Preman Campus

Preman Campus
BACKSTREET 2


Gw masih terdiam mendengarkan Bianca bercerita tentang awal dia tertarik sama manusia kek gw ini.


Dari awal gw kagak terlalu fokus sama cerita Bianca, karena gw sudah menentukan jawaban apa yang nanti akan gw berikan.


Kuping memang gw buka lebar untuk mendengarkan tapi mata gw kagak bisa fokus dan bawaannya pengen liat tubuh m0ntok cewe di depan gw ini. Seperti kata pepatah dilihat dosa tidak dilihat mubazir, berhubung dosa gw udah bejibun nambah dikit kagak masalah keknya.


"Memang pertemuan awal kita aku tidak tertarik sama kamu Bim dan di Campus pun saat berpapasan sama kamu aku pura-pura tidak lihat karena cuma menganggap kamu Remaja biasa yang suka berbuat onar".


"Bie bukannya kamu juga Remaja ya?".


"Beda dong aku kan udah 21 tahun". Bianca berucap bangga


"Iya sudah anget dan nyaman wanita seumuran kamu ini". Jawab gw ngasal


Gw berfikir sejenak kenapa yang nembak gw pada 20 tahun ke atas ya? Gw merasa jadi brondong jagung ini. Amora 22 sekarang Bianca 21.


"Bimo! apa nya yang anget, jorok banget bicara kamu". Bianca membuyarkan lamunan gw dengan tuduhan sepihaknya.


"Jorok apaan? Yang anget kan usia kamu. Dimana coba joroknya?". Seperti biasa gw ngepot untuk nge les.


Bianca diam tersipu mendengar jawaban gw, mungkin saat ini dia sedang memarahi otaknya sendiri yang telah terkontaminasi dengan kata anget.


"Maaf kalau seperti itu Bim, aku yang berfikir terlalu jauh". Bianca bicara masih dengan wajah meronanya.


"Santai aja lanjut cerita gi, kan kamu bilang tadi aku remaja pembuat onar biasa". Gw bicara senormal mungkin tapi menahan senyum agar tidak meledak menjadi tawa karena kata anget itu tadi.


"Iya awalnya aku hanya mengira kamu hanya remaja puber yang hanya hobi buat onar sampai kejadian hari terakhir ospek dulu itu".


"Saat kamu diseret bersimbah darah ke lapangan fakultas, aku mulai tertarik dan penasaran sama kamu Bim".


"aku kan waktu itu babak belur dan wajah berlumaran darah Bie, sinting kamu ya? Bagian mana coba yang menarik? Bukannya cewe harusnya takut dan ngeri ya?".


"Bimo dengerin dulu aku belum selesai bicara, waktu itu kan kamu terus saja tersenyum walau udah dalam keadaan seperti itu, kamu masih saja berani. Aku liatnya kamu sangat keren dan tidak takut apapun. Dan saat itulah aku datang dan bantuin kamu dan telfon kakak".


"Itu hanya sebatas tertarik saja Bim, dan saat kamu tolongin aku waktu tenggelam dan ngobrol lama sama kamu saat itu. Akhirnya aku sadar rasa tertarik ini telah berevolusi menjadi suka". Bianca bicara malu-malu.


"Bimo kamu dengerin aku gak sih!".


"Oh iya Bie tembem banget itu ya?". Gw tersentak kaget di tengah lamunan saat fokus melihat benda di tengah hot pant Bianca yang tercetak indah.


Bianca melihat arah pandangan gw. "Bimo apa kamu liatin apa? Bimo mesum!". Dia langsung meraih bantal dan menaruh di atas paha dia.


"Ehh itu anu Bie, anu pipi kamu yang tembem". Gw segera beralasan.


"Pipi aku kan di atas sini bukan dibawah sana". Bianca menatap gw curiga.


Sialan ke gap kan gw, tenang Bimo kamu sangat pintar beralasan, ayo berfikir. Gw menyemangati diri sendiri di tengah tatapan menujuk Bianca.


"Ngomong-ngomong cuaca hari ini cerah banget ya Bie".


"Bimo, kita kan ada di dalam ruangan dari mana kamu tau cuaca cerah? alasan kamu kali ini tidak berhasil menyakinkan aku".


"Hehehe". Gw tertawa garing.


Bianca pun ikut tersenyum melihat gw yang salah tingkah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Cuma karena aku selamatkan kamu dari kelelep itu Bie kamu mulai suka sama aku?". Gw bertanya di tengah-tengah pandangan mata kami yang dari tadi saling bertemu.


"Kamu juga seru orangnya Bim, lucu dan mempunyai prinsip yang kuat. Semua yang ada di diri kamu aku melihatnya adalah hal baru yang sangat menarik, dan puncaknya adalah kejadian di Rumah Judi kemarin itu. Kamu dengan gagah berani lindungi aku".


"Cewe mana yang enggak luluh diperlakukan spesial dari pria yang dia suka. Dan saat itulah rasa suka aku ke kamu telah berubah menjadi cinta".


Bianca terdiam sejenak dan kembali melihat gw sendu.


"Kamu nolak aku Bim?". Bianca bicara pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bukan Bie, tolong dengerin aku dulu".


Bianca mengangguk paham dan menyeka kedua mata indahnya.


"Aku juga sayang, suka dan cinta sama kamu Bianca".


"Serius Bim? kamu enggak bohong kan?". Bianca tampak sangat bahagia raut wajah sedih sekarang menjadi senyum lebar nan indah.


"Iya aku serius, aku juga enggak mau berbohong dengan perasaan aku sendiri tapi bisa tidak kita rahasiakan dulu hubungan kita dari anak-anak Campus dan kakak kamu?".


"Iya iya aku mau!". Bianca begitu antusias


"Serius kamu mau kalau kita backstreet dulu?".


"Iya Bimo aku mau, yang penting kita udah tau perasaan masing-masing dan aku sudah bahagia dengan itu".


"Kamu memang paling ngertiin aku Bie". Gw memuji dan mengelus rambut Bianca pelan.


"Jadi hari ini, hari jadian kita kan Bim?". Bianca bertanya malu-malu.


"Iya sayang, hari ini hari jadian kita".


Bianca sedikit terkejut gw panggil kek gitu, wajahnya tambah memerah dan gw suka melihat itu.


"Kruuuukkk!!". Terdengar suara aneh yang sangat familiar.


"Bie, keknya cacing di perut kamu udah pada demo itu". Gw menunjuk perut Bianca.


"Itu bukan suara perut aku!". Dengan mudah Bianca mengingkari. Mungkin dia terlalu malu untuk mengakui.


"Iya-iya, itu bukan suara perut kamu, tapi.perut aku".


"Kita ke ruang makan, kita makan bersama sayang". Bianca tampak canggung mengucapkan kalimat terakhir itu.


Bianca lansung beranjak dari atas ranjang dan berdiri dengan cepat untuk menutupi kegugupannya.


"Bimo kok kamu diem? ayo kita turun, katanya lapar".


"Bie kek nya kamu turun duluan aja deh, biarkan aku disini sejenak".


"Kamu mau ngapain di kamar aku sendirian?" Bianca menatap gw curiga.


"Jangan mikir yang aneh dulu kamu, bener-bener enggak bisa berdiri aku sekarang ini".


"Kamu gak apa-apa kan Bim? Apa gara-gara aku tendang tadi ya?". Bianca tampak kawatir


"Bukan Bie tenang aja, cuma ada anggota tubuh aku yang rewel aja kok".


"Aku enggak ngerti Bim". Bianca tampak binggung.


"Coba kamu liat bagian tubuh aku secara menyeluruh ada yang aneh kagak?".


"Aneh Ap.." Bianca berhenti bicara saat melihat bagian tengah celana gw yang tampak membesar.


Dia terkejut bercampur malu seketika menutupi matanya dengan kedua tanganya. Tapi gw masih liat dia mengintip di sela-sela jari.


"Bie, kenapa malu?" Gw tersenyum lembut melihat ekpresi cewe no 2 gw ini.


"Berhubung kita udah jadian kamu mau kenalan dulu gak sama dia Bie? Biar lebih akrab dulu gitu?".