Gua menebak dan sedikit terkejut.
"Ya disinilah kota Cepu kan masih wilayah kabupaten Blora, tepatnya di perbatasan dengan Bojonegoro Jatim sana". Jono langsung menjawab dengan bangganya.
"Gile bener! wilayah dan kabupaten yang tidak terdengar gaungnya di Indonesia ternyata menyimpan hal yang sangat mengejutkan, tapi Jon".
"Tapi apa?".
"Tapi kenapa kwalitas hidup penduduk dan insfratruktur masih tertinggal gini? Jika di lihat secara langsung kan dengan sumber daya alam yang begitu melimpah, otomatis kabupaten loe ini termasuk kabupaten kaya kenapa malah amburadul gua liat?".
"Bim.. Bim loe kan udah tau sendiri masak gua harus ceritain secara detail sih? Blora ini sebelas dua belas sama Papua, wilayah dengan sumber daya alam melimpah tapi penduduknya sama-sama tidak mendapatkan untung sama sekali".
"Jadi yang salah disini mereka ya Jon?".
"Ya jela lah siapa lagi kalau bukan mereka Bemo! Yang punya power besar mengatur semuanya kan mereka, kita rakyat kecil ma cuma bisa mendesah doang dan prihatin, power kita juga kecil di tiup angin juga langsung terbang entah kemana".
"Benar juga yang loe bilang Jon, Oya kita kan udah lewati waduk ini masih jauh kagak pasar yang akan kita lewati?". Secara halus gua mengalihkan pembicaraan terlalu bahaya bahas tentang mereka itu.