
"Tolong jawab apa arti dari ciuman kita tempo hari itu? Apa rasa yang kita rasakan sama, atau hanya aku saja yang merasakannya?".
Bak peluru tajam pertanyaan Putri langsung to the poin sekali, walau gw sudah sangat mendunga ini bakalan terjadi tapi tetap saja gw tegang setelah mendengarnya.
"Boleh aku jawab jujur Put?". Kagak ada jalan kembali juga, mau kagak mau gw harus jawab itu pertanyaan. Mungkin juga butuh keberanian extra untuk Putri bertanya itu dan gw harus menghargainya dan memberi jawaban.
Putri terdiam kembali dan matanya mulai sendu menampakkan sebuah kesedihan, dia tampak berpaling sejenak mengambil nafas panjang.
Beberapa saat kemudian Putri kembali menghadap gw. "Kejujuran adalah hal yang ingin aku dengar Bim, walaupun pahit aku siap mendengarkannya". Putri berucap lembut dan tersenyum kecil menutupi kegelisahan hatinya.
"Jujur ya saat pertama kali aku liat dan ketemu kamu dulu, untuk beberapa alasan aku hanyut ke dalam pesona kamu. Kamu cantik, lemah lembut dan dewasa. Aku merubah nama menjadi Pangeran juga untuk menarik perhatian kamu dan kamu pasti juga sudah tau dengan itu".
"Disaat aku sakit dan kamu tolong, disaat kamu menangis melihat aku bersimbah darah disaat itu juga aku berjanji dalam diri aku sendiri".
"Berjanji apa Bimo?".
"Aku berjanji untuk menghapus setiap air mata yang kamu keluarkan dan akan aku gantikan dengan tawa kebahagiaan".
Putri menunduk tampak kecewa dan gw bingung melihat itu, apa kata-kata gw salah lagi?
"Putri kenapa? Bimo salah ngomong ya?". Lembut gw memegang kedua tangannya.
"Kamu hanya menghapus Bim, bukankah seharusnya kamu tidak membiarkan aku menangis?". Putri berucap lesu.
"Put sepertinya kamu terlalu banyak nonton drama deh, kamu kan dokter bukannya udah tau ya jika mata yang enggak bisa nanggis itu adalah penyakit, terkadang manusia juga butuh menangis Dokter Adinda Putri agar kagak kering itu mata".
"Ihhhh Bimo aku enggak lagi bercanda ini". Putri mendongak dan melepas tangannya yang gw pegang.
"Aku juga enggak lagi bercanda Putri, kamu enggak tau kan jika otak aku sekarang ini panas banget".
"Panas kenapa?". Putri melihat gw dengan penuh harap.
Dikira gw mau gombalin dia apa yak, stok gombalan gw kan sudah abis dan belum ada pembaharuan.
"Pakai tanya kamu, ya panas karena kebanyakan mikir untuk merangkai kata-kata lah dokter Putri, dari tadi kan kita ngobrolnya kek 2 pujangga yang lagi bertukar puisi".
"Kan kamu yang mulai duluan tadi Bimo.. aku kan cuma ngikuti alur saja. Dikit-dikit aku juga tau sastra".
"Ok kalau seperti itu, lagian ini bukan novel atapun drama yang harus setiap katanya penuh makna dan arti. Kisah kita hanya kita yang tau dan kagak mungkin juga jadi tulisan dan dibaca orang, ini tentang kita maka dari itu silahkan kamu".
"Silahkan apa?". Putri tampak binggung melihat gw.
"Ya silahkan tembak aku lah, nanti aku terima". Jawab gw cepat. "Kagak usah muter-muter lagi, kamu suka aku dan aku suka kamu jadian deh kita". Gw tersenyum lebar.
"Bim kamu kok bisa dengan entengnya ngomong seperti itu, kamu enggak malu ya?".
"Malu kenapa? Aku pakai celana dan baju ini".
"Bukan malu itu Bimo! kamu kan cowo harusnya kamu dong yang nembak aku duluan, kok malah aku? Ini kesannya seperti aku yang ngejar-ngejar kamu".
"Emang gitu kan Put? Tadi kan memang kamu ngejar-ngejat aku kan?".
"Bimo serius dong, kita sedang membahas perasaan ini jangan main-main terus". Putri cemberut. "Aku itu butuh kepastian Bimo".
"Put dengar ya? Yang pasti itu aku sayang dan suka sama kamu tapi seperti inilah aku Put, cowo ala kadarnya. Slengek an dan kadang gila, susah di atur dan keras kepala".
"Serius Bimo?". Putri menutup mulutnya tidak percaya.
"Jadi selama ini kamu belum sekalipun nembak cewe?".
"Iya belum sekalipun". Jawab gw jujur sambil mengangguk pelan.
"Jadi kamu belum pernah pacaran dong?". Putri malah bertanya dan terlihat antusias.
"Put, coba kamu liat aku baik-baik. Apa aku seperti pria idaman setiap wanita? Aku itu suka gelut, rokok dan miras. Mulut aku juga banyak sampahnya dan enggak bisa ngontrol ucapan. Enggak diludahi cewe aja aku udah bersyukur".
"Hehe, alhamdullilah kalau seperti itu Bimo". Putri tersenyum lembut dan tampak bahagia.
"Alhamdullilah? Sakit kamu Put, kok malah girang? Harusnya kan prihatin. Ini acara apaan sih sebenarnya?".
"Ya alhamdullilah dong, kan cewe-cewe di luaran sana pada buta dibalik semua kelakuan nyeleneh kamu itu ada sesuatu hal spesial yang tidak bisa dilihat sama mereka dan aku bisa melihat itu Bimo. Kamu itu cowo spesies langka tauk".
"Tu kan sekarang malah disamakan sama binatang aku, serah kamu deh!". Sekarang gantikan gw yang cemberut dan memalingkan muka.
"Hehehe, sekarang aku sudah jelas dan mengerti kamu Bimo. Aku boleh minta sesuatu gak sama kamu?".
"Minta apa?! Mau minta darah aku, untuk kamu uji coba karena aku spesies langka?". Jawab gw sengit masih males mandang Putri.
"Liat aku Bimo". Putri memegang kedua pundak gw dan memutarnya pelan untuk kembali bertatap muka dengan dia.
"Abimana Pramono, aku minta kamu untuk jadi pacar aku. Aku janji akan jadi cewe yang perhatian dan menjadi pendukung no 1 kamu". Putri tiba-tiba mengucapkan kalimat keramat itu. Dengan wajah merona dia memandang gw, pandangan sendu teduh dan penuh akan kasih sayang.
"Mungkin aku enggak bisa jadi cowo yang sempurna buat kamu Put tapi percayalah di hati aku ada nama kamu". Gw tersenyum tulus. Dan ada 3 yang lainya juga, gw melanjutkan dalam hati.
"Adinda Putri, perasaan kamu dengan bahagia aku terima karena rasa yang kita rasakan memang sama. Untuk kedepannya tolong kerja samanya ya pacar". Gw membelai dan mengusap rambut Putri lembut.
Senyum di wajah Putri tampak semakin lebar penuh kebahagiaan, "Iya aku juga mohon kerjasamanya ya pacar". Putri berucap dan langsung masuk kedalam pelukan gw dengan inisiatif dia sendiri.
Ditawari kehangatan, gw kagak kuasa untuk menolak. Gw balas pelukan Putri dengan erat.
Saat ini dan detik ini gw Abimana Pramono kembali uji nyali dengan menambah 1 belahan hati dan sekarang ada 4 cewe yang sedang duduk manis dengan rapi di hati gw.
Mereka duduk dengan tawa dan senyum bahagia, di tangan mereka juga membawa bunga dengan harum berbeda-beda.
Mungkin ini adalah keberuntungan sekaligus kesialan untuk gw.
Gw bagaikan siswa yang sedang mengerjakan soal pilihan ganda. A B C dan D sebagai pilihan jawaban. Semua jawaban dimata gw sama-sama benar dan akhirnya gw memilih membulati semua jawaban itu.
Gw tau dan sadar ini salah tapi memang inilah jalan yang terlanjur gw tapaki dan pasti suatu saat nanti gw akan mendapat karma.
Tapi sebelum karma itu datang dan sebelum bunga-bunga yang dipegang mereka berubah jadi pisau tajam yang diarahkan ke gw.
Cinta dan kasih yang gw berikan tulus dan sama rata, mereka adalah bidadari terindah yang hadir di kehidupan gw dan gw rela melakukan apa saja untuk buat mereka bahagia.
Jika ada yang bertanya siapa gw dan kenapa bisa seberani itu.
Dengan lantang akan gw jawab, Gw Abimana Pramono dan inilah kisah indah masa muda gw.