
Sore hari yang begitu cerah dengan langit biru yang begitu indah dan mentari yang berlahan bergerak secara lambat ke ufuk barat.
Kota Jogjakarta, yang lebih tepatnya di apartemen lantai 5 di dalam sebuah ruangan yang terlihat mewah terdapat 2 gadis cantik yang sedang berdebat, sekilas jika dilihat wajah kedua gadis itu hampir mirip satu sama lain dan mereka adalah Vanesha dan Nina, sepasang adik kakak yang hanya terpaut 3 tahun.
"Kakak! Kenapa dimatiin live aku? Kakak kenapa sih?". Nina cemberut dan menggerutu sambil mengambil hp yang di pegang oleh kakaknya dengan cepat, dia memeriksa dan benar saja live tiktok nya udah mati.
"Nina gimana ini? gimana ini?!". Vanesha tampak khawatir dan takut, berdiri mondar-mandir kebingungan dan tampak panik.
"Kakak ada apa?". Nina tampak bingung melihat tingkah kakaknya yang terlihat berlebihan dimatanya, kakak yang biasanya anggun dan tenang.. Cuek dan percaya diri dalam hitungan detik berubah 360 derajat, Nina seperti melihat orang lain saat ini, tidak pernah dia melihat sang kakak tampak khawatir seperti itu.
Vanesha Gadis cantik pemilik lesung pipi yang imut itu berhenti mondar-mandir dan berdiri tepat di depan adiknya yang masih duduk, pandangan kedua mata jernihnya tidak bisa diartikan.
"Kakak enggak mau tau! kamu harus tanggung jawab dan bilang sama nyong-nyong jika semua yang kamu katakan tadi bohong, pasti marah besar ini dia sekarang liat aku muncul di live seperti itu". Dengan ekspresi serius Vanesha berucap menatap adiknya.
"Kak kamu lagi bercanda ya? Demam apa gimana? Nyong-nyong siapa? emang ada orang yang namanya nyong-nyong?". Sang adik masih tampak bingung tidak mengerti.
"Nyong-nyong itu Bimo Nina, Pasti dia sekarang sedang nunggu klarifikasi liat aku muncul di live kamu, kakak enggak mau dia salah paham dan kamu harus ikut minta maaf".Vanesha terus menekan adiknya.
"Sebentar kak aku masih enggak ngerti, emang cowo rese pacar kakak itu liat live tadi? yang mana?".
"Menurut kamu yang mana?". Sang kakak berganti bertanya dengan tatapan tajam.
Nina untuk sesaat berfikir dan sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah tidak percaya dan berucap "Jangan bilang Id narsis Terlalu tampan yang buat masalah tadi dan kasih kita gift kotoran itu Bimo?".
"Kak Bimo! Dia itu pacar kakak, gak sopan banget kamu". Vanesha mengoreksi
"Itu orang kan umurnya hampir sama seperti aku, mungkin juga tuaan aku beberapa bulan masak musti panggil kakak juga". Nina menolak menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Walau dia lebih muda dari kamu tetap saja harus panggil kak, karena dia pacar aku dan juga mungkin lebih dewasa dari kamu cara berpikirnya".
"Hehe, Kak Sasa sedang bercanda ya? Mana ada itu cowo dewasa, pertama bertemu di butik aja tampak Kekanak-kanakan banget dan seenaknya sendiri, lupa ya dia kan sampai buat aku menangis karena keisengannya".
"Masih aja kamu ungkit soal itu dek, itu kan cuma bercanda.. Kamu aja yang baper". Vanesha masih tampak membela pacarnya.
"Benar-benar sudah kena pelet kamu kak sama dia, selain kaya apa sih kelebihan cowo yang kakak banggakan itu? Sampai segitunya kamu bela dia dan khawatir salah paham?". Nina tampak tidak habis pikir.
Vanesha duduk kembali di depan adiknya dan bibir tipisnya tampak tersenyum kecil, "Ngaco kamu dek, yang ada kakak yang pelet dia, hehe". Vanesha tertawa pelan.
"Kenapa kakak aku bisa berubah hanya karena pria gini? sampai bicara tidak tau malu secara santai seperti itu, enggak tau aku kak harus senang apa tidak dengan perubahan kamu yang mendadak ini". Nina berucap dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kakak enggak berubah kok dek, cuma lebih berwarna saja hidup kakak semenjak ada Bimo. Kakak tidak melihat latar belakang statusnya untuk menyukai dia karena dari awal bertemu, Bimo sudah menarik perhatian kakak". Vanesha bicara dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum.
"Memang dimana kakak pertama kali kenal dia?". Nina tampak penasaran.
"Dimana lagi kalau tidak di kost, hari pertama kakak pindah kost dan orang yang pertama kali kakak liat adalah dia.. duduk di dekat pintu tanpa memakai baju, cuma kolor lusuh kuning bergambar Spongebob". Vanesha flashback sesaat.
"Benar-benar enggak waras itu pacar kamu kak, pede dan narsisnya enggak tertolong dan juga aneh". Nina berkomentar
"Aneh gimana maksud kamu dek?".
"Ya aneh aja, udah pasti hidupnya terjamin dengan statusnya itu.. Kenapa malah pilih tinggal di kost, apa memang dia lagi acting itu untuk cari simpati wanita?".
"Di suatu moment Bimo bisa sangat dewasa memberi kakak rasa nyaman dan aman dan di moment lainnya dia sangat kekanakan plus manja, memberi kakak tawa bahagia".
"Dia juga gentle orangnya, saat salah dia akan minta maaf dan menghibur kakak dengan tingkah konyol dan absurdnya.. Pelan-pelan sifat kakak yang keras ini luluh dengan sendirinya sejak ada Bimo".
"Udah gak bisa bicara apa-apa lagi aku kak, semoga saja pilihan kakak tidak salah dan bisa terus bahagia sama cowo aneh itu". Nina ikut tersenyum melihat kakaknya yang tampak sangat bahagia.
"Tentu saja enggak salah dong, Bimo juga sangat bertanggung jawab orangnya.. Kamu liat sendiri kan saat tau kamu ikut berkerja di butik dan tinggal bareng kakak, dia dengan perhatiannya langsung suruh kita pindah kemari.. Ke tempat yang lebih nyaman dan aman". Vanesha terus saja membanggakan cowo nya.
"Iya-iya Nina ngerti, udah ah aku mau mandi dulu". Nina beranjak dari duduknya yang langsung di cegah oleh Vanesha dengan memegang lengannya.
"Jangan main kabur kamu ya dek, bantu dulu kakak jelasin ke Bimo tentang live kamu itu.. disini kamu juga yang salah". Vanesha mendorong adiknya untuk duduk kembali.
"Iya-iya, cepat telfon itu pacar kakak yang sempurna". Nina tampak pasrah dan Vanesha dengan cepat mengeluarkan Hp nya dan mencoba untuk video call Bimo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bemo loe tau kagak jika loe itu mirip sama serigala berbulu landak?". Jono bicara memandang gua yang lagi santai menikmati kopi lelet yang dia bawa.
"Berarti gua keren ya Jon?". Jawab gua santai sambil meraih bungkus rokok, ambil sebatang dan langsung menyulutnya.
"Keren apaan! Yang ada loe itu sangat berbahaya, dimana pun loe berada pasti akan terjadi masalah.. live Nina yang semula tenang dan seru aja loe buat mencekam kek gitu".
"Kagak suka gua Jon liat cewe gua di goda dan di gombalin para pria kardus itu, untuk cari hiburan kan banyak hal yang lebih positif daripada live aplikasi kagak jelas". Gua menjawab dengan pendapat yang ada dalam otak.
"Alah bilang aja loe cemburu dan posesif pakai acara ngeles segala tapi kenapa loe kagak hubungi itu Vanesha Bim?".
"Gila ya loe? Ngapain gua hubungi dia duluan kan yang salah dia, harusnya dia yang rayu dan minta maaf ke gua". Gua sedikit ngegas dengan asap rokok yang keluar dari mulut bersamaan dengan ucapan.
"Ya loe sadar diri aja lah, kan sudah jadi kodrat alam". Jono berucap sambil tersenyum
"Kodrat alam apa maksud loe?".
'Ya kodrat alam untuk loe sadar diri, udah untung dengan penampilan pas-pasnya loe itu bisa dapat cewe kek Vanesha, ya mending loe yang ngalah aja".
"Temen kampret!". Gua auto emosi dan langsung lempar Jono dengan puntung rokok yang masih panjang
"Hahahaha, kita join an ini Bim?". Jono tertawa mengambil putung yang gua lempar dan menyedotnya.
(Aku ingin begini, aku ingin begitu.. ingin ini itu banyak sekali..
Saat ingin melempar si kampret dengan gelas kopi, nada dering Hp gua berbunyi dan segera gua urungkan niat taruh kembali gelas di meja dan beralih ke ambil HP
"Bemo! Udah mangap ini gua.. Kagak jadi loe lempar gua kopi?".
"Saraf loe Jon, Udah diam! Nying-nying video call ini".
"Serius! Ikut liat dong.. Pasti ada Nina juga kan?". Jono tampak sangat antusias sekali dan bergetar maju berada tepat di belakang gua.